Category Archives: Trans Jogja

Andong, Becak Rukun dengan Trans Jogja

Sumber : http://tv.kompas.com

Bicara soal pembenahan alat transportasi, kota Jogyakarta boleh jadi acuan bagi kota lainnya. Ya, meski mencontek dari ibukota Jakarta, bekas ibukota negara ini malah tampil lebih baik. Kini, sudah ada bus Trans Jogya alias busway yang melayani sejumlah rute di kota sang Sultan ini. Tak seperti di Jakarta, keberadaan busway ini malah semakin melengkapi kehidupan kota budaya ini.

Warga kota Jogya sendiri menyambut keberadaan busway ini. Mereka senang, karena kini ada alternatif angkutan umum yang lebih layak. Dulunya memang Jogya bisa dibilang minim angkutan umum. Bus kota atau metromini saja jumlahnya tak memadai dan bahkan sudah rongsokan, tak laik pakai.

Namun adanya busway, tidak membuat tergusurnya angkutan tradisional di Jogya. Andong dan becak tetap leluasa bersliweran di jalan kota, termasuk Jalan Malioboro.Tak seperti nasib delman di Jakarta yang dilarang, Andong tetap dibolehkan karena menjadi simbol tradisi pemakaian kereta kencana bagi para Sultan Kraton dan kaum priyayi Jogyakarta di masa lalu.

Sementara becak dianggap sebagai kendaraan warga kebanyakan. Kedua jenis kendaraan ini bahkan dinilai bisa mengimbangi keberadaan alat transportasi lainnya, sehingga polusi di kota pelajar ini bisa terkurangi.

| Reporter:Akhid | Kamerawan:Akhid | Penulis:Akhid | Editor Video:Endy |

Lihat video di sini.

1 Comment

Filed under Public Transportation, Trans Jogja

Trans-Jogja raih Rp9,2 miliar

Selasa, 11 November 2008 09:07

JOGJA: Hingga 6 November, pendapatan bus Trans-Jogja sudah mencapai Rp9,2 miliar. Saat ini rata-rata pendapatan bus Trans-Jogja mencapai Rp41 juta per hari. Kepala Bidang Angkutan Dishub DIY, Sigit Haryanto mengatakan, pendapatan bus Trans-Jogja memang fluktuatif. Setelah sempat turun pada September menjadi Rp37 juta per hari, sekarang ini pendapatan Trans-Jogja kembali naik dan stabil pada angka Rp41 juta per hari.

“Setelah mengalami penurunan dari penjualan tiket, September 2008, pendapatan Trans-Jogja berangsur meningkat pada bulan selanjutnya dan tetap stabil pada bulan ini. Hal itu disebabkan oleh mulai tingginya aktivitas masyarakat dengan menggunakan angkutan Trans-Jogja,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, pendapatan Trans-Jogja mulai stabil, yaitu berkisar rata-rata Rp41 juta sejak bulan Juli silam. Jumlah tersebut tetap stabil pada bulan berikutnya. Namun pada bulan September, pendapatan turun menjadi Rp37 juta per hari.

Sigit Haryanto, mengatakan bahwa jumlah tersebut menurun akibat masyarakat membatasi aktivitas bepergian mereka karena tengah menjalani puasa. Namun, lanjutnya, setelah bulan puasa telah usai, masyarakat mulai beraktivitas secara normal.

Pada data Dishub hingga 6 November, tercatat pendapatan Trans-Jogja dari penjualan tiket kembali berkisar Rp41 juta setiap harinya. Total pendapatan dari penjualan tiket Trans-Jogja hingga 6 November mencapai Rp9,2 miliar.

Jumlah penumpang perharinya pada September lalu hanya 12.455 orang. Peningkatan terjadi pada bulan-bulan selanjutnya, yaitu 13.879 orang pada bulan Oktober dan 13.888 pada bulan November. Total jumlah penumpang Trans-Jogja sejak mulai beroperasinya pada Februari lalu adalah sebanyak 3.123.536 orang.

Saat ini, jelas Sigit, Dishub berupaya untuk menarik minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. Salah satu penyebab kemacetan yang mulai terjadi di DIY, ujarnya, adalah penggunaan kendaraan pribadi.

“Oleh karena itu kami beruasaha untuk memberikan pelayanan yang baik agar masyarakat mau menggunakan angkutan umum untuk bepergian. Salah satunya adalah dengan penerapan bus priority,” tuturnya.

Menurut Sigit, Bus priority, merupakan sistem di mana Trans-Jogja menjadi prioritas ketika berada di traffic light.  Pada jarak tertentu, jelasnya, saat bis sudah mendekati simpang, maka sinyal akan dikrim dan diterima oleh peralatan di traffic light controller. Setelah itu akan menge-set traffic light di mana bis akan diprioritaskan mendapat lampu hijau.

Dengan adanya sistem tersebut, ia mengharapkan Trans-Jogja dapat melayani masyarakat dengan tepat waktu karena waktu untuk menunggu di traffic light dapat diminimalisir dengan adanya bus priority.

“Kami juga mengenalkan angkutan umum Trans-Jogja pada anak-anak usia TK dan SD. Pihak sekolah kerap mengajak mereka untuk berjalan-jalan menggunakan Trans-Jogja. Biasanya rute dari titik asal sampai Taman Pintar, pulang – pergi,” ujarnya.

Anak-anak tersebut, lanjutnya, diajarkan bagaimana membeli tiket dan melakukan perjalanan dengan Trans-Jogja guna mengenalkan angkutan umum di usia dini.

Oleh Nadia Maharani
Harian Jogja

Sumber : Harian Jogja

2 Comments

Filed under Public Transportation, Trans Jogja

Trans-Jogja dipercepat

IST

Rabu, 22 Oktober 2008 11:06, Harian Jogja

SLEMAN: Bus priority segera dipasang di beberapa persimpangan jalan guna meningkatkan kinerja Bus Trans-Jogja, terkait dengan ketepatan waktu untuk melayani masyarakat. Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Sigit Haryanto, menjelaskan bus priority merupakan sistem di mana Trans-Jogja menjadi prioritas ketika berada di traffic light atau lampu pengatur lalu lintas.

“Pada jarak tertentu, saat bus sudah mendekati persimpangan, sinyal akan dikirim dan diterima oleh peralatan di traffic light controller (TLC). Dalam waktu singkat, TLC akan menge-set traffic light agar bus diprioritaskan mendapat lampu hijau,” jelasnya saat ditemui Harian Jogja, kemarin.
Ketika Trans-Jogja mendapatkan sinyal hijau di traffic light, terangnya, secara otomatis lampu pada traffic light di arah lainnya akan menyesuaikan dan berubah menjadi merah, sehingga Trans-Jogja dapat melalui persimpangan dengan aman dan lancar.
Dengan adanya sistem tersebut, lanjut Sigit, waktu menunggu dapat dikurangi sehingga Bus Trans-Jogja bisa beroperasi tepat waktu. Sistem bus priority dioperasikan dengan teknologi Global System for Mobile Communication (GSM) ataupun Global Positioning System (GPS).
Menurut Sigit, bus priority menjadi solusi yang tepat terkait dengan masalah operasional Bus Trans-Jogja yang kerap molor gara-gara terjebak kemacetan lalu lintas dan menunggu di traffic light yang memakan waktu cukup lama.
Solusi tepat
Saat ini, kondisi lalu lintas di DIY masih mixed traffic di mana jalur yang dilalui Bus Trans-Jogja bercampur dengan kendaraan lain. Lahan di DIY, jelas Sigit, tidak cukup luas untuk dibuatkan jalur khusus semacam busway.
“Pemasangan bus priority menjadi solusi yang tepat agar kami dapat meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya. Ia mengatakan dalam waktu dekat diberlakukan uji coba bus priority yang dipasang ke 10 bus dan dua persimpangan jalan, masing-masing di Mal Galeria dan Jl Brigjend Katamso.
“Proses persiapan secara teknis dilakukan pada akhir bulan Oktober ini juga. Pada November mendatang, menyusul akan dipasang peralatan dan diharapkan uji coba operasional sistem baru ini bisa dilakukan mulai Desember,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Sigit, supaya lalu lintas menjadi lebih teratur, akan dipasang pula marka jalan khusus bagi Bus Trans-Jogja di berbagai persimpangan jalan.
Ditemui di sela-sela menghadiri kegiatan di Hotel Saphir, Senin (20/10), Dirjen Perhubungan Darat, Suroyo Alimoeso, mengatakan sistem operasi Bus Trans-Jogja sudah cukup bagus.
“Silakan jika ingin menambah jalur atau lainnya demi meningkatkan mutu pelayanan masyarakat. Menurut saya, Trans-Jogja sudah bagus. Selain itu juga dapat mendidik masyarakat dan sopir untuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada tempatnya. Sekarang tergantung pada komitmen Pemkot dalam melayani masyarakat,” komentar Dirjen.

TRAYEK & RUTE TRANS-JOGJA
Jalur        Rute    utama
1A        Terminal Prambanan – Bandara Adisutjipto – Stasiun         Tugu – Malioboro – JEC

1B        Terminal Prambanan – Bandara Adisutjipto – JEC –         Kantor Pos Besar – Pingit – UGM

2A        Terminal Jombor – Malioboro – Basen – Kridosono –         UGM – Terminal Condong Catur

2B        Terminal Jombor – Terminal Condongcatur – UGM –         Kridosono – Basen – Kantor Pos Besar – Wirobrajan         – Pingit

3A        Terminal Giwangan – Kotagede – Bandara Adisucipto         – Ringroad Utara – MM UGM – Pingit – Malioboro –         Jokteng Kulon

3B        Terminal Giwangan – Jokteng Kulon – Pingit – MM         UGM – Ring Road Utara – Bandara Adisutjipto –         Kotagede

Oleh Nadia Maharani

3 Comments

Filed under Public Transportation, Trans Jogja

Komitmen Difabel Berhenti Sebatas Wacana

Kamis, 16 Oktober 2008 | 21:12 WIB, Sumber : kompas.com

YOGYAKARTA, — Komitmen untuk membuat fasilitas yang memudahkan kaum difabel selalu berhenti di tahap wacana alias tak pernah terwujud di lapangan. Ini menyakitkan hati kaum difabel. Fasilitas yang disediakan bagi mereka baru segelintir.

Di jalan, mereka nyaris tak mendapat tempat. Jalur bagi penyandang tuna netra misalnya, hanya tersedia di Malioboro yang trotoarnya sudah nyaris sesak oleh pedagang.

Demikian disampaikan Akhmad Soleh, Ketua Dewan Pengurus Daerah Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) DIY, di sela-sela acara halal bi halal bagi penyandang cacat di Loka Bina Karya Kota Yogyakarta, Kamis (16/10).

Nyaris semua pihak yang pernah membuat komitmen bagi difabel, ya hanya sampai pada pembicaraan, wacana-wacana, atau sekadar opini, ujarnya. Menurut Soleh, pemerintah dan pihak terkait harus serius dan berkomitmen dalam memikirkan kaum difabel.

Jalanan dan trotoar, dicontohkannya, tidak aman bagi tuna netra. Gedung-gedung juga belum memiliki tangga khusus kursi roda. Untuk urusan pekerjaan, belum semua perusahaan mau menampung difabel. Dalam hal transportasi, tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara, tetap tak nyaman naik bus kota walau pun itu adalah Trans-Jogja, bus patas AC yang diluncurkan beberapa bulan lalu. “Tak ada fasilitas suara pemberitahuan di halte yang memudahkan tuna netra. Untuk naik ke halte, mereka yang menggunakan kursi roda juga tak bisa karena kemiringannya curam,” ujarnya .

Jayusman, Ketua PPCI Bantul menceritakan, sudah tak terhitung cerita dari teman-temannya mulai dari terserempet kendaraan, tersandung tali tenda warung PKL atau ubin trotoar yang tidak rata, hingga kaget karena diklakson.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengakui keterbatasan fasilitas bagi difabel. “Untuk optimalisasi jalur khusus di Malioboro misalnya, masih jauh dari keinginan, karena ada banyak kepentingan di sana,” ucapnya.

Dana memang berpengaruh terhadap ketersediaan fasilitas. Namun lanjut Herry, yang sejatinya penting ialah menanamkan pada masyarakat perlunya menghargai kaum difabel. “Dalam pekerjaan, kami punya program yakni memberi insentif bagi perusahaan yang bersedia menampung pekerja difabel,” ucap Herry.

Sumber : kompas.com

Leave a comment

Filed under My Jogja, Trans Jogja

Bus kota tolak trayek baru Trans Jogja

Kamis, 16 Oktober 2008 10:56 WIB, Harian Jogja

DANUREJAN: Sedkitar 30 pemilik bus yang tergabung dalam Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) dan Koperasi Serba Usaha `Ngandel` Kabupaten Sleman, yang bergerak di sektor angkutan umum Rabu(15/10), mengadu ke DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka memprotes rencana Trans Jogja memperluas trayek hingga Kaliurang dan Godean.

Para pengurus koperasi itu menilai jika rencana itu direalisasikan pasti akan mematikan angkutan umum non-Trans Jogja.

“Kami keberatan dengan rencana PT Jogja Tugu Trans yang akan mengoperasikan bus Trans Jogja di jalur yang selama ini telah kami gunakan, apalagi kondisi ekonomi saat ini semakin sulit,” kata Ngaliman, pemilik Bus Puskopkar

Ngaliman mengatakan, berdasarkan informasi yang dia dengar, Trans Jogja  akan memperluas jalur trayeknya. Dua jalur yang akan dibuka adalah Jogja-Kaliurang dan Jogja-Godean. Jika itu dilakukan, jelas pendapatan bus kota seperti Puskopkar akan merosot drastis.

Ditambahkan, dengan beroperasinya Trans Jogja selama ini saja sudah menjadikan mereka kesulitan. Banyak bus yang akhirnya memilih untuk dikandangkan karena jika beroperasi hanya akan membuang-buang biaya operasional akibat sepinya penumpang.

Menurut Ngaliman, dari sekitar 111 bus yang tergabung dalam Puskopkar, tinggal 80 bus saja yang masih beroperasi karena kondisi bus yang tidak memadahi. Kondisi ini akan semakin buruk jika Trans Jogja jadi menambah trayeknya.

“Kami pada awalnya mengoperasikan 111 bus untuk melayani trayek tersebut, tetapi sekarang yang beroperasi tinggal 80 bus, akibatnya pendapatan dari tiket Rp2.500 per penumpang umum dan Rp1.500 untuk pelajar terus menurun,” katanya.

Sutrisno, salah satu pemilik bus yang lain mengatakan pemerintah pemerintah daerah mempertimbangkan masalah ini, dan diharapkan memberi subsidi kepada koperasi agar tetap mampu mengoperasikan angkutan umum.

“Selama ini subsidi diberikan kepada manajemen bus Trans Jogja, karena itu kami juga meminta pemerintah daerah memberi subsidi yang sama,” katanya.

Belum berencana
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Provinsi DIY, Sigit Haryanto menegaskan belum berencana untuk menambah jalur Trans Jogja ke kawasan Godean, Gamping dan Kaliurang. “Belum ada rencana, kami baru optimalkan yang ada,”ujarnya kemarin. Pengoptimalan itu meliputi penambahan halte dan peningkatan pelayanan.

Rencana pengembangan baru akan dilakukan setelah ada pembicaraan dari berbagai pihak seperti masyarakat, akademisi, Pemprov, dan PT JTT. Pengembangan bus trans Jogja ke sejumlah wilayah membutuhkan kajian akademik dengan sejumlah keinginan dari masyarakat. “Dalam waktu dekat kami mesti evaluasi layanan bus trans,”terangnya.

Ketua Komisi C DPRD DIY Sukamto yang menerima pengurus koperasi tersebut mengatakan akan memfasilitasi pertemuan antara Puskopkar dan Koperasi Serba Usaha “Ngandel” dengan PT Jogja Tugu Trans serta dinas terkait untuk membahas masalah trayek tersebut.

“Mengenai subsidi akan disampaikan kepada pemerintah daerah, apakah bisa memberikan subsidi yang sama kepada mereka seperti yang diberikan kepada bus Trans Jogja,” katanya

Oleh Shinta Maharani

Sumber : Harian Jogja

2 Comments

Filed under Public Transportation, Trans Jogja, Transport News

Pendapatan Trans Jogja Turun

Kamis, 25 September 2008 11:48

JOGJA: Selama bulan Puasa, pendapatan bus Trans-Jogja mengalami penurunan karena masyarakat membatasi aktivitasnya sehar-hari. Pada bulan Agustus, rata-rata penumpang Trans-Jogja mencapai 13.881 orang per hari. “Sampai tanggal 15 September kemarin, rata-rata penumpang turun menjadi 12.248 orang setiap harinya,” ujar Sigit Haryanto, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY.

Ia memperkirakan penurunan penumpang pada bulan puasa tersebut dipengaruhi oleh pembatasan mereka dalam beraktivitas ketika tengah berpuasa. Akibatnya, penggunaan sarana transportasi Trans-Jogja menjadi turun.
Berdasarkan data Dishub DIY, pendapatan dari penjualan tiket Trans-Jogja sebesar Rp41,6 juta per hari. Namun akibat penurunan jumlah penumpang di bulan puasa, hingga tanggal 15 September, pendapatan dari penjualan tiket Trans-Jogja juga turun menjadi Rp36,7 juta per hari.
Pendapatan komulatif dari penjualan tiket sejak beroperasionalnya Trans-Jogja pada bulan Februari lalu hingga 15 September mencapai Rp7 miliar. Sedangkan total penumpang pada periode yang sama adalah sebanyak 2.420.030 orang.

Operasional diubah

Sigit mengatakan, menjelang Lebaran, jam operasional Trans-Jogja pada 28 – 30 September dan 2 – 4 Oktober 2008 diubah menjadi pukul 05.30 – 22.00 WIB. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk mengganti jam operasional pada tanggal 1 Oktober, di mana jam operasional mulai pukul 09.00 – 22.00 WIB.

Perubahan jam operasional pada hari Lebaran tersebut, katanya, bertujuan untuk memberikan toleransi bagi karyawan Trans-Jogja agar dapat melakukan ibadah di hari Lebaran.

“Pada tanggal 1 Oktober, jam operasional digeser menjadi mulai pukul 09.00 untuk memberikan kesempatan karyawan untuk shalat Ied dan bersilahturahmi dengan keluarga. Setelah itu mereka bekerja kembali,” jelasnya saat ditemui Harian Jogja, Selasa.

Ia menilai, perubahan jam operasional itu akan menjadi cukup efektif karena pemberlakuannya sesuai dengan intensitas kebutuhan transportasi masyarakat. Ia memprediksikan akan terjadi lonjakan penumpang H-7 dan H+7.

“Pada H-7, biasanya masyarakat akan memerlukan sarana transportasi untuk berbelanja Lebaran, sedangkan pada H+7, masyarakat akan melakukan kegiatan rekreasi,” jelasnya.

Oleh Nadia Maharani

Sumber : Harian Jogja

Leave a comment

Filed under Public Transportation, Trans Jogja

Lagu TransJogja

Akhirnya kesampaian juga laguku diaransemen dan direkam dengan begitu hebatnya

“TransJogja”

Kembali ke masa lalu yang terasa
kala pertama pandang sudut kotaku nan sejuk di dalam dada
Ku bertanya bilakah ini
akan terjadi di masa kini
kenyamanan rasa bersama

Reff.
Trans jogja menawarkan hati
beralun lagu dan simfoni
hadir membawa sejuta warna
meronakan lembayung kota

Bilakah kau hadir selalu
Temaniku di relung waktu
Senja di sini di jogja ini
meredup tanpamu di sisi

Trans-jogja….

composed by Rizki Beo

vocal : Uci

Arr by: Andika Prabhangkara

9 Comments

Filed under Trans Jogja