Pro Kontra Pergeseran Waktu Sekolah untuk Atasi Kemacetan

Senin, 24/11/2008 14:55 WIB
DPRD Pesimistis Pemajuan Jam Sekolah Bisa Atasi Macet
Alfian Banjaransari – detikNews


Foto: Dok. detikcom

Jakarta – Pemprov DKI Jakarta sering tidak konsisten dengan kebijakan untuk mengatasi macet yang telah dibuatnya. Rencana memajukan jam sekolah untuk mengatasi macet pun disambut pesimistis.

Komisi B DPRD DKI Jakarta pesimistis dengan kebijakan memajukan jam masuk sekolah dari pukul 07.00 WIB menjadi 06.30 WIB, akan berhasil mengurangi kemacetan.

“Terus terang saya pesimis,” kata Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Aliman Saat ketika ditemui di kantornya, Jl Kebon Sirih Raya, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2008).

Aliman justru mengkritik Pemprov DKI Jakarta di bawah Gubernur Fauzi Bowo yang tidak konsisten dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya untuk mengatasi kemacetan.

Hingga saat ini, kata dia, tidak ada pengendalian volume kendaraan di Jakarta. Penomoran kendaraan secara ganjil-genap juga sebatas wacana saja.

Pemerintah dinilainya tidak berani membatasi usia kendaraan. Penggembokan kendaraan yang parkir sembarangan juga tidak ada bukti kongkret. Meski sudah mengeluarkan anggaran yang besar, koridor busway ternyata juga tidak menyelesaikan masalah.

“Yang selanjutnya, pemprov bikin peraturan tentang ketertiban umum. Tapi macet kan juga mengganggu ketertiban umum. Terhadap polusi udara Pemprov juga tidak mau mengambil tindakan,” tandasnya.

Politisi Partai Demokrat itu mengimbau pemerintah tegas menerapkan kebijakan-kebijakan solusi macet yang sudah disetujui sebelumnya.

“Jadi tidak usah dimajuin yang sekolah. Apa bisa dijamin kalau jam anak sekolah dimajukan bisa atasi macet?” pungkasnya. (irw/iy)

Senin, 24/11/2008 13:51 WIB
Guru Keberatan Anak Didiknya Masuk Lebih Pagi
Ari Saputra – detikNews

Jakarta – Rencana pemajuan jam sekolah menjadi pukul 06.30 WIB dikritisi pihak sekolah. Lewat para guru, mereka merasa kasihan kepada anak didik yang harus bangun lebih pagi. Terlebih bila jarak tempuh rumah ke sekolah terbilang jauh.

“Pasti pagi hari tambah repot. Paling tidak harus bangun jam 05.00 WIB. Apalagi kalau bapak ibunya bekerja,” kata salah satu guru MTSN 22 Jakarta, Maria, saat dihubungi detikcom, Senin (24/11/2008).

Di sekolahnya di daerah Ciracas, jarak terjauh anak murid berada di Tipar, Cibubur. Dalam kondisi normal termasuk macet, si anak didik harus menempuh waktu sekitar 45 menit.

“Dari bangun, membuat sarapan, mandi dan bersiap-siap sekolah itu akan membuat ribet dan ribut di rumah. Kasihan,” imbuhnya.

Ucapan senada dilontarkan sejumlah guru di SMA 68 Salemba. Sejumlah guru mengeluhkan rencana itu karena akan mengganggu psikologis anak.

“Makin pagi, kondisi rumah makin runyam. Anak berbagi dengan orang tua yang bekerja, kakaknya. Banyak urusan sepele yang membuat suasana pagi menjadi makin ribut. kibatnya, tiap pagi si anak tidak menemukan keharmonisan keluarga” tukas salah satu guru SMA 68 yang enggan disebut namanya.

Baginya, suasana pagi yang harmonis dikeluarga sangat berpengaruh banyak pada psikologis anak didik. Bila pagi hari sudah tidak harmonis, akan terbawa secara sadar atau tidak dalam kesehariannya.

“Bayangkan saja bila orang tua tiap pagi harus ngomel-ngomel karena anaknya telat bangun, lupa seragam dan lain-lain. Pertumbuhan psikologis anak menjadi emosional,” sergahnya. (Ari/gah)

Senin, 24/11/2008 13:17 WIB
Macet dan Jam Sekolah, Dua Hal yang Berbeda
Alfian Banjaransari – detikNews

Jakarta – Kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang memajukan jam masuk sekolah dari pukul 07.00 WIB menjadi 06.30 WIB terus menuai pro dan kontra. Ada plus minusnya.

“Dari perspektif kebijakan pendidikan it’s okay. Artinya bagus untuk menstimulus anak-anak bangun pagi sehingga bisa lebih segar dan sehat,” ujar Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Igo Ilham di Gedung DPRD, Jl Kebon Sirih Raya, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2008).

Konsekuensinya, menurut politisi PKS ini, anak harus istirahat cukup. “Anak harus istirahat lebih awal. Malamnya kumpul bersama keluarga dan belajar. Jadi dari segi kebijakan pendidikan positif,” ujarnya.

Meski demikian, Igo tidak sependapat jika kebijakan ini bisa mengurangi kemacetan. “Dari perspektif kebijakan transportasi, kemacetan tidak bisa disimplifikasi hanya dengan memindahkan jam pelajaran. Ini dua hal yang berbeda. Artinya, harus ada kebijakan lain,” jelas ketua Komisi Kesejahteraan Rakyat ini.

Lantas, adakah solusi dari DPRD DKI? “Dijalankan saja. Tapi ingat, ini terkait dengan kepentingan pendidikan. Bukan untuk mengatasi kemacetan,” tegasnya. Apakah kebijakan tersebut akan mengurangi waktu bermain anak?
“Kan yang digeser waktu pagi. Mereka kan juga tidak sedang bermain. Nggak ada juga kan anak-anak yang bermain pukul 05.00 WIB sampai pukul 06.30 WIB,” pungkasnya. (anw/nrl)

Senin, 24/11/2008 08:35 WIB
Legislator: Anak Sekolah Masuk 06.30 WIB Agar Lebih Fresh
Taufiqqurahman – detikNews

Jakarta – Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memajukan waktu jam masuk sekolah lebih awal pada pukul 06.30 WIB ditanggapi positif oleh Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Sayogo Hendrosubroto. Menurutnya, kebijakan itu baik untuk pelajar.

Menurut Sayogo, kebijakan yang akan diterapkan Januari 2009 itu membuat anak-anak sekolah lebih segar dalam menghadapi pelajaran.

“Biar anak-anak lebih fresh. Kan juga pukul 06.30 WIB sudah mulai terang dan juga anak-anak akan tidur lebih awal pada malam harinya serta mereka tidak akan terjebak kemacetan lalu lintas,” Sayogo Hendrosubroto pada detikcom, Senin (24/11/2008). Komisi D yang dipimpin Sayogo mengurusi masalah transportasi.

Sayogo juga mencontohkan pola kehidupan pelajar yang berada di luar negeri dengan para pelajar DKI Jakarta. Di luar negeri, pelajar berangkat lebih pagi sehingga lebih fokus untuk belajar.

“Secara psikologis, ini akan berdampak baik bagi anak-anak karena mereka bisa berangkat lebih awal dan tidak terjebak kemacetan sehingga membuat mereka lebih fokus dalam belajar,” tambahnya.

Sayogo juga membantah kritik yang menyebutkan anak-anak sekolah hanya sebagai kambing hitam penyebab kemacetan di DKi Jakarta. Menurut Sayogo, perlu ada pembagian waktu antara pelajar dan para pekerja.

“Perlu ada ada pembagian waktu yang jelas, anak-anak sekolah berangkat pada pagi hari dan para pekerja akan berangkat siangnya karena tidak mungkin anak sekolah berangkat siang hari,” tegasnya.

Menurut riset, anak sekolah menyumbang kemacetan 14%. Dengan adanya perbedaan jam masuk sekolah, beban lalu lintas pada pukul 07.00 WIB bisa berkurang sebanyak 14%. (fiq/nrl)

Minggu, 23/11/2008 23:25 WIB
Anak Sekolah Masuk 06.30 WIB
Prijanto: Semua Kritik Hanya Membela Kepentingan Pribadi
Taufiqqurahman – detikNews


Jakarta – Kebijakan sekolah masuk pukul 06.30 WIB mulai Januari 2009 di DKI Jakarta menuai banyak kritik dari berbagai kalangan. Namun kritik tersebut dianggap oleh Wagub DKI Jakarta Prijanto sebagai alasan untuk membela kepentingan pribadi saja.

“Saya sudah membaca berbagai berita dan pendapat. Semua masukan yang ditulis media cetak dan kritik itu hanya menempatkan pada posisi kepentingan pribadi,” ujarnya saat menghadiri acara Urang Minang Barelek Gadang di Rantau di Istora Senayan, Jakarta, Minggu malam (23/11/2008).

Prijanto mencontohkan, salah satu alasan penolakan kebijakan tersebut adalah karena orang tua khawatir anaknya tidak bisa bangun pagi. “Itu kan masalah pribadi,” imbuhnya.

Menurut Prijanto, semua pihak diwajibkan untuk sadar dan bersama-sama berjuang untuk mematuhi aturan tersebut. Berbagai alasan yang selama ini dilontarkan, semoga tidak menghambat pelaksaan aturan itu nantinya.

“Perlu dicatat bahwa jam 06.00 WIB pagi itu di Jakarta sudah 30 derajat Celcius, jadi tidak gelap lagi”, kata Prijanto.

Ia pun mengimbau pada seluruh guru dan siswa sekolah agar memahami tujuan dari adanya aturan ini. Menurutnya, bangun pagi untuk sekolah bukanlah sebuah momok yang menakutkan.

“Justru dia (anak sekolah) akan masuk lebih cepat karena jalanan masih sepi,” pungkasnya.(mad/mad)

Minggu, 23/11/2008 11:37 WIB
Anak Sekolah Masuk 06.30 WIB
Kebijakan Itu Telah Didahului Survei

Hery Winarno – detikNews

Jakarta – Kebijakan sekolah masuk pukul 06.30 WIB mulai Januari 2009 di DKI Jakarta telah dibuat dengan matang. Sebelum diputuskan, terlebih dahulu diadakan survei di sekolah-sekolah.

“Kebijakan itu sudah diawali dengan survei yang mendalam. Sebelumnya sudah dilakukan survei ke sekolah-sekolah,” ujar Kadis Dikmenti Provinsi DKI Jakarta Mardani M Mustar saat ditemui di sela acara jalan sehat memperingati Hari Guru Nasional ke-63 di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (23/11/2003).

Menurut Mardani, selama ini telah ada sekolah-sekolah yang menerapkan kebijakan masuk pukul 06.30 WIB. Dengan demikian, kebijakan Pemrov DKI ini tidak akan terlalu mendatangkan masalah bagi sekolah-sekolah.

“Sekolah yang masuk mulai 06.30 itu sudah ada, sehingga nantinya tidak akan terlalu bersamalah jika masuk 06.30,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Mardani, kebijakan tersebut akan berdampak baik bagi murid-murid, khususnya yang beragama Islam. “Bagi yang muslim akan membiasakan anak untuk lebih giat dalam salat Subuh, karena bangun, salat, lalu langsung berangkat sekolah,” tuturnya.(sho/irw)

Minggu, 23/11/2008 07:52 WIB
Macet di DKI Karena Transportasi Umum Tak Memadai, Bukan Anak Sekolah
Novia Chandra Dewi – detikNews

Jakarta – Macet di DKI Jakarta karena Pemprov DKI belum bisa menyediakan transportasi umum yang memadai. Bukan karena anak sekolah. Memajukan jam masuk anak sekolah bisa mengorbankan hak anak.

“Ini bukan kesalahan anak, kebijakan ini lebih kepada ketidakmampuan pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyediakan transportasi yang layak dan menjadi hak masyarakat,” ujar Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait saat dihubungi detikcom Sabtu (22/11/2008).

Menurut Arist, tidak seharusnya anak yang dijadikan sebagai korban dalam pengambilan suatu kebijakan. Pemerintah, imbuh dia, seharusnya menyediakan sarana transportasi yang layak, khususnya bagi anak-anak.

“Kenapa tidak disediakan bus-bus khusus anak-anak seperti di negara lain, sehingga anak justru merasa nyaman untuk berangkat ke sekolah?” jelasnya.

Ditambahkan Arist, pemerintah jangan menjadikan seolah-olah kemacetan justru dikarenakan anak-anak sekolah. Arist justru menuding bahwa Pemprov DKI hanya mementingkan kepentingan orang dewasa saja. Masuk lebih pagi dinilai bisa mengurangi hak anak.

“Pukul 07.00 WIB itu menurut saya sudah cukup baik, tetapi jika tambah pagi lagi, hak anak untuk beristirahat dan berekreasi akan berkurang. Ini adalah hak fundamental dari anak,” imbuhnya.

“Jika masuk lebih cepat dan pulangnya pun dipercepat itu masih dipertimbangkan, tetapi jika alasannya untuk mengurangi kemacetan itu saya tidak setuju,” pungkas Arist.(nov/nwk)

Sabtu, 22/11/2008 17:35 WIB
Anak Sekolah Masuk Pukul 06.30 WIB
Pengamat: Kebijakan Pemprov DKI Tak Cermat & Salah Perhitungan

Niken Widya Yunita – detikNews

Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan anak sekolah harus masuk pada pukul 06.30 WIB mulai Januari 2009. Kebijakan ini dinilai tidak cermat dan salah perhitungan.

“Nggak tepat perhitungannya. Nggak akan mengubah kemacetan tapi bisa timbul masalah baru, seperti anak sekolah bisa beban,” ujar pengamat kebijakan publik Andrinov Chaniago dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (22/11/2008).

Andrinov menilai, tenaga ahli yang menganalisis kemacetan di Jakarta kurang profesional. Mobilitas anak sekolah dengan pekerja berbeda. Selama ini kemacetan berada di pusat Jakarta dan pusat bisnis. Sedangkan mobilitas anak sekolah umumnya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Jadi kebijakan pemerintah reaktif. Walaupun ada data statistik yang dikumpulkan, tapi itu tidak memperhitungkan arah mobilitasnya. Kebijakan Pemprov DKI terburu-buru. Tapi dari segi motif, saya tidak bisa berspekulasi penyebabnya,” kata Andrinov.

Andrinov juga menambahkan, kebijakan itu bisa menekan anak sekolah. “Mereka harus tidur lebih awal dan jadwal bangun susah diubah,” tandas Andrinov.(nik/nwk)

Minggu, 23/11/2008 11:07 WIB
Anak Sekolah Masuk 06.30 WIB
Pemerintah Harus Pikirkan Solusi Transportasi

Hery Winarno – detikNews

Jakarta – Pemrov DKI mengeluarkan kebijakan sekolah masuk pukul 06.30 WIB mulai Januari 2009. Kebijakan tersebut hendaknya diiringi dengan penyiapan infrastruktur yang memadai seperti transportasi.

“Sarana dan prasarana seperti transportasi harus sudah diberesin terlebih dahulu. Artinya kalau masuk pagi itu kendaraan transportasi umum sudah ada. Sehingga kita tidak terlambat untuk sampai tempat kerja atau sekolah,” ujar Kepala Sekolah SMP 143 Cilincing, Jakarta Utara, Nana Suryana.

Hal itu dia katakan di sela-sela acara jalan sehat memperingati Hari Guru Nasional ke-63 di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (23/11/2003).

Nana mengaku untuk sekolahnya tidak ada keberatan dengan penerapan kebijakan tersebut. Sebab selama ini SMP 143 telah menerapkan kebijakan masuk pagi pukl 06.45 WIB. Selisih 15 menit sebelum pukul 07.00 WIB itu digunakan untuk tadarus Al Quran.

“Bagi SMP kami sendiri tidak ada masalah karena kami masuk pukul 06.45 karena ada tadarus dulu sebelm mulai belajar,” ucapnya.(sho/irw)

Sabtu, 22/11/2008 09:24 WIB
Mengurai Kemacetan Jakarta Lewat Jam Sekolah
Indra Subagja – detikNews


Jakarta – Macet! Salah satu persoalan utama di ibukota Jakarta. Terobosan coba dikeluarkan dari balaikota, guna mengatasi persoalan yang sudah menjadi isu keseharian ini. Caranya, dengan mengatur jam sekolah masuk.

Pelajar masuk lebih pagi, tapi apakah ini efektif? pembuktiannya, tentu hanya bisa dilihat setelah aturan diterapkan pada Januari 2009 mendatang. Tapi hitung-hitungannya minimal dapat mengurangi kepadatan arus lalu lintas di Jakarta.

“Sebenarnya bukan anak sekolahnya yang bikin macet, tapi para pengantarnya. Orang tua yang mengantarkan pelajar itu menggunakan kendaraan pribadi,” tutur seorang petugas lalu lintas yang enggan disebutkan namanya dalam perbincangan, di Jakarta, Sabtu (22/11/2008).

Bila memang ingin mengurangi kemacetan, akan lebih adil bila petinggi Ibukota tidak hanya membebankan aturan yang dirasa berat bagi pelajar. Alternatif lain pemecah masalah kemacetan bisa dilakukan, misalnya program monorail yang terbengkalai tidak jelas, bisa sambil dikerjakan kembali.

Pembatasan tahun kendaraan yang masuk ibukota bisa jadi solusi, atau penambahan dan pelebaran ruas jalan bisa jadi pilihan. Perlu diingat pula, persoalan macet pun bukan saja hanya karena padatnya kendaraan.

Disiplin pengendara juga jadi biang kemacetan. Misalkan banyak angkot atau metromini yang berhenti menunggu penumpang seenaknya, penyebrang jalan di sekitar mal yang hilir mudik dan menghambat arus kendaraan. Hal seperti ini juga perlu diselesaikan, langkah awal kiranya penertiban bagi para pengemudi angkutan umum itu. Aturan tegas harus diberlakukan.

Jadi kalau hanya jam sekolah saja, rasanya ini hanya akan menjadi obat sesaat. Program dan pembenahan sektor transportasi berkelanjutan perlu terus dilakukan.(ndr/)

Jumat, 21/11/2008 21:45 WIB
Sekolah Masuk Lebih Awal
Wagub: Jangan Menggerutu

Alfian Banjaransari – detikNews

Jakarta – Pemprov DKI Jakarta memajukan jam masuk sekolah di DKI dari jam 07.00 WIB menjadi jam 06.30 WIB. Ini tentu akan membawa dampak luas, salah satunya perubahan kebiasaan bangun di pagi hari. Atas hal ini, Wakil Gubernur DKI (wagub) Prijanto menghimbau agar masyarakat tidak menggerutu.

“Jangan gerundul (menggerutu),” ujar wagub kelahiran Ngawi tersebut dalam jumpa pers di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2008).

Menurutnya, hanya orang-orang yang terbiasa bangun sianglah yang akan mengeluh. “Itu kan hanya yang biasanya bangun siang, seperti Anda para wartawan,” ujarnya.

Kontan ucapan Prijanto tersebut membuat para wartawan yang hadir tertawa. Lebih lanjut, Prijanto mengatakan bahwa kebijakan tersebut dilakukan untuk mengatur penggunaan jalan.

“Pada tahun 2008, terdapat 20,7 juta perjalanan setiap hari. Sebanyak 5,6 juta trip (perjalanan) merupakan perjalanan ke kantor sedangkan 5,3 juta trip merupakan perjalanan ke sekolah,” jelasnya.

Ditambahkannya, kebijakan tersebut adalah untuk mengurai transportasi di ibukota, dan bukannya mengutak-atik sarana transportasi.

“Setiap tahun, jalan di Jakarta hanya bertambah 0,01 persen, sementara pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 9 persen pertahunnya,” terang Wagub.(alf/ndr)

Sumber : detiknews.com

2 Comments

Filed under Traffic System, Transport News

2 responses to “Pro Kontra Pergeseran Waktu Sekolah untuk Atasi Kemacetan

  1. salam kenal
    Beo : salam kenal kembali…

  2. dewiayie

    Rasanya gak ada yang dikorbankan koq. Ayo pilih mana, punya anak yang rajin sukanya bangun pagi atau anak yang males sukanya bangun siang? Bangun lebih pagi kan tidurnya jadi lebih cepet, jadi gak nonton acara tv malem yang aneh2.
    Sekolah lebih pagi kan pulangnya juga jadi lebih awal, jadi waktu bermain kan juga gak kurang.

    Jam sekolah khan cuma salah satu dari puluhan upaya untuk mengurai macet. Jam kantor pegawai kan juga dirubah, malah beda2 berdasarkan wilayahnya. Pembangunan MRT subway, monorail, dan busway kan juga masih diterusin, tapi perlu waktu untuk bisa selesai. Flyover, underpass, jalan layang kan juga dibuat terus. Parkir dan sepeda motor juga mulai diberesin. Angkot2, metromini dan bis2 kan juga akan diberesin. Bis sekolah juga udah disediain dan katanya mo ditambah terus. Tapi kan perlu waktu untuk bisa ngangkut 1,8 juta murid, karena perlu bis ratusan ribu buah supaya bisa keangkut sekaligus.

    Semuanya perlu waktu yang lama dan bertahun2 untuk bisa beres! Tapi selama nunggu bertahun2 itu masak kita mau sih terus2an kaki pegel nginjek rem kopling, pinggang encok duduk lama dibelakang setir, duit abis gara2 boros BBM, kepala puyeng, stress, depresi, otak kram karena nggak pernah bisa ngejar waktu untuk rapat?

    Beo : wah..wah…komentarnya (ibu/mba?) Dewi ini sip deh…setuju…karena ini memang hanya salah satu upaya manajemen lalu lintas dalam menangani penyakit transportasi di kota-kota besar yg sudah telanjur kronis. Kemacetan, kesemrawutan, polusi udara dan suara, pasti akan berdampak dalam besarnya congestion cost yang akan bebannya akan kembali dipikul oleh masyarakat. Biaya kongesti inilah yang sering tidak disadari masyarakat (karena memang tidak keliatan kan?) Rapat telat, produktivitas menurun, stres, sakit paru2 karena polusi, itu semua kan biaya dan dapat dirupiahkan? Sadarkah kita bahwa kota-kota yang tidak bisa mengurus lalulintas (dan tidak segera membenahi angkutan publiknya) itu hanya akan menuju kota yang sakit?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s