Sejarah Angkutan Umum di Yogyakarta

Seorang mahasiswa pernah bertanya dalam sebuah mailing list, melihat carut marutnya lalu lintas di Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir dan semakin terpuruknya angkutan umum, sebenarnya bagaimanakah sejarah asal mula angkutan umum di Yogyakarta?

Saya pernah menulis sebuah makalah untuk bahan presentasi Bapak Gubernur pada Seminar Sistem Transportasi Masa Depan Yogyakarta di UGM pada Februari 2006, dan berikut ini saya nukilkan sedikit dari makalah tersebut.

Yogyakarta pernah memiliki predikat sebagai KOTA SEPEDA di masa lalu. Di dekade 60 hingga 70-an ini, moda sepeda ini sangat populer digunakan oleh masyarakat Yogyakarta, di samping moda tradisional lain seperti andhong dan gerobak (angkutan barang). Di masa sekarang pun masih terdapat banyak sisa-sisa peninggalan jaman sepeda, terbukti dengan masih banyaknya sepeda-sepeda kuno yang dirawat secara turun temurun. Karena perkembangan waktu dan semakin meluasnya progresivitas pergerakan, moda sepeda menjadi semakin ditinggalkan karena daya jelajahnya yang terbatas.

Di awal tahun 1970 hingga 1980, sejarah angkutan umum dimulai dengan munculnya COLT KAMPUS, yang dikelola oleh Dema (Dewan Mahasiswa) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin derasnya mahasiswa dari luar Yogyakarta yang menuntut ilmu di UGM, yang secara langsung akan membutuhkan sarana angkutan yang murah dan efektif. ”Colt Kampus” ini belum diatur secara legal oleh pemerintah, sehingga masih menggunakan plat hitam dengan moda kendaraan bermerk ”Colt” dan mampu menampung hingga 10 penumpang.

Seiring dengan perkembangan Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Mahasiswa, permintaan penumpang pun menjadi semakin bertambah secara signifikan. Pada awal 80-an, lahirlah sebuah koperasi angkutan umum perkotaan (KOPATA) yang dikelola dengan lebih profesional, diatur secara resmi oleh pemerintah melalui ijin trayek, menggunakan bus berukuran sedang dan berplat kuning. Lahirnya koperasi ini kemudian diikuti oleh koperasi-koperasi angkutan perkotaan lainnya, seperti Aspada, Puskopkar, dan Kobutri. Pemerintah juga berupaya membangun jalur-jalur perintis (jalur-jalur di luar kota) dengan membuat Perusahaan Umum, yakni DAMRI. Dari sisi optimalisasi jalur, konsep jalur pada masa itu belum terprogram dan tertata dengan baik, sehingga mekanisme penetapan jalur lebih banyak ditentukan oleh masing-masing koperasi. Penentuan jalur banyak mengalami disorientasi dari sisi passenger demand, sehingga berakibat pada inefisiensi jalur, seperti yang banyak terlihat di masa sekarang; jalur yang ada memiliki kecenderungan berputar-putar dan sering terjadi overlap. Jumlah armada angkutan umum perkotaan juga mengalami kenaikan yang luar biasa dan terkesan tidak terkontrol. Akibatnya dapat dirasakan pada masa kini, ketika tidak terjadi keseimbangan supply dan demand, yakni antara jumlah armada angkutan umum dengan jumlah penumpang.

1 Comment

Filed under Transport's FAQ

One response to “Sejarah Angkutan Umum di Yogyakarta

  1. Ratih

    Mas, thanks artikelnya,, tapi sebenere aku lagi butuh artikel perkembangan transportasi dari jaman antah berantah sampe tahun 70’an di lingkup jogja, buat skripsi,,, ada saran? nuwun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s