Awak Angkudes di Gunungkidul Tuntut Ketegasan

Judul asli : Awak Angkudes Tuntut Ketegasan, Jumat, 17 Oktober 2008 10:04WIB, Harian Jogja

WONOSARI:  Ijin trayek untuk bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang dimiliki sejumlah sejumlah perusahaan otobus yang beroperasi hingga pelosok kecamatan di Gunungkidul, kembali dipersoalkan. Kamis (16/10) kemarin, sepuluh anggota perwakilan dari delapan paguyuban angkudes se Gunungkidul kembali mendatangi pemkab Gunungkidul untuk meminta kejelasan terkait penataan ijin trayek bus AKAP. Dalam pertemuan yang digelar di ruang rapat Pemkab Gunungkidul, perwakilan paguyuban angkudes ditemui langsung oleh Sekda Gunungkidul, Joko Sasono, perwakilan dari Dinas Perhubungan dan Sat Lantas Polres Gunungkidul.
Dalam pertemuan kemarin, Aji Suryo selaku juru bicara perwakilan paguyuban angkudes se Gunungkidul kembali meminta agar pemerintah lebih tegas mengatur operasionalisasi dan ijin trayek bus AKAP yang nyata-nyata nekat beroperasi hingga wilayah kecamatan. Padahal, sesuai aturan, bus AKAP hanya boleh beroperasi hingga Terminal Wonosari.
“Permasalahan ini bukan pertamakali kami sampaikan dalam forum resmi seperti ini. Namun meski berulangkali kami sampaikan, sampai saat ini tidak ada tindakan dan hasil yang memuaskan. Kami hanya meminta ketegasan dan keseriusan pemerintah soal ijin trayek bus AKAP dan angkutan pelat hitam yang saat ini masih beroperasi,” kata Aji yang juga ketua paguyuban angkudes BMW (Baran-Munggi-Wonosari).
Aji menyatakan jika operasi yang dilakukan petugas gabungan dari Sat Lantas Polres Gunungkidul dan Dishub Gunungkidul tidak banyak berpengaruh terhadap operasionalisasi bus AKAP dan angkutan pelat hitam. Sampai saat ini, bus AKAP masih beroperasi hingga Semin, dan Bedoyo, Ponjong, yang jelas-jelas merupakan daerah operasiional angkudes. “Sebagai wong cilik, kami hanya berpedoman pada aturan main yang berlaku saja. Kami tidak akan banyak menuntut. Namun nampaknya petugas setengah hati melakukan operasi yustisi yang mengundang keganjilan karena tidak ada hasilnya,” tegas Aji.
Selain menyoal trayek bus AKAP, awak angkudes juga kembali menyorot keberadaan angkutan pelat hitam milik perusahaan bus yang kembali beroperasi dengan dalih memberikan service kepada penumpang bus. Layanan antar jemput milik berusahaan bus jelas-jelas membuat angkudes kehilangan penumpang. “Angkutan pelat hitam sudah jelas hanya diberlakukan untuk taksi dan travel. Untuk itu kami butuh ketegasan bapak-bapak. Karena terkesan saat ini petugas takut menggelar operasi yustisi,” kata pengurus paguyuban yang lain menambahkan.
Menanggapi hal itu, Sekda Gunungkidul, Joko Sasono, langsung mengimbau agar Dishub Gunungkidul melakukan langkah koordinasi dengan jajaran pusat terkait ijin trayek yang dikeluarkan Departemen Perhubungan (pusat) yang memang memberikan ijin trayek untuk angkutan bus AKAP. “Jadi sementara Dishub akan melakukan langkah koordinasi dengan pusat untuk meninjau kembali ijin trayek karena untuk pool yang berada di beberapa wilayah kecamatan memang harus memenuhi standar aturan,” kata Joko.
Joko tidak menampik beroperasinya angkutan pelat hitam di beberapa lokasi saat ini lantaran beberapa armada angkudes tidak menggunakan ijin trayek yang sudah dimiliki. Joko mencontohkan salah satu jalur Playen-Pulutan-Pasar yang ijin trayek sudah diberikan untuk jalur angkudes, namun tidak ada angkudes yang beroperasi, sehingga memicu beroperasinya angkutan pelat hitam.

Oleh Endro Guntoro
Sumber : Harian Jogja

Leave a comment

Filed under Public Transportation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s