Tag Archives: lalu lintas

Software KAJI 1997

KAJI 1997


Software KAJI (Kapasitas Jalan Indonesia) 1997 adalah piranti lunak yang digunakan untuk menerapkan metoda perhitungan yang dikembangkan MKJI (Manual Kapasitas Jalan Indonesia) 1997 yang bertujuan menganalisis kapasitas dan kinerja fasilitas lalulintas jalan (misalnya ruas jalan, simpang bersinyal, simpang tak bersinyal, dll).
Karena banyaknya permintaan mengenai software Kaji 1997, maka berikut ini saya unggah software Kaji 1997, agar dapat dipergunakan oleh seluruh mahasiswa yang sedang Tugas Akhir atau mengikuti mata kuliah Manajemen Lalu Lintas atau Rekayasa Lalu Lintas.
Software dapat didownload di sini.

Advertisements

2 Comments

Filed under Traffic System, Transport Sofwares

Prosedur Perhitungan Simpang Bersinyal dengan KAJI 1997

Berikut ini adalah prosedur-prosedur perhitungan dan cara analisis perilaku lalulintas di simpang bersinyal dengan menggunakan software KAJI 1997.
Download di sini.

Leave a comment

Filed under Traffic System, Transport Sofwares

Wanita Gagal Dapat Izin Mengemudi hingga 771 Kali

TinyPic image

(gambar : ilustrasi, sumber dari http://i5.tinypic.com/)

Senin, 9 Februari 2009 – 14:51 wib, okezone.com

SEOUL – Polisi di Korea Selatan mengatakan seorang wanita tua gagal mendapatkan izin mengemudi hingga 771 kali tes seleksi. Wanita tua itu selalu gagal dalam tes tertulisnya.

Wanita berusia 68 tahun yang disebut bernama Cha, mengatakan kepada media lokal, bahwa kegagalan itu bukan sesuatu yang disengaja.

Cha yang tinggal di Jeonju selalu mengikuti tes mengendarai mobil setiap hari kerja sejak tahun 2005, demikian seperti dikutip Sky News, Senin (9/2/2009).

Pada tes terakhir yang dilakukan pekan ini, Cha kembali gagal, dan memasukkan dia dalam rekor kegagalan tes izin mengendarai di kotanya. Polisi memperkirakan Cha sudah menghabiskan sekitar 2.500 poundsterling untuk mengikuti tes tertulis dan lain-lain.

Meski demikian, Cha tak patah arang. Dia tetap terus berusaha dengan cara apapun agar mendapatkan izin mengemudi.

“Problemnya dia tidak dapat melewati ujian tertulis. Seharusnya nilai untuk lulus adalah 60-100, namun dia hanya mendapat 30-50,” kata polisi setempat.

Cha niatnya ingin belajar mengendarai mobil guna membeli mobil untuk mengembangkan bisnis menjual makanan dan perabotan rumah yang selama ini hanya dilakukan dengan cara berjalan keliling komplek.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah hal ini mungkin terjadi? (ahm)

Source : okezone.com

1 Comment

Filed under Traffic Safety, Transport News

‘Segosegawe kurang realistis’

Rabu, 15 Oktober 2008 10:31WIB, Harian Jogja

JOGJA: Kalangan sekolah merasa pesimis program Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe (Segosegawe) bisa terlaksana. Pasalnya, mayoritas siswa sekolah menengah di Kota Jogja berasal dari luar kota seperti Sleman dan Bantul yang jaraknya 5 kilometer lebih dari sekolah. Namun, khusus larangan siswa sekolah menengah menggunakan mobil pribadi ke sekolah, pihak sekolah sudah mulai mengeluarkan tata tertib dan imbauan kepada orangtua siswa. Seperti di SMU 9 Jogja, imbauan sudah disebar kepada orangtua siswa. Hanya, imbauan Walikota itu dirasa kurang realistis.
Kepala SMU 9 Jogja, Hardja Purnama, menuturkan pihaknya sudah mengimbau orangtua siswa dengan menitipkan surat kepada siswa bersangkutan. “Soal apakah sampai atau tidak (ke orangtua), kami belum tahu. Kami imbau agar siswa diantar saja ke sekolah atau naik kendaraan umum,” ujarnya, kemarin.
Pada tahun ajaran baru Juli lalu, Walikota Jogja Herry Zudianto mengeluarkan Peraturan Walikota (Perwal) No 24/2008 tentang Pedoman Penyusunan Tatatertib Sekolah. Dalam panduan pembuatan tata tertib sekolah itu, perwal menekankan agar sekolah mencantumkan larangan siswa membawa mobil ke sekolah.
“Kalau larangan memang sejak dulu sudah ada di dalam tatib (tata tertib) sekolah. Tapi kami tidak pernah keluarkan sanksi karena orangtua mau bertanggung jawab atas keamanan mobil di pelataran sekolah,” kata Hardja.
Dalam temuan pihak kesiswaan SMU 9, masih ada 10 siswa berangkat sekolah mengendarai mobil sendiri. Selebihnya, mayoritas mengendarai sepeda motor, dijemput orangtua dan menggunakan angkutan umum. “Yang pakai sepeda sekitar 10 orang, bisa dilihat di parkiran…”
Dia mengaku memberi apresiasi atas imbauan Walikota kepada pelajar Jogja dan pegawai yang letak rumahnya kurang dari 5 kilometer dari sekolah atau tempat kerja agar menggunakan sepeda. Namun persoalannya, program bersepeda justru mendapat pertanyaan dari sejumlah orangtua siswa. “Rata-rata orangtua siswa mempertanyakan soal keamanan bersepeda di jalan,” ujar Hardja.
Tak bisa dipaksakan
Senada, Kepala Bagian Kesiswaan SMU Negeri 3 Jogja, Hamid Supriyatna, juga menilai program Segosegawe sulit terwujud. Selain ada penolakan dari sejumlah orangtua murid, kesediaan siswa menggunakan sepeda juga tidak bisa dipaksakan.
Sepeda, menurut Hamid, meski lebih ramah lingkungan, daya mobilitasnya jelas jauh lebih rendah ketimbang motor. Di sekolahnya, dari total 689 siswa, hanya ada sekitar 10 siswa yang selama ini menggunakan sepeda kayuh.
Mayoritas mengendarai sepeda motor dan sisanya diantar orangtua atau menggunakan angkutan umum. “Siswa sekarang tidak bisa disamakan dengan siswa masa lalu. Orangtua siswa juga sudah berbeda,” ujarnya.
Apa yang dituturkan Hamid tak sekadar isapan jempol. Buktinya, saat ditanya apakah bersedia bersekolah pakai sepeda, Evelin, salah satu siswa Stella Duce 2, menjawab singkat, “Hari gini naik sepeda? Panas. Belum lagi di jalan sepeda nggak dianggep, diserempet orang terus ditinggal pergi mau apa hayo?”
Zahra Zafira Mutiara, Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 3 Jogja, mengatakan kendati program Segosegawe telah diluncurkan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, perwujudan Jogja kembali menjadi kota sepeda tetap bakal sulit dilakukan. “Hal ini karena masyarakat pada umumnya sudah terbiasa menggunakan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor.”
Dia mengaku setuju dan mendukung program Pemkot Jogja tersebut, namun dirinya merasa anjuran bagi yang rumahnya di bawah 5 km untuk bersepeda kurang relevan. Zahra berpendapat ukuran dekat yang lebih cocok adalah 3 km.
“Kami tahu kemarin ada kegiatan peluncuran Segosegawe, tapi sepertinya siswa di sini tidak ada yang mengikuti, karena sepekan ini kebetulan pas ada ujian mid semester di sini,” terangnya.
Zahra juga menjelaskan sebelum program Segosegawe diuncurkan, beberapa siswa di sekolahnya sudah menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi sehari-hari.
“Jumlahnya memang tidak banyak, hanya sekitar lima sampai sepuluh persen. Biasanya mereka yang bersepeda itu tinggalnya di dekat sekolah.”  Zahra menilai siswa yang rumahnya jauh dari sekolah bakal kesulitan kalau dipaksakan harus naik sepeda.
Jalanan jadi semrawut
Menurutnya, program Segosegawe merupakan salah satu usaha pemerintah untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. “Sekarang kan kebanyakan naik motor. Malah pelajar SMP pun ikut-ikutan naik motor.”
Padahal, sambung Zahra, pada umumnya remaja masih labil, sehingga keadaan jalanan menjadi semrawut. Selain itu, ia menilai isu global warming adalah alasan selanjutnya dari peluncuran program tersebut.
Ditegaskannya, program ini nantinya akan berakibat menaikkan jumlah pengguna sepeda, meskipun menurutnya tidak akan banyak. “Kebutuhan kita untuk bergerak cepat kan penting banget, jadi bakal sedikit saja yang beralih ke sepeda,” tandas Zahra.
Diberitakan sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan program Segosegawe di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, Senin (13/10). Program tersebut digagas oleh Pemkot Jogja.
Sekitar 2.000 peserta dari berbagai elemen warga dan berasal dari berbagai instansi di lingkungan Pemkot Jogja memeriahkan acara itu. Tidak ketinggalan para guru taman kanak-kanak (140 orang), guru SMP (1.177), guru SMA (844), guru SMK (172) dan karyawan (52).
“Kami datang karena ada surat yang meminta kami datang ke sini. Awalnya launching akan diadakan 7 Oktober pukul 06.00 WIB, tapi ternyata baru bisa dilakukan saat ini, padahal pada tanggal segitu saya membawa 35 anak dan dua pendamping,” kata Ign Atang Hartoko.
Ditemui di sela-sela acara, Atang yang juga guru SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dan tergabung dalam Ngepit Kemringet (nGeNget) Club itu lalu menunjukkan surat yang dikeluarkan Walikota Jogja bernomor 551/3261. Dia menuturkan bukan cuma dirinya yang kecewa.
Sekolah lain, seperti SMA Stella Duce, juga mengalami hal serupa soal keberadaan dan konsep dari Segosegawe. “Kami tidak paham dengan apa yang terjadi, karenanya saat itu kami sepakat pulang ke sekolah masing-masing tepat pukul 07.00 WIB. Kami berombongan (35 anak dan dua guru pendamping) pulang ke sekolah dengan perasaan bingung, benarkah Walikota membuat surat seperti itu?” ujar dia.
Paguyuban Onthel Jogja (Pojok) yang beranggotakan 400 orang dan menggunakan sepeda klasik, sebanyak 30 anggotanya menghadiri acara launching Segosegawe.
Ketua Pojok, Towil, menyambut baik ide untuk menghidupkan kembali Kota Jogja sebagai kota sepeda. Namun, dia meminta Pemkot hendaknya juga memperhatikan infrastruktur yang ada.
“Perlu diberlakukan lagi jalur hijau yang saat ini telah usang. Selain itu, pembuatan fasilitas publik terutama fasilitas parkir khusus untuk sepeda harus segera dilakukan. Kami juga mengusulkan agar Jalan Malioboro bisa dijadikan kawasan bebas kendaraan,” cetus Towil bersemangat.

Oleh Nugroho Nurcahyo, Deny Hermawan & Jumali

Sumber : Harian Jogja

3 Comments

Filed under My Jogja, Transport News

Jalan di Jogja hanya manjakan mobil

Kamis, 16 Oktober 2008 10:57 Harian Jogja

JOGJA: Infrastruktur lalu lintas di Jogja lebih memanjakan pengguna kendaraan pribadi. Hal ini menjadikan budaya bersepeda sulit berkembang. “Kendaraan pribadi yang memakan jalan adalah ancaman bagi sistem transportasi kota Jogja yang kian padat,” kata Deputi Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral Universitas Gadjah Mada Arif Wismadi dalam seminar yang diselenggarakan Impulse (Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies), di percetakan Kanisius, Depok, Sleman, kemarin.

Dia mengatakan, mobil pribadi memiliki tingkat merugikan lebih tinggi, antara lain rakus memakan ruang, volume meningkat, boros energi, penghasil polusi tertinggi dan penyebab kecelakaan dan penyengsara utama di jalanan.Dalam catatan Pustral, kendaraan pribadi menjadi penyumbang karbondioksida terbesar (45 gram/pnp-km) ketimbang pesawat terbang (30 gr/pnp-km), ferry (24), bus umum (19) kereta api (5) dan subway (3).

Menurutnya, langkah pemerintah kota seringkali memanjakan pengendara mobil, dengan adanya parkir sembarangan dan melebarkan jalan. Padahal pertumbuhan pemakai kendaraan pribadi tidak akan bsia diimbangi tambahan infrastruktur berupa jalan. “Semestinya bukan menambah luas jalan, tapi mengubah sistem transportasi yang bisa membuat warga memilih menggunakan kendaraan umum,” katanya.

Sedangkan dalam penilaiannya, transportasi di Jogja memiliki citra pelayanan buruk, tingkat polusi tinggi, dan mix traffic. Buruknya pelayanan angkutan umum dan bercampurnya bus dengan  kendaraan pribadi dalam kemacetan,  kata Arif, “akan menjadikan angkutan umum semakin ditinggalkan masyarakat.”

Arif mencontohkan proyek busway di DKI Jakarta adalah contoh keberhasilan Mass Rapid Transport. “Trans Jogja saya kira merupakan proyek secara konsep masih sulit mengubah budaya warga beralih ke kendaraan  umum,” katanya.

Beberapa waktu lalu, Walikota Kota Jogja Herry Zudianto berkampanye menggunakan sepeda untuk bersekolah dan bekerja. Terutama bagi warga kota yang memiliki jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja dan sekolah kurang dari 5 kilometer. Rencana ini dinilai tidak realistis.

Pratikno, Dosen Fisipol UGM mengatakan, rencana memasyarakatkan penggunaan sepeda sebagai transportasi pribadi membutuhkan rekayasa infrastruktur, sosial, ekonomi, politik dan budaya. “Butuh rekayasa di sejumlah sektor itu,” ujarnya. Sebab, tanpa didukung infrastruktur penjamin kenyamanan pengguna sepeda, masyarakat akan enggan memakai sepeda.

Budaya bersepeda masih dianggap alat transportasi kalangan bawah dan cenderung memalukan secara prestise. Sehingga kata Pratikno, “Rekayasa sangat diperlukan, terutama rekayasa politik dari pemerintah kota untuk me-revolusi mindset dari rekayasa yang lain.”

Oleh Nugroho Nurcahyo

Sumber : Harian Jogja

Leave a comment

Filed under My Jogja, Transport News

Sego Segawe, jangan cuma mimpi

Kamis, 16 Oktober 2008 12:02 Harian Jogja

Kenangan tentang kota Jogja yang ramah saat bersepeda beberapa tahun silam seakan menjadi impian bagi warga Kota Pelajar saat ini. Namun, apa mungkin hal itu akan terjadi kembali, disaat panas terik, polusi kendaraan bermotor memenuhi setiap sudut Kota Jogja?

Cita-cita Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja dan warga di 14 kecamatan ada di Kota Gudeg untuk mewujudkan Jogja sebagai City of Tolerance terutama bagi pengguna sepeda, akan menemukan tantangan yang besar.

Namun keinginan yang besar dengan niat membersihkan dan menciptakan udara segar, diharapkan dapat terlaksana dengan diluncurkannya program Sego Segawe singkatan dari Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe, yang artinya Sepeda untuk sekolah dan bekerja dicanangkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (13/10) lalu di Alun-Alun Selatan.

Ribuan peserta, mulai dari siswa SD, SMP, SMA, karyawan, guru maupun pejabata tidak ketinggalan masyarakat yang mencintai sepeda turut ambil bagian dalam kegiatan yang diharapkan dapat membuka mata dan hati betapa indahnya lingkungan yang bebas dari polusi.

Tujuan program Segosegawe memang ditujukan bagi pelajar di Jogja agar  siswa yang selama ini mengendarai kendaraan bermotor dapat beralih ke sepeda.

Sebuah program yang sejatinya mendapat dukungan dengan harapan terciptanya udara yang sejuk dan kenyamanan Kota Jogja. Bukan mengembalikan kenangan masa silam, tapi menjadikan kota ini bersih dan tetap menjadi istimewa dengan budaya yang tak akan perang hilang.

Hanya saja yang jadi persoalan, apakah infrastruktur yang ada sudah mendukung program tersebut. Keselamatan pengendara sepeda di tengah-tengah arus lalu lintas Kota Jogja yang demikian padat, sudahkah dipikirkan.

Sejatinya, jangan cuma janji memberikan santunan bagi yang celaka tapi sarana atau sediakan ruas jalan khusus bagi sepeda. Alangkah bijaknya jika hal itu yang dilakukan. Artinya lebih baik mencegah daripada mengobati.

Ditambah lagi, kalangan sekolah merasa pesimis program Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe (Segosegawe) bisa terlaksana. Pasalnya, mayoritas siswa sekolah menengah di Kota Jogja berasal dari luar kota seperti Sleman dan Bantul yang jaraknya 5 kilometer lebih dari sekolah.

Bagaimana siswa harus menggunakan sepeda dengan jarak yang cukup jauh dan memakan banyak tenaga. Inilah yang harus dan juga dipikirkan. Menurut hemat kami, selain pengadaan infrastruktur juga harus dipikirkan bagi siswa yang letak sekolahnya jauh dari rumah. Selayaknya program yang baik ini mendapat dukungan semua pihak, dan itu harus dilakukan dengan mencari jalan keluarnya, jangan hanya Segosegawe cuma menjadi mimpi.

Sumber : Harian Jogja

1 Comment

Filed under My Jogja, Transport News

Mobil Antre 2 Km di Jembatan Krasak

Minggu, 05/10/2008 15:34 WIB
Puncak Arus Balik
Mobil Antre 2 Km di Jembatan Krasak
Bagus Kurniawan – detikNews

Yogyakarta – Puncak arus balik Lebaran telah tiba hari ini. Ratusan mobil antre di jembatan Krasak, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Antrean sepanjang lebih dari 2 km dari arah Yogyakarta menuju Magelang, Jawa Tengah, akibat adanya perbaikan di salah satu jembatan.

Antrean paling panjang terjadi antara pukul 10.00 – 13.00 WIB. Petugas dari Polres Sleman dan Polres Magelang memberlakukan sistem buka tutup. Sistem itu diberlakukan agar sejak 7 hari sebelum Lebaran.

Petugas juga memasang sekitar 100 buah traffic cone (kerucut plastik) yang dipergunakan untuk pembatas jalan. Sekitar 200 meter di kedua ujung jembatan, petugas dari Polres Sleman dan Polres Magelang menggunakan handy talky (HT) berkoordinasi melakukan sistem buka tutup.

Dari arah Yogyakarta menuju Magelang, ratusan mobil antre lebih dari 2 km hingga pabrik plastik di Desa Margorejo Tempel di Jl Magelang Km 19. Dua lajur khusus kendaraan roda empat dipenuhi mobil berplat nopol luar Yogyakarta.

Sedikitnya 20 orang petugas Lantas Polres Sleman dan Dishub DIY dan Sleman berada di sekitar jembatan Krasak sibuk mengatur agar lancar. Petugas juga tidak memperbolehkan bis AKDP dan angkudes ngetem di dekat jembatan yang berdekatan dengan Pasar Tempel.

“Antrean mobil pemudik hari ini masih panjang, tapi tidak sepanjang seperti yang terjadi pada hari Sabtu kemarin,” kata Hadiyanto salah seorang petugas di Posko gabungan di Jembatan Krasak kepada detikcom, Minggu (5/10/2008).

Menurut dia, pada hari Sabtu 4 Oktober antrian panjang hingga mencapai 4 km karena banyak pemudik jarak jauh seperti Jakarta, Bogor, Banten yang kembali pulang. Sedang hari ini lebih banyak di penuhi pemudik jarak menengah dengan tujuan Semarang, Tegal, Kudus dll.

“Pada hari Sabtu kemarin, mobil berplat Jakarta yang lewat lebih banyak dibandingkan hari ini,” katanya.

Dia mengatakan hingga H+7 tetap akan diberlakukan sistem buka tutup di Jembatan Krasak. Meski terjadi antrian arus tetap lancar dan tidak ada mobil yang main serobot di jalan.

“Selain itu, kita juga memberikan jalur alternatif lewat Minggir Sleman, Ngluwar hingga tembus Semen Salam Magelang meski harus memutar lebih jauh,” katanya. (bgs/nrl)

Sumber : detiknews.com

Leave a comment

Filed under Transport News