Jogja Kembali Bersepeda

Jumat, 17 Oktober 2008 10:55 WIB, Harian Jogja

Sepeda mungkin sudah tidak asing lagi di tengah masyarakat DIY. Mengingat Jogja adalah mengingat sepeda. Selama 20 tahun sudah tradisi bersepeda di Jogja hampir punah. Tenggang waktu yang begitu lama, membuat masyarakat Jogja kangen dengan tradisi bersepeda sehingga Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X bersama Wali Kota Jogja Herri Zudianto menggalakkan kembali tradisi bersepeda.
Untuk mengisi jalan-jalan Kota Jogja pada tahun ini, sungguh sangat mustahil bila dibandingkan pada tahun 1980-an silam. Berbagai polusi dan sengatan matahari yang begitu dahsyat sangat memberatkan masyarakat Jogja untuk kembali mengembangkan tradisi kesederhanaan, yaitu bersepeda. Meskipun demikian, pada Senin (13/10), pemerintah kota Jogja tetap menggebrak masyarakat dengan program Segosegawe (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe atau sepeda buat sekolah dan bekerja). Gebrakan ini terlaksana dengan adanya ribuan peserta yang terdiri dari pelajar dan karyawan di DIY.
Program yang dilaksanakan pemerintahan Kota Jogja merupakan program untuk mengembalikan masyarakat Jogja kepada kesederhanaan dan kebersamaan yang semakin terkikis habis. Di samping program bersepeda untuk kesederhanaan dan kebersamaan, program itu juga untuk mengurangi polusi dan menghemat BBM serta menjadikan Kota Jogja yang nyaman. Mengembalikan eksistensi Kota Jogja yang nyaman dan damai, salah satunya adalah melalui program yang di adakan oleh pemerintah Kota Jogja ini.
Di tengah pergolakan tradisi yang semakin dikuasai oleh teknologi dan berbagai alat-alat transportasi yang serba cepat, membuat jiwa kesederhanaan masyarakat Jogja termarginalkan. Jiwa masyarakat diganti dengan sesuatu yang serba cepat sehingga sepeda yang merupakan transportasi lambat hanya menjadi pajangan saja. Padahal sepeda merupakan alat transportasi yang asyik dan tanpa menggunakan bahan bakar minyak. Selain itu sepeda juga tidak mengeluarkan polusi udara yang mengganggu pernafasan manusia. Jika tradisi sepeda hilang, maka Kota Jogja yang terkenal sebagai kota nyaman akan hilang. Karena semua berbau dengan polusi udara akibat dari asap knalpot dari motor dan mobil.
Kenyamanan bersepeda
Setelah pemerintah Kota Jogja menggalakkan kembali tradisi bersepeda, tentunya harus memperhatikan dan mendapat dukungan penyediaan infrastruktur keselamatan dan kenyamanan, misalnya jalur khusus sepeda. Jalur ini harus tersedia di seluruh Kota Jogja.
Direktur Institut for Transportation and Devolopment Plicy (ITDP) Darmaningtyas, menilai kebijakan menggalakan kembali bersepeda itu tidak jelas karena menekankan sosialisasi yang tanpa disertai penyediaan sarana yang menciptakan kenyamanan bersepeda. Ditambah lagi dengan ungkapannya, “mestinya disediakan dulu sarananya, baru sepeda digenjot”.
Penyediaan sarana untuk kenyamanan orang yang bersepeda sangatlah penting, selain itu juga sangat penting untuk mengantisipasi kecelakaan lalulintas. Seperti yang diungkapkan Darmaningtyas di atas, sangat membantu untuk memberikan jaminan keselamatan bagi para pengendara sepeda melalui pembuatan jalur khusus sepeda. Selama ini jalur sepeda yang ada di Kota Jogja baru jalur yang menghubungkan lima kampus besar, yaitu UGM, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Sanata Drama, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Penyediaan jalur Sepeda seharusnya ditambah banyak dengan diadakannya penggalakan bersepeda.
Kenyamanan adalah yang dibutuhkan bagi pengendara sepeda. Tanpa adanya kenyamanan, maka mustahil masyarakat Jogja kembali menggalakkan tradisi bersepeda yang terpendam selama bertahun-tahun silam. Banyak fakta yang menunjukkan adanya kecelakaan antara sepeda (onthel) dengan motor sehingga mengakibatkan salah satu pihak mengalami luka-luka. Bisa dikatakan ini adalah akibat dari tidak adanya jalur khusus untuk sepeda dan kenyamanan yang tidak diciptakan. Kecelakaan akan terus terjadi jika penggalakan bersepeda tidak disertai dengan sarana yang menjamin kenyamanan para pengendara sepeda.
Pemkot Jogja telah memberikan asuransi bersepeda bagi para pelajar jika mereka mengalami kecelakaan di jalan. Selain untuk pelajar, PNS juga sudah diusulkan untuk mendapatkan layanan dari pemkot. Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Syamsury, aturan mainnya akan segara disatukan dengan Peraturan Wali Kota. “Sedang kami pikirkan pula, karyawan pun dapat asuransi. Tujuannya agar pengendara sepeda nyaman”.
Membangkitkan jiwa sederhana
Jiwa kesederhanaan masyarakat Jogja yang lama terkubur oleh zaman, mencoba dikuak lagi kesederhanaan jiwa yang sudah lama mati. Menguak kembali eksistensi kesederhanaan jiwa yang mulia, merupakan bentuk perwujudan dan kesetiaan kepada Kota Jogja. Meski bertahun-tahun telah hilang, tetapi mereka mencoba membongkar kesederhanaan abadi.
Tumbuhnya kesederhanaan, akan membawa pada kebersamaan dalam berinteraksi dengan orang lain. Jiwa sederhana yang dimaksud adalah kesederhanaan dalam bentuk material, yaitu mementingkan kembali sesuatu yang sifatnya sudah dianggap tidak modern atau dalam kata lain adalah sepeda onthel.
Kita lihat negara-negara maju yang lebih cenderung menggunakan sepeda onthel dari pada menggunakan yang lain. Itu kerena mereka tahu manfaatnya bahwa sepeda bisa menjadikan badan lebih sehat dan segar kembali serta tidak merusak kelestarian alam. Begitu juga dengan Jogja, untuk mewujudkan kesehatan bersama dan kelestarian alam tradisi sepeda kembali digalakkan. Terbukti di desa yang masih pedalaman belum kenal dengan motor, tumbuhan di sekelilingnya masih kelihatan segar dan lestari.
Membangkitkan kesederhanaan tanpa dibarengi dengan rasa percaya diri, sangat sulit untuk dilakukan. Meskipun kelihatannya sepele, tetapi justru itu adalah pertarungan besar melawan nafsu matrealis. Memerangi tradisi bersepeda motor dengan tradisi sepeda onthel, itulah wujud kesederhanaan yang akan dilakukan Jogja kepada masyarakatnya.
Berbagai manfaat bersepeda juga sudah tidak diragukan lagi, kesehatan akan terjaga, mengurangi polusi udara dan lain sebagainya. Bisa kita bandingkan, orang yang melakukan perjalanan dengan  menggunakan sepeda dan orang yang dalam perjalanannya manggunakan sepeda motor, efek positif jelas terlihat pada orang yang naik sepeda. Kesehatan yang diperoleh sangat jelas serta menumbuhkan stamina yang tinggi.
Bersepeda memang jalan yang paling efektif untuk meningkatkan kesederhanaan dan meningkakan rasa percaya diri pada orang lain. Maka, program yang dilakukan Pemerintah Kota Jogja ini perlu mendapatkan perhatian dari masyarakat Jogja sebagai rasa pengenalan kembali kepada tradissi bersepeda yang lama terpendam. Masyarakat seharusnya mendukung adanya program ini untuk menguak kembali tradisi Jogja sebagai kota sepeda

Oleh Nur Kholis Anwar
Staf Peneliti pada Hasyim Asya’ari Institute, Jogja

Sumber : Harian Jogja

1 Comment

Filed under My Jogja, Transport's Articles

One response to “Jogja Kembali Bersepeda

  1. POSTERP_PINGUIN

    minta dampak masalah udara
    Beo : maxudnya gimana Mr. Pinguin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s