Category Archives: Water Transport

KM Teratai Prima, KNKT Temukan Fakta Baru

Jum’at, 30 Januari 2009 – 14:12 wib

JAKARTA – Ada fakta baru tentang tenggelamnya KM Teratai Prima di perairan Majene Sulawesi Barat 11 Januari lalu. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan dua fakta tersebut adalah adanya perubahan mesin dan peralatan keselamatan di kapal disimpan dalam keadaan terkunci.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan, KM Teratai Prima mengalami perubahan mesin di luar standar kapal yakni dari 1.500 pk menjadi 2 x 500. “Selain itu, nahkoda menjalankan kapal dengan kecepatan tinggi di tengah kondisi cuaca yang buruk,” kata dia kepada wartawan, usai menghadiri peresmian pusat kajian strategis TNI di Jakarta, Jumat (30/1/2009).

Tatang mengatakan, kondisi cuaca memang tidak mendukung. Nahkoda kapal dan ASDP tidak secara tegas melarang nahkoda untuk tidak berlayar. Fakta lain adalah peralatan keselamatan penumpang yang diimiki KM Prima dalam pposisi terkunci atau dipatenkan.

Agar kejadian ini tak lagi terulang, Tatang mengimbau kepada seluruh perusahaan pelayaran dan ASDP supaya menempatkan instrumen peralatan keselamatan di luar atau di buritan kapal sesuai standar yang dilakukan.

“Demikian pula kepada petugas pelabuhan untuk secara tegas menegur dan tidak memberi toleransi kepada kapal-kapal yang tidak mengindahkan sistem yang telah distandarisasi,” pungkasnya.
(Sukmo Wibowo/Trijaya/nov)

Sumber : okezone.com

Leave a comment

Filed under Water Transport

KM Teratai Prima Tenggelam, Ditjen Hubla Sidak KM Teratai Prima Dua

Kamis, 29/01/2009 23:03 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
Ditjen Hubla Sidak KM Teratai Prima Dua

Saud Rosadi – detikNews

Samarinda – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) melakukan inspeksi mendadak (sidak) KM Teratai Prima Dua yang bersandar di Pelabuhan Samarinda dari Pare-pare Sulawesi Selatan. Selain melakukan pemeriksaan di setiap sudut kapal, tiga orang utusan Ditjen Hubla yang ditemani pemilik kapal H Saraping, juga melakukan pemeriksaan dokumen manifest penumpang dan barang.

Pantauan detikcom, Kamis, (29/1/2009), KM Teratai Prima bersandar di Pelabuhan Samarinda sekitar pukul 17.30 Wita dengan membawa 310 orang penumpang dan 500 ton barang. Berselang 30 menit kemudian, 3 orang Ditjen Hubla berpakaian dinas Departemen Perhubungan bersama dengan 2 orang pegawai Administrator Pelabuhan (Adpel) Samarinda, berada di dalam KM Teratai Prima Dua.

Ketiga orang Ditjen Hubla yang salah satunya diketahui dari bad nama bernama Bakrie, terlihat memeriksa 4 dek kapal. Pemeriksaan selesai dilakukan sekitar pukul 19.00 Wita. Kendati demikian, tidak ada satupun dari mereka yang bersedia memberikan penjelasan terkait pemeriksan yang dilakukannya.

“Tidak, tidak ada pemeriksaan. Santai saja,” kata Bakrie, salah seorang pegawai Ditjen Hubla kepada detikcom.

Disinggung lebih jauh,apakah pemeriksaan yang dilakukan terkait pasca tenggelamnya KM Teratai Prima di Perairan Majene Sulawesi Barat, Minggu (11/01/2009) lalu, Bakrie lagi-lagi tidak memberikan penjelasannya.

“Tidak ada. Kami di sini hanya jalan-jalan,” ujar Bakrie.

Detikcom terus mencecar pertanyaan kepada pegawai Ditjen Hubla tersebut hingga ke kantor Adpel Samarinda di Jl Yos Sudarso yang berjarak sekitar 100 meter dari Pelabuhan Samarinda. Ketika ditanya apakah pemeriksaan kali ini juga dilakukan sebelum insiden KM Teratai Prima tenggelam, Bakrie tetap saja tidak memberikan penjelasannya.

“Saya ke sini kebetulan melihat kapal ini datang. Sebenarnya saya dari Bontang (Kaltim). Karena melihat kapal datang, sekalian saja saya melihat-lihat kapal itu,” terang Bakrie.

Informasi yang dihimpun detikcom menyebutkan, Ditjen Hubla berada di Samarinda sejak Rabu (28/01/2009) kemarin. Selama di Samarinda, mereka melakukan pengecekan ke galangan kapal KM Teratai Prima, KM Teratai Prima Sat serta KM Teratai Prima Dua yang berada di kawasan Kecamatan Samarinda Seberang dan kawasan Kecamatan Sungai Kunjang.

Dengan demikian, kedatangan pejabat pusat ke Samarinda pasca tenggelamnya KM Teratai Prima, adalah keduakalinya setelah sebelumnya dilakukan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terhadap Adpel Samarinda. Ketika dikonfirmasi, Bakrie bersikeras tidak memberikan penjelasannya.

“Siapa yang bilang? Nggak kok, kami baru hari ini di Samarinda,” kilah Bakrie.(rdf/rdf)

Sumber : detiknews.com


Leave a comment

Filed under Water Transport

Musibah KM Teratai, Pemecatan Adpel Dinilai Tepat

Musibah KM Teratai, Pemecatan Adpel Dinilai Tepat

Sabtu, 24 Januari 2009 – 09:00 wib

JAKARTA – Pengamat Transportasi dari Forum Kordinator Keselamatan Transportasi Heru Sutomo menilai tindakan pencopotan dua Administrator Pelabuhan (Adpel) Samarinda dan Parepare terkait peristiwa tenggelamnya KM Teratai Prima di perairan Majene 11 Januari 2009 lalu adalah langkah tepat.

“Adpel Samarinda Sudiyono dan Adpel Parepare Nurwahidah, memang sudah sepantasnya untu dinonaktifkan, karena mereka sudah menyalahi aturan procedural,” ujar, Heru Sutomo kepada Okezone, via telepon (24/1/2009).

Dikatakan olehnya seorang adpel secara prosedur seharusnya tahu kapan waktu aman untuk berlayar dan kapan waktu yang tidak aman untuk berlayar, dan dia berhak dan harus mencegah jika ternyata kondisi tidak aman.

“Sangat mungkin bagi dia untuk bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal KM Teratai, kalau dia tidak memperhatikan informasi laut dari CMC, maka dia membuat kontribusi terhadap kecelakaan,” tegasnya.

CMC atau Celebes Mina Certification adalah suatu lembaga yang melakukan perkiraan harian tinggi gelombang, yang berguna bagi para awak kapal terutama adpel guna menentukan kebijakan diberangkatkan atau tidaknya sebuah kapal untuk berlayar.

Dijelaskan pula olehnya, penyebab dalam kecelakaan kapal bisa dua hal, penyebab secara prosedural dan penyebab secara teknis yang menyangkut kondisi kapal dan terkait dengan pemilik kapal. Dan keduanya harus sama-sama bertanggung jawab dalam kecelakaan tersebut.

Diketahui sebelumnya, Dephub meonaktifkan 2 adpel yaitu Adpel Samarinda Sudiyono dan Adpel Parepare Nurwahidah, yang merupakan adpel aktif saat insiden KM Teratai yang menyebabkan hilangnya ratusan orang di perairan Majene.(fit) (mbs)

Sumber : okezone.com

Leave a comment

Filed under Water Transport

Nahkoda KM Teratai Prima Jadi Tersangka

Senin, 19 Januari 2009 – 15:10 wib

PAREPARE – Nahkoda KM Teratai Prima, Sabir (40) resmi ditetapkan oleh Mapolwil Parepare sebagai tersangka dalam kasus tenggelamnya KM Teratai Prima di Perairan Majene Sulawesi Barat.

Kapolwil Parepare Kombes Pol Roeslan Nicola menyebutkan, berdasarkan keterangan dan bukti-bukti yang didapatkan dalam pemeriksaan selama satu minggu terakhir, Sabir diduga melakukan kelalaian sehingga KM Teratai Prima tenggelam di sekitar Tanjung Batu Roro Majene Sulbar.

Dijelaskan Roeslan, akibat kelalaian nahkoda itu, KM Teratai Prima tenggelam dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

“Dia diancam dengan pasal 359 KUHP tentang perbuatan lalai yang mengakibatkan matinya orang lain. Akibat perbuatan itu, nahkoda diancam dengan hukuman penjara 5 tahun,” jelas Kapolwil.

Selanjutnya, Sabir yang hingga saat ini masih ditahan di Mapolwil Parepare, akan diperiksa sebagai tersangka dalam kasus tenggelamnya KM Teratai Prima. Disinggung soal kemungkinan adanya pihak lain yang akan dijadikan tersangka dalam kasus tersebut, Roeslan enggan memberi keterangan.

Sejauh ini, polisi telah memeriksa sejumlah anak buah kapal (ABK), yang namanya dirahasiakan oleh Mapolwil. Namun berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare pada Minggu pukul 11.30 Wita, tentang nama ABK yang selamat, atas nama Ahmad (40), Allang (17), dan Oppa (40).

Sejumlah jajaran pimpinan di Kantor Administrasi Pelabuhan Parepare, juga telah diperiksa oleh penyidik. Di antaranya Kepala Adpel Parepare Nurwahidah, Kepala Seksi (Kasi) Kelaiklautan Kapal Taufik Bulu, serta Kasi Lalu Lintas dan Kepelabuhanan Thomas Luther Biuk.

Penyidik juga telah memeriksa sejumlah agen yang menjual tiket KM Teratai Prima. “Untuk sementara hanya itu. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan selanjutnya. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk segera menyelesaikan kasus ini,” pungkas Roeslan.(M Syahlan/Sindo/nov)

Source : okezone.com

Leave a comment

Filed under Water Transport

KM Teratai Prima : 4 Kapal Dikerahkan untuk Tabur Bunga di Perairan Majene

Selasa, 20 Januari 2009 – 09:27 wib

PAREPARE – Pagi ini empat kapal dikerahkan untuk melakukan tabur bunga di sekitar perairan Majene, Sulawesi Barat. Empat kapal tersebut adalah KRI Kakap, KRI Untung Suropati, KN Alugara, dan KN Belibis.

Dalam rombongan tersebut, tampak Search Mission Coordinator Kol Laut (p) Jaka Santosa dan unsur Muspida Parepare serta pejabat Adpel Parepare. Puluhan keluarga korban juga ikut dalam acara tersebut.

Rencananya setelah tabur bunga di tengah laut, rombongan akan melakukan doa bersama untuk para korban KM Teratai Prima yang karam di perairan Majene pada Ahad 11 Januari 2009 itu.

“Ini merupakan rangkaian terakhir dari pencarian korban di perairan Majene berhubung hari ini misi pencarian akan dihentikan,” ujar Jaka Santosa, Selasa (20/1/2009).

Menurut Jaka Santosa selama tiga hari perpanjangan masa pencarian, timnya tidak menemukan satupun korban selamat ataupun tewas. Acara penutupan pencarian korban akan dilakukan sekira pukul 19.00 Wita.

Sejauh ini korban yang ditemukan selamat berjumlah 35 orang dan tidak satupun berjenis kelamin perempuan. Sedangkan korban meninggal yang ditemukan berjumlah 9 orang.

Berdasarkan manifes, saat nahas KM Teratai Prima berpenumpang 250 orang ditambah ABK sebanyak 17 orang. Dengan demikian, 224 orang belum diketahui nasibnya itupun belum termasuk hasil pendataan PT Asuransi Jasa Raharja yang mencatat 164 orang -penumpang yang tidak terdaftar dalam manifes. (M Syahlan/Sindo/fit)

Source : okezone.com

Leave a comment

Filed under Water Transport

Perkembangan Musibah KM Teratai Prima

Sumber berita : detik.com

Rabu, 14/01/2009 15:13 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
SBY: Ada Yang Ganjil
Anwar Khumaini – detikNews

akarta – Presiden SBY menduga ada keganjilan dalam musibah tenggelamnya KM Teratai Prima di perairan Majene, Sulawesi Barat. Kapal penumpang yang naas itu bisa mendapatkan izin berlayar padahal perangkat keselamatannya tidak layak.

“Saya melihat ada yang ganjil dalam masalah ini. Terimakasih atas gerak cepatnya, lanjutkan investigasi” kata SBY, Rabu (14/1/2009).

Dugaan tersebut dia sampaikan usai mendengar paparan Menhub Djusman Syafei Djamal tentang hasil peninjauannya ke lokasi kejadian. Pemaparan berlangsung di Kantor Dinas PU DKI Jakarta, Cideng, Jakarta.

Berdasar kesaksian yang dikumpulkan Menhub dari sejumlah korban selamat termasuk nakhoda kapal, diketahui KM Teratai Prima tidak kelebihan muatan. Kapal buatan 1999 tersebut juga dilengkapi dengan sekoci dan pelampung penyelamat dalam jumlah memadai.

“Tapi tidak dilengkapi keterangan lokasi dan cara penggunanya yang jelas. Sehingga sulit bagi penumpang mengenakan alat penyelamat pada saat kejadian,” ungkap Menhub.

Lebih lanjut Presiden meminta jajaran pemerintah daerah menjadikan musibah di Majene sebagai pelajaran. Mereka harus mewasdapai kelengkapan perangkat keselamatan alat transportasi di wilayah masing-masing, terlebih cuaca buruk akan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.

“Periksa semua perlengkapan pelampung dan sekoci penyelamat. Jangan beri izin (beroperasi) kalau belum lengkap. Jangan lunak dan permisif,” tandas SBY.(lh/iy)

Rabu, 14/01/2009 15:47 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
Tim SAR Dekati Lokasi Kuburan AdamAir
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Majene – Tim SAR masih terus mencari korban tenggelamnya KM Teratai Prima. Kini tim SAR mulai mendekati kuburan pesawat AdamAir. Lokasi pencarian berjarak 6 mil dari lokasi hilangnya pesawat naas tersebut.

“Pencarian di lokasi 6 mil dari jatuhnya AdamAir,” ujar Dirjen Perhubungan Laut Dephub Sunaryo di posko keluarga korban, Majene, Sulawesi Barat, Rabu (14/1/2009).

Sunaryo mengatakan, dalam tim tersebut, pihaknya sudah mengerahkan 7-8 kapal untuk mencari korban. Padahal biasanya dalam suatu kecelakan, yang dikerahkan hanya 2-3 kapal.

“Pihak kami tidak tanggung-tanggung untuk mengarahkan kapal dalam pencarian korban,” tegasnya.(gus/iy)

Rabu, 14/01/2009 16:08 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
Pemilik Kapal Terancam Dipenjara
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Majene – Sanksi berat akan dijatuhkan kepada pihak yang terkait tenggelamnya KM Teratai Prima di perairan Majene, Sulawesi Barat. Pemilik kapal terancam dipenjara. Sementara petugas Kantor Administrasi Pelabuhan bisa dipecat.

“Perusahaan ini kalau perlu kita cabut. Sanksi paling berat adalah pemilik perusahaan akan dipenjara karena lalai. Petugas Adpel yang terlibat dalam tragedi akan dipecat,” kata Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo di Majene, Sulawesi Barat, Rabu (14/1/2009).

Menurut Sunaryo, karena kelalaian pihak-pihak tersebut, banyak korban yang jatuh. Karena jumlah penumpang dalam manifes tercatat hanya 250 orang. Sementara banyak keluarga korban dan korban sendiri yang berhasil diselamatkan tapi namanya tidak terdaftar.

“Banyak korban yang tidak tercantum dalam manifes kami,” katanya.

Sunaryo mengatakan, dirinya sudah menemui KSAL Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno dan menjanjikan akan memberikan kapal khusus untuk pencarian korban.

“Kapal khusus yang punya kontak atau peralatan bawah air. Kedalaman lokasi terjadinya kapal tenggelam tersebut 1.800-2.000 meter,” jelasnya(gus/iy)

Rabu, 14/01/2009 16:13 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
103 Penumpang Tak Tercantum dalam Manifes Kapal
Anwar Khumaini – detikNews

Jakarta – 103 penumpang di KM Teratai Prima yang tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat, diduga ilegal. Dalam manifes kapal itu, hanya tercantum 250 orang penumpang.

“Ada 103 penumpang yang saat dicek tidak ada di manifes,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal saat memberikan penjelasan kepada Presiden SBY terkait kecelakaan tersebut di Kantor Dinas PU Provinsi DKI Jakarta, JK Taman Jati Baru, Jakpus, Rabu (14/1/2009).

Jusman mengaku belum bisa memastikan asal 103 orang  penumpang yang tidak berada dalam manifes tersebut.
“Timbul pertanyaan 103 orang itu, apakah ditambah dengan 250 atau nama di manifes tidak sama dengan yang dijual agen,” kata jusman.

Menurut Jusman, saat ini KNKT sedang melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan kapal itu. Beberapa penumpang yang selamat dari musibah itu ada yang terdampar di pulau-pulau kecil sekitar Majene.

Gelombang 5-7 Meter

Jusman menjelaskan saat terjadi kecelakaan, kapal dihantam gelombang yang tingginya mencapai 5-7 meter. Saat itu juga terjadi angin siklon tropis di daerah Nusa Ternggara Timur. “Angin ini juga mempengaruhi kekuatan gelombang tersebut,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Presiden SBY meminta kepada para nakhoda kapal dan pihak yang terkait dengan pelayaran untuk mematuhi peringatan BMG. Hal ini untuk mencegah terjadinya kecelakaan. (nal/iy)

Kamis, 15/01/2009 11:27 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
ABK Ruslan Selamat karena Suara Galon Air
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Majene – Salah seorang anak buah kapal (ABK) Ruslan yang selamat dari karamnya KM Teratai Prima di perairan Majene, Sulawesi Barat sudah diamankan polisi. Ruslan mengaku dirinya selamat karena suara galon air membangunkannya sebelum terjun ke laut saat kapal mulai tenggelam.

“Saya selamat karena terbangun oleh suara gaduh galon air yang menggelinding di sekitar kapal. Saat itu juga saya bangun dan melihat kapal sudah miring,” kata Ruslam di Polres Majene, Jl Jenderal Sudirman, Majene, Kamis (15/1/2009).

Ruslan mengatakan, saat sadar dari bangunnya, sudah banyak penumpang yang terjun ke laut untuk menyelamatkan diri. Tanpa berpikir panjang, dirinya langsung ikut loncat ke laut. Setelah di laut, beberapa sekoci sudah penuh dengan 6 orang. Sehingga dirinya berusaha berenang dan mencari sesuatu yang bisa dijadikan pelampung.

“Akhirnya ada kapsul sebesar bangku kursi. Saya jadikan pelampung. Saya akhirnya ketiduran di kapsul sampai nelayan menemukan saya terombang ambing. Kaki saya kram pas bangun,” ujarnya.

Ruslan akhirnya ditemukan nelayan pada Minggu 11 Januari 2009 pukul 07.00 WIB.(gus/iy)

Kamis, 15/01/2009 11:45 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
Ruslan, ABK Gelap yang Selamat
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Majene – Bertambah lagi satu orang penumpang gelap di KM Teratai Prima. Ruslan yang merupakan anak buah kapal (ABK) yang bertugas membagikan makanan kepada para penumpang juga tidak terdaftar dalam manifes.

“Meskipun tidak terdaftar dalam manifes tapi saya dibayar. Yang penting saya dibayar,” ujar Ruslan di Polres Majene, Jl Jenderal Sudirman, Majene, Kamis (15/1/2009).

Ruslan mengatakan, dirinya dibayar Rp 150.000 untuk tugas membagikan makanan kepada penumpang. Ruslan juga diberikan sebuah kamar. Namun kamar itu disewakannya untuk penumpang yang menginginkan.

Ruslan juga mempunyai kakak kandung, Rustam, yang bekerja sebagai juru mudi di kapal naas itu. Namun keberadaan Rustam saat ini masih belum diketahui. Karena itulah, Ruslan mengaku dirinya tidak melapor ke polisi karena ingin secepatnya memberitahukan kondisi kakaknya ke keluarga.

“Karena saya ingin bertemu dengan orangtua untuk memberitahukan soal Rustam yang masih belum ditemukan,” jelasnya.(gus/iy)

Kamis, 15/01/2009 15:09 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
4 Korban Tewas Ditemukan, Tubuhnya Rusak
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Pare-pare – Sedikitnya 4 korban tewas korban KM Teratai Prima yang tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat, ditemukan oleh kapal KRI Untung Suropati. Kondisi mayat sudah rusak.

Mayat itu adalah jasad laki-laki tanpa identitas berusia 40 tahun. 2 Mayat perempuan masing-masing berusia 30 tahun, dan 1 mayat bocah cilik yang belum diidentifikasi jenis kelaminnya.

4 Mayat tersebut ditemukan di 50 mil arah Selatan dari lokasi tenggelamnya kapal di perairan Majene pukul 13.00 Wita.

“Kondisi mayat sudah rusak, terutama yang bocah kecil,” kata
Kapten Kapal KRI Untung Suropati, Mayor Laut (P) Yulianus Poek, kepada detikcom, Kamis (15/1/2009).

KRI Untung Suropati masih menyisir lokasi di sekitar Teluk Mandar. Jenazah kini akan dibawa ke Pare-Pare dan dijadwalkan tiba di Pelabuhan Pare-Pare sekitar pukul 18.00 Wita.(aan/iy)

Jumat, 16/01/2009 00:57 WIB
Doakan Korban KM Teratai Prima, Warga Majene Gelar Yasinan dan Kebaktian
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Majene – Keluarga dan masyarakat Kabupaten Majene menggelar doa bersama untuk korban KM Teratai Prima yang tenggelam di perairan Majene. Penganut agama Islam menggelar Yasinan di masjid. Sementara penganut agama Kristen menggelar Kebaktian di gereja.

Acara yang digelar di Gereja Santo Paulus dan Masjid Nurul Ikhlas, Jalan Akhmad Kirang Majene, Majene, Sulawesi Barat (15/1/2009) itu digelar untuk keselamatan korban KM Teratai Prima dan untuk yang meninggal dunia agar tenang di sisi Tuhan YME.

“Selain itu juga kami berharap pada Allah memudahkan tugas Tim SAR dalam proses pencarian korban dan warga Majene dijauhkan dari bencana,” tutur Abu Khair usai Yasinan.

Sementara menurut Pastor Agustinus Matasak dalam khotbahnya di Kebaktian meminta jamaah gereja Santo Paulus agar selalu berdoa agar Tuhan memberi keselamatan pada korban Tragedi KM Teratai Prima. Agustinus juga meminta keluarga korban agar selalu tabah dalam penantiannya di posko penampungan keluarga korban.

Di dalam Kebaktian itu juga dihadiri oleh salah satu korban selamat bernama Robertus Rahman. Ia didampingi kedua orang tuanya, beserta keluarga besarnya dari Desa Mesakada Kec. Lembang, Pinrang, Sulawesi Selatan.(mna/ken)

Jumat, 16/01/2009 01:27 WIB
KM Teratai Prima Tenggelam
Tim SAR Kembali Temukan 4 Korban Tewas
Robert – detikNews

Jakarta – Tim SAR gabungan kembali menemukan 4 korban tenggelamnya KM Teratai Prima, Kamis 15 Januari. Keempat korban yang ditemukan terdiri dari 3 mayat perempuan dan 1 mayat laki-laki.

Kondisi keempat korban sulit dikenali oleh Tim SAR sehingga harus dilakukan identifikasi lebih lanjut oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel.

“Korban ditemukan sekitar pukul 18.30 WITA,” kata Kepala Kantor Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Poltabes Samarinda AKP Handoko yang berada di Pare-pare Sulawesi Selatan, ketika dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (15/1/2009).

Menurut Handoko, keempat korban ditemukan di perairan Majene Sulawesi Barat. Proses identifikasi, lanjut Handoko, masih terus dilakukan di posko DVI kantor Administrator Pelabuhan Pare-pare, tepatnya di pelabuhan Cappa Ujung, Kabupaten Pare-pare.

“Tidak ada tanda pengenal apapun. Untuk itu harus dilakukan identifikasi,” ujar Handoko.

Sementara pantauan detikcom di Posko Pengaduan Korban di KPPP Poltabes Samarinda di Jl Yos Sudarso, keluarga korban masih terus mendatangi posko tersebut untuk mencari tahu kondisi terkini upaya pencarian korban yang dilakukan Tim SAR gabungan. Sejumlah keluarga korban juga berupaya melengkapi persyaratan-persyaratan berupa himpunan data korban yang nantinya akan disinkronkan dengan ciri-ciri korban yang ditemukan Tim SAR di Majene dan Pare-pare.

“Data yang kami terima, segera kami serahkan ke Tim DVI Polda Sulsel untuk memudahkan identifikasi,” kata penanggungjawab Tim DVI Polda Kaltim Ipda Lusi Indriani.

Data Korban Simpang Siur

Data korban KM Teratai Prima masih simpang siur. Informasi yang diperoleh detikcom di KPPP Poltabes Samarinda, seluruh korban yang berhasil ditemukan hingga Kamis 15 Januari pukul 18.30 WITA berjumlah 43 orang, 6 di antaranya meninggal dunia. Kesimpangsiuran jumlah korban, membuat sejumlah keluarga korban kecewa.

“Kami keluarga berharap, benar-benar mendapat informasi yang akurat,” kata Udin warga Kota Sengata, Kabupaten Kutai Timur kepada detikcom di KPPP Poltabes Samarinda. (ken/ken)

Jumat, 16/01/2009 11:06 WIB
Keluarga Korban Tragedi KM Teratai Prima Larung Sesaji ke Laut

Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Makassar – Memasuki hari keenam tenggelamnya KM
Teratai Prima di perairan Baturoro, Majene, Sulbar,  keluarga korban
mulai pasrah menerima nasib kehilangan anggota keluarganya.

Salah
satu cara  yang mereka tempuh adalah melaksanakan prosesi adat leluhur
Maccera atau melarung sesaji di  tepi pantai Pangali-ali, Majene, Jumat
(16/1/2009).  Sesaji yang disiapkan keluarga korban berupa telur  ayam
beberapa butir dan satu ekor ayam jago yang disembelih di tepi pantai.

Prosesi
larung dimulai pada pukul 10.00 Wita dari posko penampungan keluarga
korban, di belakang kantor  Administratur Pelabuhan (Adpel) Majene
menuju pantai Pangali-ali. Keluarga korban melarung sesaji setelah
diberi  petunjuk lewat telepon dari seorang dukun di Pinrang.

Keluarga
korban lalu memulai prosesi Maccera di posko penampungan  ke pantai
Pangali-ali yang berjarak sekitar 100 meter. Sesampai di pantai
Pangali-ali,  sesaji dari telur ayam lebih dahulu dilarung ke laut.
Selanjutnya ayam jago yang sudah  disiapkan disembelih di tepi pantai,
lalu dihanyutkan ke laut.

Menurut salah satu keluarga korban
bernama Nursiah (45) asal Desa Mattiro Ade, Kec  Patampanua, Kab
Pinrang, Sulsel, larung sesaji dilakukan sebagai bentuk permintaan
kepada  “penjaga” laut Majene agar memunculkan jasad korban ke
permukaan laut.

“Larung ini kami  laksanakan untuk membantu
tugas Tim SAR dalam mencari anggota keluarga kami sejumlah 60-an  di
lautan,” ujar Nursiah yang ditemui detikcom di posko penampungan
keluarga korban.

Sementara menurut Isaodah (39), ibu korban
bernama Dedi asal Tarakan, Kalimantan Timur, larung adalah tradisi
leluhurnya. Seekor ayam jago dan beberapa telur adalah  mahar pengganti
kepada “penjaga” laut yang telah menyembunyikan anggota keluarganya.

“Kami 
berharap penjaga laut mengembalikan keluarga kami bagaimana pun
kondisinya, biar pemberian  kami yang menjadi penukarnya.” pungkas
Isaodah.(mna/nrl)

Jumat, 16/01/2009 12:56 WIB
1 Korban Tewas KM Teratai Prima Kembali Ditemukan

Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Makassar – KRI Untung Suropati kembali menemukan 1
korban tewas di perairan Pare-pare, berjarak 22 mil dari pelabuhan
Pare-pare, Sulsel, pada pukul 12.45 Wita (16/1/2009). Kapten KRI Untung
Suropati, Mayor Laut (P) Yulianus Poek menerangkan hingga saat ini
kondisi mayat rusak dan sulit diidentifikasi.

Menurut
keterangan Yulianus, penyisiran KRI Untung Suropati mulai dilakukan
pada pukul 11 Wita dari Pelabuhan Pare-pare karena pengisian BBM sempat
tertunda. Meski demikian, Tim SAR Gabungan yang berada di KRI Untung
Suropati terus akan mencari korban dan belum menentukan waktu berlabuh
di pelabuhan Pare-pare.

“Tim kami fokus mencari ke arah arus laut menuju selatan dari lokasi temuan kemarin,” ungkap Yulianus pada detikcom.

Sementara
itu, menurut Hamsidar, Humas Posko Basarnas di Pare-pare yang juga
ditelepon detikcom, merincikan lokasi temuan pada koordinat 04 21 31 S
– 119 28 53 T, 11 Mil dari Pulau Panikiang, Kab Barru Sulsel.

“Korban berjenis kelamin perempuan usia belasan, berbaju hijau dan celana panjang biru gelap.” tutur Hamsidar.  (mna/nrl)

Leave a comment

Filed under Water Transport

Kapal Berpenumpang 200 Orang Tenggelam di Majene

Pantai Parepare, Sulawesi Selatan. (Internet)

Kapal Berpenumpang 200 Orang Tenggelam di Majene

Minggu, 11 Januari 2009 – 17:38 wib, Okezone.com

JENEPONTO – Sebuah kapal penumpang jurusan Parepare- Samarinda dikabarkan mengalami kecelakaan laut pukul 04.00 Wita, Minggu (11/1/2009) di perairan Majene.

Menurut Kapolres Majene AKBP Suyatmo kapal yang mengalami kecelakaan itu adalah KM Teratai Prima yang berpenumpang kurang lebih 200 orang. Kecelakaan terjadi di perairan Baturoro Kecamatan Cendana Kabupaten Majene.

“Kapal tersebut berpenumpang 200 orang,” ujar Suyatmo saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Minggu (11/1/2009).

Sebanyak 17 orang dilaporkan selamat dan ditemukan nelayan. Mereka kemudian dievakuasi ke kampung nelayaan Kanaang.
Belum diketahui pasti penyebab kecelakaan kapal tersebut. Untuk sementara diduga kapal tenggelam setelah dihantam ombak. (Muh Syahrullah/Ai Pasinringi/Sindo/fit)

KM Teratai Terbalik Akibat Terjangan Puting Beliung

Minggu, 11 Januari 2009 – 19:22 wib, Okezone.com

PAREPARE – Kapal penumpang (KM) KM Teratai Prima tujuan Samarinda yang membawa 250 orang penumpang (sebelumnya ditulis 200), terbalik di Perairan Majene akibat diterjang angin puting beliung.

Dari 250 orang penumpang kapal itu, 18 orang dipastikan selamat, termasuk nahkoda Basir dan juru masak kapal Ahmad Unda. Sementara 232 orang lainnya, belum diketahui nasibnya.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Seksi Kelaiklautan Kapal Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare, Taufik Bulu, kapal berbobot 500 ton itu, berangkat dari Pelabuhan Nusantara Parepare pada pukul 15.00 Wita, Sabtu (10/01) lalu, dengan tujuan Samarinda.

Selain membawa manusia, kapal tersebut juga membawa beras sebanyak 261 kilo gram, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Taufik mengatakan, Nahkoda Kapal, Basir, terakhir kalinya menghubungi pelabuhan Parepare pada Minggu (11/1/2009) pukul 02.00 Wita dini hari.

Lebih lanjut dikatakan oleh Kasi Kelaiklautan Kapal, kapal yang dulunya milik PT Bunga Teratai itu, tenggelam akibat terjangan angin puting beliung pada pukul 15.00 Wita.

“Lokasi kejadian di Perairan Majene, dekat dengan daerah Batu Roro. Sekitar 100 mil dari Parepare. Berdasarkan laporan, 18 orang penumpangnya selamat. Saat ini sedang mendapat perawatan di Majene,” beber Taufik.
(M Syahlan/Sindo/fit)

KM Teratai Tak Sempat Minta Pertolongan

Minggu, 11 Januari 2009 – 19:45 wib, Okezone.com

JAKARTA – KM Teratai Prima yang dikabarkan tenggelam di perairan Majene tidak sempat mengirimkan tanda pertolongan atas bahaya yang akan menimpanya. Kapal yang mengangkut penumpang sebanyak 250 orang ini langsung diterjang badai dan tenggelam.

“Dari laporan pernumpang yang terselamatkan tiba-tiba ada angin puting beliung, kapal langsung terhempas dan tenggelam. Jadi tidak sempat meminta pertolongan,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, Sunaryo saat dihubungi okezone, Minggu (11/1/2009).

Cuaca ini menurut Sunaryo, sepertinya cuaca yang sangat buruk. Hingga tidak diketahui. “Kemungkinan seperti Badai Charlotte. Tapi kita enggak tahu pasti,” tuturnya.

Lebih lanjut dipaparkan, Ditjen Perhubungan Laut sendiri telah mengirimkan sebanyak dua kapal untuk menyisir para korban kapal yang terapung di perairan Majene.(hri)

Koordinat KM Teratai Tak Diketahui,

Minggu, 11 Januari 2009 – 20:06 wib, Okezone.com

JAKARTA – Tim SAR gabungan yang melakukan penyelamatan terhadap korban terbaliknya KM Teratai Prima mengaku kesulitan dalam melakukan penyelamatan. Pasalnya, Tim SAR gabungan tidak memiliki koordinat keberadaan kapal yang nahas di perairan Majene itu.

“Koordinatnya tidak kami ketahui, karena KM Teratai tidak sempat meminta bantuan,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Sunaryo saat dihubungi okezone, Minggu (11/1/2009).

Sehingga kini tim penyelamat sulit untuk melakukan penyelamatan menyeluruh. Tim SAR sendiri menurut Sunaryo, juga hanya melakukan penyisiran di sekitar Pantai Majene.

“Karena keadaan cuaca yang buruk sekali. Jadi saya perintahkan untuk menyisir Pantai Majene,” ucapnya.

Lagipula para korban yang telah ditemukan tersapu angin ke arah Pantai Majene. Hal ini dikarenakan angin memang mengarah ke Pantai Majene.Sampai saat ini belum diketahui berapa total jumlah korban baik yang masih hidup atau meninggal.(hri)

Kapal Terbalik di Majene, SAR Evakuasi 150 Orang

Minggu, 11 Januari 2009 – 19:06 wib, Okezone.com

JAKARTA – Korban KM Teratai Prima yang dikabarkan tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat, kini sebagian besar telah berhasil dievakuasi.

“Korban yang selamat 18 orang ada di Majene, dan 150 orang di evakuasi dari kapal,” ungkap Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan saat dihubungi okezone, Minggu (11/1/2009).

Namun Bambang tidak bisa memastikan kondisi 150 orang penumpang KM Teratai Prima tersebut. “Kondisinya saya belum tahu. Itu informasi sementara yang bisa saya berikan,” tuturnya.

Bambang juga belum mengetahui kemana korban yang berhasil dievakuasi tersebut akan dibawa oleh tim penyelemat.

Dalam operasi penyelamatan ini, Departemen Perhubungan telah mengerahkan kapal penyelamat Kesatuan Patroli Laut dan Pantai (KPLP), Kapal Navigasi, dan Kapal Badan SAR.

Dalam kecelakaan kapal yang belum diketahui penyebabnya ini, Bambang menolak untuk menyebutnya sebagai tenggelam. “Itu bukan tenggelam. Itu kapal terbalik,” katanya.(fit)

Adpel Samarinda: Data Korban Belum Jelas

Minggu, 11 Januari 2009 – 21:17 wib, Okezone.com

SAMARINDA – Sejumlah keluarga korban KM Teratai Prima mendatangi pelabuhan Samarinda malam ini untuk menanyakan informasi seputar insiden yang terjadi pada kapal yang mengangkut 250 penumpang dari Pelabuhan Parepare menuju Samarinda Kalimantan Timur itu.

“Memang ada yang datang, baru 4 orang dari keluarga penumpang tapi kami belum bisa memberikan kabar korban karena masih belum jelas,” ujar Plt Kasi Gangguan dan Penyelematan Adpel Pelabuhan Samarinda, Helmin, Minggu (11/1/2009).

Menurut Helmi, Pelabuhan Samarinda untuk tujuan Sulawesi Selatan hanya mengopersionalkan dua kapal yakni KM Teratai Prima dan Ekspres Samarinda tujuan Parepare.

“Keluarga korban yang datang sudah kami berikan nomor telepon agensi dari KM Teratai agar mereka memperoleh data manifest,” katanya ketika dihubungi okezone.

Sementara pihak pelabuhan akan tetap melayani keluarga korban yang datang untuk mencari informasi seputar kecelakaan kapal motor Teratai.

Selain Pelabuhan Samarinda, sejumlah penumpang juga mendatangi KPPP Samarinda untuk mencari tahu kabar pasti

Sementara soal informasi cuaca di perairan Sulawesi berdasarkan informasi BMG memang dalam keadaan gelombang tinggi. “Dari nahkoda juga mengabarkan gelombang tengah tinggi bahkan melebihi 5 meter,” ungkapnya.

Sehubungan dengan cuaca buruk ini, pihak Adpel hanya akan memonitoring setiap saat laporan cuaca dari BGM dan tidak akan mengoperasikan kapal ke Parepare.

“Kalau kondisinya cuaca buruk kami tidak akan mengoperasikan kapal ke Parepare. Jadi kami lihat pastinya kondisi cuaca besok,” tandasnya. (fit)

18 Orang Penumpang KM Teratai Prima Selamat

Minggu, 11 Januari 2009 – 23:21 wib, Okezone.com

PAREPARE – Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare, Sulawesi Selatan memastikan 18 orang penumpang KM Teratai Prima yang terbalik di perairan Majene, Sulawesi Barat selamat.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan Kantor Adpel Parepare di Pelabuhan Cappa Ujung Parepare, dari 18 orang tersebut, empat orang di antaranya adalah anak buah kapal (ABK), sementara 14 orang lainnya penumpang.

Menurut Kepala Seksi Kelaiklautan Kapal Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare, Taufik Bulu, semua penumpang KM Teratai Prima yang selamat telah dievakuasi dari Majene menuju Parepare.

“Mudah-mudahan segera sampai, karena kita sedikit terkendala dengan putusnya jalur Sulawesi Barat dengan Sulawesi Selatan akibat banjir,” terang Taufik, Minggu (11/1/2009).

Berikut daftar Nama Penumpang KM Teratai Prima yang selamat:

1. Baco,40, Pinrang
2. Luter Palalembang,24, Tanah Toraja
3. Padori,25, Pinrang
4. Yulianus Mangambe,12, Pinrang
5. Nudi Alfian,17, Bulukumba
6. Atti,20, Pinrang
7. Sumadi,25, Pinrang
8. Santonius,18, Mamasa
9. Basong,25, Pinrang
10. Saharuddin,32, Makassar
11. Ahmad,40, Campalagian – ABK
12. Sabir,40, Parepare – ABK
13. Allang,17, Campalagian – ABK
14. Oppa,40, Sengkang – ABK
15. Daeng Gassing,35, Takalar
16. Syamsul,21
17. Muh Yusuf,34, Sengkang
18. Horas,27, Pinrang.

(lam)
(M Syahlan/Sindo/nov)

Tragedi KM Teratai Prima :

Tak Ada Pelampung, Busa Pun Jadi

Senin, 12 Januari 2009 – 05:18 wib, okezone.com

PAREPARE – Matahari pagi masih empat jam lagi. Di tengah laut, sebuah kapal tampak terombang-ambing oleh kerasnya ombak setinggi empat meter. Penumpang masih terbuai dengan mimpinya.

Entah, mimpi apa 250 lebih penumpang Kapal Penumpang (KM) Teratai Prima dari Parepare dengan tujuan Samarinda pagi itu. Tiba-tiba tanpa ampun, ombak setinggi empat meter membalik kapal itu.

Puting beliung tidak mau ketinggalan. Dia malah membantu ombak menenggelamkan kapal milik PT Nur Budi Parepare, Sulawesi Selatan itu. Tidak ada teriakan meminta pertolongan oleh penumpang.

Dicertikan Yulianus Mangambe (12), salah satu korban keganasan Perairan Majene Sulawesi Barat, hanya dalam tempo lima menit, kapal tumpangannya tenggelam ke dasar laut.

Tidak ada barang bawaan yang sempat diselamatkan. Kawan seperjalanannya pun lupa ditolong. “Untung saya dapat busa, kira-kira panjangnya 50 senti. Saya pakai busa itu berenang,” jelas lelaki asal Pinrang itu lirih.

Penderitaannya tidak berakhir sampai disitu. Yulianus masih harus berenang selama lima jam hingga dia mendapatkan daratan pada pukul 06.00 WITA. Selama berenang, dirinya tidak menemukan siapun di tengah lautan.

“Saya bahkan mengira hanya saya sendiri yang selamat. Tapi setelah tiba di daratan pada pagi hari, akhirnya saya menemukan korban lain. Ada di kantor polisi, ada juga di Puskesmas,” tandas Yulianus.

Baco (40), warga Pinrang, akhirnya bisa bernafas lega setelah mengapung di laut selama lima jam. Dia menceritakan, saat kejadian nahas itu menimpa KM Teratai Prima, seluruh penumpang sedang tidur di dek kapal.

“Kebetulan saya terima SMS dari keluarga, menanyakan kondisi di kapal. Karena sinyal buruk di dalam dek, makanya saya keluar. Tapi pas sampai di luar, saya lihat ombak setinggi empat meter menghantam bagian kiri dan kanan kapal,” tutur Baco.

Sadar dengan kejadian yang akan menimpa dirinya, lelaki berumur 40 tahun itu langsung berpegangan erat di pembatas kapal. Namun, malang tak dapat ditolak. Ombak dan angin puting makin menerjang.

“Kapal akhirnya terbalik. Hanya sekitar lima menit, kapal itu tenggelam. Saya tidak dapat pelampung saat itu. Pas kapalnya tenggelam, tiba-tiba ada gabus yang mengapung di depanku. Saya pakai gabus itu berenang hingga ke pantai,” cerita Baco.

Dalam usahanya mencapai daratan, dia mengaku bertemu dengan empat penumpang selamat lainnya. Mereka akhirnya bersama-sama berlomba mencapai daratan. Usaha mereka ke daratan akhirnya berhasil pada pukul 07.00 WITA.

Mendapat musibah yang hampir merenggut nyawanya, Yulianus dan Baco mengaku sangat trauma untuk kembali melakukan perjalanan laut. Bersama 11 orang korban lainnya saat ditemui di Mapolwil Parepare, Sulawesi Selatan tadi malam, mereka mengaku akan lebih berhati-hati dalam melakukan perjalanan.

Diketahui, 13 orang penumpang KM Teratai Prima selamat dari musibah maut itu. Mereka tiba di Mapolwil Parepare pada pukul 23.30 Wita tadi malam. Mereka langsung memberikan keterangan kepada polisi. Puluhan warga tampak silih berganti masuk menemui keluarganya yang selamat. Akhirnya, air mata haru mereka tumpah.
(M Syahlan/Sindo/nov)

Leave a comment

Filed under Transport News, Water Transport