Segosegawe menuai protes

Kamis, 16 Oktober 2008 11:04 Harian Jogja

UMBULHARJO: Belum genap sepekan diluncurkan, program Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe (Segosegawe) yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Joga menuai protes dari sejumlah anggota DPRD setempat. Pasalnya, program Segosegawe yang bertujuan menumbuhkembangkan kecintaan untuk kembali menggunakan sepeda, dalam realisasinya justru bersifat top down dan bukan mengarah pada kesadaran warga. Ketua Komisi I DPRD Kota Jogja, Iriantoko Cahyo Dumadi, Rabu (15/10), mengatakan kegiatan Segosegawe seharusnya dikembalikan kepada fungsi dan komitmen awal dalam pembuatan gerakan tersebut.
Adanya surat Peraturan Walikota (Perwal) yang melarang peserta didik terutama siswa SMP menggunakan sepeda motor dan siswa SMA menggunakan mobil, telah memperlihatkan disorientasi atas gerakan tersebut.
“Awalnya kan mengarah pada kesadaran, sehingga seharusnya tidak perlu ada surat semacam itu. Pemerintah Kota seharusnya juga mempertimbangkan sarana yang akan dibangun untuk mendukung program tersebut,” katanya.
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Jogja, Zuhrif Hudaya, justru mempertanyakan penggunaan anggaran dalam kegiatan launching Segosegawe. Sebab, selama ini pihaknya belum pernah menyetujui pengajuan anggaran untuk kegiatan Segosegawe dalam APBD Kota Jogja 2008 Perubahan.
“Sekecil apapun [dananya], ini tetap kegiatan, seharusnya ada transparansi anggaran. Ya sangat lucu ketika kegiatan dengan melibatkan pihak sponsor tetapi yang menjalankan Pemkot, karenanya harus ada kejelasan, biarpun ini dibiayai swasta.”
Terpisah, Walikota Herry Zudianto mengatakan dikeluarkannya Perwal tersebut untuk memfilter orangtua yang ingin memanjakan anaknya, karena selama ini hal tersebut dianggap tidak membentuk karakter jati diri anak.
“Anak SMA dibelikan mobil pribadi, termasuk untuk sekolah. Itu akan membius anak seolah-olah keberhasilan orangtuanya identik dgn kesuksesan dirinya, sehingga dia tidak terpacu dengan meraih prestasi dari dirinya sendiri. Anak SMP diberi motor pribadi, jelas tidak mungkin tak melanggar hukum, karena pasti belum bisa memproses SIM,” katanya.
Herry menandaskan keinginan untuk memanjakan anak bukannya dilarang sama sekali, namun dengan catatan jangan dianggap sebagai motor pribadi sepenuhnya.
“Ke sekolah sejauh kurang dari 3 kilometer wajib bersepeda itu merupakan bagian dari upaya melatih dan membiasakan diri kepada anak untuk melaksanakan arti kesederhanaan,” tegas Herry.
Dia juga menyayangkan sikap pesimis sejumlah kepala sekolah terhadap keberlanjutan program Segosegawe. Herry melihat saat ini telah terjadi kemerosotan dalam hal wawasan pendidikan di sebagian kalangan pendidik di Kota Jogja.
“Mereka hanya menangkap wawasan mendidik. Seratus persen berorientasi pada aspek akademis. Tak pernah terbersit wacana pendidikan sesungguhnya untuk membentuk karakter secara utuh dari peserta didik. Selain itu, mengajarkan sikap pesimistis, tidak berdaya untuk berani membuat suatu perubahan nilai-nilai yang berlaku ke nilai-nilai yang seharusnya tanpa mencoba terlebih dahulu,” katanya.
Herry mengaku pesimistis atas makna dari perjuangan bangsa, sehingga dia tidak berani banyak berharap jika diminta menegakkan aturan yang ada. Dia juga mengatakan anggaran acara launching Segosegawe memang tidak didapatkan dari APBD Kota Jogja.
Anggaran tersebut berasal dari sponsorship. Dengan begitu, lanjut Walikota, ke depan pihaknya akan mampu meyakinkan Dewan untuk mendukung tindak lanjut dari program Segosegawe.
“Saya sebelumnya sudah memikirkan lebih mendalam, sehingga saya yakin pasti akan ada yang mau mensponsori…” Menurut Herry, saat ini Pemkot telah melakukan koordinasi dengan beberapa pihak untuk mempercepat realisasi terhadap tindak lanjut program Segosegawe.
Kelanjutan dari program tersebut di antaranya dengan melakukan pemetaaan kawasan yang direkomendasikan bagi pengguna sepeda dan rencana memberikan tempat parkir khusus bagi pengguna sepeda. “Sedang kami rapatkan, dalam waktu dekat akan selesai,” katanya.

JALUR/KAWASAN AMAN BAGI PENGGUNA SEPEDA
Di Kota Jogja (direkomendasikan menjadi alternatif jalur sepeda)
– Jl Senopati (rindang; awas jalur ramai)
– Jl Sultan Agung sisi Utara (rindang; awas jalur ramai)
– Jl Kusumanegara-Jl Sukonandi-Jl Kapas-Jl Cendana sisi Utara (rindang; awas jalur ramai)
– Jl Nyi Pembayun Kotagede (menghindari kepadatan Jl Mondorakan-Jl Kemasan)
– Jalan tembus antara Jl Rejowinangun dan Jl Ngeksigondo (informasi ada di Peta Hijau Jeron Beteng 2002 dan 2004)
– Alun-Alun Pura Pakualaman (ruang terbuka hijau, ada beberapa PKL makanan)

Oleh Jumali

Sumber : Harian Jogja

Leave a comment

Filed under My Jogja, Transport News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s