Fenomena Road Humps di Yogyakarta

Sebenarnya tidak ada yang tidak tahu apa itu road humps. Setiap hari, khususnya kita yang berdomisili di Yogyakarta dan sering melintasi jalan-jalan kecil atau di kampung, pasti akan melewatinya. Kota-kota lain di seluruh dunia juga memilikinya. Bentuknya memang beraneka ragam, mulai dari yang besar, kecil, halus, kasar, bergelombang, trapesium, hingga bentuk yang hampir menyerupai kotak. Letaknya ada di tengah jalan, dengan posisi melintang, seperti memang sengaja diletakkan atau dibuat untuk menghalangi laju kendaraan. Ini memang hanya istilah teknis, karena masyarakat telah akrab memanggilnya ‘polisi tidur’.

Istilah resminya adalah road humps atau sering juga disebut speed humps atau speed bumps. Arti dalam Bahasa Indonesia mungkin memang agak aneh : bongkokan / tonjolan / jendulan di jalan, atau lebih tepatnya bongkokan / tonjolan / jendulan untuk mereduksi kecepatan kendaraan yang melewati jalan.

Road humps hanyalah satu di antara beberapa jenis sarana yang digunakan untuk meredakan atau mereduksi kecepatan lalu lintas (traffic calming). Beberapa jenis lainnya antara lain : bulbouts, yang dikenal juga dengan istilah choker, curb bulb, neckdown, nub, atau gateway. Bulbouts ini berupa pengurangan lebar jalan yang biasanya digunakan di simpang empat, berbentuk setengah, sepertiga atau seperempat lingkaran, dibuat dengan warna mencolok agar terlihat jelas oleh pengemudi kendaraan. Tujuannya adalah mengurangi jarak lintasan penyeberang jalan dan mengurangi kecepatan kendaraan. Jenis ini masih belum populer digunakan di Indonesia. Jenis yang lebih populer di Indonesia, dan juga di Yogyakarta adalah pita penggaduh (rumble strips), berupa tonjolan-tonjolan kecil seperti pita dalam jumlah lebih dari satu yang dipasang melintang jalan. Di Yogyakarta, pita penggaduh ini biasanya banyak dipasang pada ruas jalan sebelum pintu perlintasan kereta api. Masih banyak lagi jenis traffic calming lainnya, seperti street narrowing (penyempitan badan jalan), bar markings (garis kuning melintang jalan), rumble areas (pengasaran permukaan jalan), dan lain-lainnya. Semuanya bertujuan untuk mengurangi kecepatan kendaraan, melindungi penyeberang jalan dan mengurangi kecelakaan lalu lintas. Dari sekian banyak jenis traffic calming, yang menarik untuk disimak, untuk kondisi di Yogyakarta, adalah road humps.

Fenomena awal pembuatan road humps di Yogyakarta mungkin sudah dimulai puluhan tahun lalu, meskipun hingga sekarang belum ada penelitian yang dapat memastikan jumlah road humps di Yogyakarta. Namun yang jelas, dalam dua tahun terakhir, road humps menjadi seperti trend, menghiasi jalan-jalan di hampir seluruh pelosok Yogyakarta, dari mulai jalan kolektor yang lumayan lebar seperti jalan-jalan di seluruh area Kampus UGM Bulaksumur (yang dihiasi road humps dengan bentuk hampir menyerupai trapesium, bahkan nyaris kotak persegi panjang), jalan kolektor yang menghubungkan Jalan Laksda Adi Sucipto – Ringroad Utara seperti Jalan Wakhid Hasyim, hingga jalan lokal, jalan kampung dan perumahan-perumahan. Yang sangat menarik untuk disimak adalah jumlahnya yang kian hari kian bertambah. Tujuannya adalah memang seperti yang diharapkan dalam teori manajemen lalu lintas, yakni memaksa pengendara untuk memperlambat kecepatan kendaraannya. Efektivitas road humps memang cukup ampuh. Namun efek samping yang dihasilkan adalah ketidaknyamanan pengendara, kerusakan kendaraan, sistem drainase pembuangan air hujan yang terhambat dan berakibat banjir, hingga bahkan kecelakaan kendaraan akibat keberadaan road humps itu sendiri! Hal ini sangat mungkin terjadi karena bentuk fisiknya yang tidak seragam, tidak mengikuti standar baku, pengerjaannya secara swadaya oleh masyarakat tanpa kaedah-kaedah teknis yang tepat, sehingga seringkali lokasi pemasangannya pun menjadi kurang tepat. Contohnya adalah di jalan kampung di daerah Demangan Baru, di mana tiap delapan meter Anda harus melewati road humps dengan bentuk yang sangat ekstrem!

Sebenarnya latar belakang pembuatan road humps tidak terlepas dari bergesernya kultur budaya masyarakat Yogyakarta – dan tentunya di kota-kota lain di Indonesia – dari kultur tradisional yang sarat tata krama, sopan santun, saling menghargai, gotong royong menjadi budaya urban yang cenderung egosentris, termasuk dalam budaya berlalulintas. Hal ini diperparah dengan derasnya budaya luar yang masuk dalam bentuk aglomerasi kultural. Dalam hal berlalulintas, budaya urban identik dengan efisiensi waktu dan kecepatan akses, yang apabila tidak diimbangi dengan kesadaran norma dan peraturan, maka yang terjadi adalah penyakit-penyakit transportasi, seperti kesemrawutan, kemacetan, hingga kecelakaan. Kebutuhan untuk bergerak cepat pun dipenuhi dengan memiliki sepeda motor dan mobil menggantikan sepeda onthel dan delman. Ketika sepeda motor dan mobil merajai, kebutuhan untuk mengakses jalan pun menjadi tinggi dan cepat. Orang semakin butuh kecepatan untuk segera berakses, yang juga didukung oleh teknologi kecepatan kendaraan yang semakin pesat. Ketika budaya menghargai orang lain semakin luntur, pejalan kaki dan penyeberang jalan menjadi korban kebutuhan akan kecepatan, dan hasilnya adalah kecelakaan. Masyarakat sekitar kemudian bereaksi dengan membuat tulisan-tulisan di sudut-sudut jalan : ‘Jalan Pelan-Pelan, Banyak Anak-Anak’, atau ‘Hati-hati !’. Namun ketika peringatan ini hanya dipandang sebelah mata oleh pengendara, redaksi tulisan sedikit berubah menjadi agak keras : ‘Ngebut Benjut’. Ketika ini pun dirasa masih kurang, masyarakat menjadi lebih pemaksa dengan membangun road humps!

Di belahan dunia lain, road humps telah lama menjadi bahan perdebatan yang cukup sengit. Direktur Pelayanan Ambulan di London menyatakan bahwa pemasangan road humps menjadi dilematis karena di satu sisi alat ini bertujuan untuk memberikan jaminan keselamatan, namun di sisi lain ternyata menghambat aksesibilitas ambulan yang akan membawa korban ke rumah sakit (Joe Murphy, 2003). Pihak lain yang memprotes eksistensi road humps adalah Association of British Drivers atau Asosiasi Pengemudi Inggris (ABD, 2002), atau organisasi lain di Amerika Serikat yang memberikan alasan bahwa road humps berefek buruk pada kesehatan orang tua dan penyandang cacat (RADA, 2002).Road humps memang seharusnya diletakkan pada proporsi sebagai alat bantu terakhir yang memang sangat dibutuhkan dalam keadaaan mendesak, dengan ketentuan yang ketat dan adjustable dari sisi teknis. Standarisasi road humps dari pihak pemerintah (Dinas Perhubungan atau Kimpraswil) sangat dibutuhkan untuk mengakomodasi permintaan masyarakat namun juga mempertimbangkan eksistensi pengguna kendaraan, sehingga bentuknya pun dapat seragam, nyaman dan aman untuk dilewati kendaraan, serta tidak berefek buruk pada lingkungan sekitar (misalnya banjir). Keberadaan road humps yang bersifat semi permanen juga dapat diterapkan sehingga dapat dipasang pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat banyak penyeberang jalan atau banyak anak-anak yang melintas.

Terlepas dari sisi teknis, sebenarnya kunci dari polemik eksistensi road humps adalah kesadaran dari para pengendara kendaraan itu sendiri. Kepedulian terhadap pejalan kaki, penyeberang jalan dan pengendara sepeda harus diutamakan. Pengertian terhadap keberadaan rambu-rambu jalan, zebra cross, trotoar, hingga garis marka harus benar-benar ditanamkan kepada pengguna jalan.

Bila pengendara telah sedemikian tertibnya, saling menghargai sesama pemakai jalan, menghormati hak-hak pejalan kaki dan penyeberang jalan, maka langkah berikutnya adalah bergotong-royong membongkar kembali road humps di seluruh ruas jalan, karena memang sudah tidak ada gunanya lagi bukan?

(Artikel ini sudah pernah dimuat di Harian Kompas Edisi Jogja)

1 Comment

Filed under Transport's Articles

One response to “Fenomena Road Humps di Yogyakarta

  1. thie

    bagaimana pengaruh pemasangan road hump terhadap kurva demand dan supply? bagaimana dengan perubahan consumer surplus-nya? terima kasih
    Beo : road humps merupakan hambatan (traffic restraint), sehingga hipotesisnya adalah dengan adanya hambatan pasti memengaruhi permintaan perjalanan, atau setidaknya perjalanan yang melewati ruas jalan yg ada road humps-nya. Namun hipotesis ini harus diuji terlebih dulu dengan serangkaian tes statistik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s