Sriwijaya Air Tergelincir di Bandara Jambi

Posting berikut merupakan kliping berita yang disalin dari berbagai sumber (detiknews.com, antara.co.id, kompas.com dan tempointeraktif.com). Foto2 dari planepictures.net.

Pesawat yang tergelincir merupakan pesawat jenis Boeing 737-200. Penjelasan teknis mengenai jenis pesawat ini ada di sini.

Hipotesis sementara penyebab kecelakaan adalah kurang (atau tidak?) berfungsinya nose wheel pada landing gear. (Apa itu nose wheel? Apa itu Landing Gear?).

27/08/08 20:15

Sriwijaya Air Tergelincir di Jambi

Jambi (ANTARA News) – Pesawat Sriwijaya Air yang tergelincir ke luar landasan saat mendarat di Bandara Sultan Thaha Jambi Rabu sore sekitar pukul 16:45 WIB, karena hidrolik rem kurang berfungsi.

Kepala Devisi Teknik PT Angkasapura Bandara Sultan Thaha Jambi, Dedi Setiono kepada pers, mengatakan, penyebab tergelincirnya pesawat Sriwijaya dengan No PKCJG-SJ062 itu untuk sementara diperkirakan karena rem kurang berfungsi.

Pesawat Sriwijaya dengan kapten pilot Sujana yang membawa 123 penumpang dari Jakarta itu ketika mendarat sedang hujan lebat.

Akibat kurang berfungsi rem pesawat terperosok ke luar landasan sekitar 200 meter atau ke lahan pertanian sayur-mayur warga setempat.

Meski tidak ada korban jiwa penumpang, namun tiga petani yang sedang berada di pondok menjadi korban, satu di antaranya kritis.

Akibat tergelincir pesawat jenis Boeing 737 seri 200 tersebut mengalami kerusakan sayap sebelah kanan dan satu mesin jatuh.

Sementara itu Kapolda Jambi Brigjen Pol Budi Gunawan SH yang hadir di lokasi pesawat tergelincir di bandara tersebut, mengatakan, pihaknya akan menyelidiki penyebab kejadian tersebut.

“Kami akan menyelidiki kasus tersebut bekerjasama dengan Departemen Perhubungan. Saya belum bisa menyimpulkan kejadian apakah faktor kelalaian atau masalah tekniks,” ujarnya.(*)

Rabu, 27/08/2008 17:07 WIB
Sriwijaya Air Tergelincir di Bandara Jambi

Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Pesawat Sriwijaya Air jurusan Jakarta-Jambi dengan nomor penerbangan FJ 602 tergelincir di Bandara Sultan Thaha, Jambi. Diduga hal ini terjadi karena hujan deras yang terjadi.

“Tadi ada hujan deras 1 jam, airportnya licin. Pesawat saat landing sampai keluar landasan,” kata seorang petugas Sriwijaya Air di Jambi yang enggan disebutkan namanya lewat telepon, Rabu ( 27/8/2008 ).

Menurutnya peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.40 WIB. Dia menjelaskan, pesawat tergelincir hingga sampai ke sawah yang berada di luar area bandara. “Landasannya memang pendek. Dan saya dapat informasinya seorang petani terluka, kakinya patah. Tapi silakan cek lagi ke bandara,” tandasnya.(ndr/nrl)

Rabu, 27/08/2008 17:09 WIB
Sriwijaya Tergelincir, Seluruh Penumpang Selamat

Ken Yunita – detikNews

Jakarta – Pesawat Sriwijaya Air tergelincir di Bandara Sultan Thaha, Jambi, Rabu (27/8/2008) pukul 16.40 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

“Semua selamat, tidak ada korban jiwa,” kata seorang petugas Bandara Sultan Thaha kepada detikcom.

Pesawat jurusan Jakarta-Jambi itu tergelincir karena runway yang licin akibat hujan rintik-rintik. Pesawat keluar jalur hingga ke sawah-sawah yang ada di sekitar bandara.

Akibat peristiwa ini, seorang petani dikabarkan mengalami patah kaki. Namun petugas perempuan itu tidak mau berkomentar banyak.

“Kita lagi sibuk, nanti kita jelaskan lagi,” katanya seraya menutup telepon.(ken/nrl)

Rabu, 27/08/2008 17:57 WIB
Nose Wheel Sriwijaya Air Rusak, KNKT Investigasi

Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor pesawat O62-B 737 tergelincir di Bandara Sultan Thaha, Jambi. KNKT akan menginvestigasinya.

“Nose wheel rusak. Ini pasti kita investigasi,” kata Ketua KNKT Tatang Kuniadi saat dihubungi detikcom lewat telepon, Rabu ( 27/8/2008 ).

Diketahui pesawat lepas landas dari Jakarta sekitar pukul 15.35 WIB dan mendarat sekitar pukul 16.34 WIB. “Total 125 penumpang dan 6 awak pesawat, semuanya selamat,” tandasnya.
(ndr/nrl)

Rabu, 27/08/2008 20:28 WIB
Pesawat Sriwijaya Sedang Dievakuasi, Bandara Jambi Masih Ditutup

Arifin Asydhad – detikNews

Jakarta – Hingga pukul 20.20 WIB, proses evakuasi pesawat Sriwijaya Air Boeing 737-200 (PK-CYG) yang tergelincir di Bandara Sultan Thaha Jambi masih dilakukan. Bandara masih tertutup untuk pendaratan dan penerbangan pesawat.

“Sekarang bandara masih dinyatakan tertutup, pesawat masih dalam proses evakuasi,” kata Corporate Secretary PT Angkasa Pura (AP) II Sudaryanto kepada detikcom, Rabu ( 27/8/2008 ).

Data dari AP II, pesawat Sriwijaya tujuan Jakarta-Jambi mengalami pendaratan melewati batas (overrun) sekitar pukul 16.34 WIB. Begitu ada kecelakaan pesawat tersebut, bandara langsung dinyatakan tertutup sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pesawat ini membawa 125 penumpang dan 6 awak dari Jakarta. Saat mendarat, runway dalam keadaan basah dan licin. Begitu mendarat, pesawat tergelincir dan masuk ke dalam sawah. KNKT akan melakukan investigasi terhadap kecelakaan ini. (asy/gah)

27/08/08 20:23

Petani Korban Kecelakaan Sriwijaya Air Kritis

Jambi (ANTARA News) – Seno (50) seorang petani yang sedang bekerja di ladang menjadi korban kecelakaan tergelincirnya pesawat Sriwijaya Air di Bandara Sultan Thaha Jambi kondisinya hingga Rabu malam kritis dirawat di RS Asia Medika Jambi.

Pantauan ANTARA News dari RS Asia Medika Jambi, menunjukkan kondisi Seno kini sedang menjalani operasi akibat luka pada bagian kepala, patah tangan dan kaki.

Dalam kejadian itu sekitar pukul 16:30 Wib, Seno bersama istrinya Pasri (45) dan anaknya Rahmad Sholikin (4) yang mengalami luka akibat patah tangan dan kaki dalam musibah itu, sedang berteduh di dalam podok sebelum kejadian.

Pasri istri Seno kepada wartawan mengatakan, saat kejadian sedang di dalam pondok menunggu berhentinya hujan deras, namun tiba-tiba saat mendarat pesawat Sriwjaya Air meluncur ke luar landasan mereka terkejut dan tidak bisa menghindar.

“Kejadian itu sangat tiba-tiba dan mengejutkan sehingga kami tidak bisa menyelamatkan diri dan suasana menjadi ramai,” kata Pasri yang berada di ruangan Unit Gawat Darurat RS Asia Medika Jambi didampingi keluarganya.

Sampai berita ini diturunkan kondisi satu keluarga petani sayur yang berada di dekat lokasi bandara tempat kejadian kecelakaan itu sedang menjalani perawatan intensif.

Jumlah korban yang mengalami cidera ringan dan berat di rawat di RS Asia Medika Jambi tercatat 18 orang terdiri dari tiga orang petani setempat, selebihnya penumpang dan pramugari pesawat Sriwijaya Air.(*)

27/08/08 20:25

Korban Kecelakaan Sriwijaya Air 18 Orang Dirawat di RS

Jambi (ANTARA News) – Jumlah korban kecelakaan tergelincirnya pesawat Sriwijaya Air di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu sore ( 27/8 ) yang mendapatkan perawatan serius di RS Asia Medika, berjumlah 18 orang dan satu orang di antaranya dalam kondisi kritis.

Korban kritis adalah Seno (50), seorang petani yang berladang di sekitar kawasan bandara tempat kejadian tersebut bersama istrinya Parsi (45) dan anaknya Rahmad Sholikin (4) yang mengalami luka serius patah tangan dan kaki.

Sementara 17 orang korban lainnya semuanya penumpang dan pramugari Sriwijaya Air jenis pesawat Boing 737 seri 200 dengan nomor penerbangan SJ 062 dari Jakarta tujuan Jambi yang tergelincir pada pukul 16:30 WIB.

Para penumpang yang mengalami cidera dalam kejadian itu sebanyak 13 orang, sedang dua orang pramugari sedang menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Kondisi penumpang dan pramugari yang dirawat di RS Asia Medika itu sebagian besar hanya mengalami luka lecet dan kondisi sok akibat kejadian kecelakaan pesawat yang pertama kalinya Jambi.

Berikut ini nama-nama korban yang cidera dan mendapakan perawatan di rumah sakit setempat adalah Putri Mei Indrayana (21), Lady (32) keduanya pramugari. Kapten pilot Sujana juga dalam keadaan baik.

Lalu Makoto (48), Didin Rasidin (53), Ambo Upak (29), Binyan A (37), Nirwan Yahya (45), Eko Feriana (45), Susilo (49), Safrizal (41), Nasrina (27), Hutagalung (27), Sukardi (52), Bambang (37) dan Sholikin (37) semuanya penumpang dari Jambi.

Untuk penumpang yang tidak mengalami cidera setelah mendapatkan pemeriksaan petugas medis, sudah diperbolehkan pulang kembali ke rumahnya masing-masing.(*)

Rabu, 27 Agustus 2008 | 21:40 WIB

Sriwijaya Air Klaim Pesawat Masih Layak Terbang

TEMPO Interaktif, Jakarta:Juru bicara Sriwijaya Air, Charles An mengatakan bahwa kondisi pesawat Sriwijaya Air dengan nomor lambung SJ 062 Boeing 737-200 masih layak terbang. “Kondisi pesawat masih sangat layak terbang, selama ini belum pernah ada masalah, pemeriksaan rutin selalu kami lakukan,” katanya saat dihubungi Tempo lewat jaringan telepon, Rabu ( 27/8 ).

Pesawat Sriwijaya Air itu tergelincir saat akan melakukan landing di Dermaga Sultan Thaha Jambi, akibatnya 11 orang dilarikan ke rumah sakit. Charles mengaku belum mengetahui pasti penyebab kecelakaan itu, “Masih perlu dilakukan investigasi oleh KNKT untuk mengetahui pasti penyebab kecelakaan itu,” ujarnya.

Namun Charles memastikan bahwa kondisi pesawat yang diproduksi pada tahun 1986 itu, termasuk rem pesawat, berfungsi dengan baik. ‘Kalau kondisi pesawat, atau remnya tidak berfungsi dengan baik tidak akan kami terbangkan,” katanya.

Kapten pilot, Mohammad Basuki (35), menurut Charles, juga telah memiliki pengalaman terbang yang cukup. “Pilot bagus, dia sudah punya ribuan jam terbang,’ katanya. Saat pesawat melakukan landing, kondisi cuaca kurang mendukung. “Berdasarkan laporan, saat itu sedang gerimis, habis hujan,” ujar Charles.

Pihak Sriwijaya akan menanggung semua pengobatan korban kecelakaan itu. “Seluruh penumpang selamat, mereka juga sudah ditanggung asuransi,” ujar Charles. Charles mengakui bahwa kecelakaan itu juga menyebabkan petani mengalami luka-luka. “Katanya patah kaki, kami akan tanggung semua biaya pengobatan, termasuk biaya pengobatan orang itu (petani),” tambahnya.

Charles menyayangkan keberadaan sejumlah petani di sekitar lokasi landasan. “Seharusnya 3 kilometer dari lokasi landasan adalah clear area, dan mereka hanya beberapa meter saja,” katanya. (AGUNG SEDAYU)

Pagi Ini KNKT Selidiki Sriwijaya Air
Kamis, 28 Aug 2008 | 07:23 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Komite Nasional Keselamatan Trasportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengatakan pihaknya akan segera melakukan investigasi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air yang tergelincir saat mendarat di bandara Sultan Thaha Jambi kemarin. “Besok pagi-pagi kami berangkat ke Jambi,” katanya saat dihubungi Tempo lewat jaringan telepon, Rabu (27/8) malam.

Pesawat Sriwijaya Air saat mendarat tergelincir hingga melewati batas landasan bandara hingga mencapai 250 meter. Kecelakaan itu mengakibatkan enam orang penumpang, dua pramugari, dan tiga petani cedera. Ketiga petani yang sedang berisitirahat di sekitar lokasi luka akibat terseruduk pesawat.

Humas Sriwijaya Air, Charles An, menampik tudingan bahwa kondisi pesawat kurang bagus saat diterbangkan. Menurutnya pesawat yang diproduksi tahun 1986 itu masih sangat layak, begitu juga dengan kapten pilotnya, memiliki pengalaman terbang cukup. Namun Charles tidak bisa memastikan apa yang menjadi penyebab kecelakaan pesawat itu. “Masih perlu dilakukan investigasi,” kata Charles. “Hari ini KNKT dan pihak Sriwijaya Air akan melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat itu,” tambahnya. (AGUNG SEDAYU)

Kamis, 28/08/2008 09:50 WIB
Investigasi Sriwijaya Air Tak Makan Waktu Lama
E Mei Amelia R – detikNews

Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menginvestigasi peristiwa
tergelincirnya pesawat Sriwijaya Air jurusan Jakarta-Jambi dengan nomor pesawat
SJ O62-B 737-200 di Bandara Sultan Thaha, Jambi, Rabu (27/8/2008). Tim investigasi dan KNKT yang terdiri dari tiga orang berangkat hari ini.

“Hari ini berangkat ke Jambi. Ketua KNKT Tatang Kurniadi, investigator Kapten
Prita beserta Sekretaris KNKT Saptandri,” ujar juru bicara KNKT JA Barata pada detikcom, Kamis ( 28/8/2008 ).

“Kami baru mau berangkat sekarang, soalnya semalam tidak ada pesawat yang berangkat ke sana,” ujarnya.

JA Barata mengungkapkan bahwa investigasi ini tidak akan memakan waktu yang
cukup lama seperti peristiwa jatuhnya Adam Air.

“Tergantung kesulitannya, tergantung semua unsur di lapangan juga,” tambahnya.

Data dari PT Angkasa Pura II, pesawat Sriwijaya tujuan Jakarta-Jambi mengalami pendaratan melewati batas (overrun) sekitar pukul 16.34 WIB. Begitu ada kecelakaan pesawat tersebut, bandara langsung dinyatakan tertutup sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pesawat ini membawa 125 penumpang dan 6 awak dari Jakarta. Saat mendarat, runway dalam keadaan basah dan licin. Begitu mendarat, pesawat tergelincir dan masuk ke dalam sawah. Seorang petani, istri dan anaknya yang sedang di sawah terluka akibat kecelakaan ini.(mei/nrl)

Kamis, 28/08/2008 11:34 WIB
Tergelincir di Bandara Jambi
Menhub: Sriwijaya Air Agak Tua

Anwar Khumaini – detikNews

Jakarta – Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan pesawat Sriwijaya Air yang tergelincir di Bandara Sultan Thaha, Jambi memang agak tua. Usia pesawat di atas 20 tahun.

“Itu memang agak tua. Sesuai dengan Kepmen nomor 5 tahun 2006 usia pesawat harusnya paling tinggi 20 tahun. Jadi antisipasi saja supaya perawatannya lebih baik,” kata Jusman.

Hal ini disampaikan Jusman sebelum menghadiri sidang kabinet di Istana Negera, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis ( 28/8/2008 ).

Dikatakan dia, ketua KNKT dan DSKU bersama dengan timnya hari ini datang ke Jambi untuk melakukan pemeriksaan. KNKT bertugas memeriksa penyebab kecelakaan. Sedangkan DSKU melihat apa yang sesungguhnya terjadi di sana.

“Kemarin saya sudah berbincang dengan Dirut Sriwijaya Air. Kata dia penyebab utamanya over run. Jadi pilot tidak bisa berhasil menghentikan pesawat sehingga melebihi landasan pacu,” ujarnya.

Namun demikian, Jusman belum dapat memastikan penyebab kecelakaan tersebut akibat human error.

Katanya remnya tidak berfungsi? “Ada yang bilang hidrolik-nya tidak berfungsi sehingga tidak bisa ngerem,” sahut dia.

Jusman memastikan kecelakaan itu tidak terkait dengan pendeknya landasan. “Dalam waktu dekat hasilnya akan segera kita ketahui,” kata Jusman.

Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor pesawat O62-B 737 lepas landas dari Jakarta sekitar pukul 15.35 WIB dan mendarat di Sultan Thaha, Jambi sekitar pukul 16.34 WIB.

Saat mendarat, runway dalam keadaan basah dan licin. Pesawat dengan total 125 penumpang dan 6 awak pesawat tergelincir dan masuk ke dalam sawah. Beruntung, semuanya selamat.(aan/iy)

Kecelakaan Sriwijaya Air Bukan karena Rem Rusak

Kamis, 28 Agustus 2008 | 12:33 WIB
Laporan wartawan kompas Haryo Damardono

JAKARTA, KAMIS — Wakil Presiden Sriwijaya Air Harwick Lahunduitan menduga, kecelakaan yang menimpa pesawat Boeing 737-200 dengan registrasi PK-CJG, Rabu (27/8) di Jambi, bukan disebabkan rem rusak. “Bila kecelakaan disebabkan rem rusak, maka jatuhnya korban lebih banyak sebab over run pesawat itu dari ujung landasan pacu lebih jauh lagi,” ujar Harwick, Kamis di Jakarta.

Meski demikian, Harwick belum dapat memastikan penyebab kecelakaan. Dia menegaskan masih menunggu investigasi dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi dan investigasi internal Sriwijaya Air yang sudah berangkat ke Jambi, tadi pagi. Harwick mengutip pendapat penumpang Sriwijaya SJ 062 bahwa pesawat itu tidak mendarat dengan keras atau hard landing meski saat pendaratan cuaca gerimis.

Dia juga mengatakan, angin tidak bertiup dari arah belakang pesawat, melainkan dari arah depan. Jarak pandang di Bandara Sultan Thaha mencapai delapan kilometer. Menurut Harwick, pilot Sriwijaya SJ 062, Capt Moh Basuki, mempunyai jam terbang di atas 10.000 jam dan kopilot Eri Radianto memiliki terbang di atas 5.000 jam. “Jadi seharusnya tidak ada masalah dengan kemampuan mereka,” ujarnya. (RYO)

Kecelakaan, Dampak Perawatan Pesawat yang Hanya Formalitas

Kamis, 28 Agustus 2008 | 09:53 WIB

JAKARTA, KAMIS – Departemen Perhubungan (Dephub) harus melakukan pengecekan perawatan pesawat dengan teliti dan tidak hanya sekadar formalitas prosedural. Hal itu dikatakan pengamat penerbangan Dudi Sudibyo saat dihubungi Kompas.com, Kamis (28/8). “Beberapa kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia bisa dicegah bila pengecekan pesawat yang dilakukan Dephub melalui petugas yang dipilih dari masing-masing maskapai bekerja efektif,” tutur Dudi.

Dudi pun menilai, kecelakaan pesawat Sriwijaya Air yang tergelincir di Bandara Sultan Thaha, Jambi, akibat perawatan yang tak maksimal. “Pesawat 737-200 itu kan generasi pertama dari jenis 737, ya umurnya memang sudah uzur, tapi itu kan karena enggak pernah dirawat dengan layak,” tegasnya.

Ia menjelaskan, ada dua faktor yang berperan, yakni setiap petugas yang seharusnya melaporkan kelayakan pesawat dapat mempertanggungjawabkan laporannya. Selain itu, petugas yang mengecek dari Dephub seharusnya tak hanya memeriksa laporan, tetapi juga harus mengecek langsung pesawat. “Yang terjadi saat ini kan tidak seperti itu, pengecekan hanya formalitas tanda tangan laporan. Ini seharusnya menjadi masukan bagi Dephub untuk meningkatkan pengawasan perawatan pesawat,” tuturnya.

Faktor sumber daya manusia, yakni meningkatkan kesejahteraan petugas, juga perlu diperhatikan, terutama petugas dari maskapai yang ditunjuk Dephub. “Integritas untuk tidak dengan mudah memperjualbelikan laporan juga penting. Kan kalau sudah ’diamplop’ kelihatan laporan itu, kayak tulisan wartawan yang dikasih amplop gitu,” jelasnya. (MYS)

Kaki dan Tangan Korban Sriwijaya Diamputasi

Kamis, 28 Agustus 2008 | 20:52 WIB

JAMBI, KAMIS – Petani sayur bernama Seno (50) yang tertabrak pesawat Sriwijaya Air saat tergelincir di Bandara Sultan Thaha, Jambi terpaksa harus merelakan kaki kiri dan tangan kananya di amputasi. Sebab, luka remuk yang dideritanya cukup parah.

Humas Rumah Sakit Asia Medika Jambi, Hendra Novera, Kamis (28/8) mengakui, amputasi kaki kiri dan tangan kanan korban terpaksa dilakukan tim medis untuk menyelamatkan jiwa korban. Tim medis RS Asia Medika yang menangani para korban pesawat Sriwijaya Air jenis Boeing 737-200 dengan register PKCJG dan nomor penerbangan SJ 062 itu telah melakukan tindakan amputasi itu pada Kamis (28/8) pagi setelah mendapat persetujuan dari keluarga korban.

Sementara isteri korban Pasri (40) hanya mengalami luka ringan di bagian kepala, sedangkan anaknya bernama Rahmat Sadikin (4 tahun) juga mengalami luka parah masih dalam perawatan intensif di ruangan ICU rumah sakit tersebut. Saat kejadian pesawat tergelincir itu mereka sedang mencuci sayur hasil panen di lahan kebun sayur berjarak 200 meter dari landasan pacu bandara sepanjang 2.200 meter itu.

“Kami anak beranak terkejut dan sulit menghindari ketika pesawat tergelincir itu mengarah kepada kami,” ungkap Pasri, isteri korban.

Selain ketiga korban, rumah sakit tersebut masih merawat 13 penumpang atau rawat inap korban karena mengalami luka-luka. Sedangkan 13 penumpang lainnya sudah diperbolehkan pulang ke rumah atau berobat jalan. Semua korban yang mengalami luka-luka adalah warga Jambi.

Kepala Bandara Sultan Thaha Jambi, Basuki Mardianto setelah membesuk para korban di rumah sakit tersebut, mengatakan sehari sebelum kejadian itu, pihaknya telah mengumpulkan ratusan warga yang memanfaatkan areal bandara sekitar landasan untuk bercocok tanam agar meninggalkan lahan itu. Sebab selain membahayakan keselamatan penerbangan, juga berbahaya bagi mereka sendiri.

“Akhirnya kan terbukti petani satu keluarga tersebut terkena musibah, meskin musibah itu tidak kita inginkan,” ujarnya. Pengelola Bandara Sultan Thaha dengan kejadian itu terpaksa merelokasi semua warga yang bercocok tanam di lahan sekitar landasan dengan berkoordinasi dengan Pemkot Jambi.

WAH
Sumber : Antara

Sriwijaya Air Tanggung Semua Biaya Korban

Kamis, 28 Agustus 2008 | 21:01 WIB

JAMBI, KAMIS – Manajemen Sriwijaya Air menjamin semua biaya perawatan penumpang maupun keluarga petani yang di rawat RS Asia Medika, Jambi. Mereka adalah korban musibah terperosoknya pesawat jenis Boeing 737-200 dengan nomor register PK-CJG dan nomor penerbangan SJ 062, pada Rabu (27/8), di Bandara Sultan Thaha, Jambi.

“Kami merasa prihatin atas kejadian itu dan semua biaya perawatan, serta biaya hidup dan pendidikan anak keluarga Seno (50), petani yang menjadi korban musibah itu ditanggung Sriwijaya,” kata Direktur Utama Sriwijaya Air, Chandra Lie, usai menjenguk korban di RS Asia Medika, Kamis (28/8).

Dalam insiden tersebut, pesawat yang tergelincir terperosok ke kebun sayur dan menabrak tiga orang yang tengah berkebun, masing-masing Seno serta istrinya, Pasri (40) dan anaknya Rahmat Sadikin (4). Kaki kiri dan tangan kanan Seno terpaksa harus diamputasi karena luka remuk yang cukup parah. Sementara Pasri dan Rahmat luka parah dan masih mendapatkan perawatan intensif di RS Asia Medika, Jambi.

Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Namun, selain tiga korban tersebut, sebanyak 26 orang penumpang dirawat di rumah sakit yang sama karana terluka. (WAH, Sumber : Antara)

7 Comments

Filed under Air Transport

7 responses to “Sriwijaya Air Tergelincir di Bandara Jambi

  1. ahasasia

    biasa bos, pemanasan menjelang lebaran….

  2. RiaN

    Kasihan tu PetaNi………..
    Tanggung jawab Sembuh…..

  3. rizkibeo

    Hehehe….

  4. riung

    pemerintah indonesia dan pemilik maskapai pesawat seharus nya memberikan perhatian utama kepada pesawat pesawat yg ada di indonesia,di era sekarang pesawat bukan jadi suatu sarana yg begitu susah nya dan asing tp suatu sarana yg terpenting bahkan masyarakat indonesia sendiri sudah memayoritaskan transportasi nya kepada pesawat.jadi pesawat pesawat yg ada harus benar benar di audit sebelum terbang.kemaren saja tgl 27 agus ini sriwijaya air tergelincir di suspect karena sistem rem nya,berari begitu lalai nya petugas teknisi.
    banyak turis mengatakan bahwa indonesia adalah negara kaya,negara yang banyak uang tapi kenapa indonesia masih meleasing pesawat???
    kemana saja uang indoesia itu?
    oh ya,,di era sekarang banyak para artis ikut seta melibatkan diri mereka ke dalam legislatif.saya juga berharap kepada semua artis di indonesia untuk membantu penerbangan di indonesia,coba bayangkan salari yg mereka dapatkan per bulan bisa melebihi gaji pejabat pejabat apalagi sekarang mereka ikut serta di dlm nya sebagai badan legislatif tentu nya salari mereka akan bertambah.dengan uang yg banyak bisa di pake buat jalan jalan,dan untuk jalan jalan ke luar negri kan butuh pesawat tuh?dan sekarang coba anda pikir,anda mau terbang nyaman,murah dan selamat atau terbang dgn pengiriman maut.jadi bantulah penerbangan indonesia,kepada para pengusaha pengusaha di indoensia juga di harapkan untuk membantu,itu juga kan demi anda dan negara anda juga,
    dengan bantuan anda berarti anda telah menolong ribuan orang yg ada dan juga telah menyelamatkan indonesia dari kecorengan nya.
    majukan indonesia mulai dari sekarang bos..

  5. uke

    maknya CArgo na Jgn Bnyak2

  6. saya ijin comot gambarnya yaaa
    makasih🙂
    Beo : silakan mas Rusa….

  7. charles jhonata

    jgn menyalahkan donk.coba kalian yg jadi pilot gimana??apakah akan lebih baik???jangankan pesawat gituan pesawat yang boeing 707 tahun 50-an aja masih ada yang pake(john travolta).ini pesawat emg udah tua,but ini pesawat punya kemampuan landing di tempat pendek.kondisi seperti ini dikarenakan runway yg bumpy(bergelombang),terletak dekat dengan rumah penduduk,dan air yang menggenangi runway bukan karena cargo seperti yang uke katakan.pikir dlu bru jawab,pilot punya peraturan juga loh….,pilot gak boleh dipenjarakan makanya pas kejadian GA200 persatuan pilot indonesia marah dengan pemerintah.pilot membawa jiwanya dan juga jiwa-jiwa orang lain mana mungkin di lalai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s