Tag Archives: kecelakaan kereta api

KA Doho Tabrak Bus, 8 Tewas dan 8 Kritis (updated)

Foto: Solichan Arif/Sindo

Selasa, 24 Februari 2009 – 03:00 wib, source : okezone.com

KEDIRI - Sebanyak 8 orang tewas, 8 luka berat, dan puluhan lainnya luka ringan saat KA Doho Jurusan Surabaya-Malang menabrak bus Patas Harapan Jaya di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso, Kampung Dalem, Kota Kediri, Jawa Timur.

Korban tewas, termasuk awak bus yaitu sopir, kondektur dan kernet. Sampai saat ini baru dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi. Yakni  Sarwoko (43), warga Kecamatan Kauman, Tulungagung selaku kodektur bus dan Andri Turianto (29), warga Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri selaku kernet. Sementara korban tewas lainnya belum bisa dikenali karena kondisinya yang parah.

Hingga kini polisi belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, kecelakaan akibat bus menerobos palang pintu KA yang masih tertutup separuh.

Menurut keterangan Udin Anwar, salah seorang saksi mata, hantaman KA bernomor lokomotif CC 201 08 yang melaju kencang dari utara (Kota Kediri) ke selatan (Tulungagung) itu membuat badan bus terpental hingga beberapa meter. Roda bagian depan bus terlepas dan seluruh kacanya pecah itu. Adapun body bus menimpa dua rumah warga setempat. Belum diketahui pasti apakah pemilik rumah ini selamat atau menjadi korban.

Sementara akibat benturan keras itu, loko KA yang terdiri dari lima rangkaian gerbong tergelincir dari atas rel kereta. Bahkan gerbong kedua dan ketiga sampai lepas dan menghantam rumah warga seempat. KA ini berhenti total dengan posisi melintang ditengah jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Kecelakaan maut yang terjadi sekira pukul 15.00 WIB itu berlangsung saat hujan deras mengguyur Kota Kediri. Melihat gerbong yang ditumpanginya bertabrakan, penumpang KA Doho langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Sementara ratusan warga setempat yang membanjiri TKP langsung membantu melakukan evakuasi.

Evakuasi khususnya ditujukan kepada penumpang bus yang keadaanya lebih parah. Proses ini cukup sulit karena sebagian besar jasad korban terjepit kursi dan bagian bus yang ringsek.

Hingga pukul 18.00 WIB, seluruh  korban meninggal dunia dievakuasi ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Kemudian 8 orang luka berat dirawat di RSU Bhayangkara ditambah dua orang luka ringan. 5 orang korban luka ringan lainya dilarikan ke  RS Baptis dan 10 orang luka ringan  di RSUD Gambiran Kota Kediri.

Salah satu penumpang KA Doho, Ny Efi mengaku merasakan tiga kali benturan keras setelah KA yang ditumpanginya lepas dari Stasiun Kediri. Saat itu Ny Efi dalam keadaan tertidur.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Kediri  AKP Mukalam mengatakan polisi masih melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan. Dari data sementara diduga kecelakaan disebabkan bus yang menerobos palang pintu KA.

“Jika melihat kondisi di TKP, kuat dugaan bus menerobos perlintasan hingga menabrak palang pintu. Kemudian ditabrak KA yang melaju dari utara ke selatan,” ujarnya.

Mukalam mengaku sudah mengamankan penjaga palang pintu perlintasan KA. Serta beberapa orang saksi mata, yang melihat langsung kejadian. Dalam proses evakuasi ini polisi menerjunkan dua peleton personel Brimob. (Solichan Arif/Sindo/ful)

Foto: Solichan Arif

Updated, Bus Disambar KA Rapih Dhoho, 8 Tewas

Senin, 23 Februari 2009 – 20:13 wib

KEDIRI - Sedikitnya 8 orang tewas, 8 luka berat, dan puluhan lainya luka ringan saat Kereta Api Rapi Dhoho Jurusan Surabaya-Malang menabrak bus Patas PO Harapan Jaya jurusan Surabaya-Trenggalek di perlintasan Kereta Api Jalan Brigjen Katamso Kelurahan Kampung Dalem Kec Kota Kediri Senin (23/2/2009) sore.

Seluruh korban tewas, termasuk awak bus (sopir, kondektur dan kernet), diduga kuat penumpang bus bernomor polisiAG 7493 UR itu. Sampai saat ini baru dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi. Yakni Sarwoko (43) warga Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung selaku kodektur bus dan Andri Turianto (29) warga Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri sebagai kernet.

Sementara korban tewas lainnya belum bisa dikenali karena kondisi jasadnya yang mengalami luka parah. Saat ini polisi juga belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, kecelakaan terjadi akibat kelalaian pihak bus, yakni menerobos palang pintu KA yang baru tertutup separuh.

Menurut keterangan Udin Anwar (25) salah seorang saksi mata di lapangan, hantaman KA bernomor lokomotif CC 201 08 yang melaju kencang dari utara (Kota Kediri) ke selatan (Tulungagung) itu membuat badan bus terpental hingga beberapa meter.

Bahkan lontaran bangkai bus yang roda bagian depannya terlepas dan seluruh kacanya pecah itu, mengenai dua bangunan rumah warga setempat yang berada di sana. Belum diketahui pasti apakah pemilik rumah ini selamat atau menjadi korban.

Sementara akibat benturan keras itu, lokomotif KA yang terdiri dari lima rangkaian gerbong tergelincir dari atas rel kereta. Bahkan gerbong kedua dan ketiga sampai lepas dan menghantam rumah warga seempat. KA ini berhenti total dengan posisi melintang di tengah jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Kecelakaan maut sekitar pukul 15.00 Wib ini berlangsung saat hujan deras mengguyur kota Kediri. “Suaranya sangat keras ketika kereta tiba-tiba datang dan menghantam bus yang nekat melintas. Mungkin saja sopir bus mengira kereta masih jauh, “ujarnya kepada wartawan.

Melihat gerbong yang ditumpanginya bertabrakan, penumpang kereta langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Sementara ratusan warga setempat yang membanjiri TKP langsung membantu melakukan evakuasi.

Evakuasi khususnya ditujukan kepada penumpang bus yang keadaanya lebih parah. Proses ini cukup sulit karena sebagian besar jasad korban terjepit kursi dan bagian bus yang ringsek.

Hingga pukul 18.00 WIB, seluruh korban meninggal dunia dievakuasi ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Kemudian 8 orang luka berat dirawat di RSU Bhayangkara ditambah dua orang luka ringan.

Sebanyak 5 orang korban luka ringan lainya dilarikan ke RS Baptis dan 10 orang luka ringan di RSUD Gambiran Kota Kediri. Sebagian besar korban luka ini adalah penumpang. Belum diketahui pasti apakah penumpang bus atau KA.

Salah satu penumpang kereta, Ny Efi warga Tulungagung yang selamat mengaku merasakan tiga kali benturan keras setelah KA yang ditumpanginya lepas dari stasiun Kediri. Saat itu Ny Efi dalam keadaan tertidur.

“Setelah 3 kali benturan, penumpang langsung terlempar dan tumpang tindih. Saya juga sampai tertindih, tapi untungnya tidak sampai terluka, “ujarnya.(fit)(Solichan Arif/Sindo/mbs)

Kecepatan KA Doho di Kediri Dipertanyakan

Selasa, 24 Februari 2009 – 19:18 wib

KEDIRI – Kerasnya hantaman Kereta Api (KA) Rapih Doho yang mengakibatkan bodi bus Patas PO Harapan Jaya terpental hingga menghantam rumah warga setempat dan mengakibatkan 7 orang nyawa melayang, dipertanyakan pihak Kepolisian Resor Kota Kediri.

Polisi curiga, KA dengan lima rangkaian gerbong yang baru 200 meter lepas  dari stasiun Kereta Api Kota Kediri itu meluncur dengan kecepatan di atas 50 Km/jam. Kecurigaan polisi cukup beralasan dengan melihat hancurnya bodi bus serta bangunan rumah warga yang ada di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Sementara ketentuan yang berlaku di dunia perkereta apian, kecepatan 50 Km/jam merupakan batas maksimal kecepatan KA di wilayah perkotaan.

Kepala Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Besar Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini penyelidikan petugas tertuju ke arah sana (kecepatan kereta), selain kelalaian Supinto (bukan Supianto), penjaga palang pintu warga Dusun Sumbercangkring, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

Karena itu, menurut Dedi, selain Supinto hampir dipastikan jumlah tersangka dalam musibah yang merenggut nyawa ini bertambah.

“Kita akan memperdalam ke masalah kecepatan kereta. Kemungkinan besar jumlah tersangka akan bertambah selain penjaga KA yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,”ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2009).

Saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan sejumlah saksi yang berasal dari warga setempat. Selain itu polisi juga meminta keterangan Pamuji selaku  masinis KA Rapih Doho, Maryono petugas penjaga yang digantikan Supinto, Kepala Stasiun KA Kota Kediri Warsito, kepala pengatur perjalanan, mandor dan penjaga listrik.

“Saat ini semua pihak kereta yang diperiksa, kecuali Supinto  masih sebagai saksi,” terangnya. Seperti diketahui, saat ini Supinto menghuni sel Mapolresta Kediri.(Solichan Arif/Sindo/hri)

Tabrakan KA Doho, Polisi Periksa Pemelihara Rel

Selasa, 24 Februari 2009 – 20:25 wib

KEDIRI – Polisi mempertanyakan tugas tersangka Supinto, pemelihara rel Jalan Brigjen Katamso, lokasi tabrakan KA Rapih Doho dengan bus PO Harapan Jaya.

Menurut keterangan Kapolres Dedi, kepada penyidik Supinto mengaku pukul 12.00 WIB, Senin 23 Februari kemarin, dia menggantikan tugas Mariyono yang saat itu ijin tidak masuk. Menurut Dedi,  pengambilalihan tugas Mariyono kepada Supinto menjadi bagian penyelidikan petugas.

Polisi ingin mencari tahu, apakah Supinto memang layak menjaga palang perlintasan KA yang berbahaya, termasuk juga siapa yang bertanggungjawab atas pengambilalihan tugas ini.

“Khusus hal ini akan kita perdalam. Apakah memang tersangka ini layak menjadi petugas penjaga perlintasan mengingat tugasnya adalah sebagai pemelihara rel kereta api?” ujarnya, Selasa (24/2/2009).

Menanggapi pengambilalihan tugas Mariyono oleh Supinto, karena Mariyono ijin ada keperluan keluarga, Kepala Stasiun KA Kota Kediri Warsito mengatakan, jika piket penjagaan perlintasan KA sudah terjadwal.

Menurut dia,  meski Supinto bertugas sebagai pemelihara rel kereta, menjaga perlintasan juga menjadi piketnya. “Tugas menjaga perlintasan KA juga merupakan tugas Supinto. Jadi dalam hal ini dia tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena hari itu memang dia menggantikan Mariyono yang tidak masuk karena ada keperluan keluarga,” ujarnya.

Supinto baru bisa menyalahkan petugas lainya, kata Warsito, jika dia menolak dan terpaksa dalam menggantikan Mariyono. “Sementara yang terjadi. Dia memang menggantikan Mariyono,” terangnya.(Solichan Arif/Sindo/hri)

PT KA Ujicoba Rel di Lokasi Tabrakan KA Doho

Selasa, 24 Februari 2009 – 21:50 wib

KEDIRI – Pihak PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional VII Surabaya mendatangkan satu kereta crane dari Daop Jogjakarta. Kereta crane ini untuk menarik tiga gerbong yang masih anjlok di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso Kediri.

Dalam proses evakuasi gerbong yang disaksikan tim Laboratorium Forensik Polda Jatim, petugas PT KA hanya berhasil menaikkan dua gerbong. Sementara satu gerbong belum bisa dibawa kembali ke stasiun, karena posisinya melintang di tengah jalan.

Proses evakuasi ini berlangsung sejak Senin 23 Februari malam hingga hari ini, Selasa (24/2/2009). Berat gerbong dan ratusan warga yang ingin menyaksikan dari dekat menjadi kendala tersendiri.

Menurut keterangan Kepala Daop VII Sholeh Kosasih, sampai hari ini jalur KA Kediri-Tulungagung masih putus total. Setiap warga eks Kerasidenan Kediri yang hendak menggunakan KA Doho, Gajayana, dan Matarmaja harus melalui stasiun Kertosono.

“Sampai saat ini jalur KA Kediri-Tulungagung masih putus total. Selain masih melakukan evakuasi gerbong KA, kita juga melakukan perbaikan rel yang rusak,” ujarnya singkat.

Kepala Stasiun Kota Kediri Warsito menambahkan, rencananya hingga Rabu 25 Februari besok, proses evakuasi selesai. Setelah itu PT KA akan melakukan uji coba perlintasan kereta. Dalam proses uji coba ini kereta yang melintas maksimal dengan kecepatan 5 Km/jam.

“Kalau memang dalam uji coba ini tidak ada kerusakan, maka jalur akan langsung dinyatakan dibuka lagi,” terangnya.(Solichan Arif/Sindo/hri)

6 Jasad Korban Tabrakan KA Doho Dikenali

Selasa, 24 Februari 2009 – 21:20 wib

KEDIRI – Sebanyak enam dari tujuh orang korban meninggal dunia tabrakan antara Kereta Api Rapih Doho dengan bus Patas PO Harapan Jaya yang berada di RSU Bhayangkara Kota Kediri sudah berhasil diidentifikasi.

Keenam orang korban tewas itu di antaranya, Esti Mumpuni warga Rungkut Asri Surabaya. Kemudian Basuki Purnomo warga Kutai Kertanegara (Kalimantan), Umi Sadiyah, warga Desa/Kec  Srengat Kabupaten Blitar,  Undarmoko (bukan Sarwoko), warga Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung (kondektur),  Andri Turianto, warga Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri (kernet) dan Agung Setiawan warga Ringin Pitu Kab Tulungagung (sopir bus).

Sedangkan korban tewas ketujuh adalah seorang perempuan yang diperkirakan berusia 30 tahun. Jasad yang sebagian tubuhnya ini rusak karena benturan keras itu bercirikan tinggi sekitar 160 cm, berat 55 kg dan memiliki tato lumba-lumba pada pergelangan kaki kirinya.

Menurut keterangan Humas RSU Bhayangkara Kota Kediri Emi Pujiharti, selain “Mrs X” jenazah Basuki yang berasal dari Kutai Kertanegara yang belum diambil keluarganya.

“Sedangkan lima jenazah lainya hari ini (Selasa)  sudah diambil keluarganya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2009).

Semua korban meninggal dunia ini adalah penumpang bus PO Harapan Jaya .

Emi mengaku kesulitan melacak identitas korban Mrs X yang masih menghuni kamar mayat rumah sakit. Sebab dari tubuh perempuan yang mengenakan jam tangan Odissey, pakaian warna hijau daun dan celana panjang coklat ini tidak ada alat pengenal sama sekali.

“Kami berharap untuk pihak keluarga yang memiliki ciri-ciri seperti jenazah ini segera menghubungi pihak rumah sakit,” pungkasnya.

Sementara itu jumlah penumpang luka-luka yang masih dirawat di RSU Bhayangkara sebanyak 10 orang. Sebanyak 10 orang korban luka-luka di RSUD Gambiran Kediri, 7 orang masih dirawat, satu orang masuk ruang Intensif Care Unit (ICU) dan 2 orang pulang paksa. Sedangkan 5 orang korban luka yang dirawat di RSU Baptis Kediri, tinggal dua orang. Sebab tiga orang sudah pulang.

Seperti diberitakan, diduga akibat menerobos palang pintu perlintasan KA yang masih tertutup, sebuah bus Patas Po Harapan Jaya yang hendak menuju Surabaya dihantam KA Rapih Dhoho yang hendak menuju Tulungagung Senin 23 Februari sore. Akibat tabrakan hebat ini 7 orang tewas dan puluhan lainya luka-luka.(Solichan Arif/Sindo/hri)

Penunggu Palang KA Maut: Saya Terlambat!

Rabu, 25 Februari 2009 – 02:36 wib

KEDIRI  - Supinto (46) penjaga palang pintu perlintasan Kereta Api di Jalan Brigjen Katamso Kota Kediri yang ditetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kecelakaan maut antara Kereta Api Rapih Dhoho dengan bus Patas PO Harapan Jaya ini, hanya bisa tertunduk lesu ketika petugas Kepolisian Resor Kota Kediri bersama petugas Laboratorium Forensik  (Labfor) Polda Jawa Timur menggiringnya ke pos penjagaan tempatnya bertugas.

Bekali-kali bapak satu anak ini menganggukkan kepala tidak pasti, sambil sesekali tersenyum dengan wajah  kecut, ketika petugas mengulangi perintah kepadanya.

Warga Dusun Sumber Cangkring Desa Banjar Anyar Kecamatan Kras Kabupaten Kediri ini nampak canggung. Sebab selain petugas kepolisian, ratusan pasang mata milik warga sekitar lokasi kecelakaan juga ingin menyaksikanya dari dekat.

Bahkan tidak sedikit warga yang berebut mengintip dari jendela nako pos penjagaan yang sempit. Selasa (24/2/2009) siang tadi, Supinto yang mengenakan kaos kerah warna cream motif garis diminta polisi untuk memeragakan bagaimana dirinya bekerja sebagai penjaga perlintasan KA.

“Saat itu saya sudah menutup palang pintu,” tutur Supinto lirih kepada petugas yang menginterogasinya.

Polisi ingin memastikan apa yang dilakukan Supinto saat maut terjadi, hingga KA dengan lima rangkaian gerbong itu menghantam sebuah bus yang melintas dan menewaskan tujuh orang penumpangnya.

Beberapa saat setelah menghirup nafas dalam-dalam, pria berkulit gelap karena mungkin  terlalu sering tersengat matahari itu berjalan perlahan menuju ruang tempat peralatan elektornik berada. Dengan jemari yang sedikit tergetar, Supinto menyentuh knop atau tombol di ruanganya. Sontak suara sirene meraung sekaligus diikuti tertutupnya palang pintu perlintasan.

“Saat saya menekan tombol itulah tiba-tiba suara keras menggelegar terjadi. Dan ternyata kereta yang datang telah menabrak bus yang  melintas di sana,” terangnya.

Supinto mengaku terpaku tak bergerak ketika melihat lokomotif menghantam bus hingga terpental dan menjadi puing-puing. Kakinyapun kaku untuk dilangkahkan, walapun telinganya mendengar jerit tangis penumpang yang berebut mencari selamat.

Supinto mengaku baru bisa kembali sedikit normal, ketika petugas kepolisian  datang dan mengamankanya ke kantor polisi. “Saat itu saya hanya shock. Tak percaya dengan penglihatan saya,” paparnya.

Kepada petugas, Supinto mengaku sempat beberapa kali keluar dari pos penjagaan untuk memastikan kereta datang. Karena hujan deras, Supinto mengaku tidak bisa melihat sinyal adanya  kereta  yang bakal melintas.

Sinyal berbentuk tanda panah ini berada sekitar 150 meter dari pos penjagaan. Sementara sinyal kereta yang berupa telepon dari stasiun  sudah berdering. “Saya sampai keluar dua kali dari ruangan untuk memastikan. Sebab telpon juga sudah berdering. Tapi karena hujan saya tidak bisa melihat sinyal,” paparnya.

Disisi lain, Supinto juga tidak melihat lampu lokomotif yang biasanya menjadi tanda kereta bakal lewat. “Pada saat saya melihat keluar lagi itulah saya melihat adanya lampu KA. Dan ketika saya lari ke dalam ruangan dan sempat memencet tombol palang perlintasan. Namun  kecelakaan terjadi. Saya memang terlambat menutup,” sesalnya.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Polisi Slamet Pujiono mengatakan keterangan yang disampaikan tersangka Supinto akan menjadi dasar petugas untuk memperdalam penyelidikan.

“Terutama siapa yang bertanggung jawab atas tugas yang dilakukan tersangka. Selain itu tentu ada jeda waktu jelas kereta yang baru lepas dari stasiun,” pungkasnya.

Akibat kelalaian itu, Supinto akan dijerat dengan pasal 359 KUHP, yakni kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain  dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun.  (Solichan Arif/Sindo/fit)

2 Comments

Filed under Public Transportation, Railway Transport, Traffic Safety

Tabrakan Kereta Api di Bojonegoro, 2 Tewas

news

Nanang Fahrudin

Tabrakan Kereta Api di Bojonegoro, 2 Tewas

Jum’at, 23 Januari 2009 – 17:05 wib, Okezone.com

BOJONEGORO – Tabrakan kereta api kembali terjadi di Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (23/1/2009). KA Rajawali dan Kereta Barang terjadi sekira pukul 16.50 WIB.

Tabrakan mengakibatkan dua orang tewas masing-masing bernama Sarjan dan Supriyadi. Dua orang tersebut merupakan masinis dan co masinis dari kereta barang. Keduanya kini masih berada di lokasi kejadian yang berjarak kurang lebih 100 meter dari Stasiun Kapas.

Polisi kini telah berada di tempat kejadian untuk membantu evakuasi puluhan penumpang yang mengalami luka parah. Pantauan di lapangan, kondisi dua kereta api yang tertabrak menyebabkan dua gerbong depan rusak parah. Bahkan roda kereta barang terangkat ke atas.

Sebagian penumpang yang telah keluar dari gerbong kereta dan mengalami luka, telah dilarikan ke RSUD Bojonegoro. Belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak stasiun Kapas mengenai penyebab tabrakan. (Nanang Fahrudin/Sindo/nov)

news

nanang fahrudin

Tabrakan Kereta, Warga Bantu Evakuasi Korban Terjepit

Jum’at, 23 Januari 2009 – 17:37 wib

BOJONEGORO – Aparat kepolisian dibantu warga yang tinggal di dekat Stasiun Kapas, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengevakuasi satu orang yang terjepit di gerbong depan KA Rajawali.

Salah seorang yang terjepit di antara kereta lokomotif dan gerbong satu diperkirakan merupakan masinis KA Rajawali. Aparat dan warga masih membantu korban yang kakinya terjepit itu. Rencananya, aparat akan mengupayakan agar pintu dapat dilepas agar dapat mengevakuasi korban.

Informasi yang diterima, kereta barang Antaboga yang datang dari arah barat bertabrakan dengan KA Rajawali yang datang dari arah timur. Keduanya berada dalam satu rel. Belum ada keterangan resmi tentang penyebab terjadinya tabrakan yang menyebabkan dua orang tewas.

Salah seorang penumpang KA Rajawali menceritakan, saat kereta berjalan tiba-tiba dia mendengar adanya suara keras dan guncangan. Dia pun terpental dari tempat duduknya dan beberapa barang bawaan penumpang yang berada di atas berjatuhan. Tak lama, terlihat lantai gerbong kereta mulai terangkat.

Sebagian penumpang KA Rajawali yang selamat memilih segera meninggalkan lokasi tabrakan kereta tersebut. Mereka mengaku syok.

Tiga korban tabrakan yang mengalami luka-luka sudah dilarikan ke RSUD Bojonegoro. Kebanyakan penumpang yang mengalami luka-luka adalah mereka yang duduk di gerbong satu KA Rajawali. (Nanang Fahrudin/Sindo/nov)

news

nanang fahrudin

Korban Terjepit Bukan Masinis KA Rajawali

Jum’at, 23 Januari 2009 – 18:20 wib

BOJONEGORO – Salah seorang korban yang terjepit di lokomotif KA Rajawali (bukan gerbong depan seperti yang disebutkan sebelumnya), bukanlah masinis KA Eksekutif Rajawali jurusan Surabaya-Semarang.

Korban diketahui bernama Joko Budi Santoso (45), warga Kecamatan Dompleng, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hal tersebut dikatakan Marjani, paman korban yang selamat dari tabrakan tersebut.

Marjani mengatakan, Joko merupakan pegawai Dinas Kesehatan yang bertugas di Blora. Dia ke Surabaya untuk menjenguk anaknya yang bekerja di Surabaya. Ditambahkan, keponakan Marjani tersebut sudah terbiasa naik kereta dan menumpang di kereta loko bersama masinis.

Secara umum, kondisi Joko masih baik. Dia masih dapat berbicara dan meminta air minum kepada petugas yang membantu evakuasi dirinya. Kaki Joko terjepit di gerbong mesin yang berada di depan ruang masinis.

Warga dan aparat kepolisian masih terus membantu evakuasi warga dengan menggunakan las untuk melepaskan dinding kereta lokomotif yang menjepit kaki Joko.

Salah seorang warga Kapas yang tinggal tak jauh dari lokasi tabrakan mengatakan, sekira pukul 16.00 WIB dirinya mendengar ada suara seperti bom meledak. Dia bersama warga lainnya mendekati ke arah sumber suara.

Ketika melihat adanya tabrakan, mereka segera mendekat dan menolong para penumpang KA Rajawali. Belum ada informasi resmi dari pihak stasiun Kapas. Bahkan Ka Humas Daops VIII Sugeng Priyono saat dihubungi, telepon selulernya tidak aktif.

Kapolres Bojonegoro AKBP Agus Sariful Hidayat yang berada di lokasi tabrakan belum mau memberikan keterangan. Dia memerintahkan jajarannya untuk mengamankan lokasi tabrakan antara kereta barang Antaboga dengan KA Rajawali dan memberikan garis polisi. (Nanang Fahrudin/Sindo/nov)

news

nanang fahrudin

Bupati Bojonegoro Bantu Korban Tabrakan Kereta

Jum’at, 23 Januari 2009 – 19:14 wib

BOJONEGORO – Bupati Bojonegoro Suyoso datang ke lokasi tabrakan kereta antara kereta barang Antaboga dan KA eksekutif Rajawali jurusan Surabaya-Semarang.

Sekira pukul 17.30 WIB, Suyoso datang bersama jajarannya ke lokasi tabrakan sekira 100 meter dari Stasiun Kapas di Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

“Saya minta seluruh aparat desa dan dinas kesehatan termasuk dinas sosial untuk membantu,” ujarnya kepada wartawan di Stasiun Kapas, Jumat (23/1/2009). Suyoso memerintahkan jajaran Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, serta aparat desa untuk membantu proses evakuasi korban tabrakan kereta. Dinas kesehatan Kabupaten Bojonegoro telah menyiapkan oksigen dan ambulans.

Tabrakan kereta yang terjadi pada 100 meter dari Stasiun Kapas Bojonegoro terjadi sekira pukul 16.00 WIB. Tabrakan melibatkan kereta barang Antaboga dan KA Eksekutif Rajawali jurusan Surabaya-Semarang.

Kereta Barang yang akan menuju Surabaya, dihantam KA Rajawali yang akan mengarah ke Semarang. Tabrakan mengakibatkan dua orang tewas yakni masinis dan co masinis bernama Sarjan dan Supriyadi.

Satu korban terjepit di lokomotif KA Rajawali, dan tiga orang yang mengalami luka-luka langsung dilarikan ke RSUD Bojonegoro. Proses evakuasi sampai saat ini masih berjalan. Sementara Humas PT KAI Daops VIII Sugeng Priyono belum dapat dikonfirmasi. (Nanang Fahrudin/Sindo/nov)

news

19 Korban Tabrakan Dilarikan ke RSUD Bojonegoro

Jum’at, 23 Januari 2009 – 20:53 wib

BOJONEGORO - Sebanyak 19 korban tabrakan kereta api Eksekutif Rajawali dengan kereta api barang dari arah Semarang, sudah dilarikan ke RSUD Sosodoro Djatikoesomo, Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (23/1/2009) malam.

Mereka rata-rata mengalami luka patah tulang setelah tergencet besi KA. Bahkan lima di antaranya harus menjalani rawat inap, lantaran kondisinya kritis.

Menurut keterangan humas RSUD Sosodoro Djatikoesomo dr Thomas Djaja, jumlah korban sebenarnya berjumlah 21 orang. Hanya dua orang meninggal, yakni Sarjan dan Agus Supriyadi. Keduanya hingga kini masih berada di kamar mayat RSUD. “Ada lima korban yang harus rawat inap. Karena lukanya parah,” katanya.

Dia menjelaskan, korban tabrakan KA tersebut satu persatu dibawa ambulance ke RSUD di Jalan dr Wahidin Sudirohusodo. Sebagian lagi masih berada di ruang UGD untuk mendapat perawatan medis.

Menurut dia, semua korban bukan warga Bojonegoro, sehingga sebagian memilih rawat jalan atau dibawa pulang keluarganya.

Informasi yang diperoleh di lapangan, gerbong KA barang sekira pukul 20.00 WIB sudah ditarik ke stasisun Bojonegoro. Meski demikian, belum ada kereta lain yang melintas di jalur Bojonegoro-Semarang tersebut.

“Gerbong KA barang sudah ditarik. Sebelumnya lokomotifnya dipisahkan. Sedang yang Rajawali kemungkinan dialihkan ke jalur II,” kata Johny Nurhariyanto, Humas Pemkab Bojonegoro yang masih berada di lokasi kejadian bersama Bupati Bojonegoro Suyoto.

Dia juga menuturkan, pemkab siap membantu para korban yang hendak melanjutkan perjalanan ke Semarang. Pemkab telah menyiapkan bus untuk membantu penumpang.(Nanang Fahrudin/Sindo/ded)

2 Korban Kritis Tabrakan KA Dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya

Sabtu, 24 Januari 2009 – 07:37 wib

JAKARTA - Sebanyak 2 korban kritis kecelakaan kereta api di Bojonegoro yang ditangani oleh RSUD Sosodoro Djatikoesomo Bojonegoro dilarikan ke RS Dr Soetomo, Surabaya.

“Sebanyak 2 korban kritis kami rujuk ke RS Dr Sutomo, Surabaya. Satu karena pendarahan otak dan keterbatasan peralatan pada RS kami, yang lainnya dipindahkan atas permintaan keluarga, karena domisilinya di Surabaya, dan menderita patah tulang yang membutuhkan perawatan yang memakan waktu lama” ujar Humas RSUD Sosodoro Djatikoesomo  Drg Thomas Jaya, kepada okezone, via telepon, Sabtu (24/1/2009).

Akibat kecelakaan antara KA Eksekutif Rajawali dan kereta barang pada Jumat 23 Januari 2009 pukul 16.50 WIB itu, menurutnya terdapat  21 korban yang ditangani oleh rumah sakit. Di antaranya 2 orang tewas, 9 kritis, dan 10 luka ringan dan sedikit luka serius seperti robek, namun masih bisa diobati dengan rawat jalan.

Dari 9 orang yang mengalami kritis, 2 di antaranya dirujuk ke RS Dr Sutomo Surabaya, dan 7 lainnya masih berusaha ditangani oleh RSUD Sosodoro Djatikoesomo.(fit)

Penyebab Kecelakaan KA di Bojonegoro Belum Diketahui

Sabtu, 24 Januari 2009 – 12:23 wib

BOJONEGORO - PT Kereta Api belum mengenai penyebab dari tabrakan KA Rajawali dan KA barang di Stasiun Bojonegoro pada Jumat kemarin.

Humas PT KAI Daop VIII Sugeng Priyono mengatakan saat ini pihaknya lebih terfokus pada penangan di lokasi kejadian agar jalur segera bersih sehingga operasional KA kembali normal.

“Soal penyebab kecelakaan, ada pihak KNKT dan aparat kepolisian yang menyelidikinya,” ujar Sugeng saat dihubungo okezone, Sabtu (24/1/2009).

Menurutnya, pihak KNKT sudah melakukan penyelidikan dan meninjau lokasi kecelakaan. Begitu juga dengan aparat kepolisian. “Untuk lebih jelasnya mengenai penyebab tabrakan KA, bisa koordinasi dengan KNKT,” papar Sugeng.

Humas PT KAI Daop VIII menambahkan dua korban kritis dirujuk ke  RS Dr Soetomo untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Korban lainnya dipindahkan ke rumah sakit lainnya atas permintaan keluarga korban.

Diketahui sebelumnya, terjadi tabrakan kereta api Eksekutif Rajawali dengan kereta api barang dari arah Semarang, di Bojonegoro sekira pukul 16.50 WIB, Jumat 23 Januari. Kecelakaan ini menyebabkan 2 orang tewas, 9 orang kritis dan 10 orang luka ringan.(ram)(uky)

KNKT Turunkan Tim Selidiki Tabrakan KA

Sabtu, 24 Januari 2009 – 14:24 wib

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah menurunkan tim untuk mengumpulkan bahan-bahan dan informasi dalam mengungkap penyebab tabrakan KA Rajawali dan KA barang di Stasiun Bojonegoro.

“Kemarin malam dan hari ini kami sudah menurunkan tim untuk menyelidiki tabrakan KA di Bojonegoro. Kami masih butuh waktu, sehingga belum bisa menyatakan apa penyebab,” ujar jubir KNKT JA Barata saat dihubungi okezone, Sabtu (24/1/2009).

Dia mengatakan pihaknya mengacu pada prosedur, memerlukan data dan fakta atas kejadian tersebut sebagai bahan penyelidikan, setelah itu baru dipelajari dan disimpulkan apa yang terjadi sebenarnya.

“Kami tidak bisa menduga-duga, tapi harus investigasi. Perlu wawancara dan boleh jadi harus melalui uji leb serta mendatangkan ahli logam atau metalurgi. Jadi tidak bisa cepat menyimpulkan. Beda dengan Mama Lauren yang ditanya langsung meramalkan,” tandas JA Barata.

Pada dasarnya, KNKT akan bekerja maksimal dan merekomendasikan sesegera mungkin apa yang menjadi penyebab tabrakan itu ke pihak penyelenggara. Tapi belajar dari pengalaman, sebelum kejadian biasanya ada rentetan peristiwa yang mendahuluinya.

JA Barata menegaskan terlalu dini bila menghubungkan kasus tabrakan KA ini dengan adanya faktor`kelalaian petugas (human error) atau buruknya infrastrutur KA yang menjadi penyebab kecelakaan. “Masing-masing kejadian kondisinya berbeda-beda sehingga tidak bisa disimpulkan karena ini dan itu,” ujarnya. (ram)

3 Gerbong KA Rajawali Masih Teronggok di Stasiun Bojonegoro

Minggu, 25 Januari 2009 – 09:23 wib

BOJONEGORO – Sebanyak tiga gerbong KA Rajawali yang mengalami tabrakan akibat salah jalur di Stasiun Bojonegoro hingga pagi ini masih teronggok di lokasi. Satu dari ketiga gerbong yang masih tertinggal tersebut mengalami rusak parah.

“Yang dua gerbong memang tidak parah, hanya perlu pengecatan dan perbaikan sedikit. Tapi yang satu lagi rusak parah, kemungkinan tidak bisa dipakai,” ungkap Kepala Stasiun KA Bojonegoro Joko Mardigutomo saat dihubungi, Minggu (25/1/2009).

Gerbong yang mengalami rusak parah tersebut merupakan gerbong nomor satu yang letaknya tepat dibelakang gerbong masinis. Sementara gerbong lain yang tidak mengalami kerusakan telah dipindahkan ke Stasiun Pasar Turi. Bahkan telah digunakan. Namun sebelumnya gerbong tersebut sempat mengalami perbaikan untuk pengecekan dan sinyal selama dua jam.

Sementara arus lalu lintas kereta api yang melalui sejak tadi malam telah berjalan normal. Setidaknya KA Gumarang dan KA Sembrani dengan jurusan Jakarta-Surabaya telah melintas di Stasiun Bojonegoro.

Sementara arus lalu lintas KA sudah normal. Tadi malam sudah dijadwal KA Gumarang, dan KA Sembrani jurusan Jakarta -surabaya sudah bisa melints dengan normal.

“Tapi di lokasi, KA yang melintas diharuskan melambatkan lajunya,” terang Joko.(Nanang Fahrudin/Sindo/hri)

2 Korban Tabrakan KA Bojonegoro Masih Dirawat

Minggu, 25 Januari 2009 – 16:33 wib

BOJONEGORO – Dua korban tabrakan KA Rajawali dengan KA Barang Antaboga di Stasiun Kapas, Bojonegoro, Jawa Timur, hingga kini masih dirawat di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. Sedangkan salah satu korban yang mengalami pendarahan otak, Heru, dirujuk ke RSU dr Soetomo Surabaya.

Dua korban yang masih dirawat adalah Joko Budi Santoso, warga Doplang, Blora (Jateng) yang saat kejadian terjepit di gerbong masinis dan Yono, penumpang yang mengalami luka di tulang selangkangan.

“Korban Budi kondisinya mulai membaik. Kakinya patah terjepit besi,” ujar Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Thomas Djaja kepada wartawan, Minggu (25/1/2009).

Sedang, sebanyak 17 pasien lainnya yang sempat dirawat di RSUD memilih rawat jalan, termasuk masinis KA Rajawali Didik Mardiyanto, yang sudah pulang ke rumahnya di Semarang. Korban lain yang hanya luka ringan, memilih pulang ke daerah masing-masing.

“Soal pembayaran biaya perawatan sampai saat ini belum ada kejelasan dari pihak PT KAI. Untuk 17 pasien yang sudah pulang, mereka membayar sendiri semua biaya pengobatan di RSUD. Sedang, dua orang yang dibawa ke RSU dr Soetomo dan Didik, masinis KA akan diklaimkan ke PT KAI,” tandasnya.

Seperti diketahui, tabrakan dua KA terjadi pada Jumat 23 Januari 2009 lalu di stasiun Kapas, Bojonegoro. Akibat kecelakaan itu, dua orang meninggal dunia, yakni masinis dan pembantu masinis KA Barang Sarjan dan Agus Supriyadi, keduanya warga Cepu, Blora, Jawa Tengah. (Nanang Fahrudin/Sindo/teb)

Sumber : okezone.com

1 Comment

Filed under Railway Transport

Tersambar KA, Mobil Kepala Dusun Terseret 30 M

Kamis, 25 Desember 2008 – 12:53 wib, Fitra Iskandar – Okezone

JAKARTASikap ekstra hati-hati harus dilakukan saat melintas di perlintasan kereta api khususnya yang tak memiliki plang, jika tidak ingin menjadi korban sambaran kereta.Seperti yang dialami Hartoyo (46). Akibat melintasi rel saat kereta melaju, dia pun tewas.

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 8.35 WIB, Kamis (25/12/2008) di Km 131+9/0 Desa Jonggor Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Saat itu kereta Argo Lawu dari Solo tujuan Jakarta melintas, namun mobil Suzuki Esteem NO 7719 LJ yang dikendarai korban diduga terjebak macet saat berada di tengah jalur rel.

Akibatnya, mobil pun terseret sejauh 30 meter. Hartoyo tewas sedangkan Yunus anaknya (14) mengalami luka-luka. Korban kemudian di bawa ke RS Tegal Yoso sedangkan Yunus dibawa ke RSU Klaten.

Kahumas PT KA Daop VI Hartomo mengatakan kecelakaan terjadi karena diduga korban kurang disiplin dan menaati rambu-rambu di perlintasan itu.

“Memang tidak ada palang perlintasan, tapi rambu-rambu nya komplit. Pengendara mungkin kurang disiplin,” jelas Hartomo saat dihubungi okezone.

Hartoyo sendiri adalah Kepala Dusun Talang Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.”Korban akan mendapat santunan dari Jasa Raharja,” tambah Hartomo.(fit)

Sumber : okezone.com

Leave a comment

Filed under Traffic Safety

Tabrakan KA Peti Kemas Vs KRL, 4 Penumpang Luka

Kamis, 30 Oktober 2008 – 12:59 wib, Muhammad Saifullah – Okezone

JAKARTA – Peristiwa kecelakaan antara dua kereta api terjadi di belakang Mangga Dua Square, Jakarta sekira pukul 10.25 WIB.

Tabrakan tersebut melibatkan kereta rel listrik (KRL) Ekonomi AC jurusan Bekasi Stasiun Kota dengan kereta api barang bernomor 1001 jurusan Surabaya-Jakarta.

“Kejadian di lintasan Senen-Jakarta Kota KM 1+8 antara Kemayoran – Kampung Bandang,” kata Kepala Humas PT KA Daops I Ahmad Sujadi kepada okezone di Jakarta, Kamis (30/10/2008).

Sujadi menjelaskan, insiden ini terjadi saat KRL mulai berjalan untuk melanjutkan perjalanan setelah berhenti sejenak. Namun, tiba-tiba diseruduk KA barang yang mengangkut peti kemas dari arah belakang. “Ruang masinis KRL mengalami sedikit kerusakan,” terang dia.

Akibat peristiwa ini, empat orang penumpang KRL mengalami luka-luka dan dilarikan ke RS Husada yang tak jauh dari lokasi kecelakaan. “Mereka luka ringan, dua perempuan dan dua laki-laki,” ujar dia.  (ful)

Sumber : okezone.com

Leave a comment

Filed under Railway Transport, Transport News