Suparyo, 12 Tahun Mudik Pakai Motor

Selasa, 30 September 2008 – 06:13 wib

Mudik lebaran ke kampung halaman dengan kendaraan roda dua, dianggap bisa menghemat ratusan ribu jika dibandingkan dengan menggunakan kendaraan angkutan umum. Seperti yang dirasakan Suparyo (50), warga Desa Bubaan, Kecamatan Migen Kabupaten Semarang, Jateng. Suparyo sudah 12 tahun ini mudik lebaran dengan motor kesayangannya.

Wajahnya sudah tampak keriput, kulit badannya legam dibakar matahari, sementara rambutnya sudah berubah warna putih, usianya tidak lagi muda, namun semangatnya tidak lagi tua. Suparyo, pria berusia setengah abad ini tampak semangat menggenjot motor bebeknya.

Tidak ada sedikitpun tampak lelah di mata Suparyo. Meskipun di atas motor kesayangannya itu, mengangkut istri dan cucunya. Bahkan tidak hanya itu, barang bawaan yang dikemas dalam dus memenuhi bagian belakang dan depan motor.

Suparyo adalah satu dari jutaan warga mudik ke kampung halaman dengan bersepeda motor. Suparyo bergerak dari Rawa Buaya Jakarta Barat sekira pukul 10.00 Wib. Dengan kecepatan antara 60-80 kilometer perjam, Suparyo hendak menemui sanak keluarganya di kampung halaman di daerah Semarang.

Tradisi mudik, bagi Suparyo adalah sesuatu yang wajib. Dan setiap kali mudik lebaran, sejak tahun 2006 lalu Suparyo memilih dengan kendaraan pribadinya yang dibeli dari hasil keringatnya, dibanding dengan menggunakan angkutan umum.

“Kalau dihitung-hitung, mudik pakai motor jauh lebih hemat dibanding dengan mobil, bayangkan saja untuk satu orang ongkosnya Rp125 ribu, tapi kalau pakai motor hanya Rp78 ribu,” seloroh Suparyo saat ditemui di sela-sela istirahatnya di SPBU 34.41213 Ciasem baru-baru ini.

Meskipun dengan bawaan yang overload dan harus berpacu dengan sesama pemudik kendaraan motor dan kendaraan roda empat, Suparyo mengaku tidak pernah khawatir dan takut. Suparyo punya tips sendiri untuk menghindari kecelakaan. “Yakin dan selalu hati-hati di jalan, tidak usah kejar-kejaran dengan yang lain, santai saja,” katanya.

Mudik ke kampung halaman dengan menggunakan roda dua dari Jakarta ke tempat tinggalnya di Semarang Jawa Tengah, Suparyo membutuhkan 19 jam perjalanan. Itupun sudah dipotong istirahat tiga kali di jalan dan keadaan jalan lancar. Namun sebaliknya, dia butuh waktu sampai 25 jam jika kondisi jalan macet.
Sementara istri Suparyo, Kusniyah 50 tahun yang setia menemani suaminya kemanapun dia pergi, mengaku dirinya hanya berbekal minyak kayu putih dan sedikit makanan bekal untuk bisa di santap di tengah jalan. Cara inilah menurut Perempuan berusia 50 tahun untuk menghemat pengeluaran.

“Kalau beli di jalan kan harganya tiba-tiba saja naik dan mahal, makanya saya bawa bekal sendiri. Jadi begitunya turun istirahat kita makan dari yang kita bawa,” tutur Kusniyah sembari mengelus-elus kepala sang cucu, Lukman (6), yang pulas tidur di emperan pom bensin.  (Annas Nasrullah/Sindo/mbs)

Sumber : okezone.com

Leave a comment

Filed under Traffic Safety, Transport News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s