Mekanisme Subsidi dalam “Buy the Service”

Sistem Buy the Service memungkinkan adanya subsidi Pemerintah terhadap penyelenggaraan angkutan umum. Yang sering menjadi pertanyaan adalah : siapa yang tersubsidi? Operator atau penumpang?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita memahami dulu mekanisme perhitungan Biaya Pokok (lihat di sini . Silakan didownload.

Di KM tersebut terdapat formulasi yang digunakan untuk menghitung Biaya Pokok maupun tarif angkutan umum. Nah, dari formulasi itulah kita akan dapat menghasilkan asumsi tarif berdasarkan prediksi load factor penumpang. Misalnya dari hasil hitungan pada tingkat load factor 40% ternyata tarif yang dihasilkan seharusnya adalah Rp.5.000,- per penumpang, padahal tarif yang kita jual ke masyarakat adalah sebesar Rp.2.000,- per penumpang, selisihnya (5000 – 2000 = 3000 rupiah per penumpang) itulah yang disebut dengan ‘subsidi’.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana kita tahu berapa tarif yang sebaiknya dijual kepada masyarakat? (atau dari contoh di atas, bagaimana mendapatkan angka tarif 2000 rupiah per penumpang itu?). Tarif ini dihitung berdasarkan survey kemampuan masyarakat untuk membeli (ability to pay) dan juga kemauan untuk membeli (willingness to pay). Kenapa harus dua-duanya? Ya, memang harus dua-duanya, karena bukankah ‘mampu’ itu belum tentu ‘mau’?

Leave a comment

Filed under Public Transportation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s