about Trans-Jogja (1)

Buat Mas Eng di MDKB UGM,
Bicara Bus Patas (atau sebenarnya istilah tepatnya bukan ‘patas’, melainkan Trans-Jogja, sesuai nomenklatur yg sudah diberikan Gubernur DIY), sebenarnya tidak lepas dari proses reformasi angkutan umum di kawasan aglomerasi perkotaan Yogyakarta. Trans-Jogja pada hakekatnya bertujuan untuk merubah total sistem dan manajemen angkutan umum yang selama ini berbasis ’setoran’ (di hampir seluruh kota di Indonesia, sistem angkutan selalu berbasis setoran dengan kepemilikan kendaraan secara perorangan) menjadi sistem berbasis pembelian pelayanan oleh Pemerintah kepada operator, atau istilah kerennya Buy the Service.
Di sini Pemerintah akan membeli pelayanan dalam bentuk rupiah per kilometer layanan yang dihitung berdasarkan nilai Biaya Pokok angkutan (atau orang sering salah kaprah menyebutnya BOK/Biaya Operasional Kendaraan).
Kedua, konsep Trans-Jogja berorientasi pada peremajaan angkutan lama, sehingga tidak menambah jumlah angkutan. Bahkan akan mengganti armada lama dengan perbandingan 1 : 2 (1 bus baru menggantikan 2 bus lama) atau 2 : 3.
Namun perlu diingat bahwa proses reformasi tahap awal ini (ada 3 koridor trayek ulang-alik) harus dilanjutkan pada tahap-tahap berikutnya, seperti penerapan sistem yang sama terhadap bus ekonomi lainnya, atau dengan cara mengembangkan jalur-jalur feeder.
Beruntung bahwa Yogyakarta sudah memiliki sistem angkutan berbasis bus, sehingga pengembangannya lebih mudah daripada berbasis angkot.
Apakah sistem ini dapat membuat warga Yogyakarta akan beralih dari kendaraan pribadi ke bus Trans-Jogja? Pertanyaan ini sangat menarik karena Trans-Jogja tidak memiliki nilai lebih dalam hal keandalan waktu (bandingkan dengan Bus Trans-Jakarta yang memiliki jalur sendiri/busway). Keunggulan Bus Trans-Jogja mungkin hanya ada pada nilai kenyamanan, keamanan dan ‘ketepatan waktu’ (dalam tanda petik), artinya ketepatan waktu Bus Trans-Jogja ada pada batas nilai-nilai kemacetan lalu lintas di jalurnya. Kata lainnya, implementasi time-table-nya ya sesuai dengan tingkat kemacetan yang terjadi di lapangan. Konsep awal Trans-Jogja dulu memang busway, namun ternyata konflik sosial membuatnya harus menjadi angkutan yang tidak memiliki jalur sendiri. Namun ke depan konsep bus priority ini harus secepatnya diusung, agar masyarakat segera beralih ke angkutan publik.
Catatan kedua, sistem angkutan umum tidak dapat berdiri sendiri sebagai jawaban untuk mengatasi kemacetan. Strategi-strategi manajemen lalulintas lainnya harus dibuat untuk mendukung konsep angkutan publik ini, misalnya dengan menaikkan tarif parkir di dalam kota, penerapan ERP/Electronic Road Pricing (yang sedang digagas DKI Jakarta), park and ride, penerapan ITS/Intelligent Transport System, kawasan 3 in 1, dan lain-lainnya..
So? Di Yogyakarta, program Trans-Jogja (yang merupakan program Provinsi DIY) harus didukung dengan piranti-piranti lainnya hingga di tingkat Kota (Yogyakarta) atau Kabupaten (Sleman dan Bantul).
Mengenai sistem Buy the Service akan saya kupas di lain waktu…
Salam transportasi….

18 Comments

Filed under Public Transportation

18 responses to “about Trans-Jogja (1)

  1. ridho

    Artikel yg menarik. Kapan Trans-Jogja mulai beroperasi?

  2. rizkibeo

    Buat Mas Ridho,
    Trans-Jogja direncanakan akan diluncurkan pada akhir Januari 2008 atau awal Februari 2008, karena mekanisme pembebanan Biaya Pokok ada pada APBD Provinsi DIY, sehingga menurut Undang-Undang harus mendapatkan persetujuan DPRD Provinsi DIY. Persetujuan ini sudah dikeluarkan pada tanggal 29 Desember 2007 lalu.
    Tahap awal akan diluncurkan 54 bus yang terdiri dari 20 bus bantuan dari Departemen Perhubungan RI, sedangkan 34 bus berasal dari operator. 54 bus ini akan mengganti 108 bus lama (replaced), sehingga konsep peremajaan terpenuhi dan tidak menambah (justru mengurangi) jumlah bus perkotaan. Hal ini dimaksudkan untuk menaikkan load factor armada lama (yg pada tahun 2005 hanya 28 persen) , serta mencapai titik keseimbangan load factor baru pada Trans-Jogja.
    Saya sangat mengharapkan kota-kota lain di Indonesia dapat mengadopsi sistem yg sama untuk mencegah penyakit-penyakit transportasi, sebelum terlambat. Dari awal Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Kota dan Kabupaten seharusnya sudah menyiapkan konsep Sistem Angkutan Umum Massal dengan piranti-piranti lainnya, misalnya APBD utk membiayai (baca : mensubsidi) sistem angkutan umum massal.
    Sistem ini akan memudahkan penataan jalur (di Indonesia, penataan jalur biasanya berujung pada
    demonstrasi operator angkutan yang ‘semua’nya menginginkan jalur ‘gemuk’, sehingga kata kunci ‘pelayanan’ terabaikan)…
    Salam transportasi…

  3. irirvan

    Pak, saya mau tanya –beda dengan tema di atas gpp ya–

    Saya sedang skripsi, tentang Biaya operasional Kendaraan (BOK). Saya meneliti BOK Bus PATAS AC dengan menggunakan metode KM MenHub –bukan dengan LAPI ITB atau yang lain– tapi, saya baru dapat KM MenHub No 89 tahun 2002 yang notabene mrp BOK Bus Ekonomi.
    Saya sudah masuk ke situs Dirjen Hub Dat, tapi lagi-lagi cuma dpt KM 89-2002.

    Dimana saya bisa download KM tentang BOK yang saya maksud? atau malah bapak bisa ngasih softcopynya –semoga–
    terimakasih, Pak.

  4. irirvan

    terimakasih banyak atas bantuan bapak.
    Saya sudah download dan konsultasi ke dosen saya, hasilnya menggembirakan –setidaknya buat saya pribadi–
    Jazzakalloh..

  5. Sara

    Pak, terimakasih banyak bimbingannya..
    Salam, Sara-Zulfa-Eko

  6. Wuri

    Pak, saya sedang mengajukan Tugas Akhir tentang penerapan sistem buy the service pada angkutan umum di kota Semarang. Mohon penjelasan tentang buy the service karena saya sudah berusaha mencari literaturnya tapi sangat sulit dan jika ada penjelasannya kurang detail. Kalau Bapak punya artikel atau referensi tentang buy the service, bisakah saya mendownload.Terimakasih sebelumnya, Mohon dengan sangat bantuannya….

  7. pak, saya sedang mencoba untuk menganalisis tentang perubahan-perubahan sosial yang akan terjadi dengan beroperasinya transjogja?mungkin bapak bisa membantu mencarikan dasar pemikiran/teori mengenai perubahan sosial sebagai dampak dari perubahan cara bertransportasi?atas segala bantuannya saya ucapka terima kasih

  8. rizkibeo

    Sebenarnya saya tidak dalam kapasitas yang cocok untuk menjawab atau menganalisis perubahan2 sosial karena adanya Trans-Jogja. Mungkin ahli sosial atau sosiolog yang lebih tahu apa dan bagaimana atau metodologi apa yang digunakan sebagai dasar analisis sosial terhadap beroperasinya Trans-Jogja. Namun sekedar gambaran awam saya, beberapa variabel yang dapat dianalisis adalah : pelaku-pelaku/operator2 lama (meskipun Trans-Jogja merupakan konsorsium operator lama), pelaku-pelaku di jalan (misalnya parkir, PKL, timer), atau moda pesaing (misalnya operator taksi atau bus AKDP yang bersinggungan langsung trayeknya), dll.

  9. ayie

    terima kasih bapak,

  10. Jangan lupakan unsur pengamen dan preman.
    jangan sampai seperti halte busway pulogadung yang malah jadi t4 mangkal preman.
    apapun program DIY saya dukung, kecuali Pemilihan gubernur.
    Daripada uangnya dibuang2 buat pemilu, enakan dipake utk bangun monorel saja, melintasi sungai2 di Jogja, seperti wacana yg dulu pernah ada.

  11. rizkibeo

    Sip…setuju..

  12. nia

    Assalamu’alaikum wr wb
    Salam transportasi…
    pak,saya mau nyusun tugas akhir,kebetulan sekarang saya sedang PKL di perusahaan logistik yang menangani transportasi/distribusi juga.saya tertarik dengan artikel bapak tentang BOK.kebetulan saya berencana menganalisis BOK di tempat PKL saya.saya mo tanya ke bapak. pertama tentang buku/artikel yang bisa saya jadikan literatur/referensi untuk tugas akhir saya,khususnya yang tentang BOK/biaya pokok.kedua,boleh saya konsultasi/sharing dengan bapak dan minta nomor kontak bapak?maaf sebelumnya kalau ada kesalahan&terlalu lancang.terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

  13. suahryo

    pak, saya lagi skripsi mengenai analisis biaya kemacetan di jalan laksda adisucipto (depan ambarukmo plaza) dan metode yang dipakai buat hitung biaya kemacetan adalah “metode A.Tdekasi”, ada bahan mengenai metode tersebut. saya butuh banget.. terima kasih banyak atas perhatiannya.

  14. rizkibeo

    #suahryo,
    Saya belum pernah mendengar metode “ATdekasi” (bisa dijabarkan dulu mengapa memakai metode ini?)
    Biasanya perhitungan biaya kemacetan dapat dilakukan dengan metode sederhana (dengan menghitung biaya waktu transportasi) berdasarkan kuesioner. Ini lebih mencerminkan realita di lapangan karena masing-masing daerah di Indonesia pasti berbeda nilainya.
    Metode lain adalah metode TRRL dari Inggris.

  15. afriandi

    Mas, saya mahasiswa teknik transportasi yang sedang mengerjakan tugas akhir, bisa dibantu gak untuk judul “Menghitung Biaya Operasional Kendaraan (BOK) terhadap penggunaan Jalan ALternatif dengan Metode PCI?
    Thanx…

    • rizkibeo

      afriandi, hitungan BOK dengan metode PCI sangat sederhana, hanya menggunakan formulasi-formulasi sederhana.
      Saya sarankan untuk mencoba menghitung dengan 2 atau lebih metode, misalnya dengan Metode Perhubungan RI, PCI dan TRL (Inggris).

  16. love less

    pak,mohon bantuannya tentang evaluasi biaya dan pendapatan trans jogja ya
    suwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s