Category Archives: Islamika

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Penyair Taufik Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi atau yang dikenal dengan Chrisye (1949 – 2007) di majalah sastra HORISON.

KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA

Oleh Taufik Ismail

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius. Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.

Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.”

Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah.

Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, Alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika
berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:

Lirik yang dibuat Taufik Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufik memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufik dan menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufik. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufik, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu.. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi.

Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari! Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luar biasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘ kan ?”

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang  mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album soundtrack, 20 album solo dan 2 film. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang
amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.

“Ketika Tangan dan Kaki Berkata”
Lirik : Taufik Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik (Qs. 16 an-Nahl :125). Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Advertisements

2 Comments

Filed under Islamika

Dalam DekapanMu

Dalam DekapanMu

Lagu dan lirik : Rizki Beo

Dalam gelap kumencari
Jalin temali hadirMu
Tanpa batas kulewati
Srasa tak pantas bagiMu

Break:
Meski resah tak kurasa
Meski sendu kumerindu
Meski terpendam warnanya
Meski raguku melagu
Namun jiwalah akhirnya
Bersimpuh di hadapanMu
Tiba pada satu titik nafasku (kalamMu)

Reff:
Kaulah Sang Pemilik jiwaku
Kaulah Sang Pemilik hidupku
Ku kan damai di pelukanMu
Ku kan damai dalam lelagu
dekapMu…

(Bagai lepas selembar kertas, terinjak kemarau meretas,
dan air penghujan terserak, dan cerita hidup menapak..
Bagai mimpi menyita hati, hitam trasa berwarna warni,
Dan detik kan berhitung slalu, dan sisakan sedikit waktu)

BisikanMu menghampiri
Di hampa jendela hati
Tanpa jeda memelukku
Tanpa jenuh mengusapku

Kaulah Sang Penggenggam hatiku
Kaulah Sang Penawar rinduku
Hidup mati dalam kuasaMu
Ku kan damai dalam senandung
dekapMu..

(dibuat di Jogja, di sepertiga malam)

1 Comment

Filed under Islamika, My Music

Welcome Ramadhan…

Picture of the day..

A boy slept in a mosque in Makassar, Indonesia, while waiting to break his fast at the beginning of Ramadan, the Muslim holy month.

Photo: Yusuf Ahmad/Reuters

From The New York Times.

2 Comments

Filed under Islamika

Kata Bijak

“Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu” (Khalifah Ali)

“Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku” (Khalifah Umar)

“Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rizki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar” (Khalifah Umar)

Leave a comment

Filed under Islamika

Orang Cacat yang Menjadi Obat

Obat dokter tidak bisa menyembuhkannya,

mengapa justru orang cacat itu yang bisa

menyembuhkan penyakitnya…?

Pak Hasan, adalah jama’ah dari embarkasi Surabaya . Ia dan istrinya berangkat ke Mekkah kebetulan pada tahap gelombang ke dua. Artinya mereka datang dari Indonesia langsung ke Mekah terlebih dahulu, baru kemudian ke Madinah. Kondisi pak Hasan ketika berangkat memang agak sakit. Batuk pilek setiap hari. Sampai dipakai berbicara saja tenggorokannya sudah terasa sakit. Batuk pilek yang semacam itu memang membuat badan begitu capek lunglai. Semua persendian terasa sakit. Sehingga menjadikan tubuh menjadi malas untuk diajak beraktivitas.

Beberapa kali pak Hasan diobati oleh dokter kloternya. Tetapi tetap saja sakitnya tidak bisa sembuh. Rasanya semua macam obat yang berhubungan dengan penyakitnya sudah ia minum. Tetapi tetap saja badan lunglai, kepala pusing bahkan batuknya tidak pernah berhenti. Badan dengan kondisi semacam itu, mengakibatkan pak Hasan sehari-harinya berdiam diri saja di hotel. Beberapa kali istrinya mengajaknya ke masjidil Haram, tetapi rupanya tubuh pak Hasan tidak bisa diajak kompromi, ia malas untuk pergi ke masjid.

Aku belum bisa bu, dan belum kuat untuk pergi ke masjid. Ibu dulu aja-lah. Nanti setelah badanku sembuh aku akan ke masjid dan akan melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya…” demikian kata pak Hasan kepada istrinya.

Karena sudah beberapa kali, jawaban pak Hasan selalu seperti itu, maka pada hari itu istri pak hasan memohon dengan agak setengah memaksa kepada pak Hasan agar siang itu mereka bisa bersama ke masjid untuk melakukan ibadah. Baik itu thawaf, maupun shalat-shalat wajibnya.

Maka dengan agak terpaksa, berangkat juga mereka ke masjid. Pak Hasan di sepanjang perjalanan menuju masjid tiada henti-hentinya batuk. Bahkan kakinya begitu capek dipakai untuk berjalan. Tetapi toh, akhirnya sampai juga mereka di masjidil Haram. Meskipun jarak dari maktab mereka menuju masjid cukup jauh.

Sesampai di masjid, mereka mencari tempat yang cukup nyaman. Pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf sunah sebagai penghormatan masuk masjidil Haram, sebelum mereka melakukan ibadah lainnya.

Ketika pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf inilah bagian dari cerita ini dimulai… Dengan terbata-bata, dan masih digandeng oleh istrinya pak Hasan mulai melakukan thawaf. Diayunkannya kaki kanannya untuk memulai thawaf.

Bismillaahi allaahu akbar…!”Demikian kalimat pertama yang dilontarkan pak Hasan sebagai pertanda ia memulai thawafnya. Maka dengan hati-hati sekali, karena khawatir badannya bertambah lunglai, pak Hasan melangkahkan kakinya berjalan memutari Ka’bah. Pada saat pak Hasan beberapa langkah memulai thawafnya itu, tiba-tiba di sebelah kanannya, yang hampir berhimpitan dengan pak Masan, ada seorang bertubuh kecil yang juga bergerak melakukan thawaf, beriringan dengan pak Hasan. Entah apa yang menyebabkan pak Hasan tertarik dengan orang ‘kecil’ itu, sambil berjalan lambat pak Hasan memperhatikan orang itu lebih seksama . “Mengapa orang itu tubuhnya pendek, bahkan cenderung seperti anak kecil?” pikirnya.

Setelah beberapa lama pak Hasan memperhatikan orang tersebut, di tengah riuhnya para jamaah yang juga sedang melakukan thawaf itu, tiba-tiba pak Hasan menjerit lirih! ” akh… !” katanya.

Begitu terkejutnya pak Hasan, sampai-sampai pak Hasan agak terhenti langkahnya. Anehnya, orang itu pun ikut berhenti sejenak, kemudian menoleh kepada pak Hasan sambil tersenyum. Ketika pak Hasan berjalan lagi, dia pun berjalan lagi, dan terus mengikuti di samping pak Hasan. Ketika pak Hasan mempercepat langkah kakinya, orang itu pun ikut mepercepat gerakannya, sehingga tetap mereka berjalan beriringan. Muka pak Hasan kelihatan pucat pasi. Bibirnya agak gemetar menahan tangis. Ia betul-betul terpukul oleh perilaku orang tersebut. Seperti dengan sengaja, orang itu terus mengikuti gerakan pak Hasan dari samping kanan. Bahkan yang membuat pak Hasan mukanya pucat adalah orang tersebut selalu tersenyum, setelah menoleh ke arah pak Hasan. Siapakah orang tersebut ?

Ternyata dia adalah seorang yang berjalan dan bergerak thawaf mengelilingi ka’bah dengan hanya menggunakan kedua tangannya saja. Dia orang yang tidak memiliki kaki….! Kedua kakinya buntung sebatas paha. Sehingga ia berjalan hanya dengan menggunakan kedua tangannya. Bulu kuduk pak Hasan merinding, jantungnya seolah berhenti berdegub. Keringat dingin membasahi seluruh pori-pori tubuhnya…

Pak Hasan merintih dalam hatinya, “…ya Allaah ampuni aku ya Allaah…, ampuni aku…” Air mata pak Hasan tidak bisa dibendung lagi. Sambil tetap berjalan pak Hasan terus mohon ampun kepada Allah.

Tanpa terasa, pak Hasan sudah memutari ka’bah untuk yang ke dua kalinya. Dan pak Hasan pun masih terus menangis. Ingin rasanya ia berlari memutari ka’bah itu. Ingin rasanya ia menjerit keras-keras untuk melampiaskan emosinya….pak Hasan tidak tahu bahwa pada putaran yang ke dua itu ia sudah tidak bersama lagi dengan orang tanpa kaki tersebut. Tidak tahu ke manakah perginya orang cacat itu. Seorang yang selalu tersenyum meskipun tanpa kedua kaki.

Apa gerangan yang dipikirkan pak Hasan saat itu? Pak Hasan begitu malu pada dirinya sendiri! Apalagi kepada Allah Swt. Pak Hasan merasa bahwa memang sakit. Sakit flu, batuk, badan capek. Dan sudah beberapa hari berdiam diri saja di hotel tidak ke masjid untuk thawaf. Dengan alasan badan capek, tenggorokan sakit, bahkan obat dokter tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Sekarang, ditengah-tengah hiruk pikuknya para jama’ah yang sedang melakukan thawaf, ternyata ada seorang yang tidak punya kaki, yang kondisi tubuhnya sangat menyedihkan, tapi dengan mulut tersenyum ia melakukan thawaf…Akh! betapa terpukulnya harga diri pak Hasan. Ia punya kedua kaki, badannya tegap, pikirannya cerdas, datang jauh dari Indonesia , tetapi terserang penyakit ringan sejenis flu saja sudah tidak mau beribadah? Sementara orang itu…..

Sungguh pak Hasan tidak kuasa bicara lagi. Ingin rasanya ia menjerit mohon ampunan Allah Swt…. Atas kesalahan fatal, yang ia lakukan. Dan sejak saat itu, pak Hasan tiba-tiba dapat bergerak gesit. Ia berjalan penuh dengan semangat mengelilingi ka’bah pada putaran-putaran berikutnya. Dan secara tidak ia sadari badan pak Hasan menjadi kuat. Ia tidak batuk-batuk lagi, bahkan tenggorokannya terasa begitu ringan, ketika dipakai untuk berdo’a kepada Allah…!

Istri pak Hasan yang berjalan di samping pak Hasan, tidak mengetahui secara detail, apa yang terjadi dalam diri pak Hasan. Yang ia tahu tiba-tiba pak Hasan tidak batuk lagi, jalannya tidak lamban, bahkan cenderung gesit. Ah, rupanya pak Hasan sudah sembuh

Ia disembuhkan oleh Allah lewat ‘peragaan’ orang cacat, yang selalu tersenyum meskipun ia tidak punya kaki. Obat dokter tidak bisa menyembuhkan pak Hasan, justru thawaf seorang cacat-lah, yang menjadi obat mujarabnya..

Mengapa bisa demikian ?

Sebab begitu pak hasan menyadari akan kesalahannya, ia langsung mohon ampun sejadi-jadinya atas kekeliruan yang telah ia lakukan. Penyesalan yang tiada terhingga itulah rupanya obat yang sesungguhnya.

QS. Hud (11) : 3

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

QS. Hud (11) : 90

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Sembuhnya pak Hasan, karena rasa penyesalan yang mendalam. Sembuhnya pak Hasan karena ia bertaubat pada saat itu juga. Sembuhnya pak Hasan, karena Allah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu telah meridhainya. Sembuhnya pak Hasan karena Allah memberikan sebuah obat berupa sebuah adegan atau suguhan menarik, yang sangat mempengaruhi jiwa pak Hasan.

QS. Asy-Syuaraa’ (26) : 80-82

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

(dikirim oleh Firliana)

Leave a comment

Filed under Islamika

Dua Nama yang Melumpuhkan Perih

Ya Hayyu…Ya Qayyum…

(Wahai Sang Maha Hidup Kekal…

Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya)

Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak, dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih. Sebuah penyakit -yang entah apa- mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya.

Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya. Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. Sudah sekian dokter ia datangi, telah sekian pula berita nihil didapatnya. Para dokter itu tak mampu mendiagnosa penyakitnya. Ia merasa hidup, mimpi dan jiwanya, lamat-lamat akan tenggelam di pusara sakit mata. Ia pun akhirnya hanya bisa berdoa dan memunajatkan hati kepadaNya.

Hingga pada satu momen, ia mulai bangkit kembali. Ia pergi ke sebuah rumah sakit dan didiagnosis oleh seorang asisten dokter bernama dokter Muhriz. Ternyata, jalan menumpas perih yang menjelaga di matanya belum juga berakhir. Seminggu selepas diidentifikasi sang dokter, ia hanya diberi resep guna meringankan rasa sakit yang dideranya. Ia pun terpaksa melewati hari dalam jeri, dalam cemas yang kelam. Kala itu, yang bisa dilakukannya hanya berdoa dan menzikir-zikir nama Allah.

Dua bulan setelah itu, dokter Thuwaihi, dokter berpangkat profesor di sebuah fakultas kedokteran, bersama segenap mahasiswanya menjumpainya. Ia bermaksud mendeteksi penyakitnya sekaligus mengajarkan kepada mahasiswanya itu ihwal metode penyembuhan penyakit yang sudah lama mengendap di matanya.

Saat itulah, sang Profesor menuturkan petuah sakti yang memasygulkan batinnya.

Daya lihat mata yang menderita penyakit seperti ini telah hilang secara total. Karena itu, kehadiran kita di sini sekadar membatasi pengaruhnya agar penyakit ini tidak menyebar ke mata yang satunya lagi, mata yang masih bisa rnelihat…”

Kesimpulan sang Profesor kepada mahasiswanya itu kontan saja, mengiris-iris kalbu lelaki saleh ini. Ia seperti dilesakkan ke palung bumi yang paling gulita. Ia merasa benar-benar sendiri dan sepi. Air mata berderai-derai di pelupuknya. Betapa tidak! Seorang yang dipikirnya mampu mengusir ‘setan’ di matanya. malah melukai jiwanya. Saat itu, gejolak batinnya tidak lagi berwarna kelabu, tapi hitam pekat dan kelam. Maka Allah-lah menjadi sahabat sejatinya, menjadi tempat dia menumpahkan perih dan pedih.

Beberapa hari kemudian, si Profesor dan gerombolan mahasiswanya kembali mengunjunginya. Kali ini, Profesor itu meletakkan sebuah mikroskop di atas matanya. Memantau kembali kelopaknya. Dan, tiba-tiba, Profesor itu terperanjat. Ia geleng-geleng kepada. Ia terkagum-kagum. “Demi Allah! Ini adalah mukjizat. Apa yang Anda perbuat hingga hal ini bisa terjadi? Mata Anda yang kemarin rusak, kenapa sekarang bisa pulih?” tanya Profesor penasaran.

Lelaki saleh itu hanya menghela nafas.

Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya terpengaruh ucapan Anda kemarin, sehingga saya menangis cukup lama. Namun demikian, harapan saya kepada Allah tidak pernah hilang, sebab kesembuhan semata-mata berasal dari-Nya,” jawab lelaki saleh itu penuh harap.

Tampaknya, doa tulus Anda telah dikabulkan Allah…” Ujar Profesor penuh decak takjub.

Begitulah, penuturan lelaki saleh bernama Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal dalam bukunya yang bertajuk Al-istisyfaa’ bid Du’a (Meraih Kesembuhan dengan Doa -versi terjemahannya). Saya sengaja menuturkan kisahnya lantaran doa yang senantiasa dibacanya bukanlah doa yang panjang dan sulit dikenang-kenang. Doa itu cuma dua nama Ilahi, Ya Hayyu dan Ya Qoyyum; dua nama yang berfaedah selaik dua ‘mantra’ ajaib yang dapat melumpuhkan perih dan pedih.

Dan Ibrahim sendiri, hingga kini, tak menduga bila dua nama yang dianjurkan syekhnya itu bakal sedahsyat melampaui dokter dan profesor hebat yang dilaluinya. Tak aneh, dalam sabda Nabi Muhammad saw, dua nama Ilahi itu dijuluki Ismullah al-A’dzham (Nama Allah yang Paling Agung). Begini bunyinya:

Rasulullah saw bersabda, “Ismullah al-A’dzham yang jika digunakan untuk berdoa, maka Allah swt akan mengabulkan doanya, (yakni) yang terdapat dalam tiga surat Al-Qur’an: surat Al-Baqarah, surat Ali-Imran, dan surat Thaha (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Thabrani)

Setelah saya telusuri, tiga surat itu ada dalam ayat: Al-Baqarah ayat 255, Ali Imran ayat 2, dan Thaha ayat 111. Khusus untuk ayat 255 surat Al-Baqarah, dua nama Ilahi yang agung itu melekat dalam rangkaian bernama ayat Kursi, satu ayat yang saya yakin anda begitu fasih telah menghafalnya. Dan kita luput. Padahal bila ayat Kursi itu terasa panjang untuk dzikir-dzikir bibir, kita cukup menyebut-nyebut Ismullah al-A’dzham itu sebagai doa.

Nah, ketika saya buka Tafsir Mishbah, Prof. Dr. M Quraish Shihab seperti meneguhkan energi magis dua nama Allah yang agung itu.

Bahwa tatkala membaca ayat Kursi, seseorang akan menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah swt. KepadaNya ia akan menghiba-hiba perlindungan. Dan saat itu, bisa jadi bisikan iblis melintas di dalam benaknya dan berkata, ”Yang dimohonkan pertolongan dan perlindungan itu memang dulu pernah ada, tetapi kini telah mati.

Maka, penggalan ayat berikutnyalah yang meyakinkan ihwal kekeliruan bisikan makhluk terkutuk itu, yakni ayat berbunyi Al-Hayyu (yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal). Namun imbuh Quraish, si iblis belum tentu menyerah begitu saja, ia bisa datang lagi guna menerbitkan waham dan prasangka seraya berkata, ”Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia pusing dengan urusan manusia, apalagi si pemohon”. Pada titik krusial itulah, sepenggal ayat berbunyi ‘Qayyum’ (Sang Maha yang senantiasa menjaga makhluk-Nya) menampik bisikan dusta iblis itu.

Dari sini saya mahfum kenapa Rasulullah saw, akhirnya memuji Abu Mundzir. Beliau bertanya, ”Hai Abu Mundzir, tahukah kau ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?”

”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah saw bertanya lagi, ”Hai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat Al-Qur’an yang menurutmu paling agung?”

Abu Mundzir menjawab, ”Yaitu ayat,’Dia-lah Allah, Tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri (Al-Hayyu, Al-Qayyum)’. Abu Mundzir kemudian berkata,” Kemudian Rasulullah saw menepuk dada saya seraya berkata, “Demi Allah, sungguh dalam ilmumu, wahai Abu Mundzir!”

Karena itulah, mencermati dua nama agung tersebut, saya semakin yakin kenapa Ibrahim membacanya. Ia tahu bahwa perih yang mengendap di kelopak matanya bakal meringkus nafasnya. Maka, ia teringat nasehat gurunya untuk membaca Ismullah al-A’dzham itu. Pada dua nama inilah, cadangan asa yang dimilikinya menggeliat dahsyat. Ya Hayyu dan Ya Qayyum benar-benar serupa oase yang mempertahankan spirit hidupnya. Barangkali saat itu, Ibrahim sedang menghikmati apa yang dituturkan sufi Syekh Kabir bahwa “Nafas yang tidak menyebut-nyebut nama Allah adalah nafas yang sia-sia.”

Dalam pada itu saya mencatat semangat penting ihwal sakit Ibrahim dan doa bernama Ismullah al-A’dzham ini.

Suatu kali, filsuf masyhur bernama Socrates pernah berpesan: “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi, hanya ada satu tempat di dunia ini di mana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Tanda manusia masih hidup adalah ketika ia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan.”

Dan Ibrahim, juga kisah orang-orang shaleh berabad-abad silam yang pernah memendam perih, saya kira sudah begitu lama menyerap petuah sang filsuf tersebut. Baginya, semangat hidup harus terus menyala meski dalam kondisi apapun. Ia tidak menjamah putus asa walau kondisi genting tengah menghimpitnya.

Bahkan, ketika sebuah vonis sang profesor merajam qolbunya, ia masih bisa mengumpulkan energi harapan dengan doa Ismullah al-A’dzham. Ternyata, Ya Hayyu…Ya Qayyum itu benar-benar memberi kehidupan baru, benar-benar tak luput untuk menjaga dari segenap perih. Peristiwa Ibrahim semakin meyakinkan saya bahwa harapanlah, seberapapun bentuknya, yang membuat rasa sakit yang kita alami semakin melumpuhkan atau menyembuhkan.

Dan harapan kecil yang meliputi jiwa Ibrahim itu bersenyawa dalam doa yang acapkali membasahi bibir dan hatinya. Tak aneh bila beberapa penelitian ilmuan barat mengungkap bahwa ada korelasi antara spiritualitas (doa) dan kesehatan fisik seseorang. David Larson misalnya, mengeluarkan statistik luar biasa untuk meyakinkan orang tentang pentingnya mempertimbangkan dimensi keagamaan. “sebanyak 90% orang Amerika percaya bahwa Tuhan dan atau berdoa dapat membantu mereka untuk sembuh dari penyakitnya…sementara orang yang tidak berdoa besar kemungkinan untuk bunuh diri…”

Wajar bila ST. Agustinus, filsuf yang pernah berkubang dalam dunia jadah itu dalam karya bertajuk Confession, menyadari bahwa semakin dekat dengan Tuhan, maka kesengsaraan dan penderitaan dapat dilenyapkan. “Karena kemanapun jiwa manusia berpaling, kecuali jika berpaling kepada-Mu, ia akan terpancang kesedihan,” tegas Agustinus ketika bersimpuh di hadirat Tuhannya.

Di luar itu semua, jauh-jauh hari, Rasulullah saw, telah mengingatkan bahwa seorang muslim yang sakit dan menderita sebetulnya tengah menikmati betapa welas asih dan kasihannya Allah azza wa jalla. Dia yang Hayyu dan Qayyum, kata Nabi, tengah membersihkan jiwa hamba-Nya yang pekat oleh dosa. Lebih lengkap begini bunyi pesan Rasulullah saw.

Suatu kali Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku berkunjung ke rumah Rasulullah saw, ketika beliau tengah dilanda sakit parah. Kuusapkan tanganku pada tubuhnya seraya bertanya, ‘Ya Rasulullah, Anda menderita sakit parah?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, aku menderita sakit berat seperti sakitnya dua orang di antara kalian’. Aku bertanya kembali, ‘Apakah itu karena Anda mendapat dua kali lipat pahala?’ Rasul pun menjawab, ‘Ya.’ Lalu Rasulullah bersabda, ’Tiadalah seorang muslim tertimpa rasa sakit melainkan dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.’

Dapatkah anda membayangkan betapa sang Nabi Pamungkas nan mulia –yang dijanjikan Allah bebas dosa itu- masih menyadari segugus dosa-dosanya? Ia yang ma’sum itu masih bermunajat pada ilahi agar perih yang sedang menjalar di tubuhnya adalah penggugur dosanya.

Dan kita? Semoga kita segera menyimpan rapat-rapat petuah itu di lubuk benak kita, agar kelak bila ada perih yang meluruh di tubuh kita, bukan hanya Ismullah al-A’dzham yang membadahi hati kita, tapi juga nasehatnya yang indah.

(dari sumber yang terkirim via email)

8 Comments

Filed under Islamika

Manusia Merusak Bumi

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada

hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di

muka bumi dengan membuat kerusakan;

(QS Asy Syu’araa : 183)

Manusia telah menghancurkan lingkungan hidupnya sendiri. Semua itu disebabkan oleh kebodohan, keserakahan dan akhlak buruk. Sehingga di waktu-waktu ke depan diperkirakan manusia akan mengalami krisis lingkungan hidup. Kini, Bumi sedang berada dalam keadaan kritis untuk menyeimbangkan kembali kondisinya. Karena kerusakannya sudah demikian parah…

Apa sajakah yang telah dilakukan manusia sehingga menyebabkan Bumi kita kritis? Yang paling besar adalah kegiatan pertambangan. Yang kedua, perusakan hutan. Yang ketiga, kegiatan industri yang tidak berwawasan lingkungan. Dan keempat, perilaku masyarakat yang membabi buta.

1. Pertambangan

Apa sih yang telah dilakukan manusia dengan tambang? Wah, ternyata sangat mengkhawatirkan dan berbahaya buat kelangsungan hidup kita.

Untuk mengejar kemajuan peradaban, manusia memerlukan sumber-sumber energi dan sejumlah bahan tambang. Yang paling banyak dieksplor adalah minyak bumi, batubara, gas alam, emas, tembaga, perak dan nikel.

Tambang-tambang itu adalah bahan yang tidak bisa diperbarui. Begitu habis, ya habislah. Tak ada lagi yang tersisa di dalam perut Bumi. Kita tidak bisa memproduksinya lagi. Seandainya pun bisa, butuh waktu jutaan tahun sebagaimana telah terjadi secara alamiah.

Kegiatan penambangan itu semakin hari semakin besar dan mengkhawatirkan. Ini seiring dengan laju perkembangan peradaban manusia. Agar tetap bisa eksis bahkan lebih maju, manusia membutuhkan sumber energi untuk aktifitasnya. Terutama Minyak, batubara dan gas alam.

Tahukah anda berapa besar kebutuhan minyak di seluruh dunia setiap tahunnya? Menurut catatan Energy Information Administration .USA, setiap harinya penduduk bumi menghabiskan minyak sekitar 80 juta barel. Alias hampir 30 miliar barel per tahun. Kalau kita jumlahkan dalam kurun waktu seabad, maka manusia telah menghabiskan minyak sebanyak sekitar 3 triliun barel. Setara dengan 450 triliun liter. Atau lebih dari 300 triliun ton. Artinya, dalam 100 tahun terakhir ini isi perut Bumi telah kehilangan cairan minyak sebanyak 300 triliun ton. Atau, bervolume 450 triliun liter. Kalau sebuah kapal tangker isinya 100.000 liter, maka ini sama dengan 4,5 miliar kapal tanker.

Bisa anda bayangkan betapa besarnya volume tersebut. Tentu, ini jumlah yang bukan main besarnya. Yang bisa menyebabkan problem di dalam perut Bumi. Sebab, jumlah sedemikian banyak itu betul-betul hilang dari perut Bumi. Kemudian dibakar untuk membangkitkan energi.

Berbeda dengan air tanah yang disedot misalnya, volume yang hilang itu masih bisa kembali lewat sirkulasi air hujan. Meskipun tentu tidak sama persis. Karena itu, penyedotan air tanah yang berlebihan juga bisa menimbulkan masalah pada struktur tanah.

Yang terjadi pada penambangan minyak Bumi lebih serius lagi. Isi perut Bumi benar-benar hilang, dan strukturnya menjadi lebih keropos. Meskipun boleh jadi, lantas disuntik dengan cairan pengisi. Tapi tentu tidak sebesar yang telah hilang disedot. Kalau ini diterus-teruskan ke masa depan tanpa ada kepedulian, bisa dipastikan Bumi kita akan mengalami masalah besar dengan struktur dalam perutnya. 100 tahun lagi, kondisinya akan semakin memburuk. Dan dampaknya pasti akan kembali kepada kita semua sebagai bencana…

Belum lagi batubara. Bahan bakar fosil padat ini menempati urutan ke dua dibandingkan dengan minyak Bumi. Sumber data yang sama menginformasikan bahwa manusia di muka Bumi telah menghabiskan rata-rata 5,5 miliar ton batubara setiap tahunnya. Atau 550 miliar ton dalam 100 tahun terakhir. Bahan bakar ini pun kemudian dibakar dan tidak kembali ke dalam tanah. Kecuali abu yang sudah jauh lebih kecil bobotnya. Lantas bisa anda bayangkan bagaimana kondisi struktur tanah yang ditinggalkannya?

Keadaan ini ditambah lagi dengan volume gas alam yang semakin hari juga semakin besar disedot dari perut Bumi. Tak kurang dari 75 triliun cub feet setiap tahunnya gas disedot dari dalam perut Bumi. Berarti seabad terakhir Bumi telah kehilangan gas sebesar 7.500 triliun cub feet.

Dari ketiga jenis bahan tambang ini saja kita sudah bisa membayangkan betapa isi perut Bumi telah mengalami masalah besar. Terjadi kerusakan yang bukan main parahnya di dalam struktur Bumi. Yang pada gilirannya nanti menjadi bencana buat manusia sendiri…

2. Perusakan Hutan

Selain kerusakan akibat aktifitas pertambangan, Bumi juga mengalami kerusakan penggundulan hutan secara brutal. Terutama hutan di daerah tropis, termasuk di Indonesia dan Amazon di Brazil, Amerika Latin. Padahal hutan tropis ini menjadi paru-paru planet Bumi.

Setiap tahunnya ratusan ribu hektare atau bahkan jutaan hektare hutan kita ditebangi oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Dengan demikian berarti ada jutaan meter kubik kayu yang juga dipindah tempatkan. Lintas kota , lintas propinsi, atau lintas negara. Belum lagi kebakaran hutan yang terus melanda hutan-hutan kita. Setiap tahunnya berapa ribu kayu yang terpanggang sia-sia. Di Kalimantan di Sumatera dan daerah-daerah lainnya.

Data kerusakan hutan di permukaan Bumi selama abad-abad terakhir ini sungguh mengerikan. Mestinya, hutan tropis di permukaan Bumi ini bisa mencapai luasan 20 juta km persegi. Akan tetapi, lebih dari separonya kini telah musnah. Baik karena kebakaran, dirusak, atau pun ditebangi untuk kepentingan bisnis. Yang tersisa kini hanya sekitar 8.5 juta kilometer persegi. Kecepatan perusakan hutan bukannya semakin menurun, melainkan bertambah dahsyat. Kalau di abad yang lalu manusia menggunduli hutan dengan kecepatan sekitar 50 juta hektare selama 100 tahun, maka di era modern ini meningkat sangat fantastik. Manusia kini merusak hutan dengan menggunakan mesin-mesin berkecepatan 900 ton per 2 jam. Dengan kata lain, kita bisa menggunduli hutan seluas 1 hektare hanya dalam waktu 1 detik. Atau 60 hektare per menit. Atau 86.000 hektare per hari. Dan setiap tahunnya, manusia modern telah menghancurkan hutan-hutan tropis dengan berbagai cara sebanyak 31 juta hektare!

Antara tahun 1960 – 1985 saja, manusia telah menggunduli 40% hutan di muka Bumi. Dan dalam 3 tahun belakangan, hutan Amazon mengalami kerusakan seluas 60.000 km persegi. Maka diperkirakan, jika kerusakan berlangsung terus seperti ini, hutan Amazon bakal musnah di tahun 2025!

Ya, hutan-hutan kita mengalami kerusakan yang luar biasa parahnya. Padahal ini sungguh suatu perbuatan konyol yang akan menghancurkan kita sendiri. Kerusakan hutan telah menyebabkan timpangnya mekanisme air hujan di planet biru ini. Sekaligus merusak struktur permukaan tanah menjadi tandus dan poris.

Maka jangan heran, di musim kemarau ini banyak wilayah yang dilanda banjir bandang. Di Indonesia, daerah seperti Kalimantan , Sulawesi , Maluku, dan Pulau Jawa mengalami banjir bandang yang mengerikan. Bisa mencapai ketinggian 3-6 meter, dalam wilayah yang luas.

Dan, bukan hanya Indonesia , daratan China dan Jepang pun tak luput dari banjir besar yang mengorbankan ratusan jiwa dan merusak ribuan tempat tinggal.

Selain itu, dengan rusaknya hutan, mekanisme sirkulasi udara pun menjadi terganggu. Persediaan oksigen dan kelembaban dipastikan menurun. Suhu udara meningkat. Angin bergerak lebih liar dari biasanya. Efeknya, lantas berpengaruh pada iklim Bumi secara global.

3. Revolusi Industri

Kerusakan lingkungan hidup semakin besar dengan melesatnya kemajuan dunia industri. Asap-asap hitam berhamburan dari cerobong pabrik. Limbah-limbah kimia begitu saja dibuang ke sungai ke laut atau ke dalam tanah. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin berjubel dan mengotori udara perkotaan. Mesin-mesin pembangkit listrik, mesin produksi dan berbagai air conditioning yang menebar hawa panas ke lingkungan, dan sebagainya, dan sebagainya. Semua itu memberikan andil merusak lingkungan hidup kita. Dan memberi beban yang semakin besar kepada planet Bumi…

Gejala paling mengkhawatirkan dari revolusi industri itu adalah meningkatnya suhu permukaan bumi. Idealnya, rata-rata suhu udara di Bumi adalah sekitar 16’C. Akan tetapi, abad lalu tercatat suhu atmosfer Bumi mengalami kenaikan 0,6’C. Diperkirakan kalau kita tidak segera mengantisipasi gejala ini, Bumi akan mengalami peningkatan lebih serius, sebesar 0,8’C – 3’C. Bahkan, jika kita bisa mengurangi gas-gas polutan itu pun planet Bumi masih mengalami pemanasan 0,5 – 2’C.

Efek rumah kaca itu kini mulai menampakkan dampaknya dalam skala yang luas di permukaan Bumi. Melintasi berbagai wilayah. Benua Antartika di kutub selatan misalnya, meleleh lebih banyak pada beberapa dekade terakhir.

Sejak 1945, diketahui Antartika mengalami kenaikan suhu sebesar 2,5’C. Lapisan es di wilayah Larsen A meleleh seluas hampir 2000 km persegi, pada tahun 1995. Antara tahun 1998-1999, lapisan es di daerah Larson B dan Wilkins runtuh seluas hampir 3000 km persegi. Padahal daerah ini sangat stabil dalam kurun 400 tahun terakhir.

Ketebalan es di beberapa permukaan danau disana juga dikabarkan menipis sekitar 40%, sejak tahun 1950, karena suhu airnya naik l’C. Dan pada tahun 2002, permukaan benua di kutub selatan ini dikabarkan mengalami runtuh lagi seluas 3,250 km persegi. Sehingga total luasan es yang hilang sejak 1974 adalah 17.500 km persegi.

Bukan hanya di kutub selatan, dikabarkan setengah lapisan es di pegunungan Kaukasus, Rusia juga telah lenyap meleleh, dalam kurun 100 tahun terakhir. Demikian pula di pegunungan Himalaya, dan Tien Shan di China yang kehilangan seperempat gletsernya dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Di sebagian besar daratan Eropa terjadi pergeseran lamanya musim panas. Hari-hari panas menjadi lebih panjang dibandingkan hari-hari dinginnya. Dan rata-rata suhunya naik sekitar 0,5’C. Bahkan pada tahun 2000, muncul gelombang panas yang menyapu wilayah mulai dari Turki, Yunani, Romania, Italia dan Bulgaria, dengan suhu mencapai 44’C.

Demikian pula daratan Amerika, Canada, sampai Alaska, juga mengalami peningkatan suhu di musim dingin sampai 3-6 derajat di atas biasanya. Dikabarkan, ketebalan es dan luas wilayah gletser semakin menyempit dengan kecepatan yang signifikan setiap tahunnya. Sehingga Glacier National Park di Montana diprediksikan bakal hilang di tahun 2070.

Begitulah pemanasan yang sedang terjadi di muka Bumi. Seluruh wilayah benua dan kutub mengalami dampak secara sistematis dan konsiten. Permukaan air laut mengalami kenaikan beberapa sentimeter setiap tahunnya. Salah satu dampaknya, pantai Waimea Bay di Hawaii diprediksi bakal lenyap dalam kurun waktu 90 tahun ke depan. Dan, sejumlah pulau lain di berbagai penjuru permukaan bumi bakal mengalami hal yang sama.

Bukan hanya mencairnya es yang terjadi akibat pemanasan global itu, iklim bakal ikut kacau. Hujan pun menjadi tidak teratur, yang bakal menyulitkan para petani dan pekerja perkebunan…

Efek lain dari revolusi industri adalah menurunnya kualitas air dan udara disebabkan oleh polusi yang demikian besar. Diperkirakan abad mendatang manusia bakal memperebutkan air bersih, sebagaimana kini berebut minyak bumi, sampai rela saling bunuh dalam peperangan.

Mengeringnya berbagai sumber air disebabkan oleh gundulnya hutan, dibarengi dengan pencemaran yang tinggi, menjadikan kita semakin sulit untuk memperoleh air bersih bagi kehidupan sehari-hari. Sungai-sungai dan danau tidak lagi memiliki air berkualitas baik. Kebanyakan telah tercemar oleh limbah industri yang dibuang secara sembarangan.

Bahkan buah dan sayuran segar pun kini telah banyak tercemar oleh pestisida. Demikian pula daging ayam, sapi, seafood, semuanya berpotensi mengandung zat-zat kimiawi tertentu yang bersifat merusak kesehatan dalam jangka panjang…

Maka, apakah yang harus kita lakukan ke depan? Apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Dan seberapa lama lagi Bumi kita bisa bertahan terhadap kebrutalan manusia yang sok pintar dan serakah ini?

Entahlah. Yang jelas Bumi mulai memberikan sinyal negatif atas segala tingkah laku kita selama ini. Bencana bermunculan di mana-mana. Dalam bentuk gempa. Dalam bentuk tsunami. Gunung meletus. Banjir dan tanah longsor. Sengatan hawa panas dan dingin. Penyakit yang semakin aneh-aneh dan sulit diobati. Serta, kejahatan yang semakin merajalela di seluruh permukaan planet Bumi…

Kita telah merusak bumi…

(tulisan dikirim oleh Firliana)

3 Comments

Filed under Islamika