Category Archives: Public Transportation

The 3rd International Public Transportation Forum, Seoul, Korea

image
image
image

Advertisements

1 Comment

October 9, 2012 · 10:02 am

KA Doho Tabrak Bus, 8 Tewas dan 8 Kritis (updated)

Foto: Solichan Arif/Sindo

Selasa, 24 Februari 2009 – 03:00 wib, source : okezone.com

KEDIRI – Sebanyak 8 orang tewas, 8 luka berat, dan puluhan lainnya luka ringan saat KA Doho Jurusan Surabaya-Malang menabrak bus Patas Harapan Jaya di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso, Kampung Dalem, Kota Kediri, Jawa Timur.

Korban tewas, termasuk awak bus yaitu sopir, kondektur dan kernet. Sampai saat ini baru dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi. Yakni  Sarwoko (43), warga Kecamatan Kauman, Tulungagung selaku kodektur bus dan Andri Turianto (29), warga Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri selaku kernet. Sementara korban tewas lainnya belum bisa dikenali karena kondisinya yang parah.

Hingga kini polisi belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, kecelakaan akibat bus menerobos palang pintu KA yang masih tertutup separuh.

Menurut keterangan Udin Anwar, salah seorang saksi mata, hantaman KA bernomor lokomotif CC 201 08 yang melaju kencang dari utara (Kota Kediri) ke selatan (Tulungagung) itu membuat badan bus terpental hingga beberapa meter. Roda bagian depan bus terlepas dan seluruh kacanya pecah itu. Adapun body bus menimpa dua rumah warga setempat. Belum diketahui pasti apakah pemilik rumah ini selamat atau menjadi korban.

Sementara akibat benturan keras itu, loko KA yang terdiri dari lima rangkaian gerbong tergelincir dari atas rel kereta. Bahkan gerbong kedua dan ketiga sampai lepas dan menghantam rumah warga seempat. KA ini berhenti total dengan posisi melintang ditengah jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Kecelakaan maut yang terjadi sekira pukul 15.00 WIB itu berlangsung saat hujan deras mengguyur Kota Kediri. Melihat gerbong yang ditumpanginya bertabrakan, penumpang KA Doho langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Sementara ratusan warga setempat yang membanjiri TKP langsung membantu melakukan evakuasi.

Evakuasi khususnya ditujukan kepada penumpang bus yang keadaanya lebih parah. Proses ini cukup sulit karena sebagian besar jasad korban terjepit kursi dan bagian bus yang ringsek.

Hingga pukul 18.00 WIB, seluruh  korban meninggal dunia dievakuasi ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Kemudian 8 orang luka berat dirawat di RSU Bhayangkara ditambah dua orang luka ringan. 5 orang korban luka ringan lainya dilarikan ke  RS Baptis dan 10 orang luka ringan  di RSUD Gambiran Kota Kediri.

Salah satu penumpang KA Doho, Ny Efi mengaku merasakan tiga kali benturan keras setelah KA yang ditumpanginya lepas dari Stasiun Kediri. Saat itu Ny Efi dalam keadaan tertidur.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Kediri  AKP Mukalam mengatakan polisi masih melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan. Dari data sementara diduga kecelakaan disebabkan bus yang menerobos palang pintu KA.

“Jika melihat kondisi di TKP, kuat dugaan bus menerobos perlintasan hingga menabrak palang pintu. Kemudian ditabrak KA yang melaju dari utara ke selatan,” ujarnya.

Mukalam mengaku sudah mengamankan penjaga palang pintu perlintasan KA. Serta beberapa orang saksi mata, yang melihat langsung kejadian. Dalam proses evakuasi ini polisi menerjunkan dua peleton personel Brimob. (Solichan Arif/Sindo/ful)

Foto: Solichan Arif

Updated, Bus Disambar KA Rapih Dhoho, 8 Tewas

Senin, 23 Februari 2009 – 20:13 wib

KEDIRI – Sedikitnya 8 orang tewas, 8 luka berat, dan puluhan lainya luka ringan saat Kereta Api Rapi Dhoho Jurusan Surabaya-Malang menabrak bus Patas PO Harapan Jaya jurusan Surabaya-Trenggalek di perlintasan Kereta Api Jalan Brigjen Katamso Kelurahan Kampung Dalem Kec Kota Kediri Senin (23/2/2009) sore.

Seluruh korban tewas, termasuk awak bus (sopir, kondektur dan kernet), diduga kuat penumpang bus bernomor polisiAG 7493 UR itu. Sampai saat ini baru dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi. Yakni Sarwoko (43) warga Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung selaku kodektur bus dan Andri Turianto (29) warga Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri sebagai kernet.

Sementara korban tewas lainnya belum bisa dikenali karena kondisi jasadnya yang mengalami luka parah. Saat ini polisi juga belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, kecelakaan terjadi akibat kelalaian pihak bus, yakni menerobos palang pintu KA yang baru tertutup separuh.

Menurut keterangan Udin Anwar (25) salah seorang saksi mata di lapangan, hantaman KA bernomor lokomotif CC 201 08 yang melaju kencang dari utara (Kota Kediri) ke selatan (Tulungagung) itu membuat badan bus terpental hingga beberapa meter.

Bahkan lontaran bangkai bus yang roda bagian depannya terlepas dan seluruh kacanya pecah itu, mengenai dua bangunan rumah warga setempat yang berada di sana. Belum diketahui pasti apakah pemilik rumah ini selamat atau menjadi korban.

Sementara akibat benturan keras itu, lokomotif KA yang terdiri dari lima rangkaian gerbong tergelincir dari atas rel kereta. Bahkan gerbong kedua dan ketiga sampai lepas dan menghantam rumah warga seempat. KA ini berhenti total dengan posisi melintang di tengah jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Kecelakaan maut sekitar pukul 15.00 Wib ini berlangsung saat hujan deras mengguyur kota Kediri. “Suaranya sangat keras ketika kereta tiba-tiba datang dan menghantam bus yang nekat melintas. Mungkin saja sopir bus mengira kereta masih jauh, “ujarnya kepada wartawan.

Melihat gerbong yang ditumpanginya bertabrakan, penumpang kereta langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Sementara ratusan warga setempat yang membanjiri TKP langsung membantu melakukan evakuasi.

Evakuasi khususnya ditujukan kepada penumpang bus yang keadaanya lebih parah. Proses ini cukup sulit karena sebagian besar jasad korban terjepit kursi dan bagian bus yang ringsek.

Hingga pukul 18.00 WIB, seluruh korban meninggal dunia dievakuasi ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Kemudian 8 orang luka berat dirawat di RSU Bhayangkara ditambah dua orang luka ringan.

Sebanyak 5 orang korban luka ringan lainya dilarikan ke RS Baptis dan 10 orang luka ringan di RSUD Gambiran Kota Kediri. Sebagian besar korban luka ini adalah penumpang. Belum diketahui pasti apakah penumpang bus atau KA.

Salah satu penumpang kereta, Ny Efi warga Tulungagung yang selamat mengaku merasakan tiga kali benturan keras setelah KA yang ditumpanginya lepas dari stasiun Kediri. Saat itu Ny Efi dalam keadaan tertidur.

“Setelah 3 kali benturan, penumpang langsung terlempar dan tumpang tindih. Saya juga sampai tertindih, tapi untungnya tidak sampai terluka, “ujarnya.(fit)(Solichan Arif/Sindo/mbs)

Kecepatan KA Doho di Kediri Dipertanyakan

Selasa, 24 Februari 2009 – 19:18 wib

KEDIRI – Kerasnya hantaman Kereta Api (KA) Rapih Doho yang mengakibatkan bodi bus Patas PO Harapan Jaya terpental hingga menghantam rumah warga setempat dan mengakibatkan 7 orang nyawa melayang, dipertanyakan pihak Kepolisian Resor Kota Kediri.

Polisi curiga, KA dengan lima rangkaian gerbong yang baru 200 meter lepas  dari stasiun Kereta Api Kota Kediri itu meluncur dengan kecepatan di atas 50 Km/jam. Kecurigaan polisi cukup beralasan dengan melihat hancurnya bodi bus serta bangunan rumah warga yang ada di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Sementara ketentuan yang berlaku di dunia perkereta apian, kecepatan 50 Km/jam merupakan batas maksimal kecepatan KA di wilayah perkotaan.

Kepala Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Besar Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini penyelidikan petugas tertuju ke arah sana (kecepatan kereta), selain kelalaian Supinto (bukan Supianto), penjaga palang pintu warga Dusun Sumbercangkring, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

Karena itu, menurut Dedi, selain Supinto hampir dipastikan jumlah tersangka dalam musibah yang merenggut nyawa ini bertambah.

“Kita akan memperdalam ke masalah kecepatan kereta. Kemungkinan besar jumlah tersangka akan bertambah selain penjaga KA yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,”ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2009).

Saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan sejumlah saksi yang berasal dari warga setempat. Selain itu polisi juga meminta keterangan Pamuji selaku  masinis KA Rapih Doho, Maryono petugas penjaga yang digantikan Supinto, Kepala Stasiun KA Kota Kediri Warsito, kepala pengatur perjalanan, mandor dan penjaga listrik.

“Saat ini semua pihak kereta yang diperiksa, kecuali Supinto  masih sebagai saksi,” terangnya. Seperti diketahui, saat ini Supinto menghuni sel Mapolresta Kediri.(Solichan Arif/Sindo/hri)

Tabrakan KA Doho, Polisi Periksa Pemelihara Rel

Selasa, 24 Februari 2009 – 20:25 wib

KEDIRI – Polisi mempertanyakan tugas tersangka Supinto, pemelihara rel Jalan Brigjen Katamso, lokasi tabrakan KA Rapih Doho dengan bus PO Harapan Jaya.

Menurut keterangan Kapolres Dedi, kepada penyidik Supinto mengaku pukul 12.00 WIB, Senin 23 Februari kemarin, dia menggantikan tugas Mariyono yang saat itu ijin tidak masuk. Menurut Dedi,  pengambilalihan tugas Mariyono kepada Supinto menjadi bagian penyelidikan petugas.

Polisi ingin mencari tahu, apakah Supinto memang layak menjaga palang perlintasan KA yang berbahaya, termasuk juga siapa yang bertanggungjawab atas pengambilalihan tugas ini.

“Khusus hal ini akan kita perdalam. Apakah memang tersangka ini layak menjadi petugas penjaga perlintasan mengingat tugasnya adalah sebagai pemelihara rel kereta api?” ujarnya, Selasa (24/2/2009).

Menanggapi pengambilalihan tugas Mariyono oleh Supinto, karena Mariyono ijin ada keperluan keluarga, Kepala Stasiun KA Kota Kediri Warsito mengatakan, jika piket penjagaan perlintasan KA sudah terjadwal.

Menurut dia,  meski Supinto bertugas sebagai pemelihara rel kereta, menjaga perlintasan juga menjadi piketnya. “Tugas menjaga perlintasan KA juga merupakan tugas Supinto. Jadi dalam hal ini dia tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena hari itu memang dia menggantikan Mariyono yang tidak masuk karena ada keperluan keluarga,” ujarnya.

Supinto baru bisa menyalahkan petugas lainya, kata Warsito, jika dia menolak dan terpaksa dalam menggantikan Mariyono. “Sementara yang terjadi. Dia memang menggantikan Mariyono,” terangnya.(Solichan Arif/Sindo/hri)

PT KA Ujicoba Rel di Lokasi Tabrakan KA Doho

Selasa, 24 Februari 2009 – 21:50 wib

KEDIRI – Pihak PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional VII Surabaya mendatangkan satu kereta crane dari Daop Jogjakarta. Kereta crane ini untuk menarik tiga gerbong yang masih anjlok di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso Kediri.

Dalam proses evakuasi gerbong yang disaksikan tim Laboratorium Forensik Polda Jatim, petugas PT KA hanya berhasil menaikkan dua gerbong. Sementara satu gerbong belum bisa dibawa kembali ke stasiun, karena posisinya melintang di tengah jalan.

Proses evakuasi ini berlangsung sejak Senin 23 Februari malam hingga hari ini, Selasa (24/2/2009). Berat gerbong dan ratusan warga yang ingin menyaksikan dari dekat menjadi kendala tersendiri.

Menurut keterangan Kepala Daop VII Sholeh Kosasih, sampai hari ini jalur KA Kediri-Tulungagung masih putus total. Setiap warga eks Kerasidenan Kediri yang hendak menggunakan KA Doho, Gajayana, dan Matarmaja harus melalui stasiun Kertosono.

“Sampai saat ini jalur KA Kediri-Tulungagung masih putus total. Selain masih melakukan evakuasi gerbong KA, kita juga melakukan perbaikan rel yang rusak,” ujarnya singkat.

Kepala Stasiun Kota Kediri Warsito menambahkan, rencananya hingga Rabu 25 Februari besok, proses evakuasi selesai. Setelah itu PT KA akan melakukan uji coba perlintasan kereta. Dalam proses uji coba ini kereta yang melintas maksimal dengan kecepatan 5 Km/jam.

“Kalau memang dalam uji coba ini tidak ada kerusakan, maka jalur akan langsung dinyatakan dibuka lagi,” terangnya.(Solichan Arif/Sindo/hri)

6 Jasad Korban Tabrakan KA Doho Dikenali

Selasa, 24 Februari 2009 – 21:20 wib

KEDIRI – Sebanyak enam dari tujuh orang korban meninggal dunia tabrakan antara Kereta Api Rapih Doho dengan bus Patas PO Harapan Jaya yang berada di RSU Bhayangkara Kota Kediri sudah berhasil diidentifikasi.

Keenam orang korban tewas itu di antaranya, Esti Mumpuni warga Rungkut Asri Surabaya. Kemudian Basuki Purnomo warga Kutai Kertanegara (Kalimantan), Umi Sadiyah, warga Desa/Kec  Srengat Kabupaten Blitar,  Undarmoko (bukan Sarwoko), warga Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung (kondektur),  Andri Turianto, warga Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri (kernet) dan Agung Setiawan warga Ringin Pitu Kab Tulungagung (sopir bus).

Sedangkan korban tewas ketujuh adalah seorang perempuan yang diperkirakan berusia 30 tahun. Jasad yang sebagian tubuhnya ini rusak karena benturan keras itu bercirikan tinggi sekitar 160 cm, berat 55 kg dan memiliki tato lumba-lumba pada pergelangan kaki kirinya.

Menurut keterangan Humas RSU Bhayangkara Kota Kediri Emi Pujiharti, selain “Mrs X” jenazah Basuki yang berasal dari Kutai Kertanegara yang belum diambil keluarganya.

“Sedangkan lima jenazah lainya hari ini (Selasa)  sudah diambil keluarganya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2009).

Semua korban meninggal dunia ini adalah penumpang bus PO Harapan Jaya .

Emi mengaku kesulitan melacak identitas korban Mrs X yang masih menghuni kamar mayat rumah sakit. Sebab dari tubuh perempuan yang mengenakan jam tangan Odissey, pakaian warna hijau daun dan celana panjang coklat ini tidak ada alat pengenal sama sekali.

“Kami berharap untuk pihak keluarga yang memiliki ciri-ciri seperti jenazah ini segera menghubungi pihak rumah sakit,” pungkasnya.

Sementara itu jumlah penumpang luka-luka yang masih dirawat di RSU Bhayangkara sebanyak 10 orang. Sebanyak 10 orang korban luka-luka di RSUD Gambiran Kediri, 7 orang masih dirawat, satu orang masuk ruang Intensif Care Unit (ICU) dan 2 orang pulang paksa. Sedangkan 5 orang korban luka yang dirawat di RSU Baptis Kediri, tinggal dua orang. Sebab tiga orang sudah pulang.

Seperti diberitakan, diduga akibat menerobos palang pintu perlintasan KA yang masih tertutup, sebuah bus Patas Po Harapan Jaya yang hendak menuju Surabaya dihantam KA Rapih Dhoho yang hendak menuju Tulungagung Senin 23 Februari sore. Akibat tabrakan hebat ini 7 orang tewas dan puluhan lainya luka-luka.(Solichan Arif/Sindo/hri)

Penunggu Palang KA Maut: Saya Terlambat!

Rabu, 25 Februari 2009 – 02:36 wib

KEDIRI  – Supinto (46) penjaga palang pintu perlintasan Kereta Api di Jalan Brigjen Katamso Kota Kediri yang ditetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kecelakaan maut antara Kereta Api Rapih Dhoho dengan bus Patas PO Harapan Jaya ini, hanya bisa tertunduk lesu ketika petugas Kepolisian Resor Kota Kediri bersama petugas Laboratorium Forensik  (Labfor) Polda Jawa Timur menggiringnya ke pos penjagaan tempatnya bertugas.

Bekali-kali bapak satu anak ini menganggukkan kepala tidak pasti, sambil sesekali tersenyum dengan wajah  kecut, ketika petugas mengulangi perintah kepadanya.

Warga Dusun Sumber Cangkring Desa Banjar Anyar Kecamatan Kras Kabupaten Kediri ini nampak canggung. Sebab selain petugas kepolisian, ratusan pasang mata milik warga sekitar lokasi kecelakaan juga ingin menyaksikanya dari dekat.

Bahkan tidak sedikit warga yang berebut mengintip dari jendela nako pos penjagaan yang sempit. Selasa (24/2/2009) siang tadi, Supinto yang mengenakan kaos kerah warna cream motif garis diminta polisi untuk memeragakan bagaimana dirinya bekerja sebagai penjaga perlintasan KA.

“Saat itu saya sudah menutup palang pintu,” tutur Supinto lirih kepada petugas yang menginterogasinya.

Polisi ingin memastikan apa yang dilakukan Supinto saat maut terjadi, hingga KA dengan lima rangkaian gerbong itu menghantam sebuah bus yang melintas dan menewaskan tujuh orang penumpangnya.

Beberapa saat setelah menghirup nafas dalam-dalam, pria berkulit gelap karena mungkin  terlalu sering tersengat matahari itu berjalan perlahan menuju ruang tempat peralatan elektornik berada. Dengan jemari yang sedikit tergetar, Supinto menyentuh knop atau tombol di ruanganya. Sontak suara sirene meraung sekaligus diikuti tertutupnya palang pintu perlintasan.

“Saat saya menekan tombol itulah tiba-tiba suara keras menggelegar terjadi. Dan ternyata kereta yang datang telah menabrak bus yang  melintas di sana,” terangnya.

Supinto mengaku terpaku tak bergerak ketika melihat lokomotif menghantam bus hingga terpental dan menjadi puing-puing. Kakinyapun kaku untuk dilangkahkan, walapun telinganya mendengar jerit tangis penumpang yang berebut mencari selamat.

Supinto mengaku baru bisa kembali sedikit normal, ketika petugas kepolisian  datang dan mengamankanya ke kantor polisi. “Saat itu saya hanya shock. Tak percaya dengan penglihatan saya,” paparnya.

Kepada petugas, Supinto mengaku sempat beberapa kali keluar dari pos penjagaan untuk memastikan kereta datang. Karena hujan deras, Supinto mengaku tidak bisa melihat sinyal adanya  kereta  yang bakal melintas.

Sinyal berbentuk tanda panah ini berada sekitar 150 meter dari pos penjagaan. Sementara sinyal kereta yang berupa telepon dari stasiun  sudah berdering. “Saya sampai keluar dua kali dari ruangan untuk memastikan. Sebab telpon juga sudah berdering. Tapi karena hujan saya tidak bisa melihat sinyal,” paparnya.

Disisi lain, Supinto juga tidak melihat lampu lokomotif yang biasanya menjadi tanda kereta bakal lewat. “Pada saat saya melihat keluar lagi itulah saya melihat adanya lampu KA. Dan ketika saya lari ke dalam ruangan dan sempat memencet tombol palang perlintasan. Namun  kecelakaan terjadi. Saya memang terlambat menutup,” sesalnya.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Polisi Slamet Pujiono mengatakan keterangan yang disampaikan tersangka Supinto akan menjadi dasar petugas untuk memperdalam penyelidikan.

“Terutama siapa yang bertanggung jawab atas tugas yang dilakukan tersangka. Selain itu tentu ada jeda waktu jelas kereta yang baru lepas dari stasiun,” pungkasnya.

Akibat kelalaian itu, Supinto akan dijerat dengan pasal 359 KUHP, yakni kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain  dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun.  (Solichan Arif/Sindo/fit)

2 Comments

Filed under Public Transportation, Railway Transport, Traffic Safety

History of the bus bike rack

https://i1.wp.com/www.fta.dot.gov/TRO3/TRO3_GRTC_BusBikeRack_rdax_300x200.jpg

The first bike racks were installed on a select few of the former Municipality of Metropolitan Seattle (Metro Transit) buses in the late 1970s. This bike rack was initially purchased from a company in California and was quite expensive (around $1,000) for the time.

Originally, the racks were only on buses that traveled across the SR-520 Bridge because there are no bike lanes on the bridge.

In 1982, Metro’s machine shop re-designed the rack to facilitate easier removal and replacement when washing the buses. Also, Metro wanted to lower the cost because the biking public was lobbying for more routes that could provide bike service. Metro wanted racks on the outside of buses because managers thought there would be too many problems with bikes inside the coaches. Approximately 300 racks were manufactured in-house by Metro employees.

The commercial bike rack the transit system purchased in the late 1970s was actually a set design, but Metro employees made improvements to suit their needs. In 1982, machinist Bruce Hargin designed and built all the tooling necessary to produce the bike rack in-house and over the course of time did a great deal of the associated machine tasks necessary for production runs. A number of Metro employees during and since those early days have contributed with modifications and ideas. Machinist Dick Huggett, metal constructor Augusto Desimone, machinist Jim King, and machine shop chief Larry Whitney all contributed. When Whitney came to the machine shop in August of 1983, he implemented a change in the mounting method making the rack easier to remove and install. Metro stayed with the last generation rack until it quit building them in 1993.

https://i0.wp.com/www.metrokc.gov/kcdot/news/photos/2003/042103thisweekph1.jpg

At that time, Metro started looking for a commercial product that was better suited to the task and especially one that did not need to be removed every time the bus was washed. If the racks were not removed, they would be mangled in the wash and also damage the expensive oversize brushes in the washing unit.

Metro ultimately selected Sportworks in Woodinville to build a bike rack to the transit system’s specifications. This helped launch the private company into the bike-rack expert they are today. Sportworks’ bike racks are currently on buses in more than 400 cities.

From that point on everytime Metro ordered new buses a request for a bike rack was included in the bid. Today, all Metro buses are equipped with bike racks.

source : http://transit.metrokc.gov

picture : http://www.fta.dot.gov, http://www.metrokc.gov

5 Comments

Filed under Public Transportation

Metro stations offer transport information downloads via mobile phone

https://i0.wp.com/www.techfresh.net/wp-content/uploads/2007/05/moto-q9-1.jpg

By Wang Yingbei  |   2009-2-10  , http://www.shanghaidaily.com

COMMUTERS can now check public transport information via their cell phones at four Shanghai subway stations starting today.

The service will be accessible at Xujiahui Station on Line 1, Zhongshan Park and Lujiazui stations on Line 2, and People’s Square Station, where lines 1, 2 and 8 intersect, the Shanghai metro authority said today, according to a Xinmin Evening News report.

Passengers can check service times of nearby buses and metro lines, maps of metro stations and nearby roads, surrounding buildings, as well as traffic information when the mobile phone connects to the Internet.

To install the system, China Mobile users should first short message “A” to 10658028 and then enter the hyperlink in the reply to download the Barcode Reader software, which will only take a few seconds, the report said. Then take a picture of the barcode on the top right corner of the platform board at the metro station and the system will automatically log onto the Website containing surrounding traffic information. The report did not say what user fees would be involved.

Mobile phone users who can not download the software or connect to the Internet can type in the metro station name and short message to 106691900916 free of charge for specific traffic information.

The roaming mobile phone tour guide system now covers 13 cities with subway lines in China. Apart from traffic information, railway and flight timetables are also available. Users can also choose different languages.

When testing is completed, two-dimensional barcodes will be installed at all metro stations.

By 2010, this system will be integrated in all public transport systems in Shanghai.

1 Comment

Filed under Public Transportation, Transport News

Taksi Elektrik Tanpa Sopir Bakal Penuhi Kota di UAE

Taksi elektrik yang akan berseliweran di kota-kota di UAE

Senin, 9 Februari 2009 – 12:31 wib, okezone.com

DUBAI – Apa jadinya jika kita berpergian menggunakan taksi tapi tanpa seorang sopir? Pasti mustahil. Namun tidak mustahil bagi Uni Emirat Arab. Negara tersebut tengah mengembangkan taksi elektrik yang dapat beroperasi tanpa bantuan manusia.

Kota metropolitan yang terletak di Masdar City, oleh pemerintah UAE dicanangkan sebagai kota bebas bensin. Dengan menjadikannya sebagai kota futuristik yang ramah lingkungan, taksi elektrik tanpa sopir akan segera berseliweran dan memenuhi setiap sudut kota tersebut.

Nantinya, taksi sejenis podcars ini akan menjadi satu-satunya alat transportasi untuk berkeliling kota. Taksi ini hanya akan berjalan di atas sebuah jalur dan berhenti pada tempat-tempat tertentu. Demikian yang dikutip Japan Today, Senin (9/2/2009).

Cara penggunannya hanya perlu menggesekkan kartu identitas serta menyebutkan nama dan tujuan. Lalu taksi ini akan otomatis membawa Anda ke tujuan tersebut, atau setidaknya ke tempat pemberhentian yang paling dekat dengan tujuan yang dimaksud.

Kendaraan ramah lingkungan ini akan diluncurkan paling lambat akhir tahun ini. Jika sukses, kota-kota metropolitan di dunia diharapkan dapat mengikuti jejak negara yang terkenal dengan sumber minyak yang amat berlimpah tersebut.(srn) (jri)

Leave a comment

Filed under Public Transportation, Transport News

Transjakarta : Corridor 8 to launch with a whimper

https://i2.wp.com/www.suaratransjakarta.org/files/content/static/busway/profil-tj-bus.jpg

Agnes Winarti ,  The Jakarta Post ,  JAKARTA   |  Fri, 02/06/2009 11:00 AM  |  City

Transjakarta will run the new Lebak Bulus-Harmoni route below capacity, providing less than half of the recommended buses for its February launch.

“Half of Corridor 8 will open, from Lebak Bulus to Jelambar shelter in West Jakarta,” said Daryati Asrining Rini, the head of Transjakarta, on Thursday.

Rini said that running only half the route would not disrupt the service because Corridor 3 linked Kalideres and Harmoni.

The Corridor 8 was built to connect Lebak Bulus terminal in South Jakarta and Harmoni Busway Central in Central Jakarta.

Rini said passengers wanting to continue to Harmoni had to transfer to Corridor 3 at Jelambar shelter.

The new corridor will only run 20 buses, down from 45 buses previously required to comply with the five-minute headway time.

The 20 buses to run along Corridor 8 are reassigned buses from the existing corridors, 1 to 7.

The shelters and lanes for Corridor 8, built about a year ago, are already showing signs of wear.

The road division head at the city public works agency, Hasnil Hasan Basri, said his agency was repairing the damaged separators between the corridor and regular road lanes.

“The broken separators along Corridor 8 totaled about 800 meters long,” he said. “We have repaired 200 meters so far.”

However, the repaired parts were already beginning to show new signs of damage, Hasnil said.

His agency has allocated some Rp 3 billion toward repairing busway lanes this year.

The traffic and road transportation division head at the transportation agency, Muhammad Akbar, said PT Waskita Karya, the developer of Corridor 8, was also responsible for repairing the broken busway infrastructure.

“The corridor is still within the one-year maintenance tenure after construction,” he said.

“The corridor has fulfilled the minimum requirements for a bus to pass along its lane and to stop at shelters. Broken automatic doors and roofs at shelters can be fixed while the corridor operates.”

The 28-kilometer-long corridor has a total of 24 shelters, 17 of which are new. It takes a Transjakarta bus 2.5 to four hours to travel Corridor 8 from Lebak Bulus to Harmoni.

As for the fate of the idle corridors 9 and 10, Rini did not provide any details.

Akbar said Corridor 9 linking Pinangranti in East Jakarta and Pluit in North Jakarta and Corridor 10 linking Cililitan in East Jakarta and Tanjung Priok in North Jakarta were unable to operate.
The three corridors have missed their deadlines several times due to the absence of buses.

Corridor 8 for February:

Lebak Bulus Terminal – Jl. Ciputat Raya – Jl. TB Simatupang – Jl. Pasar Jumat – Jl. Pondok Indah – Jl. Iskandar Muda – Jl. Teuku Nyak Arif – Jl Letjen Soepomo – Jl. Panjang – Jelambar shelter

(Source : http://www.thejakartapost.com)

(Photo : suaratransjakarta.org)

Leave a comment

Filed under Public Transportation, Transport News

Transjakarta Corridor 8 kicks off Feb. 14

https://i0.wp.com/www.thejakartapost.com/files/images/p06-a-1.jpg

Agnes Winarti ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Thu, 02/05/2009 4:56 PM  |  City

Transjakarta’s Corridor 8 connecting Lebak Bulus in South Jakarta and Harmoni in Central Jakarta will start operation Feb. 14, officials said Wednesday.

“We did a trial run along the corridor last week. Transjakarta will be ready to launch Corridor on 8 Feb. 14,” said Daryati Asrining Rini, Transjakarta head.

The 28-kilometer corridor has 24 sheltered stops, 17 of which are new.

The route runs between the Lebak Bulus bus terminal and Harmoni busway interchange via Pondok Indah in South Jakarta.

Though Corridor 8 had been scheduled to roll out by September 2008, city administrators and Transjakarta missed several deadlines due to construction delays and a bus shortage, leaving the facilities idle.

As reported earlier, Corridor 8 requires 45 buses. Transjakarta infrastructure manager Taufik Adiwianto said for the February launch, Corridor 8 would borrow some of the 426 existing buses from Corridors 1 to 7.

“Within the week we will complete our operational plan for Corridor 8 and decide whether we can operate the full route or only half. It depends on how many buses we can reassign from the seven running corridors,” Taufik said.

He added that ideally Corridor 8 buses would have five minutes headway, the standard time interval between buses for all corridors.

Land transportation division head at the transportation agency, Hendah Sunugroho, said the use of buses from other corridors might mire the already slow headway on existing corridors which often surpass the five-minute mark.

Current headway between buses on Corridor 1 (Blok M-Kota) is three to five minutes, in Corridors 2 (Pulo Gadung-Harmoni), 3 (Kalideres-Harmoni), 4 (Pulo Gadung-Dukuh Atas), 5 (Ancol-Kampung Melayu), and 7 (Kampung Rambutan-Kampung Melayu) it varies from five to 10 minutes. Corridor 6 Ragunan-Kuningan headway can be up to 20 minutes.

Besides bus availability, some Corridor 8 lane separators show signs of wear and tear, though Hendah has said the damage was minor.

This year, the city has allocated Rp 15 billion (US$1.27 million) for maintenance on all 10 corridors.

Still-idle corridors 9 and 10 are scheduled to be up and running by mid-2009. Corridor 9 runs between Pinangranti in East Jakarta and Pluit in North Jakarta; Corridor 10, between Cililitan in East Jakarta and Tanjung Priok in North Jakarta.

Construction on the three corridors has missed several deadlines. All originally were set to launch in September 2007, before then Governor Sutiyoso ended his term.

Governor Fauzi Bowo then set the launch deadline for April 2008 before postponing it to September. Fauzi also put new transportation agency heads in place in July to improve performance.

(Source : http://www.thejakartapost.com)

Leave a comment

Filed under Public Transportation, Transport News