PT KA tak mampu angkut semua pemudik

Jumat, 26 September 2008 12:09

MANTRIJERON: PT KA hampir bisa dipastikan tidak akan mampu mengangkut seluruh penumpang arus mudik dari Jakarta. Demikian juga untuk Daerah Operasi (Daops) VI, kemungkinan besar tidak bisa mengangkut penumpang arus balik saat mencapai titik puncak. Direktur Teknik PT KA, Darmawan Daud, mengatakan untuk angkutan Lebaran kali ini pihaknya menjalankan 223 rangkaian kereta ke berbagai tujuan. Jumlah itu terdiri dari 212 kereta reguler dan 11 kereta ekstra dengan jumlah kursi total mencapai 164.000. Sedangkan pada saat puncak yang diperkirakan akan jatuh pada H-4, jumlah penumpang diperkirakan akan mencapai 200.000.

“Jadi jelas tidak semua penumpang bisa kami angkut. Jadi kami mohon kepada masyarakat yang ingin mudik dengan KA tidak bertumpuk pada waktu yang sama,” kata Darmawan saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja kemarin.

Pihaknya, lanjut Darmawan, sebenarnya juga menyiapkan kereta komunitas, yang dulunya dikenal sebagai Kereta Sapu Jagat. Namun, kereta ini tidak akan dikeluarkan jika kondisi tidak benar-benar memaksa. “Kita akan menunggu perkembangan. Yang jelas, sampai saat ini kita menjalankan prosedur secara urut,” ujarnya.

Prosedur tersebut adalah dengan memaksimalkan KA reguler yakni menambah kapasitas hingga 150% untuk KA kelas ekonomi dan 125% untuk kelas bisnis. Jika belum juga mencukupi, Kereta Ekstra Lebaran akan dikeluarkan.

Darmawan juga mengatakan, penumpang arus mudik Lebaran kali ini akan meningkat dibandingkan Lebaran sebelumnya. Jika dilihat hingga H-10 lalu saja, jumlah penumpang sudah naik 20% dibandingkan H-10 Lebaran 2007.

Kondisi sama juga diprediksi akan terjadi di Daops VI yang membawahi Jogja-Solo saat arus balik. Kepala Daops VI, Yayat Rustandi, mengatakan puncak arus balik dari Daops VI diperkirakan akan jatuh pada 5 Oktober dengan jumlah penumpang diperkirakan akan mencapai sekitar 15.650. Padahal, jumlah kursi yang ada hanya 12.850. “Jadi akan ada sekitar 3.000 an penumpang yang tidak akan terangkut,” katanya.

Yayat juga mengatakan, tiket untuk kelas bisnis dan eksekutif untuk keberangkatan 4,5 dan 6 Oktober juga sudah habis terjual. “Jadi yang kita waspadai untuk kelas ekonomi yang memang dibeli langsung pada hari H,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan tidak terangkutnya penumpang ii, PT KA sudah bekerjasama dengan Organda untuk mengalihkan penumpang dari KA ke bus. Persoalannya, apakah penumpang mau atau tidak dialihkan, mengingat tiket yang lebih mahal. “Kalau KA ekonomi ke Jakarta cuma sekitar Rp30.000. Sementara bus ekonomi bisa mencapai Rp61.000,” katanya.

Baik Darmawan maupun Yayat mengatakan, pihaknya menyampaikan kondisi ini jauh hari dengan harapan masyarakat bisa memahami jika nanti ada penumpang yang tidak bisa terangkut. “Jangan sampai kami dikatakan menelantarkan penumpang. Karena daya tampung kami terbatas dan tidak mungkin memaksakan menangkut semua penumpang karena taruhannya keamanan,” tambahnya.

Titik rawan
Di bagian lain, Yayat juga mengingatkan sejumlah titik rawan yang berkaitan dengan jalur KA. Salah satunya banyaknya pintu perlintasan KA yang tidak dijaga.

Menurutnya di Daops VI, dari 518 pintu perlintasan, baru 113 yang dijaga. Sementara secara nasional dari sekitar 1.600 pintu juga baru 30% yang dijaga. “Jadi kami mohon masyarakat, khususnya yang datang ke Jogja dan belum tahu kondisi di sekitar pintu perlintasan untuk benar-benar hati-hati,” tambahnya.

Selain pintu perlintasan, sejumlah titik rawan lain adalah jalur rawan longsor dan banjir. Untuk Daops VI . Titik rawan tanah ambles antara lain berada di daerah antara Stasiun Wates hingga Rewulu, Jenar-Wojo, Sentolo-Wates. Sedangkan untuk daerah rawan banjir antara lain di sejumlah titik antara Lempuyangan dan Maguwoharjo. “Kita sudah menyiapkan tim khusus yang bisa bergerak cepat untuk mengatasi jika ada masalah berkaitan dengan rel,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak membeli tiket di luar loket yang disediakan. Jika ini dilakukan maka, upaya untuk memberantas calo akan sulit dilakukan. Yayat juga mengatakan pihaknya tidak menjamin bisa membersihkan calo 100%. “Kami tidak  bisa melarang orang membeli tiket sesuai aturan kemudian menjualnya lebih mahal. Tetapi kalau ada yang mencurigakan, kita akan usut. Seperti beberapa hari lalu kita melihat ada banyak KTP dari satu daerah membeli tiket bersama. Setelah kita cek benar mereka ternyata joki yang diminta calo beli tiket. Enam orang langsung kita tangkap,” katanya.

Oleh Amiruddin Zuhri & Rochimawati

Sumber : Harian Jogja

Leave a comment

Filed under Railway Transport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s