TransJogja, Segmentasi dan Global Warming

Posting saya ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan #chana tentang 2 hal : apakah keuntungan masyarakat menengah – bawah dari eksistensi TransJogja, serta hubungan TransJogja dan pemanasan global. Ini merupakan kajian yang cukup menarik.

1. TransJogja dan Segmentasi.

Sebenarnya Bus TransJogja hanyalah salah satu cara dalam memperbaiki kinerja angkutan umum yang selama ini berbasis setoran menjadi berbasis Buy the Service (baca juga posting saya tentang Buy the Service). Perbaikan kinerja ini dimaksudkan pula untuk perbaikan pelayanan kepada masyarakat. Lalu kenapa harus dengan pelayanan yang berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada bus perkotaan yang biasa? Kenapa harus dengan pendingin udara? Kenapa harus tersegmentasi? Lalu bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah yang ‘kantong’nya tidak dapat menjangkau Bus TransJogja?

Program TransJogja memang sengaja dibuat pada segmen/kelas di atas bus ekonomi biasa, karena : pertama, TransJogja memang bertujuan untuk membuat segmen (baca konsumen) baru yang selama ini belum ‘mau’ menggunakan angkutan umum. Atau, TransJogja dibuat untuk membuat generasi baru yang sadar dan mau menggunakan angkutan umum. Contohnya adalah pelajar (yang belum terkooptasi oleh eksistensi sepeda motor). Kedua, segmentasi TransJogja dibuat berbeda karena pertimbangan konflik sosial, yakni supaya tidak mengganggu eksistensi bus perkotaan ekonomi yang ada, yang jumlahnya mencapai 591 unit. Apabila sistem Buy the Service ini diberlakukan langsung pada sebagian bus ekonomi (yang tentu saja jumlahnya ‘belum’ bisa seluruhnya karena keterbatasan APBD) maka bus ekonomi yang lain pasti akan merasa dianaktirikan.

Namun perlu diketahui pula bahwa sistem Buy the Service ini juga akan perlahan-lahan diberlakukan pada bus perkotaan kelas ekonomi dengan menjadikan mereka sebagai feeder Bus TransJogja. Ini tergantung pada keseriusan Pemerintah Provinsi DIY dalam menggarap angkutan publik berbasis pelayanan kepada masyarakat.

2. TransJogja dan Global Warming.

Isu yang sedang hangat sekarang ini adalah global warming. (Saya teringat salah satu film favorit saya, The Day After Tomorrow yang menceritakan efek global warming di masa depan. Sudah menonton filmnya?)

Isu-isu global warming sebenarnya juga sudah terpikirkan dalam kajian-kajian perencanaan TransJogja. Oleh sebab itu pula kenapa skema TransJogja dibuat berbasis peremajaan atau penggantian armada dengan rasio 1 bus TransJogja menggantikan 2 bus lama. Artinya ada 108 bus perkotaan lama yang ‘digrounded’. Ini sudah merupakan salah satu cara mengurangi polusi udara.

Namun sesungguhnya ada pertanyaan yang cukup menggelitik mengenai polusi udara. Siapakah sebenarnya penyumbang polusi terbesar di jalan raya? Angkutan umumkah? Mobil pribadi? Sepeda motor?

Melihat data statistik kendaraan di Yogyakarta, hampir 90 persen angkutan yang berada di jalan ternyata didominasi oleh kendaraan pribadi (jumlah paling banyak adalah sepeda motor, diikuti mobil pribadi, mobil barang, dan terakhir adalah angkutan umum). Dan penyumbang polusi terbesar ternyata adalah kendaraan pribadi. Kenapa?

1. jumlah kuantitatif mereka yang cukup besar,

2. daya tampung penumpang rata-rata kendaraan pribadi ternyata hanya sepersekian persen dari angkutan umum. Lihat saja jumlah penumpang rata-rata mobil di Yogyakarta yang ‘hanya’ diisi oleh 2 – 3 orang. Artinya, 1 buah Bus TransJogja adalah sama dengan 20 mobil yang berjajar di jalan! Hitunglah energi yang mereka keluarkan? Sebandingkah? Besar manakah polusi yang dikeluarkan oleh 1 buah bus dengan 20 mobil dalam waktu yang bersamaan?

3. hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata kadar polutan (CO, Nox, Sox) kendaraan berbahan bakar solar lebih kecil daripada kendaraan berbahan bakar bensin (pada usia kendaraan yang sama), untuk seluruh aktivitas (baik idling/berhenti pada kondisi mesin menyala, running maupun accelerating). Kadar polutan kendaraan solar yang tinggi hanya ada pada Pb-nya.

4 Comments

Filed under Trans Jogja

4 responses to “TransJogja, Segmentasi dan Global Warming

  1. Donny

    Wah…ternyata polusi kendaraan kita (dengan BBM premium) lebih tinggi daripada bus (solar)?? Ada angka riilnya tidak?
    Oya mas, terkait dengan rencana pemerintah untuk menaikkan BBM, bagaimana menurut Mas Beo?

  2. Veera

    Ouch..kendaraan kita ternyata lebih polutif yach….
    Tentang kenaikan harga BBM, saya juga agak bingung, sebenarnya langkah pemerintah itu tepat ga sich? Ato, masih ada cara lain ga selain dengan cara frontal menaikkan harga BBM gitu?

  3. amel

    pak, saya lagi ngerjain tgs akhir tentang BOK trans jogja. saya mw tanya ttg status 20 bus trans jogja dari pemkot DIY? itu hibah ato di pinjam? klo hibah kan bunga modal g diperhitungkan. gi mana klo pinjam?
    mohon penjelasannya pak…
    terima kasih byk….

  4. rizkibeo

    #amel..
    Status 20 bus itu milik Pemkot Yogya (bukan Pemkot DIY.. kalo DIY itu Pemprov DIY) yang merupakan bantuan/hibah dari Dephub Pusat, lalu dipinjampakaikan ke Pemprov DIY, lalu oleh DIY dipinjampakaikan lagi ke PT JTT sebagai operator. Dalam perhitungan Biaya Pokok, 20 bus ini tentu saja tidak lagi memasukkan komponen belanja modal (karena tidak membeli sendiri). Yang dihitung hanya komponen penyusutan, karena 20 bus ini pada akhir tahun masa kontrak harus kembali diremajakan dalam bentuk 20 bus yang baru (yg dananya diambil dari biaya penyusutan itu tadi)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s