Komitmen Difabel Berhenti Sebatas Wacana

Kamis, 16 Oktober 2008 | 21:12 WIB, Sumber : kompas.com

YOGYAKARTA, — Komitmen untuk membuat fasilitas yang memudahkan kaum difabel selalu berhenti di tahap wacana alias tak pernah terwujud di lapangan. Ini menyakitkan hati kaum difabel. Fasilitas yang disediakan bagi mereka baru segelintir.

Di jalan, mereka nyaris tak mendapat tempat. Jalur bagi penyandang tuna netra misalnya, hanya tersedia di Malioboro yang trotoarnya sudah nyaris sesak oleh pedagang.

Demikian disampaikan Akhmad Soleh, Ketua Dewan Pengurus Daerah Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) DIY, di sela-sela acara halal bi halal bagi penyandang cacat di Loka Bina Karya Kota Yogyakarta, Kamis (16/10).

Nyaris semua pihak yang pernah membuat komitmen bagi difabel, ya hanya sampai pada pembicaraan, wacana-wacana, atau sekadar opini, ujarnya. Menurut Soleh, pemerintah dan pihak terkait harus serius dan berkomitmen dalam memikirkan kaum difabel.

Jalanan dan trotoar, dicontohkannya, tidak aman bagi tuna netra. Gedung-gedung juga belum memiliki tangga khusus kursi roda. Untuk urusan pekerjaan, belum semua perusahaan mau menampung difabel. Dalam hal transportasi, tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara, tetap tak nyaman naik bus kota walau pun itu adalah Trans-Jogja, bus patas AC yang diluncurkan beberapa bulan lalu. “Tak ada fasilitas suara pemberitahuan di halte yang memudahkan tuna netra. Untuk naik ke halte, mereka yang menggunakan kursi roda juga tak bisa karena kemiringannya curam,” ujarnya .

Jayusman, Ketua PPCI Bantul menceritakan, sudah tak terhitung cerita dari teman-temannya mulai dari terserempet kendaraan, tersandung tali tenda warung PKL atau ubin trotoar yang tidak rata, hingga kaget karena diklakson.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengakui keterbatasan fasilitas bagi difabel. “Untuk optimalisasi jalur khusus di Malioboro misalnya, masih jauh dari keinginan, karena ada banyak kepentingan di sana,” ucapnya.

Dana memang berpengaruh terhadap ketersediaan fasilitas. Namun lanjut Herry, yang sejatinya penting ialah menanamkan pada masyarakat perlunya menghargai kaum difabel. “Dalam pekerjaan, kami punya program yakni memberi insentif bagi perusahaan yang bersedia menampung pekerja difabel,” ucap Herry.

Sumber : kompas.com

Leave a comment

Filed under My Jogja, Trans Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s