Fenomena Mudik

Foto : KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Mudik, Bukan Tradisi Monopoli Indonesia

Tradisi pulang kampung halaman untuk bertemu sanak saudara bukan hanya milik Indonesia. Di negara lain, seperti Amerika Serikat (AS), tradisi serupa juga berlaku ketika perayaan hari Thanksgiving (hari pengucapan syukur’) dan Natal.

Proses migrasi sementara dari satu tempat ke tempat lainnya yang terjadi di Amerika Serikat (AS) hampir mirip dengan tradisi mudik yang terjadi di Indonesia. Masyarakat berbondong-bondong pulang kampung halaman atau berkunjung ke tempat sanak famili, kerabat, dan teman-temannya.

Selain itu, warga AS juga memanfaatkan momen tersebut untuk berlibur ke berbagai tempat wisata. Berdasarkan catatan Asosiasi Automobil Amerika (American Automobile Association/AAA), pada perayaan hari Thanksgiving, lalu lintas jalan raya di AS selalu dipadati pengguna jalan. Pada 2007, lembaga asosiasi independen untuk advokasi pelancong dan pengendara itu mencatat sekira 38,7 juta warga Amerika melakukan perjalanan sejauh 50 mil atau lebih.

Angka ini naik 1,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kepadatan jalan raya yang dimulai sejak 21 November itu didominasi mobil yang mencapai angka 80 persen. Meskipun terjadi kenaikan harga BBM di AS, tidak menyurutkan para pengendara kendaraan untuk melakukan perjalanan selama hari liburan itu.

AAA mencatat, angka permintaan BBM meningkat 0,8 persen selama empat pekan November dibandingkan tahun sebelumnya, atau rata-rata lebih dari 9,3 juta barel per hari. “Meskipun harga BBM mencapai lebih dari USD3 per galon pada November 2007, hari Thanksgiving merupakan perayaan tradisional bagi berkumpulnya keluarga sehingga kenaikan harga BBM tidak akan menghalangi warga AS untuk berkumpul dengan keluarga yang dicintainya,” kata Presiden AAA Robert L Derbelnet dalam siaran persnya.

Sementara itu, 31,2 juta pengendara motor memadati jalanan pada perayaan Thanksgiving 2007. Angka ini meningkat 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan 4,7 juta orang lainnya akan melakukan perjalanan melalui udara, dan sisanya dengan bus atau alat transportasi lainnya.

Meskipun membayar lebih untuk BBM, para pelancong itu terobati dengan menurunnya harga sewa mobil, hotel, dan biaya tiket pesawat. AAA mencatat rata-rata harga sewa kamar hotel turun 3 persen, sewa mobil turun 12 persen, dan harga tiket pesawat turun 7 persen pada 2007. Penurunan harga tiket pesawat ini karena perusahaan maskapai menginginkan peningkatan penjualan tiket sebesar 4 persen.

Asosiasi Transportasi Udara (Air Transport Association/ATA) mencatat pada perayaan Thanksgiving 2007 diprediksi meraih penjualan tiket sebanyak 27 juta. Angka ini dicapai untuk 12 hari yang dimulai 16 November dan setiap tempat duduk pesawat terisi hingga 90 persen. Upaya ini demi menambal kegagalan maskapai di AS yang banyak mencatat ketidakpuasan konsumennya.

Sebab berdasarkan catatan Departemen Perhubungan AS, per September 2007 sekira 24 persen jadwal kedatangan pesawat terlambat. Ini merupakan catatan angka terburuk sejak data tentang keterlambatan jadwal pesawat dikompilasikan sejak 1995. Jika demikian halnya, tradisi berkumpul dengan sanak saudara adalah milik semua orang.

Di negara maju seperti AS pun, perayaan Thanksgiving dimanfaatkan warganya untuk berkumpul dengan orang-orang dicintainya. Hari Thanksgiving adalah hari libur yang awalnya merupakan tradisi masyarakat Amerika Utara untuk mengucapkan terima kasih dan rasa syukur pada akhir musim panen.

Hari tersebut dijadikan hari libur resmi di Amerika Serikat yang jatuh pada setiap Kamis keempat November setiap tahunnya. Sementara di Kanada, Thanksgiving jatuh pada Senin kedua Oktober. Pada perayaan Natal 2006, AAA mencatat lebih dari 64,9 juta warga AS melakukan perjalanan sejauh 50 mil atau lebih. Angka ini meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat 63,5 juta orang.

Perinciannya, untuk perayaan Natal ini sebanyak 52,6 juta pemudik (81 persen dari total pemudik) lebih menyukai mengendarai sepeda motor. Angka ini meningkat 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 51,5 juta orang. Selain itu, sebanyak 9 juta warga AS lebih menyukai melakukan perjalanan menggunakan pesawat (hampir 14 persen dari total pemudik).

Angka ini meningkat 2,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 8,7 juta orang. Sementara pemudik yang menggunakan jasa kereta api, bus, dan lainnya hanya tercatat 3,3 juta orang atau naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya 3,21 juta orang.

Desember merupakan bulan tersibuk bagi bandara di AS, sebab saat itulah jutaan warga AS berbondong- bondong membeli tiket pesawat untuk mengunjungi keluarganya. Selain itu, akhir tahun juga merupakan waktu yang tepat untuk liburan layaknya pascalebaran di Indonesia.

Tempat-tempat wisata seperti pantai, kapal pesiar, lereng ski akan ramai dipadati pengunjung. Sebagaimana masyarakat Indonesia yang telah menyiapkan kebutuhan mudik jauh-jauh hari sebelum Lebaran, masyarakat AS pun melakukan hal yang sama. Sebab, momen liburan Natal dan akhir tahun tersebut memang benar-benar dimanfaatkan penduduk di Negeri Paman Sam itu.

Meskipun jika dibandingkan pada perayaan Thanksgiving, ternyata harga sewa kamar hotel, tiket pesawat, dan sewa mobil justru naik saat Natal dan Tahun Baru. AAA mencatat harga sewa kamar hotel saat Natal meningkat hingga 4 persen, sementara harga sewa mobil dan tiket pesawat naiknya tidak terlalu signifikan. Adapun jumlah warga AS yang menyewa mobil meningkat sekira 5 persen.

Namun untuk pertama kalinya, pada liburan 4 Juli yang merupakan perayaan hari kemerdekaan AS, pada 2008 ini terjadi penurunan angka pelancong. Ini merupakan pertamakalinya dalam sejarah angka pelancong menurun 1,3 persen. Tercatat, Juli 2008 ini hanya sekira 40,45 juta warga AS yang melakukan perjalanan liburan atau menurun 550.000 dibandingkan pada 2007 sebesar 41 juta.

Melihat dari paparan di atas, budaya pulang kampung alias mudik ternyata menjadi milik masyarakat dunia. Jika di AS memiliki perayaan Thanksgiving, Natal, dan Tahun Baru, negara-negara lain di Eropa juga memiliki tradisi yang sama saat perayaan Natal. “Di Belanda banyak orang yang mudik ketika perayaan Natal. Ini sudah menjadi sifat dasar manusia ingin kembali ke asal. Ada yang demikian ramai seperti di Indonesia, yang berjubel-jubel, tetapi ada yang biasa saja. Namun, prinsipnya setiap orang ingin kembali ke kampung halamannya masing-masing,” kata Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Muhammad Hisyam. (sindo//mbs)

Mudik, Menembus Batas Rasionalitas

Orang rela melakukan apa saja agar bisa berhari raya di kampung halaman bersama keluarga. Batas-batas rasional tidak menjadi penghalang bagi para pemudik melaksanakan niatnya.

Mudik sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia. Maklum, selain demi tujuan silaturahmi dengan sanak saudara, kembali ke kampung halaman merupakan keinginan dasar setiap manusia terhadap asal usulnya. Endra (37), warga Ciputat misalnya.

Dia rela berjubel-jubel di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, demi mengantarkan anak-anaknya untuk bertemu neneknya di kampung halaman. Meskipun bapak dua anak ini tidak pulang ke rumah orangtuanya, dia tetap berkewajiban mengunjungi mertuanya sebagai bentuk upaya untuk menjaga silaturahmi.

“Mengantar anak-anak ketemu neneknya di Semarang sekaligus ngobatin rasa kangen sama keluarga,”papar pria yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir taksi ini. Hal senada diungkapkan Rico (22), warga Depok yang mengaku mudik demi mengobati rasa rindunya untuk bertemu keluarga.

Selain itu, lajang yang berprofesi sebagai tukang kayu ini juga mengaku sudah tidak sabar untuk berkumpul dengan teman-temannya di kampung. Itu sebabnya, mudik tidak bisa dilihat sebagai suatu budaya semata. Namun, tradisi migrasi sementara ini seakan sudah menjadi bagian dari proses ritual Ramadan.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Muhammad Hisyam, sudah menjadi satu kelaziman jika masyarakat rela melakukan apa saja hanya demi bisa mudik. “Biasanya saudara atau orangtua tinggal di kampung. Apalagi jika orangtua masih hidup,mudik akan sangat diutamakan. Ini karena sifat dasar manusia ingin kembali ke asalnya,” katanya.

Tradisi mudik menjadi fenomena menarik sekaligus unik. Sebab, tradisi ini mampu menembus batas-batas rasionalitas.

Kegembiraan merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, keriangan bertemu sanak keluarga, serta kekhidmatan mencium kembali kampung halaman menghilangkan kesusahan dan hiruk-pikuknya suasana yang terjadi di perantauan. Kampung halaman akan senantiasa berkesan bagi kaum urban yang merantau.

Dipandang dari sisi budaya, mudik merupakan tradisi leluhur sehingga sulit termakan zaman. Bahkan, kecanggihan teknologi yang ada saat ini tak pernah mampu menggusur tradisi mudik. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia memiliki keterikatan batin yang kuat dengan asal usulnya.

Alasan sosial dan budaya ini cukup kuat sehingga mudik akan tetap menjadi tradisi setiap tahunnya. “Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun, jadi sulit untuk dihilangkan,” ujarnya. Meskipun tidak bisa disamakan, menurut Hisyam, mudik layaknya orang sedang menjalankan ritual haji.

Para pemudik sudah melakukan persiapan jauh-jauh hari, mulai stamina fisik, materi, serta keinginan untuk berbagi dengan orang-orang di kampung. Jika dipandang dari kacamata ekonomi mikro, mudik hanya akan dianggap sebagai pemborosan.

Namun jika dipandang dari kacamata ekonomi makro, mudik bisa dinilai sebagai penyebaran perputaran uang dari kota ke desa. Dari sisi sosial budaya jelas tidak hanya terjadi migrasi sementara orang dari kota ke desa, tetapi juga terjadi migrasi budaya kota ke desa.

Para pemudik secara tidak langsung akan memberikan asupan warna budaya baru bagi masyarakat di kampung halamannya. Dalam sejarahnya, menurut Hisyam, tradisi mudik tidak seramai sekarang ketika masih era 1970-an. Sebab saat itu kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan sulit.

Di samping itu, tingkat urbanisasi juga relatif masih kecil. Namun ketika perekonomian mulai membaik, masyarakat mulai berbondong-bondong melakukan tradisi mudik. “Mudik bukanlah perilaku agama, melainkan murni perilaku sosial sehingga tidak bisa diukur dari sisi agama. Ini murni gejala sosial budaya,” tandasnya.

Menurut sebagian kalangan, tradisi mudik terjadi akibat ketidakrataan pembangunan. Pesatnya pembangunan di wilayah perkotaan menjadi magnet bagi masyarakat desa.

Mereka enggan menggeluti profesi kultural di desa sebagai petani. Wajah kota selalu menjanjikan penghidupan yang lebih baik. Hal inilah yang membuat angka urbanisasi meningkat. Padahal jika terjadi pemerataan pembangunan hingga ke pelosok-pelosok desa, urbanisasi tidak perlu terjadi.

Kondisi ini juga dialami Eropa pada abad ke-19. Di Swedia, misalnya, setiap habis ritual pulang ke kampung halaman,masyarakat kembali ke kota dengan membawa serta beberapa sanak saudaranya. “Ini tidak bisa disalahkan karena pembangunan memang belum merata.

Jadi kondisi di Indonesia saat ini tidak berbeda dengan Eropa seabad silam.Jika pembangunan sudah merata, urbanisasi tidak perlu dikhawatirkan,”ujarnya. Diah, 35, misalnya. Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Serpong,Tangerang itu mengaku ketiga anaknya tinggal di Madiun,Jawa Timur, bersama ibu dan saudaranya.

Ia rela berpisah dari buah hatinya demi bekerja mengais rezeki di Ibu Kota. Diah adalah salah satu dari ribuan orang yang demikian bersabar menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya pulang dari Stasiun Kereta Pasar Senen, Jakarta Pusat.

“Ingin kangen-kangenan sama anak-anak dan keluarga juga,” katanya. Bagi masyarakat urban yang sudah lama merantau di Jakarta dan sekitarnya, mengobati rasa kangen dengan keluarganya inilah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Padahal, mereka harus berjuang agar bisa pulang; terkadang tidak kebagian tiket dan harus sabar menunggu antrean pembelian tiket hari berikutnya. Artinya para pemudik itu harus tidur di stasiun untuk menunggu loket tiket dibuka kembali.

Hal inilah yang dialami Samiji (35), yang harus bersabar karena tidak kebagian tiket kereta pada Jumat (26/9/2008). Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh konstruksi di Cilegon ini telah dikaruniai dua anak dari hasil perkawinannya dengan perempuan warga Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Samiji terpaksa menginap di Stasiun Kereta Pasar Senen, sementara istri dan kedua anaknya menginap di rumah mertuanya di Kampung Melayu. Suka duka seputar mudik inilah yang sering dialami masyarakat urban demi keinginan berkumpul dengan keluarganya di kampung halaman. (sindo//mbs)

Mudik, Membenahi Masalah Klasik

Tradisi mudik tidak pernah bisa dilepaskan dari sistem transportasi. Sayangnya, transportasi dan infrastruktur belum menunjang. Sesak, pengap, dan berdesak- desakan adalah menu utama yang harus dialami pemudik ketika akan berlebaran bersama sanak saudara di kampung halaman.

Masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah merupakan pihak yang paling merasakan betapa perjalanan menuju pulang terasa sangat berat. Dapat dibayangkan satu kendaraan harus diisi dengan penumpang yang melebihi kapasitas yang ada. Namun, persoalan ini juga berlaku bagi masyarakat kalangan menengah atas.

Hal ini tampak dari sulitnya mendapatkan tiket-tiket eksekutif pada moda transportasi kereta api. Umumnya, untuk tiket kereta api kelas eksekutif sudah habis sejak awal Ramadan. Kondisi serupa terjadi pada tiket pesawat terbang. Sekalipun ada menjelang hari raya, harganya setinggi langit.

Departemen Perhubungan sejak awal sudah memprediksi bahwa jumlah pemudik untuk musim mudik tahun ini akan meningkat dibandingkan tahun lalu. Diprediksi tahun ini jumlah pemudik yang menggunakan angkutan umum mencapai 15,8 juta atau naik 6,55 persen dibandingkan 2007.

Lonjakan penumpang terlihat pada semua moda kendaraan yang dipergunakan, baik darat, laut maupun udara. Untuk mengimbangi hal itu, upaya penambahan kendaraan pun mengalami peningkatan. Jika pada 2007 bus yang dipergunakan mencapai 33,3 ribu unit, pada 2008 meningkat menjadi 34,4 ribu unit.

Demikian juga dengan kapal yang melayani angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP) yang bertambah menjadi 127 unit dari 121 pada 2007. Kapal yang beroperasi melayani angkutan jarak jauh pun bertambah 71 buah menjadi 593 kapal.

Adapun pesawat udara, walaupun jumlahnya menurun dari 211 menjadi 184 pesawat, daya angkutnya lebih banyak karena menggunakan pesawat yang lebih besar. Walaupun ada penambahan jumlah armada, bukan berarti permasalahan angkutan Lebaran terselesaikan.

Sebab, jumlah yang disediakan tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada tiap tahun. Akibatnya, antrean dan jubelan orang berdesakan tetap menjadi pemandangan rutin. Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat sendiri sejak semula sudah mengetahui risiko yang akan mereka hadapi.

Itu sebabnya, sebagian masyarakat memilih membeli tiket di awal Ramadan. Selain jumlah penumpang yang menggunakan angkutan umum bertambah, penumpang dengan kendaraan pribadi pun turut bertambah, terutama pengguna sepeda motor.

Jumlah kendaraan roda dua meningkat dari 2,1 juta menjadi 2,5 sepeda motor atau dengan penumpang berjumlah 6,42 juta jiwa. Sementara pengguna kendaraan roda empat atau lebih naik dari 6,1 juta menjadi 6,4 juta atau dengan jumlah kendaraan mencapai 1,28 juta.

Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Iskandar Abubakar, faktor utama yang menimbulkan permasalahan mudik adalah lonjakan penumpang yang sangat drastis pada waktu yang bersamaan sehingga pasokan dan permintaan tidak seimbang dan hal ini berlangsung setiap tahun.

Hal ini juga diamini Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Bambang Susantono. Menurutnya, hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan semua pihak. “Tumpukan penumpang dalam jumlah yang besar dan pada waktu bersamaan inilah yang menjadikan keruwetan mudik terjadi dari tahun ke tahun,” ujar Bambang.

Untuk mengantisipasi itu, pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya agar transportasi mudik lebih lancar dan nyaman. Namun harus diakui bahwa upaya itu belum mampu menyediakan kenyamanan secara maksimal.

Menurut Iskandar, dari segi kendaraan, walaupun telah banyak melakukan tambahan, pemerintah belum bisa menyiapkan kendaraan sesuai dengan kebutuhan jumlah penumpang yang ada.

Menurutnya akan menjadi suatu upaya yang sangat mahal jika pemerintah harus menyiapkan kendaraan yang sangat banyak, padahal kendaraan itu hanya dipakai beberapa hari saja dalam satu tahun.

Iskandar mencontohkan, pada hari biasa daya angkut kapal di Selat Madura mencapai 20.000 orang setiap hari, sedangkan pada saat Lebaran bisa mencapai 90.000 penumpang. Akibatnya, walaupun sudah ada beberapa tambahan kapal, tetap saja antrean panjang hingga beberapa kilometer menjadi pemandangan yang tidak dapat dielakkan. “Kita tidak mungkin menyiapkan kapal lebih banyak jika hanya digunakan pada beberapa hari saja,” ujar Iskandar.

Mudik Bareng

Di tengah keterbatasan mendapatkan alat transportasi yang nyaman, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah, ada satu kegembiraan yang didapat masyarakat dengan banyaknya program mudik bersama secara gratis saat ini.

Program mudik bersama kini marak digelar kalangan perusahaan swasta, organisasi masyarakat, dan partai politik. Mudik bersama dinilai akan memberikan nilai positif bagi perusahaan karena dapat menata karyawan agar mudik tepat waktu dan teratur.

Menurut Direktur Lalu Lintas Polri Brigjen Pol Yudi Susharyanto, hingga kini sudah ada 58 perusahaan yang memberitahukan ke Polri soal rencana mudik bersama. Tampaknya masyarakat juga sangat antusias menyambut hadirnya program mudik bersama gratis ini. PT Holcim, misalnya, menggelar mudik bersama pada 24 September dengan memberangkatkan 5,3 ribu pekerja bangunan ke kampung halamannya.

Hal serupa juga dilakukan PT Sido Muncul pada 25 September lalu dengan menyediakan 260 bus untuk mengantar 18.000 pemudik ke berbagai tujuan. Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menargetkan akan memberangkan 20.000 pemudik dengan 400 bus.

Makin ramainya jalanan pada waktu mudik Lebaran secara tidak langsung menuntut infrastruktur, khususnya jalan, yang prima. Hal ini pun diakui Iskandar. Oleh karena itu, pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berusaha memperbaiki kualitas dan rambu jalan.

Iskandar mencontohkan, saat ini sudah ada fly overdi daerah Nagrek, Jawa Barat, yang bisa sedikit memecah kepadatan arus lalu lintas.Sebagaimana diketahui, daerah Nagrek sering menjadi titik paling padat setiap musim mudik tiba.

Hasil perbaikan yang dilakukan pemerintah juga terlihat pada beberapa jalan raya, khususnya di daerah pantai utara (pantura) Jawa sebagai jalur utama pemudik. Untuk memperlancar arus lalu lintas di jalur ini, antara Jakarta, Semarang hingga Pati telah dipasang median (pemisah jalur).

Untuk ke depan, menurut Iskandar, berbagai infrastruktur akan semakin ditingkatkan, salah satunya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). “Tahun depan dengan rampungnya Jembatan Suramadu, permasalahan di Selat Madura akan teratasi,” ujar Iskandar.

Guna memperbaiki layanan kepada para penumpang, saat ini beberapa upaya telah dilakukan pemerintah. Dari pemantauan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, misalnya, kebersihan tampak berbeda dengan hari biasa.Toilet terasa lebih bersih dan sampah juga terlihat sedikit daripada hari biasa.

Menurut seorang petugas Stasiun Pasar Senen R Widjojo, saat ini PT KAI memang mengintruksikan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para penumpang. Salah satu pelayanan PT KAI adalah dengan menambah cadangan rangkaian kereta. Dengan demikian, menurut Widjojo, saat ini walaupun masih banyak penumpang yang berdiri, itu masih dalam batas wajar.

“Sistem pembelian tiket sekarang yang melalui komputer tidak melayani jika penumpang melebihi batas maksimal dan akan ditambah jika akan ada kereta tambahan,” ujar Widjojo. (sindo//mbs)

Tulisan saya salin dari news.okezone.com, minggu, 28 September 2008

Leave a comment

Filed under Transport's Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s