Kapal Berpenumpang 200 Orang Tenggelam di Majene

Pantai Parepare, Sulawesi Selatan. (Internet)

Kapal Berpenumpang 200 Orang Tenggelam di Majene

Minggu, 11 Januari 2009 – 17:38 wib, Okezone.com

JENEPONTO – Sebuah kapal penumpang jurusan Parepare- Samarinda dikabarkan mengalami kecelakaan laut pukul 04.00 Wita, Minggu (11/1/2009) di perairan Majene.

Menurut Kapolres Majene AKBP Suyatmo kapal yang mengalami kecelakaan itu adalah KM Teratai Prima yang berpenumpang kurang lebih 200 orang. Kecelakaan terjadi di perairan Baturoro Kecamatan Cendana Kabupaten Majene.

“Kapal tersebut berpenumpang 200 orang,” ujar Suyatmo saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Minggu (11/1/2009).

Sebanyak 17 orang dilaporkan selamat dan ditemukan nelayan. Mereka kemudian dievakuasi ke kampung nelayaan Kanaang.
Belum diketahui pasti penyebab kecelakaan kapal tersebut. Untuk sementara diduga kapal tenggelam setelah dihantam ombak. (Muh Syahrullah/Ai Pasinringi/Sindo/fit)

KM Teratai Terbalik Akibat Terjangan Puting Beliung

Minggu, 11 Januari 2009 – 19:22 wib, Okezone.com

PAREPARE – Kapal penumpang (KM) KM Teratai Prima tujuan Samarinda yang membawa 250 orang penumpang (sebelumnya ditulis 200), terbalik di Perairan Majene akibat diterjang angin puting beliung.

Dari 250 orang penumpang kapal itu, 18 orang dipastikan selamat, termasuk nahkoda Basir dan juru masak kapal Ahmad Unda. Sementara 232 orang lainnya, belum diketahui nasibnya.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Seksi Kelaiklautan Kapal Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare, Taufik Bulu, kapal berbobot 500 ton itu, berangkat dari Pelabuhan Nusantara Parepare pada pukul 15.00 Wita, Sabtu (10/01) lalu, dengan tujuan Samarinda.

Selain membawa manusia, kapal tersebut juga membawa beras sebanyak 261 kilo gram, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Taufik mengatakan, Nahkoda Kapal, Basir, terakhir kalinya menghubungi pelabuhan Parepare pada Minggu (11/1/2009) pukul 02.00 Wita dini hari.

Lebih lanjut dikatakan oleh Kasi Kelaiklautan Kapal, kapal yang dulunya milik PT Bunga Teratai itu, tenggelam akibat terjangan angin puting beliung pada pukul 15.00 Wita.

“Lokasi kejadian di Perairan Majene, dekat dengan daerah Batu Roro. Sekitar 100 mil dari Parepare. Berdasarkan laporan, 18 orang penumpangnya selamat. Saat ini sedang mendapat perawatan di Majene,” beber Taufik.
(M Syahlan/Sindo/fit)

KM Teratai Tak Sempat Minta Pertolongan

Minggu, 11 Januari 2009 – 19:45 wib, Okezone.com

JAKARTA – KM Teratai Prima yang dikabarkan tenggelam di perairan Majene tidak sempat mengirimkan tanda pertolongan atas bahaya yang akan menimpanya. Kapal yang mengangkut penumpang sebanyak 250 orang ini langsung diterjang badai dan tenggelam.

“Dari laporan pernumpang yang terselamatkan tiba-tiba ada angin puting beliung, kapal langsung terhempas dan tenggelam. Jadi tidak sempat meminta pertolongan,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, Sunaryo saat dihubungi okezone, Minggu (11/1/2009).

Cuaca ini menurut Sunaryo, sepertinya cuaca yang sangat buruk. Hingga tidak diketahui. “Kemungkinan seperti Badai Charlotte. Tapi kita enggak tahu pasti,” tuturnya.

Lebih lanjut dipaparkan, Ditjen Perhubungan Laut sendiri telah mengirimkan sebanyak dua kapal untuk menyisir para korban kapal yang terapung di perairan Majene.(hri)

Koordinat KM Teratai Tak Diketahui,

Minggu, 11 Januari 2009 – 20:06 wib, Okezone.com

JAKARTA – Tim SAR gabungan yang melakukan penyelamatan terhadap korban terbaliknya KM Teratai Prima mengaku kesulitan dalam melakukan penyelamatan. Pasalnya, Tim SAR gabungan tidak memiliki koordinat keberadaan kapal yang nahas di perairan Majene itu.

“Koordinatnya tidak kami ketahui, karena KM Teratai tidak sempat meminta bantuan,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Sunaryo saat dihubungi okezone, Minggu (11/1/2009).

Sehingga kini tim penyelamat sulit untuk melakukan penyelamatan menyeluruh. Tim SAR sendiri menurut Sunaryo, juga hanya melakukan penyisiran di sekitar Pantai Majene.

“Karena keadaan cuaca yang buruk sekali. Jadi saya perintahkan untuk menyisir Pantai Majene,” ucapnya.

Lagipula para korban yang telah ditemukan tersapu angin ke arah Pantai Majene. Hal ini dikarenakan angin memang mengarah ke Pantai Majene.Sampai saat ini belum diketahui berapa total jumlah korban baik yang masih hidup atau meninggal.(hri)

Kapal Terbalik di Majene, SAR Evakuasi 150 Orang

Minggu, 11 Januari 2009 – 19:06 wib, Okezone.com

JAKARTA – Korban KM Teratai Prima yang dikabarkan tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat, kini sebagian besar telah berhasil dievakuasi.

“Korban yang selamat 18 orang ada di Majene, dan 150 orang di evakuasi dari kapal,” ungkap Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan saat dihubungi okezone, Minggu (11/1/2009).

Namun Bambang tidak bisa memastikan kondisi 150 orang penumpang KM Teratai Prima tersebut. “Kondisinya saya belum tahu. Itu informasi sementara yang bisa saya berikan,” tuturnya.

Bambang juga belum mengetahui kemana korban yang berhasil dievakuasi tersebut akan dibawa oleh tim penyelemat.

Dalam operasi penyelamatan ini, Departemen Perhubungan telah mengerahkan kapal penyelamat Kesatuan Patroli Laut dan Pantai (KPLP), Kapal Navigasi, dan Kapal Badan SAR.

Dalam kecelakaan kapal yang belum diketahui penyebabnya ini, Bambang menolak untuk menyebutnya sebagai tenggelam. “Itu bukan tenggelam. Itu kapal terbalik,” katanya.(fit)

Adpel Samarinda: Data Korban Belum Jelas

Minggu, 11 Januari 2009 – 21:17 wib, Okezone.com

SAMARINDA – Sejumlah keluarga korban KM Teratai Prima mendatangi pelabuhan Samarinda malam ini untuk menanyakan informasi seputar insiden yang terjadi pada kapal yang mengangkut 250 penumpang dari Pelabuhan Parepare menuju Samarinda Kalimantan Timur itu.

“Memang ada yang datang, baru 4 orang dari keluarga penumpang tapi kami belum bisa memberikan kabar korban karena masih belum jelas,” ujar Plt Kasi Gangguan dan Penyelematan Adpel Pelabuhan Samarinda, Helmin, Minggu (11/1/2009).

Menurut Helmi, Pelabuhan Samarinda untuk tujuan Sulawesi Selatan hanya mengopersionalkan dua kapal yakni KM Teratai Prima dan Ekspres Samarinda tujuan Parepare.

“Keluarga korban yang datang sudah kami berikan nomor telepon agensi dari KM Teratai agar mereka memperoleh data manifest,” katanya ketika dihubungi okezone.

Sementara pihak pelabuhan akan tetap melayani keluarga korban yang datang untuk mencari informasi seputar kecelakaan kapal motor Teratai.

Selain Pelabuhan Samarinda, sejumlah penumpang juga mendatangi KPPP Samarinda untuk mencari tahu kabar pasti

Sementara soal informasi cuaca di perairan Sulawesi berdasarkan informasi BMG memang dalam keadaan gelombang tinggi. “Dari nahkoda juga mengabarkan gelombang tengah tinggi bahkan melebihi 5 meter,” ungkapnya.

Sehubungan dengan cuaca buruk ini, pihak Adpel hanya akan memonitoring setiap saat laporan cuaca dari BGM dan tidak akan mengoperasikan kapal ke Parepare.

“Kalau kondisinya cuaca buruk kami tidak akan mengoperasikan kapal ke Parepare. Jadi kami lihat pastinya kondisi cuaca besok,” tandasnya. (fit)

18 Orang Penumpang KM Teratai Prima Selamat

Minggu, 11 Januari 2009 – 23:21 wib, Okezone.com

PAREPARE – Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare, Sulawesi Selatan memastikan 18 orang penumpang KM Teratai Prima yang terbalik di perairan Majene, Sulawesi Barat selamat.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan Kantor Adpel Parepare di Pelabuhan Cappa Ujung Parepare, dari 18 orang tersebut, empat orang di antaranya adalah anak buah kapal (ABK), sementara 14 orang lainnya penumpang.

Menurut Kepala Seksi Kelaiklautan Kapal Kantor Administrasi Pelabuhan (Adpel) Parepare, Taufik Bulu, semua penumpang KM Teratai Prima yang selamat telah dievakuasi dari Majene menuju Parepare.

“Mudah-mudahan segera sampai, karena kita sedikit terkendala dengan putusnya jalur Sulawesi Barat dengan Sulawesi Selatan akibat banjir,” terang Taufik, Minggu (11/1/2009).

Berikut daftar Nama Penumpang KM Teratai Prima yang selamat:

1. Baco,40, Pinrang
2. Luter Palalembang,24, Tanah Toraja
3. Padori,25, Pinrang
4. Yulianus Mangambe,12, Pinrang
5. Nudi Alfian,17, Bulukumba
6. Atti,20, Pinrang
7. Sumadi,25, Pinrang
8. Santonius,18, Mamasa
9. Basong,25, Pinrang
10. Saharuddin,32, Makassar
11. Ahmad,40, Campalagian – ABK
12. Sabir,40, Parepare – ABK
13. Allang,17, Campalagian – ABK
14. Oppa,40, Sengkang – ABK
15. Daeng Gassing,35, Takalar
16. Syamsul,21
17. Muh Yusuf,34, Sengkang
18. Horas,27, Pinrang.

(lam)
(M Syahlan/Sindo/nov)

Tragedi KM Teratai Prima :

Tak Ada Pelampung, Busa Pun Jadi

Senin, 12 Januari 2009 – 05:18 wib, okezone.com

PAREPARE – Matahari pagi masih empat jam lagi. Di tengah laut, sebuah kapal tampak terombang-ambing oleh kerasnya ombak setinggi empat meter. Penumpang masih terbuai dengan mimpinya.

Entah, mimpi apa 250 lebih penumpang Kapal Penumpang (KM) Teratai Prima dari Parepare dengan tujuan Samarinda pagi itu. Tiba-tiba tanpa ampun, ombak setinggi empat meter membalik kapal itu.

Puting beliung tidak mau ketinggalan. Dia malah membantu ombak menenggelamkan kapal milik PT Nur Budi Parepare, Sulawesi Selatan itu. Tidak ada teriakan meminta pertolongan oleh penumpang.

Dicertikan Yulianus Mangambe (12), salah satu korban keganasan Perairan Majene Sulawesi Barat, hanya dalam tempo lima menit, kapal tumpangannya tenggelam ke dasar laut.

Tidak ada barang bawaan yang sempat diselamatkan. Kawan seperjalanannya pun lupa ditolong. “Untung saya dapat busa, kira-kira panjangnya 50 senti. Saya pakai busa itu berenang,” jelas lelaki asal Pinrang itu lirih.

Penderitaannya tidak berakhir sampai disitu. Yulianus masih harus berenang selama lima jam hingga dia mendapatkan daratan pada pukul 06.00 WITA. Selama berenang, dirinya tidak menemukan siapun di tengah lautan.

“Saya bahkan mengira hanya saya sendiri yang selamat. Tapi setelah tiba di daratan pada pagi hari, akhirnya saya menemukan korban lain. Ada di kantor polisi, ada juga di Puskesmas,” tandas Yulianus.

Baco (40), warga Pinrang, akhirnya bisa bernafas lega setelah mengapung di laut selama lima jam. Dia menceritakan, saat kejadian nahas itu menimpa KM Teratai Prima, seluruh penumpang sedang tidur di dek kapal.

“Kebetulan saya terima SMS dari keluarga, menanyakan kondisi di kapal. Karena sinyal buruk di dalam dek, makanya saya keluar. Tapi pas sampai di luar, saya lihat ombak setinggi empat meter menghantam bagian kiri dan kanan kapal,” tutur Baco.

Sadar dengan kejadian yang akan menimpa dirinya, lelaki berumur 40 tahun itu langsung berpegangan erat di pembatas kapal. Namun, malang tak dapat ditolak. Ombak dan angin puting makin menerjang.

“Kapal akhirnya terbalik. Hanya sekitar lima menit, kapal itu tenggelam. Saya tidak dapat pelampung saat itu. Pas kapalnya tenggelam, tiba-tiba ada gabus yang mengapung di depanku. Saya pakai gabus itu berenang hingga ke pantai,” cerita Baco.

Dalam usahanya mencapai daratan, dia mengaku bertemu dengan empat penumpang selamat lainnya. Mereka akhirnya bersama-sama berlomba mencapai daratan. Usaha mereka ke daratan akhirnya berhasil pada pukul 07.00 WITA.

Mendapat musibah yang hampir merenggut nyawanya, Yulianus dan Baco mengaku sangat trauma untuk kembali melakukan perjalanan laut. Bersama 11 orang korban lainnya saat ditemui di Mapolwil Parepare, Sulawesi Selatan tadi malam, mereka mengaku akan lebih berhati-hati dalam melakukan perjalanan.

Diketahui, 13 orang penumpang KM Teratai Prima selamat dari musibah maut itu. Mereka tiba di Mapolwil Parepare pada pukul 23.30 Wita tadi malam. Mereka langsung memberikan keterangan kepada polisi. Puluhan warga tampak silih berganti masuk menemui keluarganya yang selamat. Akhirnya, air mata haru mereka tumpah.
(M Syahlan/Sindo/nov)

Leave a comment

Filed under Transport News, Water Transport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s