Berpuasa dalam Bertransportasi

Bulan Ramadhan, sebuah bulan kemuliaan bagi umat Islam, bulan ketika diwajibkan berpuasa untuk menuju titik puncak kedigdayaan seorang Muslim, yakni takwa (QS Al Baqarah : 183). Bila konteks ’puasa’ adalah ’menahan diri’, maka dalam segala bentuk kehidupan kita akan dapat melihat aktualitas konteks tersebut dalam keseharian, termasuk dalam bertransportasi.

Kelangsungan eksistensi transportasi selalu berada pada konsep ketergantungan. Dalam transportasi darat, dependensi terjadi pada moda angkutan sebagai sarana dan jalan sebagai prasarana. Ketika mesin bermotor ditemukan pada awal Abad XX, maka dependensi terhadap kendaraan bermotor melejit tanpa terkendali. Sepeda motor hingga mobil pun menjadi raja di jalan. Akibatnya sangat jelas, efek kongesti transportasi berupa kemacetan hingga polusi merajalela di kota-kota besar.

Di kota-kota besar di Indonesia, aksesibilitas selalu identik dengan kendaraan bermotor yang dimiliki secara pribadi karena bersifat door to door service. Dan ironisnya, kepemilikan kendaraan pribadi selalu diinterpretasikan sebagai peningkatan derajat hidup masyarakat urban dan kenaikan status sosial. Hal ini diperparah dengan gencarnya industri otomotif di tanah air yang kurang terkontrol dan tidak terintegrasi dengan pola pengembangan serta perencanaan transportasi, efektivitas energi dan lingkungan.

Anda akan mudah melihat banyaknya antrian pembeli di diler-diler mobil dan rela menunggu hingga hitungan bulan untuk memiliki mobil keluaran terbaru. Anda juga dapat melihat bahwa kendaraan ber-cc besar seperti SUV yang notabene boros bahan bakar ternyata laris manis di Indonesia. Akibatnya sangat parah, kota-kota besar di Indonesia kini memiliki angka rata-rata jumlah kendaraan pribadi yang cukup dahsyat, mencapai kisaran 80 hingga 95 persen dari total seluruh kendaraan yang ada di jalan raya.

Sebagai contoh kecil, tengoklah jumlah kendaraan pribadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tingkat pertumbuhannya semakin jauh dari nalar. Pertumbuhan sepeda motor per tahun yang ’hanya’ sembilan persen di tahun 1999, meroket menjadi 13 persen di tahun 2004. Kini, di tahun 2007, jumlah sepeda motor di DIY sudah melampaui angka satu juta unit!

Dominasi kendaraan pribadi juga berkorelasi positif pada dependensi bahan bakar minyak (BBM). Dari sisi subyek penggunaan, sektor transportasi ternyata menyedot kebutuhan BBM paling banyak, yakni 52 persen dari seluruh cadangan BBM di Indonesia dan mengalami kenaikan cukup signifikan; 5 – 8 persen per bulan. Dari angka ini, 75 persen di antaranya didominasi oleh subsektor angkutan jalan raya. Hasilnya juga cukup mengerikan, kadar polusi udara yang kian meninggi akibat polutan gas buang seperti COx, NOx, HC, SOx, hingga timbal. 

Dari sisi pemboros energi per penumpang-kilometer, moda kendaraan pribadi ternyata juga merupakan penyumbang terbesar yakni 580 Kcal/penumpang-kilometer, disusul pesawat udara sebesar 394 Kcal/penumpang-kilometer, bus umum 247 Kcal/penumpang-kilometer, dan kereta api 100 Kcal/penumpang-kilometer. Dari aspek pengeluaran CO2 per penumpang-kilometer, kendaraan pribadi pun menyumbang kadar terbesar dengan angka 45 gram/penumpang-kilometer, disusul pesawat udara (30 gram), ferry (24 gram), bus (19 gram), kereta api (5 gram) dan subway (3 gram).

Dan dari angka-angka itulah kita semakin tersadar, betapa kita selama ini telah mengadakan sebuah pemborosan hebat dalam bertransportasi. Aspek ’penahanan diri’ dalam esensi ’puasa’ sudah lepas dari kehidupan bertransportasi.

Dalam konteks perilaku pemborosan ini, Allah SWT sebenarnya telah mengingatkan kita yang cenderung berperilaku melampaui batas. ”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)” (QS Al Alaq 6-8).Keserbacukupan dan kemampuan manusia untuk membeli (ayat 7) telah membuat pola pragmatis dan cenderung praktis, tidak berpikir panjang, tidak terencana dan melampaui batas (ayat 6). Dalam buku Tafsir Al Mishbah, Quraish Shihab menyebutkan bahwa kata ‘la yathghaa’ dalam ayat ini terambil dari kata ‘taghaa’ yang terangkai dengan laam dan berfungsi mengukuhkan. Kata ‘taghaa’ pada mulanya berarti meluapnya air sehingga mencapai kondisi kritis dan membahayakan. Inikah cerminan kita dalam bertransportasi?

Tahan diri

Lalu, pilihan apa yang dapat dilakukan untuk mereduksi aksi pemborosan sektor transportasi ini? Skenario ’berpuasa’ dapat dilakukan dengan cara ’menahan diri’ untuk menggunakan kendaraan pribadi dan beralih pada angkutan publik yang jelas mampu menampung jumlah penumpang lebih banyak. Dengan asumsi konsumsi BBM yang sama, maka sebuah bus dapat menghemat pemakaian bahan bakar setara dengan pemakaian 16 mobil pribadi yang berisi tiga orang penumpang. Skenario ini tidak mudah, karena membutuhkan keseriusan pemerintah untuk merevitalisasi, mengoptimalisasi serta merefungsionalisasi angkutan publik.

Skenario lainnya adalah ’berpuasa’ untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi. Pada lingkup daerah, skema otonomi ternyata membawa dampak buruk terhadap transportasi lokal karena membuka celah yang lebar terhadap pertumbuhan kendaraan di tiap daerah dengan alasan menaikkan pendapatan dari sektor pajak. Maka, skenario ini harus dilakukan secara nasional, terintegrasi dan terkoordinasi. Apabila opsi ini sulit dilaksanakan di tingkat nasional, pemerintah daerah dapat mengimplementasikan pembatasan kendaraan pribadi pada koridor-koridor ruas jalan tertentu. Sebagai contoh, DKI Jakarta telah menerapkan kawasan ”3 in 1”, serta sedang menggagas sistem Electronic Road Pricing (ERP) atau pemungutan bea masuk kendaraan bermotor pada ruas-ruas jalan khusus.

Sudah menjadi tugas kita semua sebagai khalifah di muka bumi untuk bertindak dan berperilaku arif, tidak berlebihan, tidak melampaui batas, termasuk dalam bertransportasi. Diversifikasi energi alternatif dapat menjadi salah satu solusi. Perbuatan ekploitasi minyak secara berlebihan juga harus dihentikan karena dapat merusak sistematika alam (QS Al A’raf 56). Mekanisme puasa sebenarnya telah jelas, yakni pembatasan koridor perilaku, meskipun makan dan minum jelas-jelas adalah sesuatu yang halal, namun perlu dibatasi dalam kerangka keimanan dan ketakwaan.

Semua skenario memang terlihat sangat tidak mudah. Tapi bukankah ”berpuasa juga tidak mudah?”

(dimuat di Harian KOMPAS Edisi Jogja-Jateng, 25 September 2007)

4 Comments

Filed under Transport's Articles

4 responses to “Berpuasa dalam Bertransportasi

  1. whaa…padahal kalo puasa, malah sebisa mungkin memanjakan diri..ga kpanasan..ga keujanan…ga jalan kaki jauh…hhmm…apa brarti kl puasa kita ga boleh kemana2 yaa..di rumah aja..hemat semuanya…:p

  2. rizkibeo

    salam kenal juga mas ben..

  3. rizkibeo

    buat mama santi, esensi puasa itu ‘menahan diri’, ini yang harus direfleksikan dalam setiap kegiatan sehari-hari, termasuk dalam bertransportasi. Tapi bukan berarti harus ngendon di rumah dan mengurangi aktivitas..kerja tetep donk..
    (Nabi Muhammad SAW saja pernah berperang dalam kondisi berpuasa kok..)
    Menahan diri artinya tidak bertindak berlebihan, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya (adil). Bukankah dunia sekarang sedang diancam oleh pemanasan global akibat tindakan berlebihan manusia dalam mengeksploitasi bumi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s