Foke Tak Jamin 2012 BKT Siap untuk Waterway

Salinan dari berita di news.detik.com

Senin, 01/09/2008 19:20 WIB
Foke Tak Jamin 2012 BKT Siap untuk Waterway
Novia Chandra Dewi – detikNews

Jakarta – Lebar dan panjang Banjir Kanal Timur (BKT) sudah ideal untuk menjadi sarana transportasi sungai atau waterway. Namun tampaknya penduduk Jakarta harus bersabar lama. Hingga 2012, belum tentu BKT siap untuk waterway.

“Belum tentu, yang saya harapkan ya berfungsinya itu BKT,” ujar Gubernur Jakarta Fauzi Bowo di kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin ( 1/9/2008 ).

Namun Bang Kumis, sapaan akrab Fauzi menegaskan, rencana itu tidak berjalan di tempat. Berbagai kajian dilakukan untuk mempersiapkan transportasi sungai ini. Termasuk mempersiapkan jembatan yang bisa dinaik-turunkan sehingga tidak menghalangi laju perahu.

“Saya tetap meminta perhitungan visibility yang jelas sambil menunggu itu. Kita sudah minta supaya semua jembatan dibuat sedemikian rupa agar tidak menghalangi,” jelasnya.

Selain itu, ia menerangkan dibutuhkan pintu air yang dapat mengendalikan debit air secara konstan sehingga waterway tidak bergantung kepada musim.

“Yang lebih penting lagi adalah menjamin keberadaan airnya dan ini hanya bisa dikendalikan kalau ada pintu air yang secara sistematis bisa menjamin flownya,” pungkasnya.
(rdf/ken)

Rabu, 30/01/2008 15:37 WIB
Waterway Stop Operasi, 2 Kapal Ditarik ke Pulau Seribu
Nadhifa Putri – detikNews

Jakarta – Sejak dibuka untuk umum pada 9 Juni 2007, moda transportasi air alias waterway yang hanya mempunyai 2 armada kapal, sering tak beroperasi karena sungai dangkal. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo akhirnya memutuskan untuk menarik 2 kapal tersebut untuk kembali ke Pulau Seribu.

“Saya punya kebijakan, yang bermanfaat kita teruskan, yang tidak bermanfaat akan kita review,” ujar Fauzi di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu ( 30/1/2008 ).

Fauzi menyesalkan tindakan Kadishub Pemprov DKI Jakarta Nurachman yang mempertahankan 2 kapal di dermaga Halimun dan menolak mengembalikan ke Pulau Seribu. Padahal penggunaan waterway kurang efisien.

“Pak Nurachman masih senang lihat kapal di situ. Nanti kita suruh dia ganti kacamata,” kata pria yang akrab disapa Foke ini.

Kadishub Nurachamn di tempat yang sama mengakui pengoperasian waterway kurang efisien. Menurut dia, waterway merupakan angkutan percobaan untuk transportasi air.

“Kendalanya seperti ketinggian air dan sampah yang masih menumpuk di sungai,” kata Nurachman.

Saat peresmian pengoperasian waterway oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada 6 Mei 2007, imbuh Nurachman, Pemprov DKI sedang memperkenalkan 4 moda transportasi. Ke-4 moda transportasi itu yakni subway, monorel, busway dan waterway.

“Memang belum siap karena memang jalannya cuma segitu-gitunya,” pungkas Nurachman.

Waterway memiliki 3 darmaga yakni Halimun, Dukuh Atas dan Karet. Setiap penumpang yang akan menggunakan jasa waterway dikenai tarif Rp 1.500 untuk sekali jalan dan Rp 3.000 untuk rute pulang pergi.

Kapasitas kapal yang berjumlah 25 penumpang itu hanya beroperasi Sabtu dan Minggu dengan jam operasi pagi pada pukul 07.00-09.00 WIB dan sore pada pukul 16.00-18.00 WIB. Jarak tempuh waterway 1,7 kilometer dengan waktu tempuh 18-20 menit.
(nik/nrl)

Selasa, 11/12/2007 12:13 WIB
Waterway Tetap Berlanjut Meski Kendala Air Masih Diperdebatkan
Nadhifa Putri – detikNews

Cianjur – Proyek waterway yang diresmikan mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso cenderung terbengkalai. Namun Pemprov DKI Jakarta tetap berniat melanjutkan proyek itu.

Padahal masalah ketersediaan air yang dianggap kendala terbesar proyek ini masih diperdebatkan.

Sesuai dengan pola transportasi makro (PTM) yang dikaji Pemprov DKI, waterway dianggap layak, sehingga akan dilanjutkan pada 2008 nanti. Namun pelaksanaan proyek lanjutan itu masih menunggu kajian dan perencanaan fisik.

“Ini sebuah rencana integrated antara Dishub yang menyediakan sarana transportasi dan yang menyangkut ketersediaan prasarana, yaitu PU,” kata Kepala Dinas PU Pemprov DKI Jakarta Wisnu Subagya.

Wisnu menyampaikan hal itu di sela kunjungan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo ke Kantor Bupati Cianjur di Jalan H Siti Jenab, Cianjur, Jawa Barat, Selasa ( 11/12/2007 ).

Dari hasil kajian yang ada selama ini, kata dia, Pemprov menggunakan potensi itu sebagai pilihan. “Arahnya dalam TPM memang menggunakan waterway,” ujar dia.

Diakui Wisnu, proyek yang ada saat ini dinilai kurang panjang. Padahal Jakarta punya potensi yang bisa dikembangkan sebagai alternatif transportasi air.

“Kan ada Kali Ciliwung, Kali Sunter, Kali Angke, Banjir Kanal Barat, Kali Cipinang dan Banjir Kanal Timur,” katanya.

Dijelaskan Wisnu, meski menjadi kendala, ketersediaan air secara teknis masih bisa dilakukan walaupun butuh waktu panjang.

“Kalau yang dilakukan periode Sutiyoso itu membangun image dan ada pilot project membangun waterway dari pintu air Manggarai ke KH Mas Mansyur. Tapi di KH Mas Mansyur ada jembatan yang perlu ditinggikan, kalau sudah tinggi bisa sampai Manggarai,” tuturnya.

Saat ini, imbuh Wisnu, yang menjadi perdebatan adalah ketersediaan air pada saat musim kemarau. “Kalau hanya mengharapkan dari debit pasang laut, kan hanya akan mencapai beberapa kilometer saja,” tuturnya.

Namun secara teknis dengan dibangunnya bendungan-bendungan dan sebagainya, ketersediaan air diharapkan tidak menjadi kendala lagi.

“Tapi kita akan kesulitan menambah jaringan, karena melebarkan jalan itu sulit, harus elevated. Tapi elevated itu mahal, kalau integrated dengan mengoptimalisasi pelebaran jalan sudah hampir jenuh,” akunya.
(umi/nrl)

Minggu, 18/11/2007 13:39 WIB
Waterway ‘Nganggur’, Tak Ada Gengsi-gengsinya
Ari Saputra – detikNews


Kapal waterway terpatri di dermaga Halimun (ari saputra/detikcom)

Jakarta – Debit air Kali Ciliwung telah meningkat pada musim penghujan. Namun 2 unit kapal waterway tetap saja menganggur.

Selain karena sampah yang menumpuk, juga karena sepinya penumpang, sehingga 2 kapal itu teronggok begitu saja.

Pantauan detikcom, Minggu (18/11/2007), di Dermaga Halimun, Jl Sultan Agung, Jakarta Pusat, 2 mesin tempel pada masing-masing kapal malah didongakkan ke atas.

Sementara sampah rumah tangga menyumbat beberapa tiang-tiang pancang dermaga, di sela-sela kapal dan buritan kapal tempat mesin.

Tidak terlihat petugas waterway. Wisata angkutan air yang diluncurkan 6 Juni 2007 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, pun kosong melompong. Terik matahari memanggang 2 kapal itu.

Sejumlah warga yang melintas tampak penasaran dan melongok. “Nggak tahu yang bikin logikanya gimana, kalinya coklat, banyak sampah, nggak ada gengsi-gengsinya naik beginian,” ujar Wendri (34) warga Depok, Jawa Barat.

“Seharusnya kalinya dibenerin dulu, paling nggak ya jangan coklat, nggak penuh sampah, baru enak buat jalan-jalan,” usul Wendri yang mengaku tertarik dengan tulisan ‘Dermaga Halimun’ sehingga menyempatkan diri melongok 2 kapal tersebut.

Sedangkan seorang pemulung bernama Sudar (55) memberitahu 2 kapal tersebut memang belum beroperasi.

“Kalau saya tahunya malah supaya bisa jalan harus bayar beberapa kursi. Kalau hanya satu dua kursi nggak mau jalan. Minimal 10 orang baru mau jalan. Itu yang saya denger dari penumpang yang ngeluh,” katanya.

“Itu pemerintah cuma buang-buang duit. Ya dibersihin aja dulu kalinya,” cetus Sudar yang mengaku sudah 20 tahun memungut sampah plastik di lokasi tersebut sebagai pekerjaan sehari-hari. (sss/ana)

Leave a comment

Filed under Water Transport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s