Category Archives: Traffic Safety

Scientists Test System To Steer Drivers Away From Dangerous Weather

Each of the test cars driving around Detroit contains onboard equipment that collects, stores, and transmits weather data. In the future, such onboard equipment will be much smaller and integrated into the car design instead of taking up trunk space. (Credit: Copyright UCAR, photo by Michael Chapman)

Scientists at the National Center for Atmospheric Research (NCAR) are testing an innovative technological system in the Detroit area this month that ultimately will help protect drivers from being surprised by black ice, fog, and other hazardous weather conditions.

The prototype system is designed to gather detailed information about weather and road conditions from moving vehicles. Within about a decade, it should enable motor vehicles equipped with wireless technology to transmit automated updates about local conditions to a central database, which will then relay alerts to other drivers in the area.

“The goal is to reduce crashes, injuries, and deaths by getting drivers the information they need about nearby hazards,” says Sheldon Drobot, the NCAR program manager in charge of the project. “The system will tell drivers what they can expect to run into in the next few seconds and minutes, giving them a critical chance to slow down or take other action.”

NCAR’s road weather system is part of IntelliDrive(SM), a national initiative overseen by the Department of Transportation (DOT) to use new technologies to make driving safer and improve mobility. Officials envision that, over the next 10 years or so, motor vehicles will begin to automatically communicate with each other and central databases, alerting drivers to threats that range from adverse road conditions to nearby vehicles that are moving erratically or are running through a red light. The goal of the DOT is to reduce motor vehicle accidents by 90 percent by 2030.

The national program brings together federal and state transportation officials, motor vehicle manufacturers, engineering and planning firms, consumer electronics companies, and others.

An estimated 1.5 million motor vehicle accidents annually are associated with poor weather, resulting in about 7,400 deaths and 690,000 injuries, according to a 2004 National Research Council report, “Where the Weather Meets the Road.” The report called for improving safety by establishing a nationwide observation system to monitor weather conditions along roads and warn drivers about potential hazards.

For the road weather portion of IntelliDrive, vehicles will use sensors to measure atmospheric conditions such as temperature, pressure, and humidity. An onboard digital memory device will record that information, along with indirect signs of road conditions, such as windshield wipers being switched on or activation of the antilock braking system.

The information will be transmitted to a central database, where it will be integrated with other local weather data and traffic observations, as well as details about road material and alignment. The processed data will then be used to update motorists in the area when hazards are present and, when appropriate, suggest alternate routes.

The incoming data would be anonymous. Officials are working on guidelines to allow drivers to opt out of the system for privacy considerations.

In addition to providing motorist warnings, such a system will alert emergency managers to hazardous driving conditions and enable state highway departments to efficiently keep roads clear of snow. It can also help meteorologists refine their forecasts by providing them with continual updates about local weather conditions.

Motor vehicle manufacturers plan to install the onboard equipment in every new vehicle sold in the United States within a few years as part of a voluntary program to improve driving safety.

On the prowl for bad weather

NCAR scientists and engineers are testing the weather piece of the system by collecting information from 11 specially equipped cars in the Detroit area. Test drivers are on the prowl for adverse conditions, especially heavy rain and snow. Engineers will analyze the reliability of the system by comparing data from the cars with other observations from radars and weather satellites. They will also look at whether different models of cars-in this case, Jeep Cherokees, Ford Edges, and a Nissan Altima – produce comparable measurements of weather and road conditions.

The tests, which began early this month and will run for about two weeks, will help the NCAR team refine its software to accurately process data from motor vehicles. In the future, the team also hopes to study which types of weather information will be most useful and how that information can be clearly and safely communicated to drivers, possibly through a visual display or audio alert.

“The results look very encouraging,” Drobot says. “The tests show that cars can indeed communicate critical information about weather conditions and road hazards.”

Processing a deluge of observations

One of the biggest challenges for NCAR is to determine how to process the enormous amounts of data that could be generated by about 300 million motor vehicles. The center has worked with the Department of Defense, the aviation industry, and other organizations to analyze complex weather observations. But the new system incorporates information from far more sources, and those sources are moving.

NCAR engineers are developing mathematical formulas and other techniques to accurately interpret the information and eliminate misleading indicators. If a driver, for example, turns on the windshield wipers in clear weather to clean the windshield, the NCAR data system will identify that action as an outlier rather than issuing a false alert about precipitation.

“It’s not enough to process the information almost instantaneously,” says William Mahoney, who oversees the system’s development for NCAR. “It needs to be cleaned up, sent through a quality control process, blended with traditional weather data, and eventually delivered back to drivers who are counting on the system to accurately guide them through potentially dangerous conditions.”

IntelliDrive is a service mark of the U.S. Department of Transportation.

Source :ScienceDaily (Apr. 11, 2009)



Filed under Automotives, Traffic Safety

KA Doho Tabrak Bus, 8 Tewas dan 8 Kritis (updated)

Foto: Solichan Arif/Sindo

Selasa, 24 Februari 2009 – 03:00 wib, source :

KEDIRI – Sebanyak 8 orang tewas, 8 luka berat, dan puluhan lainnya luka ringan saat KA Doho Jurusan Surabaya-Malang menabrak bus Patas Harapan Jaya di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso, Kampung Dalem, Kota Kediri, Jawa Timur.

Korban tewas, termasuk awak bus yaitu sopir, kondektur dan kernet. Sampai saat ini baru dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi. Yakni  Sarwoko (43), warga Kecamatan Kauman, Tulungagung selaku kodektur bus dan Andri Turianto (29), warga Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri selaku kernet. Sementara korban tewas lainnya belum bisa dikenali karena kondisinya yang parah.

Hingga kini polisi belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, kecelakaan akibat bus menerobos palang pintu KA yang masih tertutup separuh.

Menurut keterangan Udin Anwar, salah seorang saksi mata, hantaman KA bernomor lokomotif CC 201 08 yang melaju kencang dari utara (Kota Kediri) ke selatan (Tulungagung) itu membuat badan bus terpental hingga beberapa meter. Roda bagian depan bus terlepas dan seluruh kacanya pecah itu. Adapun body bus menimpa dua rumah warga setempat. Belum diketahui pasti apakah pemilik rumah ini selamat atau menjadi korban.

Sementara akibat benturan keras itu, loko KA yang terdiri dari lima rangkaian gerbong tergelincir dari atas rel kereta. Bahkan gerbong kedua dan ketiga sampai lepas dan menghantam rumah warga seempat. KA ini berhenti total dengan posisi melintang ditengah jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Kecelakaan maut yang terjadi sekira pukul 15.00 WIB itu berlangsung saat hujan deras mengguyur Kota Kediri. Melihat gerbong yang ditumpanginya bertabrakan, penumpang KA Doho langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Sementara ratusan warga setempat yang membanjiri TKP langsung membantu melakukan evakuasi.

Evakuasi khususnya ditujukan kepada penumpang bus yang keadaanya lebih parah. Proses ini cukup sulit karena sebagian besar jasad korban terjepit kursi dan bagian bus yang ringsek.

Hingga pukul 18.00 WIB, seluruh  korban meninggal dunia dievakuasi ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Kemudian 8 orang luka berat dirawat di RSU Bhayangkara ditambah dua orang luka ringan. 5 orang korban luka ringan lainya dilarikan ke  RS Baptis dan 10 orang luka ringan  di RSUD Gambiran Kota Kediri.

Salah satu penumpang KA Doho, Ny Efi mengaku merasakan tiga kali benturan keras setelah KA yang ditumpanginya lepas dari Stasiun Kediri. Saat itu Ny Efi dalam keadaan tertidur.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Kediri  AKP Mukalam mengatakan polisi masih melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan. Dari data sementara diduga kecelakaan disebabkan bus yang menerobos palang pintu KA.

“Jika melihat kondisi di TKP, kuat dugaan bus menerobos perlintasan hingga menabrak palang pintu. Kemudian ditabrak KA yang melaju dari utara ke selatan,” ujarnya.

Mukalam mengaku sudah mengamankan penjaga palang pintu perlintasan KA. Serta beberapa orang saksi mata, yang melihat langsung kejadian. Dalam proses evakuasi ini polisi menerjunkan dua peleton personel Brimob. (Solichan Arif/Sindo/ful)

Foto: Solichan Arif

Updated, Bus Disambar KA Rapih Dhoho, 8 Tewas

Senin, 23 Februari 2009 – 20:13 wib

KEDIRI – Sedikitnya 8 orang tewas, 8 luka berat, dan puluhan lainya luka ringan saat Kereta Api Rapi Dhoho Jurusan Surabaya-Malang menabrak bus Patas PO Harapan Jaya jurusan Surabaya-Trenggalek di perlintasan Kereta Api Jalan Brigjen Katamso Kelurahan Kampung Dalem Kec Kota Kediri Senin (23/2/2009) sore.

Seluruh korban tewas, termasuk awak bus (sopir, kondektur dan kernet), diduga kuat penumpang bus bernomor polisiAG 7493 UR itu. Sampai saat ini baru dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi. Yakni Sarwoko (43) warga Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung selaku kodektur bus dan Andri Turianto (29) warga Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri sebagai kernet.

Sementara korban tewas lainnya belum bisa dikenali karena kondisi jasadnya yang mengalami luka parah. Saat ini polisi juga belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. Dugaan sementara, kecelakaan terjadi akibat kelalaian pihak bus, yakni menerobos palang pintu KA yang baru tertutup separuh.

Menurut keterangan Udin Anwar (25) salah seorang saksi mata di lapangan, hantaman KA bernomor lokomotif CC 201 08 yang melaju kencang dari utara (Kota Kediri) ke selatan (Tulungagung) itu membuat badan bus terpental hingga beberapa meter.

Bahkan lontaran bangkai bus yang roda bagian depannya terlepas dan seluruh kacanya pecah itu, mengenai dua bangunan rumah warga setempat yang berada di sana. Belum diketahui pasti apakah pemilik rumah ini selamat atau menjadi korban.

Sementara akibat benturan keras itu, lokomotif KA yang terdiri dari lima rangkaian gerbong tergelincir dari atas rel kereta. Bahkan gerbong kedua dan ketiga sampai lepas dan menghantam rumah warga seempat. KA ini berhenti total dengan posisi melintang di tengah jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Kecelakaan maut sekitar pukul 15.00 Wib ini berlangsung saat hujan deras mengguyur kota Kediri. “Suaranya sangat keras ketika kereta tiba-tiba datang dan menghantam bus yang nekat melintas. Mungkin saja sopir bus mengira kereta masih jauh, “ujarnya kepada wartawan.

Melihat gerbong yang ditumpanginya bertabrakan, penumpang kereta langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Sementara ratusan warga setempat yang membanjiri TKP langsung membantu melakukan evakuasi.

Evakuasi khususnya ditujukan kepada penumpang bus yang keadaanya lebih parah. Proses ini cukup sulit karena sebagian besar jasad korban terjepit kursi dan bagian bus yang ringsek.

Hingga pukul 18.00 WIB, seluruh korban meninggal dunia dievakuasi ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Kemudian 8 orang luka berat dirawat di RSU Bhayangkara ditambah dua orang luka ringan.

Sebanyak 5 orang korban luka ringan lainya dilarikan ke RS Baptis dan 10 orang luka ringan di RSUD Gambiran Kota Kediri. Sebagian besar korban luka ini adalah penumpang. Belum diketahui pasti apakah penumpang bus atau KA.

Salah satu penumpang kereta, Ny Efi warga Tulungagung yang selamat mengaku merasakan tiga kali benturan keras setelah KA yang ditumpanginya lepas dari stasiun Kediri. Saat itu Ny Efi dalam keadaan tertidur.

“Setelah 3 kali benturan, penumpang langsung terlempar dan tumpang tindih. Saya juga sampai tertindih, tapi untungnya tidak sampai terluka, “ujarnya.(fit)(Solichan Arif/Sindo/mbs)

Kecepatan KA Doho di Kediri Dipertanyakan

Selasa, 24 Februari 2009 – 19:18 wib

KEDIRI – Kerasnya hantaman Kereta Api (KA) Rapih Doho yang mengakibatkan bodi bus Patas PO Harapan Jaya terpental hingga menghantam rumah warga setempat dan mengakibatkan 7 orang nyawa melayang, dipertanyakan pihak Kepolisian Resor Kota Kediri.

Polisi curiga, KA dengan lima rangkaian gerbong yang baru 200 meter lepas  dari stasiun Kereta Api Kota Kediri itu meluncur dengan kecepatan di atas 50 Km/jam. Kecurigaan polisi cukup beralasan dengan melihat hancurnya bodi bus serta bangunan rumah warga yang ada di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso Kota Kediri.

Sementara ketentuan yang berlaku di dunia perkereta apian, kecepatan 50 Km/jam merupakan batas maksimal kecepatan KA di wilayah perkotaan.

Kepala Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Besar Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini penyelidikan petugas tertuju ke arah sana (kecepatan kereta), selain kelalaian Supinto (bukan Supianto), penjaga palang pintu warga Dusun Sumbercangkring, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

Karena itu, menurut Dedi, selain Supinto hampir dipastikan jumlah tersangka dalam musibah yang merenggut nyawa ini bertambah.

“Kita akan memperdalam ke masalah kecepatan kereta. Kemungkinan besar jumlah tersangka akan bertambah selain penjaga KA yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,”ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2009).

Saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan sejumlah saksi yang berasal dari warga setempat. Selain itu polisi juga meminta keterangan Pamuji selaku  masinis KA Rapih Doho, Maryono petugas penjaga yang digantikan Supinto, Kepala Stasiun KA Kota Kediri Warsito, kepala pengatur perjalanan, mandor dan penjaga listrik.

“Saat ini semua pihak kereta yang diperiksa, kecuali Supinto  masih sebagai saksi,” terangnya. Seperti diketahui, saat ini Supinto menghuni sel Mapolresta Kediri.(Solichan Arif/Sindo/hri)

Tabrakan KA Doho, Polisi Periksa Pemelihara Rel

Selasa, 24 Februari 2009 – 20:25 wib

KEDIRI – Polisi mempertanyakan tugas tersangka Supinto, pemelihara rel Jalan Brigjen Katamso, lokasi tabrakan KA Rapih Doho dengan bus PO Harapan Jaya.

Menurut keterangan Kapolres Dedi, kepada penyidik Supinto mengaku pukul 12.00 WIB, Senin 23 Februari kemarin, dia menggantikan tugas Mariyono yang saat itu ijin tidak masuk. Menurut Dedi,  pengambilalihan tugas Mariyono kepada Supinto menjadi bagian penyelidikan petugas.

Polisi ingin mencari tahu, apakah Supinto memang layak menjaga palang perlintasan KA yang berbahaya, termasuk juga siapa yang bertanggungjawab atas pengambilalihan tugas ini.

“Khusus hal ini akan kita perdalam. Apakah memang tersangka ini layak menjadi petugas penjaga perlintasan mengingat tugasnya adalah sebagai pemelihara rel kereta api?” ujarnya, Selasa (24/2/2009).

Menanggapi pengambilalihan tugas Mariyono oleh Supinto, karena Mariyono ijin ada keperluan keluarga, Kepala Stasiun KA Kota Kediri Warsito mengatakan, jika piket penjagaan perlintasan KA sudah terjadwal.

Menurut dia,  meski Supinto bertugas sebagai pemelihara rel kereta, menjaga perlintasan juga menjadi piketnya. “Tugas menjaga perlintasan KA juga merupakan tugas Supinto. Jadi dalam hal ini dia tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena hari itu memang dia menggantikan Mariyono yang tidak masuk karena ada keperluan keluarga,” ujarnya.

Supinto baru bisa menyalahkan petugas lainya, kata Warsito, jika dia menolak dan terpaksa dalam menggantikan Mariyono. “Sementara yang terjadi. Dia memang menggantikan Mariyono,” terangnya.(Solichan Arif/Sindo/hri)

PT KA Ujicoba Rel di Lokasi Tabrakan KA Doho

Selasa, 24 Februari 2009 – 21:50 wib

KEDIRI – Pihak PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional VII Surabaya mendatangkan satu kereta crane dari Daop Jogjakarta. Kereta crane ini untuk menarik tiga gerbong yang masih anjlok di perlintasan KA Jalan Brigjen Katamso Kediri.

Dalam proses evakuasi gerbong yang disaksikan tim Laboratorium Forensik Polda Jatim, petugas PT KA hanya berhasil menaikkan dua gerbong. Sementara satu gerbong belum bisa dibawa kembali ke stasiun, karena posisinya melintang di tengah jalan.

Proses evakuasi ini berlangsung sejak Senin 23 Februari malam hingga hari ini, Selasa (24/2/2009). Berat gerbong dan ratusan warga yang ingin menyaksikan dari dekat menjadi kendala tersendiri.

Menurut keterangan Kepala Daop VII Sholeh Kosasih, sampai hari ini jalur KA Kediri-Tulungagung masih putus total. Setiap warga eks Kerasidenan Kediri yang hendak menggunakan KA Doho, Gajayana, dan Matarmaja harus melalui stasiun Kertosono.

“Sampai saat ini jalur KA Kediri-Tulungagung masih putus total. Selain masih melakukan evakuasi gerbong KA, kita juga melakukan perbaikan rel yang rusak,” ujarnya singkat.

Kepala Stasiun Kota Kediri Warsito menambahkan, rencananya hingga Rabu 25 Februari besok, proses evakuasi selesai. Setelah itu PT KA akan melakukan uji coba perlintasan kereta. Dalam proses uji coba ini kereta yang melintas maksimal dengan kecepatan 5 Km/jam.

“Kalau memang dalam uji coba ini tidak ada kerusakan, maka jalur akan langsung dinyatakan dibuka lagi,” terangnya.(Solichan Arif/Sindo/hri)

6 Jasad Korban Tabrakan KA Doho Dikenali

Selasa, 24 Februari 2009 – 21:20 wib

KEDIRI – Sebanyak enam dari tujuh orang korban meninggal dunia tabrakan antara Kereta Api Rapih Doho dengan bus Patas PO Harapan Jaya yang berada di RSU Bhayangkara Kota Kediri sudah berhasil diidentifikasi.

Keenam orang korban tewas itu di antaranya, Esti Mumpuni warga Rungkut Asri Surabaya. Kemudian Basuki Purnomo warga Kutai Kertanegara (Kalimantan), Umi Sadiyah, warga Desa/Kec  Srengat Kabupaten Blitar,  Undarmoko (bukan Sarwoko), warga Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung (kondektur),  Andri Turianto, warga Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri (kernet) dan Agung Setiawan warga Ringin Pitu Kab Tulungagung (sopir bus).

Sedangkan korban tewas ketujuh adalah seorang perempuan yang diperkirakan berusia 30 tahun. Jasad yang sebagian tubuhnya ini rusak karena benturan keras itu bercirikan tinggi sekitar 160 cm, berat 55 kg dan memiliki tato lumba-lumba pada pergelangan kaki kirinya.

Menurut keterangan Humas RSU Bhayangkara Kota Kediri Emi Pujiharti, selain “Mrs X” jenazah Basuki yang berasal dari Kutai Kertanegara yang belum diambil keluarganya.

“Sedangkan lima jenazah lainya hari ini (Selasa)  sudah diambil keluarganya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2009).

Semua korban meninggal dunia ini adalah penumpang bus PO Harapan Jaya .

Emi mengaku kesulitan melacak identitas korban Mrs X yang masih menghuni kamar mayat rumah sakit. Sebab dari tubuh perempuan yang mengenakan jam tangan Odissey, pakaian warna hijau daun dan celana panjang coklat ini tidak ada alat pengenal sama sekali.

“Kami berharap untuk pihak keluarga yang memiliki ciri-ciri seperti jenazah ini segera menghubungi pihak rumah sakit,” pungkasnya.

Sementara itu jumlah penumpang luka-luka yang masih dirawat di RSU Bhayangkara sebanyak 10 orang. Sebanyak 10 orang korban luka-luka di RSUD Gambiran Kediri, 7 orang masih dirawat, satu orang masuk ruang Intensif Care Unit (ICU) dan 2 orang pulang paksa. Sedangkan 5 orang korban luka yang dirawat di RSU Baptis Kediri, tinggal dua orang. Sebab tiga orang sudah pulang.

Seperti diberitakan, diduga akibat menerobos palang pintu perlintasan KA yang masih tertutup, sebuah bus Patas Po Harapan Jaya yang hendak menuju Surabaya dihantam KA Rapih Dhoho yang hendak menuju Tulungagung Senin 23 Februari sore. Akibat tabrakan hebat ini 7 orang tewas dan puluhan lainya luka-luka.(Solichan Arif/Sindo/hri)

Penunggu Palang KA Maut: Saya Terlambat!

Rabu, 25 Februari 2009 – 02:36 wib

KEDIRI  – Supinto (46) penjaga palang pintu perlintasan Kereta Api di Jalan Brigjen Katamso Kota Kediri yang ditetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kecelakaan maut antara Kereta Api Rapih Dhoho dengan bus Patas PO Harapan Jaya ini, hanya bisa tertunduk lesu ketika petugas Kepolisian Resor Kota Kediri bersama petugas Laboratorium Forensik  (Labfor) Polda Jawa Timur menggiringnya ke pos penjagaan tempatnya bertugas.

Bekali-kali bapak satu anak ini menganggukkan kepala tidak pasti, sambil sesekali tersenyum dengan wajah  kecut, ketika petugas mengulangi perintah kepadanya.

Warga Dusun Sumber Cangkring Desa Banjar Anyar Kecamatan Kras Kabupaten Kediri ini nampak canggung. Sebab selain petugas kepolisian, ratusan pasang mata milik warga sekitar lokasi kecelakaan juga ingin menyaksikanya dari dekat.

Bahkan tidak sedikit warga yang berebut mengintip dari jendela nako pos penjagaan yang sempit. Selasa (24/2/2009) siang tadi, Supinto yang mengenakan kaos kerah warna cream motif garis diminta polisi untuk memeragakan bagaimana dirinya bekerja sebagai penjaga perlintasan KA.

“Saat itu saya sudah menutup palang pintu,” tutur Supinto lirih kepada petugas yang menginterogasinya.

Polisi ingin memastikan apa yang dilakukan Supinto saat maut terjadi, hingga KA dengan lima rangkaian gerbong itu menghantam sebuah bus yang melintas dan menewaskan tujuh orang penumpangnya.

Beberapa saat setelah menghirup nafas dalam-dalam, pria berkulit gelap karena mungkin  terlalu sering tersengat matahari itu berjalan perlahan menuju ruang tempat peralatan elektornik berada. Dengan jemari yang sedikit tergetar, Supinto menyentuh knop atau tombol di ruanganya. Sontak suara sirene meraung sekaligus diikuti tertutupnya palang pintu perlintasan.

“Saat saya menekan tombol itulah tiba-tiba suara keras menggelegar terjadi. Dan ternyata kereta yang datang telah menabrak bus yang  melintas di sana,” terangnya.

Supinto mengaku terpaku tak bergerak ketika melihat lokomotif menghantam bus hingga terpental dan menjadi puing-puing. Kakinyapun kaku untuk dilangkahkan, walapun telinganya mendengar jerit tangis penumpang yang berebut mencari selamat.

Supinto mengaku baru bisa kembali sedikit normal, ketika petugas kepolisian  datang dan mengamankanya ke kantor polisi. “Saat itu saya hanya shock. Tak percaya dengan penglihatan saya,” paparnya.

Kepada petugas, Supinto mengaku sempat beberapa kali keluar dari pos penjagaan untuk memastikan kereta datang. Karena hujan deras, Supinto mengaku tidak bisa melihat sinyal adanya  kereta  yang bakal melintas.

Sinyal berbentuk tanda panah ini berada sekitar 150 meter dari pos penjagaan. Sementara sinyal kereta yang berupa telepon dari stasiun  sudah berdering. “Saya sampai keluar dua kali dari ruangan untuk memastikan. Sebab telpon juga sudah berdering. Tapi karena hujan saya tidak bisa melihat sinyal,” paparnya.

Disisi lain, Supinto juga tidak melihat lampu lokomotif yang biasanya menjadi tanda kereta bakal lewat. “Pada saat saya melihat keluar lagi itulah saya melihat adanya lampu KA. Dan ketika saya lari ke dalam ruangan dan sempat memencet tombol palang perlintasan. Namun  kecelakaan terjadi. Saya memang terlambat menutup,” sesalnya.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Polisi Slamet Pujiono mengatakan keterangan yang disampaikan tersangka Supinto akan menjadi dasar petugas untuk memperdalam penyelidikan.

“Terutama siapa yang bertanggung jawab atas tugas yang dilakukan tersangka. Selain itu tentu ada jeda waktu jelas kereta yang baru lepas dari stasiun,” pungkasnya.

Akibat kelalaian itu, Supinto akan dijerat dengan pasal 359 KUHP, yakni kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain  dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun.  (Solichan Arif/Sindo/fit)


Filed under Public Transportation, Railway Transport, Traffic Safety

Wanita Gagal Dapat Izin Mengemudi hingga 771 Kali

TinyPic image

(gambar : ilustrasi, sumber dari

Senin, 9 Februari 2009 – 14:51 wib,

SEOUL – Polisi di Korea Selatan mengatakan seorang wanita tua gagal mendapatkan izin mengemudi hingga 771 kali tes seleksi. Wanita tua itu selalu gagal dalam tes tertulisnya.

Wanita berusia 68 tahun yang disebut bernama Cha, mengatakan kepada media lokal, bahwa kegagalan itu bukan sesuatu yang disengaja.

Cha yang tinggal di Jeonju selalu mengikuti tes mengendarai mobil setiap hari kerja sejak tahun 2005, demikian seperti dikutip Sky News, Senin (9/2/2009).

Pada tes terakhir yang dilakukan pekan ini, Cha kembali gagal, dan memasukkan dia dalam rekor kegagalan tes izin mengendarai di kotanya. Polisi memperkirakan Cha sudah menghabiskan sekitar 2.500 poundsterling untuk mengikuti tes tertulis dan lain-lain.

Meski demikian, Cha tak patah arang. Dia tetap terus berusaha dengan cara apapun agar mendapatkan izin mengemudi.

“Problemnya dia tidak dapat melewati ujian tertulis. Seharusnya nilai untuk lulus adalah 60-100, namun dia hanya mendapat 30-50,” kata polisi setempat.

Cha niatnya ingin belajar mengendarai mobil guna membeli mobil untuk mengembangkan bisnis menjual makanan dan perabotan rumah yang selama ini hanya dilakukan dengan cara berjalan keliling komplek.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah hal ini mungkin terjadi? (ahm)

Source :

1 Comment

Filed under Traffic Safety, Transport News

Speed bumps to get new role as a source of green energy

Moving vehicles will generate electricity for street lights and road signs in a London trial

Rhodri Phillips

The Observer, Sunday 8 February 2009

“Green” speed bumps that will generate electricity as cars drive over them are to be introduced on Britain’s roads. The hi-tech “sleeping policemen” will power street lights, traffic lights and road signs in a pilot scheme in London that could be rolled out nationwide.

Speed bumps have long been the bane of motorists’ lives, but these will capture the kinetic energy of vehicles.

Peter Hughes, the designer behind the idea, said: “They are speed bumps, but they are not like conventional speed bumps. They don’t damage your car or waste petrol when you drive over them – and they have the added advantage that they produce energy free of charge.” An engineer who formerly advised the United Nations on renewable energy sources, Hughes added: “If it [the energy] wasn’t harnessed by the speed bumps, it would go to waste.”

The ramps – which cost between £20,000 and £55,000, depending on size – consist of a series of panels set in a pad virtually flush to the road. As the traffic passes over it, the panels go up and down, setting a cog in motion under the road. This then turns a motor, which produces mechanical energy. A steady stream of traffic passing over the bump can generate 10-36kW of power.

The bumps can each produce between £1 and £3.60 of energy an hour for up to 16 hours a day, or between £5,840 and £21,024 a year. Energy not used immediately can be stored or fed into the national grid.

“With a steady flow of traffic, four of the ramps used as speed bumps would be enough to power all the street lights, traffic lights and road signs for a mile-long stretch of street. The ramp is silent, comfortable and safe for vehicles. It is not only green energy; it is free energy, once you have paid for the capital cost of the equipment,” said Hughes. “The full potential of this is absolutely enormous.” Hughes claims that 10 ramps could generate the same power as one wind turbine.

The “electro-kinetic road ramp” system can either be raised to act as a speed bump or laid flat, so that drivers don’t realise they are passing over it.

A spokesman for Ealing council in west London confirmed that £150,000 of funding had been secured for the scheme: “The money is there for the scheme in 2009-10,” she said. “The details – how many speed bumps there will be and where they will be – still needs to be finalised. It is an innovative idea. We are excited to be part of it.”

Hughes said he had been in talks with more than 200 councils interested in introducing the system, as well supermarket chain Morrisons about a flat version of the ramp at its depot in Sittingbourne, Kent.

Speed humps were introduced in the UK in 1981. There are an estimated 30,000 in London and at least that number in the rest of the country. Conventional speed humps cost about £2,000 each.

A nightclub opened in Rotterdam in the Netherlands last year that is run partly on energy generated by people dancing. Last year, it was also reported that pedestrians’ footsteps could be used to power lighting at shopping centres.

(Source :

(Picture :

1 Comment

Filed under Traffic Safety, Transport News

Bus Gagak Rimang Jatuh ke Jurang di Cianjur

Sumber berita :

Peta :

Bus Gagak Rimang Jatuh ke Jurang di Cianjur

Senin, 2 Februari 2009 – 18:46 wib

JAKARTA – Sebuah bus penumpang jurusan Bandung- Bogor jatuh ke jurang di daerah Cugenang, Cianjur, Jawa Barat. Belum diketahui adanya korban jiwa.

Menurut petugas Polsek Cugenang Briptu Anas, peristiwa itu terjadi sekira pukul 18.00 WIB, Senin (2/2/2009).

Menurutnya bus yang terprosok tersebut adalah bus Gagak Rimang. Belum dapat dipastikan adanya korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Namun menurutnya ada korban yang dilarikan ke RSU Cianjur.

“Petugas saat ini masih berada di lokasi untuk melakukan penanganan. Kami belum mengetahui berapa jumlah korban,” jelasnya.(fit) (fit)

Petugas Mulai Evakuasi Korban Bus Masuk Jurang

Senin, 2 Februari 2009 – 19:18 wib

CIANJUR – Petugas dari Polres Cianjur masih berupaya untuk melakukan evakuasi korban dari bus Gagak Rimang jurusan Bandung – Bogor yang terperosok di Jurang Desa Cibeurem, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Berdasarkan pantauan di lokasi, pukul 19.20 WIB, Senin (2/2/2009), satu mobil derek sudah disiapkan untuk mengangkut bus tersebut. Selain itu satu mobil ambulans juga telah disiapkan untuk mengevakuasi korban ke RSUD Cianjur.

Bus Gagak Rimang tersebut terjatuh sekira pukul 18.00 WIB. Lokasi berada di Jalan Raya Cipanas KM 8. Saat nahas terjadi, bus tengah menuju Bogor dari arah Bandung.

Beberapa petugas sudah terlihat turun ke jurang yang memiliki kedalaman puluhan meter itu, namun belum ada satu korban yang diangkat karena lokasi cukup curam. Lalu lintas di lokasi terpantau padat merayap dan polisi menerapkan buka tutup satu jalur secara bergantian. (Ricky Susan/Sindo/fit)

Hidup atau Mati, 6 Korban Bus Gagak Rimang Dievakuasi dari Jurang

Senin, 2 Februari 2009 – 19:43 wib

CIANJUR – Korban bus Gagak Rimang yang terperosok di Cianjur Jawa Barat mulai dievakuasi. Hingga pukul 19.30 WIB, Senin (2/2/2009) sedikitnya enam orang korban telah berhasil diangkat dari jurang.

Cuaca yang gelap di sekitar lokasi kecelakaan membuat petugas yang melakukan evakuasi cukup kesulitan. Sehingga petugas yang turun ke jurang untuk mengevakuasi, memasukan korban ke kantung jenazah, tanpa mengetahui apakah korban dalam keadaan hidup atau telah tewas.

Satu-satu kantung jenazah itu kemudian ditarik ke atas menggunakan tambang secara perlahan. Setelah tiba di atas, sejumlah petugas lalu membuka kantung jenazah dan memeriksa kondisi korban apakah masih hidup atau telah meninggal.

Berdasarkan pantauan di lokasi, hingga berita ini diturunkan, enam korban yang berhasil diangkat diduga masih hidup namun dalam kondisi luka berat.

Mulanya, petugas yang mengangkat kantung-kantung jenazah tersebut, menyangka korban yang dimasukkan ke kantung jenazah sudah dalam kondisi tewas. Namun saat diperiksa, korban masih bergerak sehingga langsung dilarikan ke RSUD Cianjur.(fit)(Ricky Susan/Sindo/mbs)

Evakuasi Korban Bus di Cianjur Terhambat Alat

Senin, 2 Februari 2009 – 20:13 wib

CIANJUR – Proses evakuasi korban jatuhnya Bus Gagak Rimang di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur terus berlangsung. Gelapnya tempat diduga menghambat proses evakuasi para korban.

Pantauan di lapangan, Senin (2/2/2009), kurangnya pencahayaan membuat petugas kesulitan melakukan proses evakuasi. Untuk menambah cahaya, petugas menyalakan lampu sorot dari mobil Derek.

Namun hal tersebut masih belum cukup, pasalnya dalamnya jurang yakni 30 meter tidak memadai pencahayaan. Petugas penyelamat juga kekurangan kantong mayat dan alat tandu untuk mengevakuasi korban yang selamat maupun meninggal.

Sementara itu, sejumlah ambulans dari sejumlah rumah sakit terdekat dikerahkan. Setidaknya ada belasan ambulans berjaga di lokasi kejadian.

Belum ada informasi berapa jumlah korban selamat dan meninggal, karena seluruh korban langsung dibawa ke RSUD Cianjur. Pantauan lapangan, baru satu orang yang terlihat tidak bernyawa.

Hingga kini, belum ada informasi apa penyebab jatuhnya bus tersebut. Akan tetapi sejumlah saksi mata mengatakan, rem blong diduga sebagai pemicu jatuhnya bus. (Ricky Susan/Sindo/kem)

Sopir Mengantuk Penyebab Jatuhnya Bus di Cianjur

Senin, 2 Februari 2009 – 20:59 wib

CIANJUR – Penyebab jatuhnya Bus Gagak Rimang di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur masih diselidiki petugas kepolisian. Namun saksi mata mengatakan bus masuk jurang diduga akibat sopir mengantuk.

“Saat berada 100 meter sebelum posisi jatuh, bus berjalan sangat lambat sekira 20-30 kilometer perjam. Saat belokan pertama bus berhasil berbelok. Namun saat belokan ke dua, bus malah berjalan lurus,” kata Zaenuddin (40) warga sekitar saat ditemui di lokasi, Senin (2/2/2009).

Selain itu, lanjut Zaenuddin, faktor licin jalan juga ditenggarai turut membantu jatuhnya bus tersebut. “Kondisi di sini sedang hujan dan licinnya jalan juga turut membantu jatuhnya bus,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolres Cianjur AKBP Rahmat Hidayat mengatakan, pihaknya hingga kini masih menyelidiki penyebab jatuhnya bus bernopol Z 7640 TA itu.

“Kita masih melakukan penyelidikan dan proses evakuasi masih berlangsung, kita mencoba terus mencari dan mengangkat korban yang selamat dan meninggal. Ditambah medan cukup berat dan gelap cuaca, menghambat evakuasi korban,” tuturnya. (Ricky Susan/Sindo/kem)

Inilah Nama Korban Selamat & Tewas Bus di Cianjur

Senin, 2 Februari 2009 – 21:42 wib

CIANJUR – Petugas berhasil melakukan proses evakuasi terhadap korban tewas dan selamat dalam insiden jatuhnya Bus Gagak Rimang di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Berikut nama-nama korban selamat dan tewas yang berhasil dikumpulkan di lapangan, Selasa (2/2/2009):

Deden (32), Girimukti, Garut

Sudarsono (Sopir), Kuningan

Wawan Juanda (49), Kecamatan Ciamis

Yani (16), kampung sasak Tegal

Andi Andriana (22), Depok

Siti Laela (50), Citepus III

Aulia Puteri (21), Mahasiswa, Margahayu, Bandung

Kosasih (21), Mahasiswa, Bogor

Hartian Pasori (39), Mahasiswa Kedokteran Unpad, Cimahi, Bandung

Bahrudin (39), CPNS

Imam Mardiana (31) kondektur, Cibeber, Cianjur

Dedi Saputra (30) Cimahi, Bandung

Euis Kurinasih (57) kira condong Bandung (luka berat)

Korban tewas

Mujiono (50), Cemplak, Kecamatan Bogor Barat

Sementara itu, akibat proses evakuasi arus lalulintas di kilometer delapan Kecamatan Cugenang, arah Bandung dan Bogor padat merayap. Setidaknya, terlihat penumpukan kendaraan sepanjang dua kilometer. (Ricky Susan/Sindo/kem)

Korban Bus di Cianjur Dapat Santunan Rp25 Juta

Selasa, 3 Februari 2009 – 01:38 wib

JAKARTA – Insiden jatuhnya Bus Gagak Rimang di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin malam menimbulkan korban jiwa. Perusahaan bus dan pun mengaku siap memberikan bantuan.

Hal ini diungkapkan salah seorang pengurus Bus Gagak Rimang, Purnama (50) saat ditemui wartawan di lokasi kecelakaan, Senin (2/2/2009).

“Dari asuransi kecelakaan juga biasanya ada santunan. Untuk korban meninggal dunia sebesar Rp25 juta, dan yang korban luka mendapatkan santunan sebesar Rp10 juta. Pihak perusahaan juga akan mengupayakan memberikan santunan bagi para korban,” kata Purnama.

Dia mengaku, pihaknya belum mengetahui apa penyebab jatuhnya bus nopol Z 7640 TA itu  “Memang ada beberapa kemungkinan, tetapi lebih baik tunggu saja hasil penyelidikan,” tegasnya.

Dalam insiden ini, sebanyak 15 orang terluka dan satu orang meninggal. Empat korban luka di antaranya terpaksa dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung karena mengalami luka serius. Penyebab jatuhnya bus ini masih simpang siur. (Ricky Susan/Sindo/kem)

Update Nama Korban Kecelakaan Bus di Cianjur

Selasa, 3 Februari 2009 – 03:36 wib

JAKARTA – Jatuhnya Bus Gagak Rimang jurusan Bandung-Bogor di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin malam mengakibatkan 15 orang luka-luka dan satu orang tewas. Empat di antara korban luka harus dirujuk ke RS Hasan sadikin Bandung.

Berikut update nama-nama korban yang dihimpun di lapangan, Selasa (2/2/2009):

Korban meninggal dunia
Mujiono (45), warga Kampung Simpang Baru, Blok D2 RT 3/10, Cilendek Bogor.

Korban selamat:
Kosasih (21), Mahasiswa warga Kabupaten Bogor,
Hartian Pansori (39), Mahasiswa kedokteran Unpad, warga Kota Cimahi,
Bahrudin (39), warga Cipanas, Cianjur,
Iman Mardiana (25), Kernet warga Cibeber, Kab Cianjur. (dirujuk ke RSHS Bandung),
Dedi Saputra (30), warga Kota Cimahi,
Euis Kurniasih (57), warga Kiara Condong, Kota Bandung,
Siti Jubaedah (50), warga Citepus III, Kabupaten Bandung,
Aulia Putri (21), warga Margahayu, Kab Bandung,
Wawan Juanda (54),  warga Kec Ciamis,
Deden (32), warga Girimukti, Kab Garut. (dirujuk ke RSHS Bandung),
Andri Ardiana (22), Depok,
Ihsan (22) warga Bogor,
Yani (16), warga Kampung Kahuripan, Tegal, Jawa Tengah (dirujuk ke RSHS Bandung),
Ny X (55) (dirujuk ke RSHS Bandung),
Darsono (45) warga Kampung Dusun Sindang RT12/3, Kab Kuningan. (sopir) (belum diketahui keberadaannya). (Ricky Susan/Sindo/kem)

Tujuh Korban Bus Gagak Rimang Dirujuk ke RSHS

Selasa, 3 Februari 2009 – 10:37 wib

BANDUNG Jumlah korban luka berat akibat kecelakaan bus Gagak Rimang di Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, yang dirujuk dari RSUD Cianjur ke RS Hasan Sadikin berjumlah tujuh orang.

Mereka adalah Iman (20), Yani (16), dan Dede Kusnadi (24), ketiganya warga Kabupaten Cianjur. Kemudian Iksan (19) warga Bogor, Juju (56) warga Kiaracondong Kota Bandung, Euis (50) warga Bogor, dan Andi (22) warga Geger Kalong Kota Bandung.

Dari ketujuh korban luka berat yang rata-rata menderita luka patah tulang tersebut, pihak rumah sakit baru melakukan operasi terhadap Iman, sedangkan enam pasien lainnya masih berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), sejak tiba pukul 01.00 WIB dinihari tadi.

Menurut sejumlah dokter jaga yang menangani pasien korban kecelakaan bus Gagak Rimang, enam pasien yang masih berada di IGD belum bisa dipastikan masuk ke ruang perawatan karena masih dalam proses resusistasi dan observasi, melihat perkembangan dari luka yang diderita keenam pasien tersebut.

Kepala IGD RSHS Bandung yang menangani korban kecelakan di Cianjur mengatakan  belum dapat memastikan sebab luka patah tulang tersebut.

Salah satu korban yang berhasil ditemui, Andi (22) mahasiswa semester VI Universitas Indonesia Depok, mengatakan bus Gagak Rimang yang berangkat dari Terminal Leuwipanjang Bandung pukul 15.30 WIB Senin 2 Februari 2009 itu berangkat dalam keadaan tidak terlalu penuh.

Menurut dia hanya ada sekitar 20-30 penumpang yang menaiki bus jurusan Bandung Bogor tersebut.

Andi naik ke bus tersebut karena kernet mengatakan bus akan melalui Tol Cipularang, namun saat berada di atas bus, ternyata diketahui bahwa bus tersebut memang memiliki trayek melalui Cipanas.

Setengah jam setelah keluar dari Terminal, menurut Andi sopir bus sempat memarkirkan bus di rumah makan di daerah bawah Puncak Cianjur.

Menurut dia kecelakaan terjadi pada pukul 18.10 WIB, saat posisi bus menanjak di tikungan tajam Desa Cibereum Kecamatan Cugenang. Bus masuk ke jurang sebelah kanan.

“Tiga kali bus terguling sebelum akhirnya jatuh ke jurang,” ujar Andi.

Andi mengaku terpental ke luar dari bus dan tersangkut di pohon bambu. Andi baru dievakuasi sekira satu jam kemudian oleh warga dan petugas. Saat kejadian cuaca di daerah Cugenang hujan rintik-rintik.

Andi yang mengalami robek pada kaki sebelah kanan di bagian betis dibawa oleh warga setempat pukul 20.00 WIB ke RSUD Cianjur. Andi hanya mendapat pertolongan pertama kemudian di rujuk ke RSHS Bandung pukul 23.00 WIB.

Hingga saat ini menurut dia belum mengetahui apakah pihak PO Bus Gagak Rimang akan menanggung biaya pengobatannya atau biaya tersebut ditanggung pihak lain seperti PT Jasa Raharja. (fit)

Korban Bus Masuk Jurang Dimakamkan

Selasa, 3 Februari 2009 – 11:08 wib

BOGOR – Mudjiono, korban tewas akibat bus Gagak Rimang masuk jurang di Cianjur, Jawa Barat kemarin petang, siang ini dimakamkan pihak keluarga di TPU Blender Tanah Sareal Kota Bogor. Mudjiono menjadi satu satunya korban yang tewas akibat kecelakaan tersebut.

Suasana duka menyelimuti kediamannya di Perumahan Cemplang Baru, Cilendek, Kota Bogor, Selasa (3/2/2009). Saat upacara pemakaman berlangsung, hujan pun sempat mengguyur.

Isak tangis menyelimuti suasana duka di rumah keluarga Mudjiono bin Ruwandi Wiroutomo. Sanak famili dan kerabat korban terus berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban.

Karyawan sebuah perusahaan asuransi ini menjadi satu satunya korban tewas setelah bus Gagak rimang terjungkal dan masuk jurang sedalam 100 meter. Almarhum menumpang bus nahas itu untuk pulang setelah menjalankan tugas kedinasannya di Bandung.

Korban meninggalkan seorang istri bernama Sari, dan tiga orang anaknya yakni Ika Melasari, Budi Prasetyo serta Dini Ramadhani. (Endang Gunawan/Global/fit)

Sopir Bus Maut Ditemukan Bersembunyi di Kuningan

Selasa, 3 Februari 2009 – 19:45 wib

CIANJUR – Sopir bus Gagak Rimang Z 7640 TA jurusan Bandung-Bogor, yang terjun bebas ke jurang sedalam sekitar 100 meter, di Jalan Raya Cugenang KM 8, tepatnya di Kampung Pos, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Senin malam (2/2) lalu, ditemukan.

Sempat sebelumnya, petugas kepolisian Polres Cianjur memburu sopir bus Gagak Rimang, Darsono (45), warga Desa Dusun Sindang, Kabupaten Kuningan, yang diduga melarikan diri.

Namun, Selasa (3/2) tadi, petugas kepolisian dalam pencarian tersebut membuahkan hasil. Keberadaan Darsono, akhirnya diketahui sudah berada di daerah kediamannya di Kuningan dan tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit 45 Kuningan.

Hal tersebut dibenarkan Kapolres Cianjur AKBP Rahmat Hidayat. Dia mengatakan, pihaknya menduga sopir tersebut masih berada di area lokasi kejadian. Namun setelah dilakukan penyisiran sejak terjadinya peristiwa tersebut, Darsono tidak ditemukan.

Sehingga, jajaran Polres Cianjur langsung melakukan pemburuan kesejumlah tempat, seperti pengobatan termasuk rumah sakit di luar daerah.

“Kami langsung melakukan penyisiran, dan mendapat info dari RS Bogor, bahwa pasien yang bernama Darsono sempat dirawat di RS Bogor, namun sudah dibawa ke RS 45 Kuningan. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata benar, Darsono tengah berbaring di RS tersebut,” ungkap Rahmat.

Rahmat menjelaskan, Darsono mengalami luka cukup parah, di antaranya patah tulang rusuk kiri dan kanan. Dan saat ini yang bersangkutan menjalani perawatan di Rumah Sakit 45 Kuningan.

Sementara itu, proses evakuasi bangkai bus AC Gagak Rimang Jurusan Bandung-Bogor, masih sedikit mengalami hambatan. Selain jurang yang cukup dalam, penyebab hambatan evakuasi dikarenakan kondisi cuaca kurang begitu mendukung. Sehingga, para petugas yang jumlahnya mencapai sekitar 150 orang, cukup kesulitan mengangkat bangkai bus dari dasar jurang.

Hingga pukul 17.00 WIB, bangkai bus baru terangkat sekitar 20 meter dari dasar jurang. Proses evakuasi menggunakan empat unit kendaraan derek, termasuk kendaraan derek yang didatangkan dari Sukabumi. Sulitnya proses evakuasi, diperparah pula dengan banyaknya warga yang memadati lokasi kejadian. Akibatnya, arus kendaraan pun mengalami hambatan.

Menurut Kapolres Cianjur, AKBP Rahmat Hidayat, kondisi cuaca yang berubah-ubah cukup menyulitkan proses evakuasi bangkai bus. Sehingga, proses evakuasi tidak bisa dilakukan dengan segera.

“Kalau hujan reda, kita usahakan kembali mengavakuasi bangkai bus itu. Tapi kalau hujan kembali turun, terpaksa kita hentikan dahulu. Ini cukup membuat kita kesulitan mengevakuasinya,” terang Rahmat.

Kapolres mengatakan, dalam proses evakuasi itu diterjunkan sebanyak 150 petugas dibantu empat unit mobil derek, termasuk bantuan dari Sukabumi. Kendati begitu, keberadaan mobil derek tersebut tidak cukup membantu cepatnya proses evakuasi.

“Hal itu dikarenakan medan yang cukup terjal dan kondisi cuaca yang tidak stabil,” tambahnya.

Hingga saat ini, Kapolres pun belum bisa menyimpulkan penyebab terjadi terjun bebasnya bus yang menewaskan satu orang penumpangnya tersebut. Pihaknya mengaku, masih menunggu keterangan dari pengemudi bus, Darsono (45), yang saat ini masih dalam perawatan karena mengalami luka.

“Kita masih terus melakukan penyelidikan, dan menunggu keterangan dari pengemudi yang saat ini tengah menjalani perawatan,” ungkapnya. (Ricky Susan/Sindo/fit)

Leave a comment

Filed under Public Transportation, Traffic Safety

Pikap Ditabrak Bus, 2 Tewas 8 Luka

Selasa, 27 Januari 2009 – 16:19 wib,

TEGAL – Dua orang tewas seketika dan delapan lainnya luka akibat mobil pikap Suzuki Carry hitam G 1826 LE yang mereka tumpangi ditabrak sebuah bus di depan rumah makan Roni tepatnya di jalur Tegal Purwokerto, Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, pukul 04.30 WIB, Selasa (27/1/2009).

Korban tewas yakni, Kaeriyah (43), dan Kusnaeni (39), keduanya warga Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi. Sedangkan korban luka, yakni Nur Srihati (45), Warsinah (50), Kasri (45), Ratinah (52), Sunarti (58), dan Tasmi (60), semuanya warga Dukuhsalam.

Selain itu, sopir mobil pikap Karyoto (37), dan Sugiarti (58), keduanya warga Dukuhwringin, Kecamatan Slawi.

Ke delapan korban luka masih menjalani perawatan intensif di bangsal Bougenville RSUD Dr Soeselo Slawi. Sedangkan dua korban tewas sudah dimakamkan pihak keluarga di pemakaman umum desa setempat.

Hingga saat ini, polisi masih melacak keberadaan bus yang menabrak mobil rombongan pedagang itu. Pihak Satlantas Polres Tegal sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menghentikan bus tersebut.

Insiden terjadi saat rombongan pedagang baru saja naik mobil pikap. Mereka hendak berbelanja di Pasar Trayeman Slawi. Dari arah selatan, mendadak muncul sebuah bus yang melaju kencang. Sopir bus yang belum diketahui identitasnya itu diduga mengantuk sehingga menabrak mobil yang ditumpangi rombongan pedagang tersebut hingga terbalik.

“Kami sudah naik dan mobil baru mau jalan. Tiba-tiba bus dari arah selatan langsung menabrak mobil yang kami tumpangi hingga terbalik,” kata Kasri (45), salah satu penumpang yang selamat dari insiden tersebut.

Menurut dia, saat kejadian ia bersama enam pedagang lain hendak berbelanja di Pasar Trayeman Slawi. Dia mengaku sudah rutin menumpang kendaraan bak terbuka setiap kali pergi belanja di pasar.

“Saya biasa dan langganan naik mobil ini (pikap). Sebab, kalau pagi angkutan belum ada,” ujarnya. (Kastolani/Sindo/fit)

Leave a comment

Filed under Traffic Safety

Bus Kramat Jati Masuk Jurang di Garut

(Foto: Mansyur Hidayat/ detikcom)
Sumber berita :

Senin, 26/01/2009 05:52 WIB
Bus Kramat Jati Masuk Jurang di Garut
Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – Bus Kramat Jati masuk jurang di Malangbong, Garut. Peristiwa itu terjadi Senin (26/1/2009) di pagi buta, pukul 04.00 WIB.

“Iya, di daerah Lewo, Kecamatan Malangbong,” ujar petugas bantuan jaga Polsek Malangbong, Ahmad, ketika dihubungi detikcom hari ini, pukul 05.45 WIB.

Menurut dia, semua petugas sedang menuju ke lapangan. Ahmad juga belum mengetahui apakah ada korban jiwa yang timbul dalam kecelakaan ini.

“Korban sudah ada yang dibawa ke Puskesmas Malangbong,” ujarnya. (nwk/nwk)

Senin, 26/01/2009 06:07 WIB
Bus Kramat Jati Masuk Jurang di Garut
Banyak Korban Luka Parah, 1 Orang Dikabarkan Tewas
Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – Bus Kramat Jati yang masuk jurang di Malangbong, Garut memakan korban sedikitnya 1 orang tewas. Sekitar 7 korban lainnya yang dibawa ke Puskesmas Malangbong luka parah.

Informasi ini dihimpun dari karyawan Puskesmas Malangbong Ujang yang dihubungi detikcom, Senin (26/1/2009) pukul 06.00 WIB.

“Barusan 7 orang (yang dibawa ke Puskesmas). Masih menunggu yang lain,” ujar Ujang.

Ketika ditanya ada atau tidaknya korban jiwa, Ujang mengatakan,”Baru tahu 1 orang (yang tewas). Banyak yang luka parah,” imbuh dia.

Menurut informasi yang didapatnya, jurang tempat Bus Kramat Jati itu terjatuh cukup dalam. “Ini baru dalam penindakan,” tandas Ujang. (nwk/nwk)

Senin, 26/01/2009 07:19 WIB
Bus Kramat Jati Masuk Jurang di Garut, Korban Tewas Jadi 4 Orang
Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – Korban Kramat Jati yang masuk jurang di Malangbong, Garut yang sudah dievakuasi ke Puskesmas Malangbong sudah 25 orang. 4 Orang di antaranya sudah meninggal.

“Sementara yang terdaftar di Puskesmas 25 orang, meninggal 4 orang. Ada 4 orang lagi yang tergencet di badan bus,” ujar petugas Polsek Malangbong Aiptu Budiono ketika dihubungi detikcom, Senin (26/1/2009).

Budiono mengatakan tidak tahu persis berapa orang penumpang yang terdapat di bus Kramat Jati itu.

“Belum tahu persis. Karena lokasinya jauh dari lokasi,” ujarnya.

Bus Kramat Jati masuk jurang di Malangbong, di daerah Lewo, hari ini sekitar pukul 04.00 WIB. Hingga pukul 07.15 WIB, evakuasi korban dan bus masih dilakukan. (nwk/nwk)

Senin, 26/01/2009 07:31 WIB
Bus Kramat Jati Masuk Jurang Kedalaman 100 M di Garut
Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – Bus Kramat Jati yang masuk jurang di Malangbong, Garut masih dalam proses evakuasi. Bus itu masuk dalam jurang yang dalamnya 100 meter.

“Infonya, busnya masuk ke sawah, kurang lebih 100 meter dari jalan raya,” ujar petugas Polsek Malangbong Aiptu Budiono ketika dihubungi detikcom, Senin (26/1/2009).

Hingga pukul 07.15 WIB, masih dilakukan evakuasi 4 korban yang menurutnya tergencet badan bus. Sedangkan alat derek, imbuh dia, masih lama untuk datang ke lokasi.

“Memanggil alat derek kurang lebih dua jam,” kata dia.

Lalu lintas di sekitar lokasi, terpantau masih mengalir dan tidak macet.

Bus Kramat Jati masuk jurang di daerah Lewo, Malangbong, hari ini sekitar pukul 04.00 WIB. (nwk/nwk)

Senin, 26/01/2009 08:08 WIB
Bus Kramat Jati Masuk Jurang di Garut
Korban Luka Berat Dirujuk ke RS di Bandung dan Tasikmalaya
Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – Korban luka berat Bus Kramat Jati yang jatuh ke jurang di Malangbong, Garut dirujuk ke RS di Bandung dan Tasikmalaya. Rata-rata korban luka berat mengalami luka di kepala, patah pinggang dan patah kaki.

Demikian disampaikan petugas Puskesmas Malangbong, Budi ketika dihubungi detikcom, Senin (26/1/2009).

“Korban luka berat sudah dirujuk, rata-rata ke RS di Bandung. Ada yang ke Tasik,” ujar dia.

Sedangkan yang luka ringan, imbuh dia, masih ada 10 orang yang dirawat di Puskesmas. “Mereka dijahit karena luka sobek,” imbuh dia.

Total yang dilarikan di Puskesmas Malangbong, sekitar 23 orang, termasuk 4 orang korban tewas. (nwk/nwk)

Senin, 26/01/2009 10:07 WIB
Kramat Jati Terjun ke Jurang
Korban Tewas 6 Orang, Luka-luka 30 Orang
Mansyur Hidayat – detikNews

Garut – Korban jiwa akibat kecelakaan bus yang masuk jurang di Garut merangkak naik. Perkembangan terakhir, jumlah penumpang yang tewas mencapai 6 orang.

“Jumlah penumpang ada 36 termasuk awak bus. 6 meninggal, 30 luka,” kata Kapolres Garut AKBP Rusdi Hartono di lokasi kejadian, Jl Raya Malangbong, Kampung Pangkalan Lewo, Sukaratu, Garut, Senin (26/1/2009).

Semua korban tewas dan luka-luka sudah berhasil dievakuasi dari jurang berkedalaman 200 meter itu. Korban tewas ditampung di Puskesamas Malangbong yang berjarak 6 km dari lokasi kecelakaan, sementara korban luka-luka sebagian dibawa ke Puskesmas Limbangan.

Belum ada informasi resmi tentang identitas para korban tewas atau selamat. Namun 2 korban tewas yang terakhir dievakuasi mengenakan berjenis kelamin perempuan dengan usia masing-masing berkisar 35 dan 17 tahun.

Bus Kramat Jati B 7859 AC rute Bandung-Wonogiri terjun bebas ke dalam jurang sekitar pukul 04.30 WIB. Belum ada keterangan penyebab kecelakaan, tetapi cuaca pada saat itu cukup cerah, tanpa kabut yang dapat menghalangi pandangan. (gah/nwk)

Senin, 26/01/2009 10:54 WIB
Kramat Jati Terjun ke Jurang
Tak Ada Jejak Pengereman di Aspal
Mansyur Hidayat – detikNews

Jakarta – Penyebab kecelakaan Bus Kramat Jati yang terjun ke jurang masih belum diketahui. Namun fakta di lapangan menunjukkan tidak ada bekas rem di aspal jalan dekat lokasi kecelakaan.

Pantauan detikcom, Senin (26/1/2009), tidak terlihat ada bekas gesekan ban dengan aspal di jalan yang mengarah ke dalam jurang.

Bus seolah-seolah nyelonong begitu saja ke dalam jurang. Padahal jika sopir sempat mengerem, maka akan ada bekas ban di aspal.

Lokasi kecelakaan memang rawan kecelakaan. Tidak tampak adanya pagar pengaman untuk mencegah kendaraan jatuh ke jurang.

Bus Kramat Jati jurusan Bandung-Wonogiri B 7859 AC jatuh ke jurang yang terletak di Jl Raya Malangbong, Kampung Pangkalan Lewo, Sukaratu, Garut, pukul 04.30 WIB. Pada saat itu bus tengah dalam perjalanan dari Tasik menuju Bandung.

Lalu tanpa diketahui alasannya, bus naas itu terjun ke dalam jurang dengan kedalaman 200 meter. Setelah berguling-guling, akhirmua bus terdampar di dasar jurang dengan posisi miring.

Senin, 26/01/2009 14:28 WIB
Bus Kramat Jati Masuk Jurang
6 Korban Tewas Dimandikan di Puskesmas Malangbong
Mansyur Hidayat – detikNews

Garut – 6 Korban tewas dalam kecelakaan bus Kramat Jati di Malangbong telah dimandikan di Puskesmas Malangbong, Garut, Jabar. Petugas masih menunggu jenazah diambil oleh pihak keluarga.

6 Korban itu adalah sopir bus, Jajang Saeful (45), dan penumpang bus, yakni Muhammad Imam Guzaedi (44), Tukimun (40), Winarsih (37), Karina (14), dan Sisyam (70).

Sementara itu 11 orang mengalami luka berat dan 11 orang lainnya mengalami luka ringan. Korban luka berat telah dirujuk ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan RSUD Tasikmalaya, termasuk kernet bus, Hartono (40), yang menderita patah tangan dan luka-luka di wajah.

Hingga pukul 14.00 WIB, Senin (26/1/2009), proses evakuasi bus Kramat Jati masih berlangsung dengan menggunakan dua buah derek. Kedalaman jurang setinggi 200 meter membuat proses evakuasi menjadi sulit.

Masyarakat masih berkerumun di sekitar lokasi. Akibat kecelakaan ini petugas terpaksa memberlakukan sistem buka tutup di Jl Raya Malangbong arah ke Bandung dan Tasikmalaya. Walau tidak macet total, antrean panjang sempat terjadi. (rdf/sho)


Filed under Public Transportation, Traffic Safety