Road Safety Audit

ROAD SAFETY AUDIT/RSA (Audit Keselamatan Jalan)

Road Safety Audit (RSA) adalah prosedur pemeriksaan sistematis yang membawa pengetahuan keselamatan lalu lintas ke dalam perencanaan jalan dan proses desain untuk mencegah terjadinya kecelakaan (ADB, 2003).

RSA meliputi : identifikasi potensi kecelakaan, tahap perencanaan, perancangan, konstruksi dan pasca konstruksi, dilakukan oleh qualified dan mandiri, serta memerhatikan semua kelompok pengguna jalan.

Latar belakang adanya RSA adalah angka kecelakaan yang tinggi, kerugian moril dan materiil, serta perlu adanya tindakan preventif (daripada kuratif). Manfaat RSA terbukti (di negara-negara maju) bahwa biaya RSA <<< manfaat yang diperoleh.

Organisasi RSA adalah meliputi pemrakarsa, perencana dan perancang, pelaksana/kontraktor, operator jalan, dan pelaksana RSA.

Prinsip-prinsip keselamatan :

1. perancangan geometri,

2. pelapisan permukaan jalan, skid resistance, visibility, evennes dan profile,

3. pemasangan rambu dan pelengkap jalan,

4. manajemen lalulintas,

5. pekerjaan peningkatan dan perawatan jalan.

Prosedur pelaksanaan RSA : Tahap persiapan, pengumpulan data/informasi dan dokumen terkait, persiapan pelaksanaan RSA, pelaksanaan RSA (cek dokumen perencanaan dan perancangan, inspeksi lapangan), rekomendasi, pelaksanaan rekomendasi.

7 Comments

Filed under Traffic Safety

7 responses to “Road Safety Audit

  1. Ika

    Mas, mohon komentarnya mengenai Audit keselamatan jalan Indonesia (Pd. T-17-2005-B). Apa kekurangan dan kelebihannya? Terima kasih……..

  2. rizkibeo

    Acuan RSA memang Pd. T-17-2005-B, yang sebenarnya ‘karya adaptasi’ dari RSA IHT Inggris dan Austroads Australia. Jadi masih banyak kekurangan-kekurangannya, yang seharusnya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia (bukankah Indonesia sendiri sebenarnya sudah banyak acuan?)
    Kedua, RSA seperti menghalalkan adanya kesalahan perencanaan/perancangan geometri jalan. Bukankah semua perencanaan jalan seharusnya ‘menepati janji’ pada acuan2 pula?
    Ambil contoh masalah penerangan jalan. Bukankah sudah diatur bahwa tiap pembangunan jalan harus selalu menyertakan LPJU di titik2 tertentu? Lalu kenapa masih banyak pembangunan jalan yang tidak menyertakan LPJU? Formulir RSA menanyakan adanya kondisi penerangan dan pengaruh cahaya di Daftar 2.8. Ini jadi dilematis.

  3. Ika

    Bukannya hal baru kalau manual atau pedoman transportasi kita memang hasil adopsi. Maklum.. soalnya kalau harus pakai survai nasional nanti biayanya gak keitung…(lagipula mungkin tidak ada anggarannya). Tapi apa ya harus seperti ini terus? Menurut saya, masalah RSA ini tidak bisa secara gampang adopsi sana adopsi sini. Karakteristik lingkungan dan masalah transportasi yang ada di suatu negara kan tidak sama..apalagi kalau kita berkiblatnya ke Inggris atau Australia. Jelas jauh sekali… Saya setuju dengan istilah Mas Rizki bahwa RSA menghalalkan adanya kesalahan perencanaan/perancangan geometri jalan. Dan ini adalah kesalahan besar. Membaca beberapa point di Audit Keselamatan Jalan Indonesia semakin menyakinkan saya bahwa pembuat kebijakan transportasi kita belum serius.Gimana nih Mas….ada masukan untuk membuat draft Audit Keselamatan Jalan Indonesia yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan permasalahan transportasi di Indonesia?

  4. rizkibeo

    Saya setuju dengan pendapat mba Ika. Masalah keselamatan (dari sisi geometri) tidak terletak pada ‘setelah’ jalan itu dibangun, tapi seharusnya diletakkan pada awal perencanaan. Kalo pembangunan jalan raya sudah sesuai dan klop dengan acuan-acuan dalam perencanaan, maka tidak perlu lagi adanya safety audit dari sisi geometri. So, kesalahan geometri adalah kesalahan perencanaan.
    Saya justru melihat bahwa safety itu terletak pada dua aspek (aspek yg ketiga adalah aspek jalan):
    Pertama, perilaku user di jalan. Kenapa? Karena penyumbang kecelakaan di jalan terbesar adalah kesalahan pengemudi (80 – 90 persen).
    Yang kedua adalah aspek kelaikan kendaraan.
    Jadi, kalo dipikir2, yang perlu dilakukan sebenarnya adalah Traffic Safety Audit. Di situ akan dipaparkan bagaimana mekanisme pengemudi mendapatkan driving license atau SIM, bagaimana karakteristik pengemudi (dari sisi psikologis), bagaimana kelaikan teknis kendaraan, dll.
    Saya melihat pemerintahan kita masih berjalan sendiri-sendiri. Dari sisi transportasi, Departemen Kimpraswil/PU jalan sendiri lewat Bina Marga, Departemen Perhubungan juga jalan sendiri (gimana ya kalo digabung aja menjadi Departemen Transportasi?)…

  5. ugo

    klo yg km 31 th 1995 saya dah ada mas, tlg di upload yg dri keputusan direktorat jendral bina marga yang tahun 1981 yang ttg terminal dunk. thx.

  6. aqw korban limas yg slamat…

    tlg dund limas ttu gwsh di oprasikan ggi deyh…

    gw sebell…. gra2 dy tmn w matiiiiii………

    uuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    Beo : kita prihatin ke Winda atas kejadian itu. Mungkin bisa share kronologis kejadiannya berdasarkan saksi mata, untuk sekedar pembelajaran buat yg lain?

  7. Wahyu T (Transporter)

    Assalamualaikum..
    Salam Transporter.
    Salam Kenal Pak Rizki.
    Saya Wahyu mahasiswa S1 Teknik Sipil UI – Transportasi. Sekarang sedang mengadakan penelitian mengenai inspeksi keselamatan jalan di beberapa wilayah di depok. Bapak punya petunjuk inspeksi keselamatan jalan yang dikeluarkan resmi oleh Ditjen Binamarga atau PU? Saya sudah mencari tetapi belum ada juga. Yang ada hanya Petunjuk Audit Keselamatan Jalan. Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s